
Aku terpaksa mengikuti ucapan Arga untuk tidak mengantar Gara ke sekolah. Hanya mengantarnya saja di depan pintu gerbang setelah itu aku pulang bersama dengan sopir. Gara terlihat tidak bersemangat sama sekali saat dia masuk ke dalam sekolah itu sendirian. Berbeda saat denganku kemarin. Rasanya tidak tega juga melihat dia murung seperti itu. Akan tetapi, aku mencoba mengikuti apa saran dari Arga. Mungkin dengan begini tidak akan ada lagi omongan-omongan yang tidak mengenakkan yang bisa terdengar oleh telinga Gara.
Aku meninggalkan anak itu dengan pengasuhnya. Rasanya sedih dan juga sepi, di mana biasanya aku berada duduk di sana menunggu dia pulang.
"Kita pulang ke rumah, Bu?" tanya sopir kepadaku.
"Boleh tidak kalau kita menunggu di sini sampai Gara pulang?" tanyaku pada pria yang duduk di depan.
"Ya ... Boleh sih, tapi menunggu Mas Gara pulang itu lama loh," ucap laki-laki itu dengan bingung.
"Nggak apa-apa lama juga. Saya ingin menunggu Gara sampai pulang sekolah. Atau kalau bapak mau Bapak boleh pulang pakai taksi, nanti biar saya saja yang bawa mobil ini pulang," ucapku kepadanya.
"Eh tidak, saya nggak berani meninggalkan Ibu Ayu di sini sendiri. Saya yang mengantar pergi, saya juga yang mengantarkan pulang," ucap laki-laki itu menolak.
"Ya sudah cari tempat saja yang teduh." Titahku padanya. Dia menganggukan kepalanya dan menjalankan mobil ini mencari tempat yang teduh di bawah rimbunnya pohon di tepi jalan.
Aku menunggu, baru setengah jam lamanya duduk di dalam mobil. Arga menghubungiku.
"Kamu ada di mana?" tanya laki-laki itu kepadaku.
"Maaf, aku nggak ada di rumah. Aku ...."
"Dimana?" Arga memotong ucapanku sebelum aku selesai berbicara. Terdengar nada suaranya sedikit ada amarah.
"Aku sedang ada di depan sekolah, menunggu Gara pulang," terangku kepadanya.
"Tapi tenang kok, Aku ada di dalam mobil di luar area sekolah di tepi jalan. Aku khawatir sama Gara," ucapku jujur.
Tidak terdengar suara apa-apa dari seberang sana, kemudian terdengar helaan nafas berat dari suamiku.
"Bukankah Gara sudah bersama dengan pengasuh?" Tanya Arga kepada ku.
"Kamu bisa pulang, Yu."
"Aku nggak mau. Aku mau nunggu Gara pulang sekolah," ucapku dengan keras kepala. Meskipun ayah dan anak itu tidak menginginkan aku berada di sini tapi aku akan tetap menunggunya pulang. Setidaknya aku sudah berusaha untuk selalu ada untuk putra ku.
"Ya sudah kalau kamu maunya begitu. Jangan memaksakan diri. Kamu pulang saja nanti kalau kamu capek."ucap Arga.
"Iya aku mengerti. Aku akan pulang nanti kalau capek. Tolong jangan suruh aku pulang sekarang," pintaku kepada laki-laki ini.
"Oke, jangan lupa makan siang. Aku nggak bisa jemput kalian," ucapnya lagi. Aku menjawabnya tidak apa-apa. Pekerjaannya memang sangat banyak dan juga lebih penting untuk diselesaikan daripada urusan kami.
Telepon dimatikan olehnya. Aku terdiam menyandarkan diriku pada sandaran mobil dan menatap pagar berwarna hitam sekolah elit tersebut. Di dalam sana terlihat beberapa orang yang berjalan beriringan dengan yang lainnya. Jika saja tidak ada kejadian kemarin mungkin hari ini aku masih bisa ada di dalam sana.
"Bu, apakah anda butuh makanan atau minuman?" Tanya Pak sopir kepadaku.
"Tidak perlu, terima kasih."
Aku terus mengamati, terkadang ingin sekali melihat wajah Gara meskipun sekilas di pagar itu. Akan tetapi, rasanya tidak mungkin. Anak itu kini sedang belajar di dalam sana dan aku tidak boleh mengganggunya. Bisa jadi dengan kehadiran diriku, dia jadi tidak bisa berkonsentrasi untuk belajar.
