Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
204. Desas Desus Tak Enak


__ADS_3

Aku tidak tahu kenapa laki-laki ini sangat jahil sekali, bahkan aku yang sedang membantu mengancingkan pakaiannya pun dia ganggu dan tempel terus.


"Sayang, bagaimana bisa aku kancingkan pakaian kamu kalau kamu saja nempel terus seperti itu?" tanyaku kepadanya. Dia tidak melepaskan aku, malah semakin erat memelukku dan menyadarkan kepalanya pada bahu.


"Ya habis aku sangat kangen sekali sama kamu," ucapnya dengan nada yang manja.


"Ya ampun, Sayang. Aku ini kan sudah dari tadi juga sama kamu, nggak kemana-mana." Ku coba untuk menjauhkan dirinya dariku.


"Ya justru itu, karena aku sebentar lagi akan pergi bekerja. Jadi, rasanya aku nggak rela akan meninggalkan kamu," ucapnya lagi.


Ya ampun ada apa dengan suamiku ini? Kenapa dia seperti anak kecil saja!


"Ih kamu ini. Nanti sore kita kan juga ketemu lagi. Cepat bangun yang benar aku bantu kancingkan," ucap ku sedikit kesal sambil mendorong tubuhnya.


Arga menggelengkan kepalanya. "Lima menit lagi." Pintanya kepadaku. Aku menghembuskan nafas kesal, ini sudah hampir jam delapan pagi.


"Lihat jam berapa sekarang ini?" tanyaku kepadanya.


"Masih belum jam delapan."


"Nanti terlambat."


"Tidak akan. Lagi pula aku kan bosnya terlambat sedikit tidak jadi masalah," ucapnya dengan tidak peduli. Bibirnya terasa basah mengecup leherku.


"Iya kamu tidak masalah, tapi Gara tidak boleh terlambat ke sekolah," ucapku lagi.


Mendengar nama Gara laki-laki itu langsung mengangkat kepalanya. Dia sedikit memanyunkan bibirnya.


"Jelek, sana cepetan susul Gara ke atas. Aku mau ganti baju," ucapku padanya seraya mendorong punggungnya.


"Iya, iya. Tapi sun dulu," ucapnya sebelum keluar dari kamar. Dia menunjuk ke pipinya.


Aku berdecak kesal, melihat ke kanan dan ke kiri. Saat tidak ada orang barulah aku mendekatkan bibirku kepadanya. Hampir saja mengenai pipinya dia dengan sengaja menolehkan kepala, sehingga kami bibir bertemu bibir. Aku terkejut dan belum sempat menjauhkan diri dia sudah menahan tengkuk leherku. Lagi-lagi harus pasrah dengan ulahnya. Sepertinya aku harus sudah terbiasa dengan tingkahnya yang seperti ini.


Beberapa detik Arga menciumku dengan lembut, dan kemudian melepaskannya. Dia tersenyum senang dan bahagia sekali. Seperti mendapatkan kemenangan. Ibu jarinya dia usapkan pada sudut bibirku yang basah. Aku hanya diam meliriknya dengan kesal.


"Kamu tuh kebiasaan deh! Kenapa nakal sih?" tanyaku sebal.


"Hehe, habisnya kamu itu menggemaskan sekali," ucap Arga sambil menjepit kedua pipiku dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. Dia memperlakukanku seperti bayi yang membuat dia gemes.


Kesal dengan perlakuannya padaku, aku menepis kedua tangannya dengan kasar. Pipiku lumayan sakit.


"Sakit," ucapku sambil mengelus kedua pipi ini. Aku cemberut, marah dengan perlakuannya. Akan tetapi dia tidak merasa bersalah sama sekali sepertinya, hanya tersenyum meringis dan sekali lagi mengambil tengkuk leherku. Aku menjauh takut dia menyerangku dengan bibirnya, tapi dengan cepat dia mendaratkan kecupannya pada keningku.


"Cepat ganti baju, aku akan susul Gara ke atas," ucapnya sambil tersenyum. Dia mengelus pipiku sebelum pergi menyusul putra kesayangannya ke lantai atas.


Aku menatap Arga dengan kesal, bukannya meminta maaf dia malah pergi begitu saja. Memangnya siapa yang sudah bikin aku terlambat juga?


