
"Kenapa sih Pak, kok murung aja?" tanya seorang bawahanku saat kami makan siang di kantin perusahaan.
"Gak ada apa-apa," jawabku dengan cuek lalu menyesap kopi yang tadi aku pesan.
"Gak ada apa-apa, kok wajahnya kesel dan murung gitu? Ada masalah kah?" tanyanya lagi, satu orang yang lain datang dan duduk di kursi di sampingku.
"Ah, biasa urusan rumah," jawabku sekenanya.
"Ada apa dengan rumah?" tanyanya lagi beruntun, bukannya mengurangi rasa pusing di kepala, ditanya seperti itu malah membuatku semakin kesal.
"Sudah lah, kamu gak akan tau juga kalau aku cerita. Sudah makan saja, jangan bawel!" ucapku dengan kesal.
"Yee, di tanya kok malah marah. Cerita napa?" ujarnya.
"Kalau cerita mau bantu ya?" tanyaku.
"Kalau misal urusan soal duit mah, gak bisa bantu, hehe," ucapnya dengan kekehan. yang lain aku tatap pun sama, si para tukang kepo kini memilih untuk bungkam dan tidak melanjutkan pertanyaannya.
Kami makan siang di kantin pabrik, aku bekal nasi dan sayur nangka yang sudah tadi aku hangatkan dari rumah, di sini hanya beli kerupuk dan kopi untuk numpang duduk juga.
"Bapak ini gak ada keinginan untuk nikah lagi gitu? Biar ada yang ngurus, biar semangat kalau bekerja," ucap yang lain tiba-tiba.
"Iya, Pak. Si Ida tuh kan dekat dengan bapak, kayaknya udah kesengsem gitu, coba deketin deh, Pak. Lumayan ada yang bisa masakin sama nyuciin baju," ucap salah satu yang lain. Tiga orang yang ada di hadapanku aku tatap dengan tajam.
"Kalian ini, menikah mencari pendamping atau cari pembantu?" tanyaku kesal.
"Ya pendamping, Pak, tapi kan minimal ada yang bantu beberes dan urusin kita juga," ucapnya.
Aku menggelengkan kepala, mendengar jawaban mereka. Memang benar seperti itu, tidak mungkin juga jika seorang istri hanya diam diri tanpa membantu urusan rumah tangga, tapi jujur aku tidak mau hanya berbekal pemikiran seperti itu. Jika banyak uang sih gampang untuk pekerjakan orang lain, gak punya banyak uang jangan harap bisa punya asisten.
"Sudah lah, bahas soal jodoh kok di sini. Pikirin aja tuh barang yang ada di gudang, masih banyak kerjaan dan harus di kirim ke area lain," ucapku.
__ADS_1
Terdengar helaan napas dari tiga orang ini, sepertinya lelah dengan pekerjaan yang sedari pagi tidak ada hentinya. Pabrik ini mengalami kemajuan yang sangat pesat sekali semenjak aku berada di sini, tidak ada yang namanya sepi dari barang masuk dan juga keluar. Bahkan, akhir-akhir ini yang aku dengar dari bagian lain bulan depan kami akan melakukan ekspor lagi. Hebat sekali Arga bisa maju seperti ini. Meski rasanya aku tidak mungkin seperti dia yang sudah sukses, tapi aku punya cita-cita ingin memiliki usahaku sendiri.
"Malah ngelamun, Pak. Lihat tuh kopi ada lalatnya." Tunjuk seorang pada kopi milikku.
Ah, sial sekali aku hari ini, baru saja ngopi sedikit udah keduluan sama lalat!
"Saya ke dalam dulu, deh. Makan dah selesai," pamit ku pada mereka. Tiga orang itu mengangguk dan membiarkan aku kembali ke gudang.
Di gudang aku tidak lantas bekerja, jam kerja masih ada dua puluh menit lagi sampai jam masuk nanti. Kardus besar aku gelar di bawah kursi ku dan berbaring di sana. Rasanya cukup nyaman merebahkan diri untuk sejenak, di antara karung dan kardus yang menggunung di sini, aku menatap langit-langit pabrik yang sangat tinggi.