Suasana di bawah pohon memang selalu menyejukkan sehingga rasa kantuk mulai menyerangku. Tanpa sadar aku menutup mata.
***
"Mama kenapa ada di sini?" Suara anak kecil khas terdengar di telingaku. Tubuh ini terguncang olehnya. Aku membuka mata dan mendapati jagoanku ada di sini. Di kursi depan ada Pak sopir dan juga pengasuh Gara.
"Mama kenapa tidak pulang?" tanya Gara kepadaku.
Aku masih mengumpulkan kesadaranku. Tidak aku sangka ternyata aku tertidur di sini.
"Tadi Mama menunggu sebentar, ternyata ketiduran," ucapku sambil tersenyum padanya.
Dia pun ikut tersenyum dan kemudian mendekat padaku, menempelkan tubuh mungilnya di sampingku. Aku melingkarkan tangan dan memeluknya. Ternyata ini adalah kebahagiaanku, bisa selalu dekat dengan anak ini.
"Bagaimana tadi pelajarannya? Apa kamu bisa?" Tanya ku kepadanya. Dia menganggukkan kepalanya dengan bersemangat, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas dan menunjukkannya kepadaku.
Beberapa nilai yang dia dapatkan hari ini, bagus sekali membuat aku merasa bangga padanya.
"Hebat sekali anak mama!" Seru ku memujinya. Aku bangga sekali.
"Apa Gara ingin mama belikan hadiah?" Tanyaku kepada anak itu. Dia hanya diam dan berpikir.
"Minta kucing boleh?" Tanyanya dengan menatapku penuh harap.
"Kalau kucing lebih baik bicara saja dengan papa ya. Mama nggak berani kalau Papa tidak mengizinkan."
Gara mengerucutkan bibirnya, terlihat wajah itu sebal.
__ADS_1
"Papa pasti nggak bolehin."
"Kenapa?"
"Karena dulu Garra juga punya kucing tapi mati," ucap anak itu dengan sedih. "Kata Papa sebelum Garra bisa mengurus kucing dengan baik Garra nggak boleh pelihara."
"Iya memang benar sih, kan kasihan juga kalau kucing itu sampai mati lagi," jelasku kepadanya.
"Kalau hadiahnya diganti es krim saja mau tidak?" Tanyaku kepadanya. Dia tersenyum dengan senang dan menganggukkan kepalanya dengan bersemangat.
"Oke Pak Sopir, kita pergi ke minimarket!" Seruku pada laki-laki yang kini sedang mengemudi.
"Siap!" Jawabnya dengan lantang.
Mobil kini meluncur agak cepat di jalanan menuju ke minimarket yang tidak jauh dari sekolah Gara.
"Tapi jangan pilih yang besar ya. Mama nggak mau kalau Papa sampai marah karena kamu makan es krim," tunjukku di depan wajahnya.
Dia menganggukkan kepalanya. " oke, Boss!" Seru anak itu lalu berlari ke stand es krim yang ada di sana.
Seperti apa yang Aku perintahkan terhadapnya, Gara mengambil cup es krim ukuran sedang. Dia menikmatinya sambil berjalan ke arah kasir. Bersama dengan belanjaan lain aku membayarnya dan segera kembali ke dalam mobil.
Meskipun aku tidak bisa mendampinginya di dalam sana tapi aku bahagia sekali dengan Gara yang bisa bersikap mandiri.
Kami langsung pulang ke rumah. Ingat dengan pesan Arga jika kami harus segera pulang ke rumah setelah pulang sekolah.
Aku sedikit terpana terdiam saat melihat ada mobil yang terparkir di garasi. Itu adalah mobil Arga.
"Ayo cepat habiskan es krimnya. Jangan sampai Papa melihat, mama takut papa akan marah."
Gara segera menghabiskan sisa es krim yang ada di dalam cup. Tidak lupa dengan pengasuhnya yang memberikan tisu untuk mengelap wajahnya yang basah karena es krim tersebut.
"Sudah habis?" Tanyaku kepada anak itu. Dia menganggukan kepalanya dan segera membuang bungkusnya ke dalam tong sampah yang ada di sana.
Kami turun dan masuk ke dalam rumah. Terlihat laki-laki itu sedang duduk di sofa dan menghubungi seseorang dari ponselnya. Wajahnya terlihat sedikit tegang.
"Bagaimana bisa kalian salah kirim? Kan sudah jelas jika barang itu harus dikirimkan ke Eropa!" Sedikit berteriak orang itu membuat aku takut melihatnya. Begitu juga dengan Gara yang kini bersembunyi di belakang tubuhku.
