
Hilman Pov
Semenjak malam itu, aku jadi tidak bisa berpikir dengan baik. Pertemuan dengan Dewi membuat aku tidak baik-baik saja setelahnya. Bayangan wanita yang sudah tidak muda lagi itu membuat aku seringkali berpikir dan juga membayangkan, mungkin enak jika saat pulang bekerja ada seseorang yang menyambutku, yang memberikanku kopi atau sekedar bertanya, "Mau makan apa, Mas?"
Eh, kok Mas?
Jelas aku dua tahun dibawahnya, mungkin ganti dengan panggilan yang lain, atau hanya sekedar nama saja.
"Mau makan apa, Man?"
Ah, rasanya kok tidak pantas ya, aneh jika pasangan memanggil dengan nama begitu saja, apalagi memanggil suami dengan sebutan nama.
Seorang wanita yang bisa membuat ku tidak betah bekerja dan ingin cepat pulang, seorang wanita yang akan menyambutku saat pulang bekerja atau membangunkan aku untuk mengimaminya solat, membuyarkan konsentrasiku dan membuat ku tidak betah menonton acara bola. Menghabiskan waktu bersama hingga ke masa tuaku.
Ah, kenapa aku jadi berpikiran seperti ini? Jelas aku terlalu banyak berkhayal. Dia bukan siapa ku, bukan pasanganku. Bahkan, mungkin tidak tahu jika aku mulai memikirkannya.
Apakah aku mulai gila?
Aku rasa aku gila karena jatuh cinta untuk ke sekian kalinya.
Ah, ada apa denganku? Aku mulai membayangkan hal yang tidak-tidak, bahkan aku juga mulai membayangkan sesuatu yang menjijikkan dengan wanita itu. Ya, tahu lah apa maksudku. Sebuah mimpi yang membuat aku menjadi pusing tujuh keliling. Bukan hanya kepalaku, tapi ada kepala lain yang pening dan tidak mau reda karena hal ini. Sudah lama tidak punya lawan main dan jika sudah tidak tahan lagi terpaksa berlama-lama di dalam kamar mandi.
Di pabrik, ada beberapa orang yang menjodohkanku dengan pengawas dari divisi lain, pengawas di bagian jahit, seorang janda dengan anak satu berusia enam tahun. Memang parasnya cantik, lebih cantik dari Dewi. Terlihat juga dari sikapnya kepadaku yang seringkali mencari perhatian, sering membawakan makanan atau minuman setiap paginya, bilangnya masak lebih dan tidak ada yang menghabiskan makanan itu di rumah.
Aku seringkali menghindar dari wanita itu, tapi entah kenapa malah sering bertemu dengan dia, padahal ruangan kerjaku dan ruangan kerjanya cukup jauh, tapi kami sering bertemu di saat masuk atau pulang bekerja. Dia menyapa duluan dan mendekat, dan aku tidak bisa menolak kehadirannya.
Dia memiliki anak usia enam tahun, jelas kebutuhan yang di perlukan sangat banyak, biaya sekolah dan sebagainya. Apalagi aku memiliki Vita yang masih sering untuk melakukan check up kesehatan. Rasanya tidak mungkin aku dengan dia dengan gaji dan juga tunggakan yang aku miliki.
Dia juga bekerja, menitipkan putranya dengan tetangga, jika nanti aku menikah dengan dia dan dia masih bekerja, pastinya anakku akan berada di dalam asuhan orang lain. Akan tetapi, jika dia berhenti bekerja dan mengurus dua anak, apakah bisa kasih sayangnya dia bagi rata dengan Vita? Apakah dia bisa menerima Vita dengan keadaannya yang sekarang ini? Apakah dia mau direpotkan dengan urusan Vita yang sering bolak balik ke rumah sakit? Aku juga harus siap untuk bekerja sendirian, menghidupi keluarga kecilku dan juga ... ibu.
Ah, ya. Masih ada ibu yang aku miliki. Apakah dia bisa menerima gajiku yang harus dibagi dengan ibu juga?
Dia memang cantik, tapi aku tidak bisa membandingkan dengan kebaikan Dewi selama ini.
Lagi-lagi Dewi, ya ampun. Dewi dan Dewi yang ada di dalam pikiranku.
__ADS_1
Malam sudah semakin larut, Vita terbangun dan sedikit merengek di dalam tidurnya, dia menunjuk botol yang adadi atas meja. Aku paham jika dia kini tengah lapar dan membutuhkan susu. Dengan segera aku bangun dan membuatkannya susu hangat. Tak lama Vita kembali tertidur kembali dengan sangat lelap.
Aku sempat berpikir untuk mengurangi jatah susu Vita dan menghentikan Vita mengkonsumsi susu. Vita sudah hampir dua tahun, sudah cukup usia dan bisa makan seperti orang dewasa. Sedikit berat sebenarnya di saat seperti sekarang ini di saat kebutuhan semakin banyak dan juga tanggunganku yang menggunung.
Hidupku berantakan kini. Seringkali menyesal, tapi tidak ada gunanya jika hanya meratapi keadaan yang seperti ini.
Aku memeluk putriku, mengikutinya ke dalam alam mimpi, menghapuskan rasa lelah yang sedang mendera di dalam raga dan jiwa ini.
***
"Mas Hilman," panggil seseorang yang sangat aku kenal suaranya. Jelas kenal karena selama ini dia yang sering mendekatiku.
"Eh, enggak lembur?" tanyaku padanya, yang aku dengar kemarin dia seharusnya lembur, dan sudah membuat aku senang, tapi kenapa sekarang ini dia pulang juga?