Kami sudah ada di dalam mobil, Arga mengantarkan Gara terlebih dahulu ke sekolah. Padahal ada sopir di rumah, tapi Arga sendiri yang ingin mengantarkan Gara ke sekolah bersamaku.

__ADS_1


"Papa kenapa tidak berangkat sendirri saja? Kan di rumah ada Pak sopir!" ucap anak itu. Dia sudah bisa mengucapkan huruf 'r', meski harus berusaha dengan keras.


"Memangnya kenapa? Apa kamu tidak suka Papa antar?" tanya Arga melirik pada putranya dari spion yang ada di depannya.


"Nggak apa-apa sih, tapi kasihan juga sama Pak sopirr nggak punya tugas!" Ujar anak itu.


Arga dan aku tersenyum bersamaan, sangat pintar sekali dia.


"Papa ingin antar kamu ke sekolah, Sayang, juga ingin lebih lama bersama dengan Mama Ayu," ucap laki-laki yang duduk di sampingku ini.


"Huh modus!" seru anak itu membuat aku terkejut, sepertinya Arga juga sama terkejut sepertiku.


"Dari mana dia tahu kata modus?" bisik Arga kepadaku.


Aku mengangkat kedua bahu. "Aku tidak tahu, Aku kira kamu yang mengajarkannya!" Aku sama berbisik berbicara kepada Arga. Agak lucu juga tapi ngeri, dari mana dia tahu dengan istilah seperti itu.


Kami sudah sampai di sekolah Gara. Seperti hari kemarin sebelum turun dari dalam mobil aku dan Gara mencium punggung tangan imam kami.


"Mama jangan lupa, ya?" ucap Arga sebelum kami turun. Aku bingung apa yang Arga maksud dengan 'jangan lupa'.


"Apa?" tanyaku kepadanya sambil menatapnya.


"Kalau mau pergi atau pulang kamu telepon aku beri kabar aku. Oke?" ucap Arga. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Siap, Sayang," ucapku sambil tersenyum lalu membuka pintu mobil.


"Hati-hati di jalan. Ingat jangan nakal!" ucapku pada laki-laki itu. Dia membentuk huruf o dan k di tangannya. Satu detik kemudian mobil itu pergi meninggalkan kami.


Aku mengantar Gara sampai ke kelasnya.


"Mama Garra lupa bawa air minum," ucap anak itu padaku setelah dia menyimpan tasnya.


"Kok bisa? Bukannya tadi Mbak sudah persiapkan ya?"


"Kayaknya tadi ketinggalan pas Garra minum." ucap anak itu lagi lalu meringis tersenyum.


"Ya sudah, ayo kita pergi ke kantin."


Aku dan Gara berjalan menuju ke ruangan yang lain. Melewati beberapa orang itu kembali. Sebenarnya rasanya sedikit tidak nyaman, apalagi saat tatapan mata itu tidak teralihkan dariku. Aku seperti seseorang yang tertangkap basah mencuri atau melakukan kesalahan.


"Di sana, Mah!" Tunjuk Gara pada satu ruangan dengan tulisan kantin di atasnya.


Kami masuk ke dalam sana dan mencari air mineral untuk Gara. Anak itu juga mengambil yang lain, berupa minuman susu kemasan.


"Apa Gara boleh minum susu ini?" tanyaku memastikan pada anak itu.


"Boleh," ucapnya lalu memeluk kedua benda tersebut dan membawanya ke kasir.


Aku mengeluarkan satu lembar uang berwarna biru pada penjaga kantin.

__ADS_1


"Gara sama siapa ini?" tanya penjaga kantin yang aku perkirakan usianya tidak jauh di atasku.


"Sama Mama," jawab Gara sambil tersenyum. Aku mengganggukan kepala saya tersenyum kepada Ibu tersebut.


"Oh, sekarang sudah punya mama ya? Jadi sekarang nggak perlu takut lagi diejek sama teman," ucap wanita itu yang membuat aku sedikit terkejut.


"Iya sekarrang nggak bisa lagi. Kan Garra sudah punya Mama. Mama Garra hebat," ucap anak itu melebihkan. Padahal aku sendiri tidak tahu dia menyebutku hebat, hebat yang seperti apa?