"Kita ke kamar yuk!" ku ajak Gara ke kamarnya. Tidak baik baginya mendengar ayahnya marah-marah seperti itu pada orang lain meski di dalam telepon.
"Papa kenapa, Ma?" Tanya Gara kepadaku. Kami berjalan menaiki tangga sambil melihat ke arah Arga yang sepertinya tidak sadar dengan kehadiran kami. Wajahnya terlihat frustrasi, sekilas tadi mendengar dia memang sedang marah.
Gara aku mandikan, sengaja dengan air hangat agar anak itu bisa berlama-lama di kamar mandi. Takut jika nanti saat kami turun Arga masih ada di bawah sana, masih marah-marah kepada orang yang dihubungi. Aku tidak mau anakku sampai mendengarnya lagi.
Beruntung Gara suka bermain air, apalagi dengan boneka karet berbentuk bebek yang selalu ada di dalam bathtub untuk menemaninya mandi setiap hari.
Setelah aku rasa cukup, aku menyuruh Gara untuk menyelesaikan mandi. Anak itu sangat menarik sekali sampai tidak pernah protes. Pakaian telah disiapkan oleh pengasuh dan disimpan di atas kasur.
"Aku bisa sendiri," ucapnya saat aku akan membantu mengancingkan kemejanya.
"Oke pintar sekali anak mama, Mama akan lihat dulu di bawah apakah Papa sudah selesai menelepon." Dia menggerakkan kepalanya naik dan turun.
Aku segera turun ke lantai bawah dan sudah tidak mendapati Arga berada di sana. Melihat ke arah luar, mobilnya juga sudah tidak ada di garasi. Sebenarnya ada apa? Tidak biasanya dia pergi tanpa pamit kepada kami terlebih dahulu.
Aku mengeluarkan HP dan hendak menelepon Arga, tapi melihat wajahnya yang seperti tadi rasanya mungkin aku takut panggilanku mengganggu pekerjaannya.
Sudah lah nanti sore akan aku tanyakan saja sendiri.
Saat kaki ini akan melangkah, suara dering hp-ku terdengar. Entah ini kebetulan atau tidak, tapi nama yang tertera di layar tersebut adalah nama Arga. Segera aku mengangkat panggilan tersebut.
"Iya?"
"Bisa kamu datang ke pabrik?" Tanya Arga dengan dada suara yang pelan, aku jadi panik mendengarnya.
"Ada apa? Apakah kamu sedang sakit?" Tanya ku khawatir.
"Suruh sopir mengantar segera ke sini. Gara titipkan saja pada pengasuh," ucapnya dengan lesu.
Dia mematikan telepon membuat aku bertanya-tanya. Apa gerangan yang terjadi kepadanya?
Dengan segera Aku meminta sopir untuk mengantarku ke pabrik. Aku sangat khawatir dengan dia apalagi saat aku mencoba menghubunginya dia sama sekali tidak menjawabku. Beruntung, Gara mau aku titipkan pada pengasuh di rumah.
Hampir satu jam perjalanan kami sampai di pabrik. Masih banyak orang yang aku kenal di sana, mereka tersenyum dan mengganggukan kepalanya saat aku melewatinya. Aku segera mencari kantor Arga. Rasa khawatir membuatku melangkahkan kaki dengan sangat cepat.
Ku ketuk pintunya sebelum aku masuk ke dalam sana. Aku menunggu sampai suara yang ada di dalam sana menyuruhku untuk masuk. Segera setelah terdengar suaranya aku masuk ke dalam sana. Melihat Arga yang kini sedang duduk sambil memijat pangkal hidungnya, membuat aku merasa khawatir.
"Apa yang terjadi?" Aku mendekat ke arahnya dengan cepat dan duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Tidak ada," ucapnya. Dia melepaskan tangannya dari wajah dan tersenyum padaku. aku menjadi bingung sudah jelas-jelas dia mempunyai masalah tapi kenapa dia bilang tidak ada yang terjadi.
"Aku hanya ingin kamu menemaniku, Yu," ucapnya sambil tersenyum.
Dia menggerakkan tangannya memintaku untuk mendekat padanya. Aku menurut dan mendekat, dia menarik tanganku dan mendudukkanku di atas bantuannya.
"Eh apa yang kamu lakukan? Nanti bagaimana kalau ada orang yang masuk ke sini?"
Arga tidak mendengarkan. Dia merebahkan kepalanya pada bahuku. Aku mengelus pipinya dengan lembut.
"Ada apa? Apa ada masalah yang terjadi?" Tanya aku mencoba mengintrogasi.
