Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
313. Pertanyaan Pak Hendro


__ADS_3

Aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Pembicaraan bersama dengan Ani tadi lumayan membuatku lega, dia akan membantuku berbicara dengan Dewi. Apapun keputusan wanita itu nanti aku diharapkan untuk menerimanya dengan baik dan tanpa rasa sakit hati. Ani sangat yakin jika Dewi juga menyukaiku, meskipun aku berharap seperti itu tapi belum tentu jawabannya yang akan diberikan oleh Dewi. Hanya berharap dia juga menyukaiku.


Pintu aku buka dengan perlahan, terlihat ibu bersama dengan Vita sedang tiduran di depan televisi. Ibu menoleh saat aku menutup pintu. 


“Kamu sudah pulang Man? Tadi ada apa sih? Sampai kamu lari nggak denger Vita nangis?” tanya ibu kepadaku. Vita kini sedang tertidur pulas di atas kasur lantai.


“Ada urusan sebentar.”


“Ada apa kamu tadi ke rumah Dewi?” tanya ibu. Baru sadar saat itu menyebut namanya, sepertinya aku tadi memberitahu Ibu ke mana aku akan pergi.


“Tidak ada apa-apa,” aku lalu memilih untuk pergi ke arah kamarku.


“Man kamu bilang sama ibu. Kamu Ada apa pergi ke rumah Dewi?” tanya ibu, suaranya terdengar jelas di belakangku dan benar saja saat aku berbalik Ibu memang mengikutiku ke depan kamar.


Aku menghembuskan nafas, sepertinya akan bicara jujur saja dengan ibu.


“Dewi akan dilamar orang lain. Hilman datang ke sana untuk melarang dia,” ucapku jujur.


“Maksud kamu? Kamu suka sama Dewi?” tanya ibu kemudian


Aku menundukkan kepalaku. “Sepertinya begitu Bu. Nyatanya saya dengar dia ada yang lamar, Hilman nggak suka,” ucapku dengan jujur. Aku lelah dan memilih masuk ke dalam kamar tanpa menunggu tanggapan ibu.


Tubuh yang lelah kini aku baringkan di atas kasur. Menatap langit-langit kamar yang sudah pudar warnanya. Apa jadinya jika Dewi menerima lamaran laki-laki itu? Bukankah kesempatanku hanya sampai minggu depan saja?


Aku tidak tahu hanya menunggu saja. HP yang ada di dalam tas kerja aku ambil segera aku menghubungi dia. Panggilan pertama tidak ada jawaban sama sekali, hingga pada panggilan ke empat masih juga tidak ada jawaban. Aku kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti atas ucapannya tadi.


[Kenapa kamu tidak mau angkat teleponku?]


Aku kirimkan pesan kepadanya, tidak lama tanda centang berubah menjadi biru. Dia sudah membaca pesanku. Aku menunggu beberapa saat, terlihat di atas sana ada tulisan sedang mengetik, lama sekali tapi aku tunggu-tunggu pesan itu tidak sampai juga.

__ADS_1


Aku masih menunggu hingga sampai 10 menit kemudian, pesan yang tadi dia ketik tidak lantas sampai juga.


[Kenapa tidak balas pesanku?]


Aku bertanya kepada dia, kali ini mengharapkan dia mengirimkan jawaban.


Centang biru kembali terlihat di sana. Dan aku juga menunggu lagi. Akan tetapi, sepertinya dia memang tidak ingin membalas semua pesanku.


Apakah aku harus pasrah dengan keadaan ini?


Suara ketukan pada pintu terdengar jelas, Ibu juga memanggil namaku meminta untuk kami bicara di luar. Aku menurut, membuka pintu dan kini duduk di sofa. 


“Kamu beneran suka sama Dewi?” tanya ibu kepadaku dengan tatapan tidak percaya.


“Ibu sudah dengar tadi apa yang aku bilang kan?” tanyaku pada ibu.


“Apa kamu tidak bisa dengan yang lain saja?” Ibu bertanya lagi.


“Karena Ibu sudah jodohkan kamu dengan anak teman ibu.” Aku menolehkan kepala menatap ibu dengan tidak percaya.


"Apa maksud ibu?" tanya ku bingung.


