Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
285. Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Di kamarnya aku tidak menemukan ibu, aku juga mencoba untuk mencari ke halaman belakang. Akan tetapi, Ibu tidak ada juga di sana.


"Ke mana Ibu pergi?" Aku bergumam sendiri saat tidak juga menemukan ibu di mana-mana. Rasanya hati ini menjadi khawatir dan memikirkan hal yang tidak baik. Bagaimana jika Ibu depresi dan juga nekat karena kejadian ini?


Aku hendak keluar rumah dengan menggendong Vita. Rasa hati semakin khawatir karena ini sudah hampir malam. Aku juga sudah bertanya kepada tetangga, tapi mereka tidak tahu ke mana Ibu pergi.


"Astaghfirullahaladzim, ke mana Ibu?" ucapku pelan sambil menatap ke arah jalanan yang sudah mulai gelap. Aku tidak bisa menghubunginya karena ternyata hp ibu ada di dalam kamar.


Terpaksa aku kembali pulang ke rumah karena Vita merengek, mungkin saja dia lapar karena sedari bangun tidur tadi aku belum membuatkannya susu.


Gelisah sudah pasti, tidak bisa tenang diri ini sebelum Ibu pulang.


Ah, aku khawatir dengan ibu, hendak membawa Vita untuk menitipkannya kepada Mbak Dewi. Akan tetapi, saat baru saja keluar dari rumah aku melihat ibu baru masuk ke dalam pagar halaman. Segera aku mendekati ibu dengan khawatir dan cemas.


"Ibu dari mana saja? Kenapa Ibu pergi?" tanyaku kepadanya yang baru saja sampai di teras. Wajah Ibu terlihat kesal dia melewati ku begitu saja dan masuk ke dalam rumah. Aku mengikuti ibu. Ibu duduk di kursi sofa menyadarkan kepalanya.


"Ibu dari mana? Kenapa pergi nggak bilang sama Hilman?" tanyaku saat Ibu tidak menjawab.


"Dari rumah Bi Marni," ucap Ibu seraya memejamkan matanya.


"Kok nggak bilang sama Hilman? Ada urusan apa Ibu ke sana?" tanyaku seraya duduk di sampingnya.


"Mau pinjam uang, tapi Bi Marni gak ngasih," ucap ibu lagi, masih tetap memejamkan matanya.


"Buat apa ibu ke sana?"


"Kan Ibu sudah bilang mau pinjam uang," bentak ibu kini membuka mata dan menatapku tajam.

__ADS_1


"Iya, maksudnya pinjam uang buat apa?" tanyaku lagi.


"Buat gantiin uang yang hilang. Tapi gak dapat. Bi Marni gak ngasih uangnya," ucap ibu lagi dengan kesal. Bi Marni adalah adik dar bapak, selama ini hanya beliau yang dekat degan ibu.


"Kenapa juga Ibu harus ke sana sih. Kan malu, Bu. Bi Marni jadi tau kita punya banyak hutang karena ini," ucapku protes.


"Ibu gak bilang soal penipuan ini, kok. Ibu bilang buat operasi Vita," ucap ibu yang membuat aku mengalihkan tatapanku seketika kepadanya.


"Hah? Ibu bilang gitu? Kenapa tega sekali Ibu bilang untuk operasi Vita padahal bukan untuk itu, Bu?" tanyaku dengan berang. Sungguh ibu ini ... ah, aku tidak tahu apa yang ibu pikirkan soal ini. Emosiku mulai tersulut lagi, anakku sehat, kenapa juga dibuat alasan demi untuk menutupi kesalahannya?


"Ibu terpaksa. Mau gitu mereka tau kita lagi kena musibah? Malu, Man!"


Aku menghela napas dengan kesal. Ibu benar-benar keterlaluan!


"Bi Marni gak ngasih, alasannya karena bapak kamu gak ada di sini, diusir, dan sekarang gak tau kemana," ucap ibu.


"Sekitar empat puluh juta," ucap ibu seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Aku terkejut mendengar jumlah tersebut.


