
Aku segera mencari nomor Sinta. Ingin tahu apakah Ibu sudah melihat video ini apa belum? Ibu memang tidak bermain media sosial, tapi bisa saja yang lain memberi tahu Ibu tentang video ini.
"Sinta. Apakah Ibu sudah melihat atau mendengar tentang video itu?" tanyaku pada Sinta saat dia baru saja mengangkat panggilanku.
"Video apa?" tanya Sinta dari seberang sana.
"Berarti kamu belum tau dengan video yang tersebar?" tanyaku pada Sinta.
"Belum, Mbak. Ada video apa, ya?" tanya Sinta dengan nada yang terdengar bingung.
"Ehm, itu ... sebenarnya ...."
Aku menghela napas dengan berat. "Itu video Mbak dan Mas Hilman," terangku kepada Sinta.
"Hah? Video apa?! Tentang apa sampai Mbak dan Mas Hilman ada di medsos?!" tanya Sinta padaku dengan berseru, tapi segera dia merendahkan nada suarnya, "Video apa, Mbak?" tanyanya setengah berbisik.
"Ceritanya panjang, Mbak gak bisa jelaskan di telepon, tapi kamu bisa kan larang Ibu untuk tidak sering berbaur dengan tetangga lain?" pintaku kepadanya
"Mbak takut kalau Ibu dengar dari orang lain dan Ibu syok," pintaku sekali lagi.
"Iya, Mbak. Aku akan coba buat Budhe sibuk di dalam rumah," ucap Sinta dari seberang sana. Aku menghela napas dengan lega. Setidaknya aku menaruh harapan besar kepada Sinta agar Ibu tidak tahu dengan apa yang terjadi.
Mas Hilman baru saja keluar dari kamar mandi saat aku sampai di dapur dengan handuk yang tersampir di bahuku. Dia menatap lesu padaku dan terdiam, tidak memberikan aku jalan untuk lewat.
"Yu. Bisa kita bicara?" tanya Mas Hilman kepadaku.
__ADS_1
"Nanti lah, aku mau mandi." Aku menghindar dari dia. Ingat dengan kesakitan yang dia buat padaku, entah itu sakit hati atau sakit fisik yang dia buat untukku kemarin itu. Aku menubruk tubuhnya, memaksa diri ini lewat untuk membersihkan diri. Terdengar helaan napas yang berat darinya saat aku akan menutup pintu.
Setelah malam itu Mas Hilman tidak lagi keluar dari kamar. Mana yang dia bilang ingin bicara denganku? Dia malah berdiam diri di dalam kamarnya bersama dengan Hana.
***
Mamang kembali menghubungiku, jika tanah yang kami jual itu sudah laku. Dia juga memberikan uang cash kepada Mamang di dalam sebuah amplop besar katanya. Aku mengucap syukur dengan kemudahan yang kami dapatkan sekarang ini.
Aku tersenyum senang saat keluar dari bangunan ini. Apa yang ku lihat di tangan membuatku merasa bisa bernapas dengan lega. Deretan angka pada sebuah buku kecil yang aku pegang, cukup untuk biaya operasi Ibu dan juga perawatan serta biaya yang tidak terduga yang lainnya. Semoga saja tidak kurang dengan ditambah uang tabungan dan juga uang yang Diana pinjamkan kepadaku.
Aku pergi ke rumah Ibu dengan membawa kabar baik ini. Ibu pasti akan senang mendengarnya.
Seperti dugaanku, Ibu tentu senang dengan kabar yang aku bawakan untuknya. Ibu sampai menagis saat aku memperlihatkan angka-angka yang ada di dalam buku kecil itu, tapi Ibu juga sedih karena telah memakai apa yang seharusnya menjadi hakku.
"Alhamdulillah. Tanah yang ada di desa sudah laku?" tanya Ibu tak percaya kepadaku. Aku mengangguk mengiyakan. Sinta juga berucap syukur dengan hal baik yang aku bawakan untuk Ibu.
"Maafkan Ibu ya, Yu. Maafkan Ibu." Tangis Ibu pecah saat memeluk erat diriku.
"Maaf kalau Ibu selama ini menyusahkan kamu. Maaf kalau kamu harus kehilangan apa yang kamu punya." Ibu terisak dengan cukup keras.
"Bu, jangan bicara seperti itu. Jika urusan tanah, Ayu gak keberatan, yang penting Ibu sehat." Aku kembali memeluk Ibu dengan erat. Sunguh aku tidak memikirkan soal tanah yang baru saja lepas di tangan. Aku hanya ingin Ibu sembuh, sudah itu saja. Meskipun aku juga harus menjual semua yang aku punya aku tidak peduli. Aku hanya ingin Ibu sembuh!