Rasanya tidak mungkin aku akan hidup menjadi buruh terus menerus, suatu saat tenagaku ini akan berkurang, usiaku akan bertambah, seiring waktu akan tergantikan dengan generasi yang masih muda. Ingin rasanya punya usaha sendiri, tapi aku belum tahu ingin usaha apa, berjualan apa yang bisa aku lakukan di rumah. Bisa lebih dekat dan lebih sering bersama dengan Vita.
...***...
Seminggu sudah semenjak aku bertemu dengan Dewi, tidak pernah bertemu lagi dengan dia. Ibu juga semakin menjadi sosok yang penurut setelah aku mengatakan akan pindah dan mengontrak saja jika ibu tidak mau mengurusi Vita. Siapa yang akan menanggung hidup ibu jika bukan aku.
Hari ini hari libur, tanggal merah, aku gunakan untuk mencuci kendaraan ku satu-satunya, sudah cukup lama tidak dicuci dan tidak di cek oli nya.
"Mbak Dewi!" panggilku.
Ups! Kenapa aku memanggilnya? Niat hanya ingin melihatnya saja, kenapa malah memanggil namanya?
"Ada apa, Man? tanyanya tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Eh, iya, pulang dari mana ini?" Basa basi yang garing sepertinya.
"Dari pengajian rutin," jawabnya.
"Masyaa Allah, solehnya ...." Aku langsung menutup mulutku yang berkata tidak karuan, tetangga kami itu tertawa geli mendengar ku. Aku malu, kenapa juga harus bicara seperti itu, apalagi telah membuat Dewi menjadi merah pipinya dan terlihat sangat malu.
"Kamu gak kerja?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Tanggal merah, tuh lagi mandiin si Epret," ucapku menunjuk motor kesayangan.
"Hah, Epret?" tanya Dewi bingung.
"Itu, nama motornya, Mbak." Aku malu, harus ya aku sebutkan nama motorku di depannya? Duh!
"OOh, motor juga ada namanya ya?" celetuk tetanggaku yang satu itu, usianya sama dengan Dewi, sudah punya suami dan anak tiga. tidak seperti Dewi yang belum menikah apa lagi punya anak.
"Iya, Mbak. Motor kesayangan jadi dikasih nama," ucapku malu.
"Wah motor aja kesayangan apalagi kalau nanti punya istri, pasti bakalan jadi kesayangan banget, ya?" ujarnya sambil tersenyum dan melirik ke arah Dewi.
"Haha, iya lah. Kalau punya istri ya harus jadi yang di sayang. tapi ya itu sayang juga, soalnya yang mau jadi istri saya aja belum ada. Saya cari di mana buat jadi kesayangan nanti?" tanyaku mencoba untuk berkelakar.
Tetanggaku itu tertawa sambil menutupi mulutnya. "Gak usah jauh-jauh, kalau ada yang deket. Saya mau permisi dulu, lah. Mau lihat di rumah sudah pada sarapan apa belum," ucapnya pamit.
"Eh, saya juga mau pulang. Belum bikin sarapan," ucap Dewi dengan cepat, mukanya merah aku lihat, bukan karena riasan, tapi alami merah dan terlihat menggemaskan.
"Eh, tadi kan Hilman panggil kamu, ada perlu gak sampai manggil?" ucapnya mengingatkan Dewi.
"Eh, iya, ya? Ada apa, Man? Ada perlu kah?" tanya Dewi kini padaku.
"Em, enggak ada, sih. Tadi cuma mau nyapa aja," ucapku malu.
"Cieee, bahagianya, pagi dada yang nyapa." Wanita itu menggoda Dewi sambil menyenggol lengannya. Dewi menundukkan kepala dalam-dalam. semakin imut aku lihat. Ahhh, rasanya ingin cubit pipi dia.
Ih, ada apa denganku? Kok rasanya lebay sekali!
"Kalau mau pulang silakan aja, maaf sudah ganggu waktu kalian, saya juga mau lanjut cuci motor, nih, tanggung belum selesai," ucapku.
Mereka berdua mengangguk dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke rumah. Aku masih berdiri di dekat pagar dan melihat kedua orang itu yang kini sedang saling dorong, melakukan itu hingga sampai di rumah masing-masing.
__ADS_1