"Sebenarnya minggu lalu ada seorang teman yang menghubungi Ibu dan bertanya soal kamu. Mereka bilang kalau kamu belum punya calon lebih baik bersama dengan Putri mereka saja. Ibu bilang kamu belum ada calon makanya ibu mau menyetujui saat mereka bilang akan datang ke sini besok lusa," ucap ibu yang membuat aku menatapnya semakin tidak percaya.


"Astaghfirullahaladzim. Kenapa Ibu nggak tanya-tanya dulu sama Hilman sih? Memangnya Ibu kira ini zaman Siti Nurbaya? Pakai acara jodoh-jodohan segala. Gimana bisa Hilman tahu dengan wanita itu? Namanya saja enggak tahu wajahnya saja enggak pernah lihat. Ibu ini bagaimana sih? Hilman gak mau!" ucapku berseru menolak permintaan ibu.


“Tapi Man, Ibu udah iyain kalau mereka akan datang ke sini, loh. Gimana ini?” tanya ibu dengan bingung.


“Ya tinggal Ibu bilang yang sebenarnya kalau Hilman menolak, Bu. Jangan dibuat usah. Keadaan kita ini sedang susah mau bikin susah lagi? ilman gak mau dijodohkan!” seru ku sambil berdiri dan pergi ke arah kamar. Pintu aku tutup dengan kasar. Aku sampai lupa jika Vita ada dengan ibu 

__ADS_1


***


Keesokan harinya aku pergi kembali ke rumah Dewi, mencari jawaban yang sesungguhnya karena pda kenyataannya mau tidak sabar dan aku tidak mau menunggu Ani.


Pintu aku ketuk dengan cukup keras, ingin tahu apakah Dewi akan membuka pintunya untukku atau tidak, ternyata dia benar membuka pintu. Namun, kini bukan hanya ada dia saja. Aku terkejut karena di sana juga ada orang tuanya.


Aku duduk di depan kedua orang tua yang telah melahirkan Dewi, tidak menyangka jika ternyata ada orang lain di rumah ini. Ibunya sih tidak apa-apa, terlihat ramah dengan senyumannya, yang bikin keder itu bapaknya. BAPAKNYA!


Dewi sedari tadi tidak ada, aku tidak tahu ada di mana dia. Tidak mau muncu untuk sekedar mengendalikan suasana. Mungkin jika ada dia aku tidak akan terlalu gemetar seperti ini.


“Benar kamu nyuruh Dewi batalin pertemuan dia minggu depan?” tanya Uwak Hendro padaku, aku hanya menunduk sambil mengeratkan kepalan tanganku pada lutut.


‘Benar, Wak. Saya emang suruh Mbak Dewi supaya batalin pertemuan dia minggu depan,” ucapku. Pasrah sudah kini apa pun yang akan dikatakan oleh laki-laki tua ini kepada ku. Apakah aku akan diusir? Lebih baik daripada dicincang!


“Apa hak kamu melarang dia? Siapa kamu?”


Jlebbbb! 


Rasanya bagai ada belati yang seketika menancap di dada ini. ‘Siapa kamu’. Pertanyaan yang membuat aku juga bertanya, siapa aku untuk Dewi?


“Jawab. Siapa kamu?” tanya Wak Hendro dengan nada yang tegas.


Aku menunduk, rasanya jantung ini harus disiapkan mentalnya agar kuat menghadapi kenyataan. Aku siapa?


“Saya bukan siapa-siapa untuk Mbak Dewi, Wak. tapi saya suka dengan Mbak Dewi dan ingin jadikan dia istri saya. Itu pun jika Uwak berkenan,” jawab ku , sungguh dada ini berdebar dengan keras seakan hampir copot dari tempatnya.


“Berarti belum jadi sipa-siapa kan? Lalu kenapa juga kamu larang dia untuk bertemu jodohnya?”


Ahh! Kepalang tanggung sudah bilang jika aku suka dengan Dewi!

__ADS_1


“Karena saya cinta dengan Dewi dan ingin menikah dengan dia. Saya ingin memiliki Mbak Dewi untuk menjad istri saya!” jawabku dengan yakin.


“Kalau saya tidak izinkan?"


__ADS_2