
Aku senang dengan kehadirannya di sini. Meskipun dulu dia pernah berbuat jahat kepadaku, tapi aku sudah melupakannya. Apalagi ketika mendengar cerita tentang kehidupannya sekarang ini dari pemuda yang aku temui di rumah sakit dulu, hidupnya sangat kasihan sekali. Dia sudah mendapatkan karma dari perbuatannya terdahulu. Sekarang kenapa aku harus mempunyai dendam kepada dia? Bagiku cukup dengan apa yang dia dapatkan selama ini.
Hari ini adalah acara aqiqah putraku. Dia tertidur dengan lelap dari tadi setelah aku memberinya air susu. ASI ku sudah lancar, tidak bermasalah seperti saat pertama kali akan memberikannya kepada putraku ini. Mungkin memang masalah waktu, saat itu masih macet. Akan tetapi, sekarang ini sedang sangat melimpah sehingga seringkali bajuku basah karena airnya yang terus keluar.
Acara berjalan dengan lancar, meskipun marawis sedang dimainkan, tapi putraku tertidur dengan lelap, seakan dia menikmati lagu sholawat yang mereka bawakan. Setelah acara selesai semua orang makan bersama, kami sengaja memesan makanan untuk orang-orang yang kami undang ke sini. Begitu juga saat mereka pulang, kami bawakan makanan ringan beserta amplop di dalamnya. Isinya tidak banyak, tapi sekiranya bisa membuat anak-anak panti menjadi senang.
Mas Hilman juga pamit, sedikit kehilangan keceriaan dari Vita. Meskipun sedari tadi dia hanya bisa berteriak dan memanggil ayahnya, tapi anak itu bisa membuat Gara tersenyum dan juga tertawa. Sepertinya Gara dan Vita bisa berteman dengan baik.
"Memangnya kita nggak apa-apa dibawa angin-anginan?" tanyaku kepadanya dengan khawatir, ini sudah sore aku takut jika Vita menjadi sakit karena terkena angin.
"Nggak apa-apa, aku bawa jaket yang lain punya Vita di motor," ucapnya.
"Aku pamit, ya. Terima kasih karena sudah mengundangku. Aku doakan semoga keluarga kalian sehat dan bahagia selalu," ucapnya sambil mengangkat Vita ke dalam gendongannya.
"Terima kasih, kamu juga semoga doa yang sama dan juga baik kembali kepadamu."
"Aku mau pamit sama ibu, tapi kira-kira Ibu mau nggak ya?" tanyanya padaku.
"Ibu mungkin terlihat marah, tapi aku yakin Ibu nggak punya dendam. Kalau pun Ibu masih marah itu cuma sesaat saja. Sana pamit sama ibu," ucap ku memberi perintah kepadanya.
Dia tersenyum, aku mengerti akan arti senyumannya itu. Sepertinya dia merasa takut.
"Pamit saja tidak apa-apa, Ibu juga nggak akan teriak-teriak di sini," ucapku sambil memberikan senyuman kepadanya. Dia akhirnya menggangguk dan berpamitan kepada Arga sebelum menemui ibu.
Kulihat dari tempatku berdiri, dia berbicara kepada ibu dengan sopan. Meskipun kini ibu membuang mukanya, tadi aku melihat dari lirikan matanya fokus ibu kepada Vita. Aku tersenyum ketika ibu akhirnya berbicara kepadanya. Ibu, jika sedang masih marah pasti tidak ingin berbicara sama sekali. Lebih banyak diam dan juga menghindar, tapi kali ini Ibu berbicara meskipun singkat kepada Mas Hilman. Laki-laki itu kemudian pulang setelah menyelami semua orang yang tersisa di sini.
"Kenapa dia diundang ke sini sih? Itu mantannya Mbak kan?" tanya menantu Bibi baru saja mendekat kepadaku.
"Iya dia memang mantan saya. Tapi saya tidak ingin mempunyai dendam sama dia, justru saya ingin menjalin silaturahmi sama dia," ucapku.
"Ih kalau aku jadi Mbak Ayu, aku nggak mau berurusan lagi dengan mantan suami," ucapnya lagi. Aku hanya tersenyum tipis. Jelas-jelas memang kami berbeda, aku tidak bisa seperti dia. Wanita dengan dua anak itu kini pergi mendekat kepada bibi setelah mendengar jawabanku tadi.
Ibu kini datang mendekat, aku menebak jika Ibu juga akan bertanya seperti dia tadi. Dan benar saja dengan apa yang aku perkirakan, Ibu memang menanyakan hal itu.
"Ya memangnya kenapa sih Bu? Ayu itu yang ingin menjalin silaturahmi dengan dia. Lagi pula dia juga sudah banyak berubah," ucapkan kepada ibu.
"Dari mana kamu tahu kalau dia sudah berubah? Nggak ingat kamu apa yang dia lakukan dulu sampai kamu jadi celaka seperti itu?" tanya ibu.
"Ayu nggak lupa, ingat sekali. Tapi dendam lama-lama juga tidak baik, lagi pula dia juga sudah mendapatkan pelajaran dari apa yang dia lakukan dulu. Percaya saja Bu, dia sudah berubah," pintaku kepada ibu. Ibu hanya menghela napasnya dengan sedikit bersuara, tanda jika dia kesal kepadaku, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa.
"Iya, Bu. Dia sudah berubah kok. Lagi pula kalau dia masih ingin berbuat jahat saya bisa memantaunya setiap hari, karena sekarang dia bekerja di perusahaan saya," ucap Arga yang membuat aku menoleh kepadanya.
"Eh dia bekerja di pabrik?" tanya ibu dengan nada sedikit tidak percaya.