"Gak jadi lembur, Mas. Aku izin pulang, soal anak-anak aku minta yang lain gantikan," ucapnya. Wajahnya terlihat sedikit beda dari biasanya.
"Anu ... Mas Hilman bisa tolong saya gak?" tanyanya padaku.
"Tolong apa?"
"Saya di tungguin anak sih di rumah," ucapku menolak secara halus.
"Yah, tolong dong, Mas. Sekali ini saja, tolongin saya, sebentar kok. Gak sampai setengah jam di sana. Soal bensin saya ganti deh," ucapnya dengan sedikit memaksa.
Aku bingung, apakah dia tidak mengerti dengan ucapanku tadi.
"Em, saya gak bisa. Anak saya kalau jam segini sudah ngerti, sudah nungguin biasanya." Aku menolaknya lagi, sudah aku pikirkan dari kapan hari, tidak mau berurusan dengan dia dan yang lainnya. Urusanku saja sudah membuat ku pusing apalagi mengurusi yang lain!
"Jadi beneran gak bisa ya?" tanyanya dengan nada yang sedih.
"Maaf ya saya tidak bisa antar. Soalnya sudah janji juga kalau pulang kerja hari ini mau bawa dia ke supermarket," ucapku beralasan. Jika yang ini aku bohong kepadanya, tapi soal Vita yang menungguku itu benar adanya.
"Oh, ya sudah deh kalau begitu. Saya minta maaf," ucapnya.
"Lho kenapa kamu yang harus minta maaf? Seharusnya saya mengucapkan maaf karena tidak bisa mengantar kamu ke sana."
__ADS_1
"Eh, iya ya. Maksud saya, saya minta maaf karena sudah membuat Mas Hilman berhenti jalan," ucapnya sambil tersenyum malu.
"Oh tidak apa-apa, saya mengerti kok kalau kamu sedang dalam keadaan susah dan juga bingung. Kamu mau saya pesankan ojek online? Kalau seumpamanya tidak punya aplikasinya?" tanyaku menawarkan.
"Ah, kalau aplikasi ada sih. Tapi kan kalau jam pulang kerja seperti ini biasanya menunggu lama karena macet," ucapnya lagi.
"Oh, memang sih suka macet. Kan ini memang jam sibuk. Ngomong-ngomong soal macet, saya juga sepertinya harus segera pulang sekarang. Nanti kalau lama di jalan anak saya bisa cari-cari," ucapkan kepadanya.
"Eh, iya. Silakan kalau Mas Hilman mau ke parkiran. Saya juga mau keluar gerbang. Saya duluan ya." Dia menganggukkan kepalanya lalu berjalan dengan cepat ke arah luar. Entah apakah dia lagi-lagi sedang mencoba untuk mendekatiku atau memang sedang butuh bantuan. Akan tetapi, aku benar-benar tidak bisa dekat dengan wanita sementara ini. Sedihnya menjadi laki-laki single yang banyak hutang.
Aku mengambil motor dari parkiran, bersama dengan para karyawan lain yang juga mengambil kendaraannya.
"Cieee, yang lagi deket sama janda cantik!" seru yang lain menggoda saat aku mengambil motor.
"Siapa?" Aku mengelak. Helm yang sudah ada di tangan aku pakai di kepala. Bersiap mengeluarkan motor yang ada di sana, motor butut yang aku beli dengan susah payah dari hasil kuli di pasar dan juga menjadi tukang parkir. Dibandingkan dengan motor yang lain, motor milikku terlihat tua dan juga tidak layak, tapi tidak apa-apa yang penting masih bisa dipakai untuk pergi bekerja.
"Jangan pura-pura lah, Mas. Cantik loh kenapa nggak diterima aja," ucap salah satu laki-laki yang ada di sana.
"Diterima? Nembak juga nggak," ujarku.
"Ya berarti Mas Hilman yang harus nembak dia duluan. Dia tuh udah ngasih kode loh dengan setiap pagi ngasih makanan sama minuman," tambahnya lagi.
"Itu kan dia yang mau bukan aku yang minta."
"Ya elah. Jangan jual mahal deh, Mas. Apa dari dia yang kurang? Cantik, putih, baik lagi," ucapnya lagi.
"Kalau soal menerima itu soalnya gampang, yang gak gampang itu sekarang bagaimana caranya bisa menghidupi anak orang lain. Bagaimana caranya bisa membuat mereka nyaman. Aku aja masih susah, masa iya mau ngajak yang lain susah juga." Aku tersenyum dan mulai mengeluarkan motorku dari sana.
"Kayaknya kalau masalah itu dia juga udah tahu deh. Aku pernah kok dulu ngobrol sama dia. Katanya dia nggak masalah diajak hidup susah."
"Yang masalah itu sekarang aku. Aku yang nggak mau bawa anak orang lain susah. Makan aja harus diirit-irit, menambah dua kepala lagi rasanya berat," ucapku dengan jujur.
"Ya elah, segimana beratnya sih hidup seorang Mas Hilman?" tanyanya.
"Kalau hidupku nggak berat, aku udah lama ganti motor ini sama yang baru," ucapku salah yang menepuk dashboard motorku.
__ADS_1
"Pamit duluan, ya. Jangan ghibah. Awas kalau gosipin saya!" Tunjuku seraya memberi peringatan kepada mereka. Para laki-laki itu hanya tersenyum, terlihat aneh menurutku. Mungkin saja setelah aku pergi dari sini mereka akan melanjutkan pembicaraannya tentang aku dan dia.