"Astaghfirullah." Hanya itu yang bisa aku ucapkan sekarang ini, wajah yang lelah aku usap dengan kasar. Tidak menyangka dengan jumlah tersebut. Banyak.


"Kamu ada uang segitu gak, Man? Bayarin dulu," ucap ibu terdengar dengan entengnya.


"Hilman mana punya uang segitu, Bu. Ibu kan tau, Hilman kerja sekarang gaji berapa, belum lagi buat beli obat Vita, kalau Vita dadakan harus ke rumah sakit gimana?" tanyaku pada ibu dengan menatapnya tajam, anak yang aku pangku menoleh karena merasa namanya dipanggil.


"Terus gimana, dong?" tanya ibu dengan tak kalah menatapku.


"Ah, gak tau lah. Ibu sih, pake acara rekrut orang segala tanpa cari tahu asal usulnya dulu." Aku menyandarkan punggung pada sofa. Vita berontak meminta aku untuk menurunkannya di lantai, dengan kaki yang lemah anak itu berdiri berpegangan pada meja. Aku halangi dengan kedua kakiku yang berada di kedua sisi tubuhnya agar dia tidak terjatuh.

__ADS_1


"Kalau gitu pulangkan dia sama ibunya. Kamu ga ada kewajiban buat asuh anak orang lain. Buang-buang waktu dan uang aja. Ibu dan bapaknya ke mana? Senang-senang gak inget sama anak!" ucap ibu kesal, lagi-lagi membuat aku menoleh dengan tidak percaya.


"Sekali lagi Ibu bahas ini, mendingan Hilman pisah saja lah sama Ibu."


Ibu membulatkan matanya dan berbicara dengan cepat. "Kok kamu gitu sih, Man? Kamu tega ninggalin Ibu sendiri demi anak ini? Dia bukan darah daging kamu loh, Man. Ibu yang satu darah sama kamu, ingat kamu siapa yang lahirkan?" tanya ibu dengan marah dan menggebu.


"Hilman gak lupa, kok. Hilman ingat, Bu. Tapi kalau Ibu terus kayak gini, Hilman dah gak tahan, Bu! Ibu selalu saja bersikap seenaknya! Lebih baik Hilman misah aja lah, daripada di sini Ibu selalu mengungkit soal Vita," ucapku semakin kesal setengah emosi. Vita sampai menoleh kepadaku karena aku berbicara dengan keras barusan.


Ibu mendengkus sebal, tidak bisa bicara lagi jika aku sudah mengatakan hal itu.


"Kalau gitu kamu kasbon aja deh ke pabrik. Bisa kan? Kamu kan di sana pengawas gudang," tanya ibu masih menatapku. Aku tidak menjawab, jika memang bisa melakukannya, tapi aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Malu rasanya.


"Gak, Bu. Hilman gak akan pinjam uang ke pabrik. Yang kemarin bekas bayar hutang Mas Dirga saja belum lunas masa mau nambah lagi," ucapku menolak.


"Ayolah, Man. Emang kenapa sih? Kan kamu juga kenal dengan bos nya, dia suami Ayu kan? Ayu pasti bisa bujuk suaminya buat bantu kita, kok." Ibu berucap dengan menggebu, menggoyangkan lenganku dengan penuh harap.


Aku menyingkirkan tangan ibu. "Ibu lupa apa yang dulu kita perbuat sama Ayu?" tanyaku. Ibu terdiam, terlihat kecewa dengan ucapanku barusan.


"Sudah dikasih pekerjaan saja Hilman sudah bersyukur, Bu. Masa mau minjam uang? Kan seperti Hilman gak tau malu kalau sampai seperti itu."


"Terus kita mau gimana, dong? Dari mana kita akan dapat uang dalam waktu yang cepat?" tanya ibu padaku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jual saja rumah ini."


"Jual? Jangan gila kamu, Man? Kalau rumah ini dijual, kita akan tinggal di mana?" tanya ibu tidak terima.


"Terus kita mau gimana? Mau Ibu masuk penjara?" tanyaku pada ibu. Ibu hanya diam mendengar keputusanku.

__ADS_1


__ADS_2