
Hari ini rencananya kami akan pergi ke air terjun, sudah kami rencanakan dari beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, Azka rewel dari semalam. Badannya sedikit demam, sepertinya karena kemarin aku membawa dia ke sawah di tengah hari yang panas dengan banyak angin. Rencana ke air terjun terpaksa kami batalkan.
Azka menangis terus dari tadi pagi, sulit sekali untuk meredakan tangisnya. Hanya sebentar bisa diam kemudian kembali menangis. Kompres tak luput dari keningnya, ibu membantu mengurus Azka, sedikit kewalahan karena anak itu tidak mau ditidurkan di kasur. Meski sedang tertidur lelap di atas pangkuan, tapi saat ditidurkan di kasur dia kembali bangun dan menangis. Aku dan Arga sampai kurang tidur karena mengurus Azka semalaman.
"Ibu tanya Bi Sari deh, cari klinik buat Azka," ucap ibu yang khawatir pada cucunya ini.
"Iya, Bu. Tolong ya." Aku memangku Azka, menyodorkan ujung d*da ku untuk memberinya ASI. Akan tetapi, anak itu tidak mau sama sekali, malah menyingkirkannya dengan menggunakan tangan sambil menangis.
Ibu segera pergi keluar dengan langkah yang cepat. Gara yang sedari tadi ada di dekatku mencoba untuk mengajak adiknya bermain. Biasanya Azka yang menangis akan berhenti jika Gara mengajaknya bermain, tapi kali ini dia tidak bisa dibujuk dengan apa pun. Mainan yang Gara keluarkan sudah lumayan banyak, tapi Azka masih saja menangis dengan sangat keras.
"Azka jangan nangis, nanti Abang beliin permen dan roti," ucap Gara membujuk sambil memainkan tangan Azka. Dari sorot matanya terlihat sangat mengkhawatirkan adiknya yang terus rewel.
"Azka gak mau berhenti nangis, Ma," tutur Gara.
"Iya nih, Bang. Rewel terus," ucapku sambil berusaha menenangkan Azka. Segala cara sudah aku lakukan, menimangnya sambil berdiri dengan gerakan pelan mengayunnya ke kanan dan ke kiri, tapi Azka masih saja tetap menangis.
__ADS_1
Arga baru saja datang dari dapur dengan membawa baskom isi air hangat. Wajahnya terlihat sekali sangat khawatir dengan Azka. Kompres setengah kering yang ada di kening Azka dia ambil dan mencelupkannya ke dalam baskom.
"Duh, anak Papa. Kenapa nangis terus sih, Nak? Cepet sembuh, dong. Kasihan Mama capek dari tadi gendong kamu," ucap Arga dengan cemas. Sapu tangan milik Arga kini kembali berada di atas kening Azka, sesekali Azka mencoba untuk menyingkirkan benda basah tersebut dari sana.
"Kita bawa ke klinik, Ma?" pintanya.
"Ibu lagi pergi ke rumah Bi Sari. Mau tanya ada klinik di mana," jawabku. Dia hanya mengangguk saja dan mengambil alih Azka dariku. Tanganku lumayan pegal, karena sedari tadi pagi Azka tidak mau lepas, terus saja menangis dan tidak mau dengan siapa pun.
"Cup, cup. Sayang." Arga menimang Azka, memeluknya dengan erat, menepuk punggungnya dengan lembut. Azka tetap saja menangis.
"Mana bisa ku tidur waktu anak sakit?" decihku. Arga ini, memang aku ibu macam apa? Gara saja yang sakit dan sering rewel selalu membuat aku khawatir, apalagi Azka yang usianya masih hitungan bulan?
"Kamu capek dari semalam gak tidur, kan?" ucapnya lagi masih setia menepuk punggung Azka lembut, tidak lagi terdengar tangis atau isakan Azka. Tubuh Arga bergerak ke kanan dan ke kiri dengan gerakan pelan.
Gara mengintip ke belakang tubuh ayahnya. "Azka tidur, Pa," ucapnya dengan pelan. Arga mengangguk dan mengisyaratkan untuk jangan berisik. Dia menyuruh Gara untuk bermain, tapi anak kecil itu menggelengkan kepalanya. Aku paham jika Gara sangat khawatir dengan Azka, terlihat dari tatapannya yang tidak luput dari adiknya.
__ADS_1
Tak lama ibu datang bersama dengan Bi Sari, juga Widi di belakang mereka. Ketiganya berjalan dengan cepat ke arah kami.
"Azka kunaon atuh?" Bibi bertanya dengan keadaan Azka. Tangannya segera memegang kening Azka dengan cemas. "Kumaha atuh bisa begini? Kenapa bisa panas? Kemarin aja gak apa-apa, ah!" ujar Bibi lagi. Suaranya yang nyaring membuat Azka menggeliat dan sedikit merengek lagi. Akan tetapi, tidak lama karena Arga berhasil kembali menenangkannya.
"Gak tau, Bi. Apa kemarin karena main ke sawah, ya?" tanyaku bingung.
"Iya, mungkin ya. Hayu atuh kalau mau ke bidan, mah. Da di sini mah gak ada dokter anak. Adanya bidan, tapi sama kok, bisa periksa anak balita juga," ucapnya dengan tidak sabar.
Akhirnya kami pergi ke bidan, tidak ada klinik di sini, apalagi dokter anak.
Bidan telah memeriksa keadaan Azka, tidak ada masalah serius, hanya saja Azka memang demam biasa.
"Gak apa-apa, kok. Anak yang masih di bawah lima tahun memang daya tubuhnya masih belum stabil. Bisa jadi sering sakit, tapi nanti kalau sudah menginjak usia lima tahun juga gak bakalan sering sakit, kok. Tergantung ketahanan tubuh masing-masing," ucap Bu Bidan.
Kami lega mendengarnya. Memang sih, seharusnya aku tahu soal itu. Azka lahir lebih cepat satu bulan dari yang seharusnya, dokter yang terdahulu juga membicarakan hal itu, kemungkinan jika daya tubuh Azka tidak akan terlalu bagus sampai usia tertentu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan perawatan dan bidan mengatakan tidak perlu menginap, kami pulang ke rumah. Semua bersuka cita karena sempat mengira jika Azka akan menginap di sini.