"Iya Mama Gara juga cantik sekali," ucap wanita itu sambil mengangkat dua ibu jarinya. Gara tersenyum senang sampai deretan giginya terlihat.


"Ini kembaliannya Bu," ucap wanita itu sambil memberikan uang kembalian padaku.


"Gara minum dulu susunya di kursi sana," perintahku kepada Gara. Anak itu menganggukan kepalanya dan kemudian pergi ke kursi yang ada di ruangan ini.


"Selamat ya atas pernikahannya dengan ayah Gara. Saya senang mendengarnya kalau sekarang ini Gara sudah punya ibu," ucapnya lagi dengan ramah.


"Iya terima kasih. Anu, Bu. Apakah Gara sering diejek?" Tanyaku kepadanya.


Wanita itu terdiam, terlihat seperti salah tingkah. "Em ... ya, kadang sih, Bu. Kadang ada beberapa anak nakal yang suka ejek ejek gitulah, tapi bukan cuma sama Gara aja kok. Anak yang lain juga kena bully," terang wanita itu lagi.


Aku mengganggukan kepala. "Terima kasih ya, Bu." Ucapkku kepadanya dan kemudian meninggalkan dia dan mendekat kepada Gara.


Gara sudah menghabiskan satu kotak minuman susu kemasan.


"Sudah selesai?" tanyaku kepadanya. Gara menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju tong sampah yang ada di sekitar sana. Kami kembali menuju ke kelas Gara.


"Enak banget ya bisa nikah sama papanya Gara? Derajatnya jadi terangkat gitu," ucap seseorang saat aku berjalan melewati di depannya.


Mau tidak mau Aku menoleh ke arahnya, jelas wanita itu sedang membicarakan diriku.


"Iya enak banget. Apa dia pakai pelet ya? Sekelas Bu Rena saja masih ditolak loh. Padahal kan dia cantik, kaya, seksi. Tapi kenapa malah dia yang menikah sama ayahnya Gara ya?" Gumam wanita yang lain.


Desas-desus lain terdengar juga di telingaku, rasanya tentu saja tidak enak, mereka membicarakan ku tepat saat aku ada di sini.


Aku masih diam, tidak ingin berdebat. Tadinya aku ingin berkawan baik dengan mereka, tapi kenapa malah aku jadi bahan pembicaraan?


"Eh Mamanya Gara. Setelah antar Gara ke kelas ikut dengan kami, yuk," ucap salah satu wanita yang lain. "Kita makan-makan di cafe ngobrol, ngopi, supaya bisa dekat gitu," tambahnya lagi.


Aku mengganggukan kepala Seraya tersenyum. "Terima kasih, tapi saya mau menunggu anak saya di sini," ucapku masih berusaha sopan.


"Lama kalau menunggu di sini lebih baik kita makan-makan saja di luar, siapa tahu Mama sambungnya Gara ada minat join bisnis sama kami," ucap salah satu yang lain. Sedangkan orang yang tadi membicarakanku tersenyum tipis meliriku dengan malas. Aku mendengarnya menyebut diriku adalah mama sambung, memang benar sekali tapi aku tidak menyukai sebutannya tersebut.


"Kalau untuk join bisnis saya mohon maaf, Sepertinya saya harus membicarakannya dan meminta izin dengan suami."


"Lho Memangnya kenapa? Apa jangan-jangan Papanya Gara galak ya sampai harus minta izin segala?" tanya wanita yang tadi pertama berbicara.


"Oh bukan seperti itu. Tapi ada baiknya semua hal yang dilakukan oleh seorang istri atas dasar izin dari suami. Saya tidak berani jika saya tidak memiliki izin dari beliau. Permisi ya, saya duluan," ucapku pamit lalu mengikuti Gara menuju ke kelasnya. Sekilas aku mendengar dari salah satu mereka yang menyebutkan jika aku sombong. Orang miskin yang terangkat derajatnya. Jelas sekali aku mendengarnya akan tetapi aku tidak tahu siapa orang yang telah berbicara seperti itu.


"Mama kalau mau pulang tidak apa-apa," ucap Gara dengan suara yang lirih.

__ADS_1


Eh? Ada apa ini?


__ADS_2