"Hanya masalah kecil saja dan aku sedang butuh ketenangan," ucapnya. Kulihat dia memejamkan matanya. Terlihat di wajah itu lelah.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanyaku lagi padanya. Dia menggelengkan kepalanya memelukku semakin erat.
"Sudah cukup dengan seperti ini. Aku hanya ingin kamu ada di sini dan itu sudah cukup membantuku."
Aku membiarkannya. Dia tidak bergerak. Mungkin aku tidak tahu terlalu banyak soal perusahaan, setidaknya aku bisa membantunya dengan cara seperti ini.
Pintu diketuk dari luar dan kemudian tidak lama terbuka, seorang wanita yang aku kenal sebagai sekretarisnya masuk dan terkejut ketika mendapati aku yang sedang berada di atas pangkuan suamiku.
Wajahnya terlihat tidak enak hati saat aku menatapnya, bukan karena aku marah tapi aku juga merasa malu dilihat seperti itu oleh karyawan.
"Arga, itu ada sekretaris kamu," ucapku padanya. Kucoba untuk melepaskan diri dari dia. Akan tetapi, aku tidak bisa melakukannya sama sekali. Dia malah memelukku semakin erat.
"Ada apa?" Tanya Arga tanpa mengangkat kepalanya sama sekali.
Wanita itu mendekat ke arah meja sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap kami. Di tangannya membawa sebuah berkas.
"Saya mengantarkan berkas ini kepada bapak. Mohon diterima dan dicek kembali," ucap wanita itu kemudian menyimpan berkas tersebut di atas meja masih sambil menundukkan kepalanya.
"Hem," jawab Arga dengan singkat.
"Terima kasih," ucapku kepada wanita itu. Dia pamit untuk undur diri dan kembali ke tempatnya.
"Arga aku malu dilihat seperti itu oleh orang lain," ucapku kepadanya.
"Memangnya kenapa? Kalau kita pasangan yang tidak halal tentu kamu boleh malu. Kita ini adalah pasangan halal dan semua orang juga sudah tahu," ucap laki-laki itu tidak peduli.
"Iya memang itu benar. Tapi aku malu dia tadi melihat kita yang seperti ini."
Tidak aku sangka Arga tertawa kecil sambil menarik kepalanya, dia menatapku. Gurat lelah terlihat di bawah mata suamiku.
"Untung kita tidak melakukan hal lain," ucapnya.
"Eh? Hal lain apa?" Tanyaku. Aku curiga jangan-jangan dia ....
Arga tersenyum dan mengambil daguku kemudian mendekatkan dirinya. Satu kecupan manis dia berikan di bibirku.
"Aku sangat kangen sama kamu," ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu ini aneh, seperti kita sudah terpisah jauh saja," ucapku kepadanya.
Lagi-lagi dia tertawa bukannya menjawab.
"Kenapa cuma ketawa?"
Dia menghilangkan kepalanya dan kembali mencium bibirku dengan singkat.
"Kita pergi, yuk!"
"Ke mana?"
"Ke suatu tempat," ucapnya sambil menarik tanganku sampai aku berdiri. Dia mengambil jas yang tergantung di belakang kursinya dan juga dompet serta kunci mobil.
"Kita akan ke mana?" Tanya aku lagi saat laki-laki itu menarik tanganku keluar dari kantornya.
"Aku bilang ke suatu tempat," ucapnya memberi sebuah tanda tanya kepadaku. Dia membawaku turun dengan cepat ke lantai bawah.
"Eh bukannya kamu ada berkas yang harus ditandatangani?" Tanyaku kepadanya.
"Itu urusan nanti. Sekarang kita pergi terlebih dahulu." Dia terus menarik tanganku. Sampai kami berada di tempat parkir barulah dia melepaskannya. Pintu mobil dia buka, dia sedikit mendorong ku masuk ke dalam sana dan memasangkan sabuk pengaman setelah aku masuk dan duduk. Semua itu dia lakukan dengan sangat cepat sampai-sampai aku tidak bisa berbicara.
Arga setengah berlari memutari mobil dan segera masuk. Mobil dia nyalakan dan melaju meninggalkan tempat parkir.
"Kita akan ke mana sih?" Tanyaku lagi masih penasaran akan tempat yang diucapkan.
__ADS_1
Dia hanya tersenyum dan menggerakkan kedua bahunya tinggi-tinggi. Rasanya sebal kalau dia sudah seperti ini. Aku Jadi curiga apakah dia akan membawaku ke tempat yang aneh?