Kami terbalut dalam suasana haru, bahagia dan juga sedih.
Malam ini sengaja aku menginap disini. Aku masi ingin bersama dengan Ibu, urusan ke dokter nanti aku akan hubungi via telepon saja.
__ADS_1
"Yu, kamu ini sering banget menginap disini Hilman gak apa-apa, toh?" tanya Ibu kepadaku. Aku hanya menggelengkan kepala ini.
"Tidak apa-apa, Bu. Mas Hilman juga sudah mengizinkan kok," dustaku pada Ibu. Ibu hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengelus kepalaku dengan penuh rasa kasih. Sangat lembut aku rasakan.
"Ibu kemarin mimpi, Yu. Hilman menggendong anak perempuan, cantik sekali, tapi kok gak mirip sama kamu juga Hilman," ucap Ibu dengan pelan. Nada suaranya terdengar sedikit heran.
Aku terdiam mendengar ucapan Ibu barusan. Dalam hati aku bergumam, 'iya memang Mas Hilman akan punya anak, tapi bukan dari aku, Bu'. Ingin rasanya aku mengatakan hal itu, tapi nanti kalau Ibu sudah selesai melakukan operasinya, aku akan katakan semua kebenaran ini.
"Ibu jadi bingung," ucap Ibu lagi.
"Lah kok Ibu bingung? Itu kan hanya mimpi, Bu. Hanya bunga tidur. Kenapa juga sampai susah-susah dipikirkan," ucapku pada Ibu.
"Iya ya, Nduk. Itu hanya mimpi, tapi kok kayak nyata dan buat Ibu jadi kepikiran terus. Dalam mimpi Ibu juga lihat ada wanita lain di rumah kalian."
Aku tersentak dengan apa yang dikatakan Ibu. Apakah ini feeling seorang Ibu? Kuat sekali perasaannya.
"Siapa, Bu? Apa mungkin pengasuh anak itu, ya? Mungkin setelah aku punya anak aku akan dapat pengasuh juga?" tanyaku dengan tawa kecil, mencoba untuk memberikan candaan kepada Ibu.
"Kamu ini kalau punya anak jangan diasuh orang lain. Asuh sama kamu sendiri. Nanti kalau sudah besar anak kamu lebih dekat dengan wanita lain, piye?" tanya Ibu padaku dengan nada tegas.
"Iya, Bu. Ayu juga gak akan ambil pengasuh, kok. Pasti akan Ayu asuh sendiri." Aku mendekat pada Ibu dan memeluknya dengan erat.
"Besok Ayu akan tanyakan sama dokter kapan bisa dilakukan operasi untuk Ibu. Ibu sudah siap kan kalau dokter bilang operasi dekat-dekat ini?" tanyaku padanya, menatap wajah Ibu dari bawah dagunya.
"Iya, Ibu akan siap kapanpun operasi itu dilakukan. Tapi kamu pasti bakalan repot bolak-balik ke rumah sakit untuk jaga Ibu," ucapnya dengan nada sedih.
__ADS_1
"Ibu ini bicara apa sih? Ayu sedari kecil nyusahin Ibu terus, jagain Ayu terus, emang apa salahnya kalau Ayu gantian yang jagain Ibu? Ayu selama ini sudah ninggalin Ibu sama Sinta. Ayu bukan anak yang berbakti sama Ibu." Seketika rasa haru aku rasakan dalam diri ini. Ingat bagaimana perjuangan Ibu yang mencari nafkah setelah kepergian bapak. Membiayai kuliah dengan berdagang kecil keliling masuk keluar gang komplek perumahan. Terbayang dengan apa yang beliau lakukan di tengah terik matahari dan juga banjir keringat. Setelah aku bekerja, aku melarang Ibu untuk berjualan lagi apalagi setelah Ibu mengidap penyakit jantung ringan.
"Kamu itu anak yang berbakti, kok. Jangan selalu bilang seperti itu. Kamu kebahagiaan Ibu, Yu. Ibu sangat sayang sekali sama kamu. Kamu adalah kebahagiaan Ibu. Akan Ibu jaga sampai akhir hayat Ibu untuk melindungi kamu dan menyayangi kamu." Suara Ibu bergetar ketika mengatakan hal itu. Terdengar isak tangisnya yang pelan di telingaku.