"Iya dia bekerja sama saya. Saya memberikan pekerjaan, sekaligus memantau pergerakan dia, jadi dia tidak ada kesempatan untuk berbuat yang tidak-tidak kepada Ayu," ucapnya lagi. Ibu menganggukan kepalanya tanda mengerti dan mengangkat ibu jarinya.
__ADS_1
Ternyata dibalik kebaikan dia ada niat terselubung. Akan tetapi, aku senang karena aku sendiri tidak menyangka jika tujuannya mengangkat Mas Hilman menjadi pengawas di pabriknya adalah sekalian untuk mengamatinya.
Ibu kini melenggang pergi berkumpul dengan yang lainnya, sedangkan aku dan harga memilih untuk beristirahat ke kamar, menemui putra kami yang masih tertidur dengan lelap.
"Jadi itu tujuan kamu, Pa?" Banyak usaha kami sudah duduk di tepi tempat tidur.
"Eh, apa?" Dia bertanya seakan tidak mengerti apa maksudku. Akan tetapi, aku yakin jika dia hanya berpura-pura.
"Tujuan kamu ajak dia kerja di pabrik."
"Oh. Itu … hehe." Dia rasanya mari ingin sambil menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin tidak gatal sama sekali.
"Niatku sebenarnya memang ingin memberikan dia pekerjaan, aku sedang butuh pengawas untuk gudang, tapi setelah dipikir-pikir ternyata aku juga bisa memantau pergerakan dia. Daripada selama ini aku berpikir khawatir kepada kamu. Jadi ya, aku ajak dia saja bergabung," ucapnya dengan tertawa kecil.
Aku menggelengkan kepala. Tidak menyangka jika dia memiliki pemikiran seperti. Bagus juga sih, jadi dia tidak akan terus juga mencurigaiku, ataupun khawatir.
Malam sudah semakin larut, ibu menginap di sini malam ini. Setelah acara seharian tadi, tentu saja untuk ibu ini adalah hal yang sangat bagus karena bisa dekat dengan kedua cucunya. Seperti biasa jika ada ibu Gara selalu meminta tidur bersama. Katanya jika dengan ibu dia bisa mendengarkan cerita-cerita yang lain daripada yang ceritakan. Lebih banyak kepada cerita tentang wayang dan juga kerajaan. Aku juga tenang jika ada Ibu yang berarti jika anak itu tidak akan tidur di sini.
Semenjak adiknya lahir, Gara memang seringkali kamu minta tidur satu kamar bersama kami. Dia selalu ingin dekat dengan adiknya, dan tadi aku meminta kepada Ibu agar berbicara kepada Gara, supaya dia mau tidur di kamarnya lagi. Bukan apa-apa, tapi Gara sering terbangun karena adiknya yang menangis di tengah malam.
Aku sedang melanjutkan ceritaku, mengetik dengan menggunakan HP. Sudah terhitung lama sekali aku tidak membuat cerita lagi. Dari yang terakhir kalinya aku tamatkan saat aku hamil kemarin. Waktu itu aku berpikir menamatkan semua ceritaku karena ada ketakutan, bagaimana jika aku tidak selamat dan ceritaku menggantung begitu saja? Bukankah akan kasihan kepada pembaca yang mengikutinya?
Sekarang semangatku menggebu lagi untuk melanjutkan tulisan, membuat judul yang baru. Ini aku lakukan di kala senggang, sambil menunggu putraku tertidur di tempatnya. Masih hitungan hari seperti ini putraku tidur sepanjang hari, terkadang membuat aku bosan menunggunya bangun untuk sekedar menyusuinya. Maka dari itulah untuk mengisi waktu sengganggku aku kembali menuliskan cerita.
"Mau coba tempat lain," ucapku. Tidak menghentikan gerakan tangan sedang membuat sebuah sinopsis.
"Mau dilempar ke mana?" tanya dia penasaran.
"Sepertinya aku ingin menjajal kuda poni," ucapku. Keningnya berkerut mendengar ucapanku barusan.
"Kuda poni itu apa?"
"Tempat menulis juga."
"Memangnya gampang masuk ke sana?" Dia bertanya lagi sambil terus memperhatikan apa yang aku tulis di HP.
"Tidak tahu juga, tapi aku sudah lama ingin ke sana. Sekarang mau coba-coba, doakan aku ya," pintaku sambil tersenyum kepadanya.
"Tentu saja aku selalu doakan kamu. Aku doakan semoga kamu jadi penulis yang hebat, penulis yang sukses. Biar kamu dikenal oleh banyak orang. Satu pintaku, kamu jangan sombong, kamu juga jangan lupa siapa diri kamu sebelum ini, kita bukan siapa-siapa tanpa ada orang yang mendukung kita, kamu punya pembaca yang baik," ucapnya sambil mencubit hidungku. Aku mengganggu kembali tersenyum kepadanya.
"Tentu saja aku tidak akan lupa dengan siapa diriku, aku sadar bukan siapa-siapa tanpa pembaca ku."
Tangan yang besar mengusap kepala, membuat rambutku sedikit berantakan. "Judulnya apa?" tanya dia lagi.
"Ada deh! Nanti kalau aku sudah mulai publish, kamu cari ya di sana. Nama penanya juga sama kok. Udah berbeda dari yang di tempat biru ini," ucapkan seraya tersenyum. (Maaf sambil ikut promo. Boleh yang kira-kira kenal tuh kuda poni, mampir ke sana ya. Masih nama pena yang sama, peace✌️)
__ADS_1
"Memang itu menceritakan soal apa?" Dia bertanya lagi.
"Kamu mau baca? Kira-kira sinopsisnya udah bagus belum ya?" tanyaku kepadanya.
"Mana, aku jadi penasaran," ucapnya lagi.
Aku segera mencari file ku, berisi tentang blurb cerita tersebut. Arga mulai membacanya dengan bersuara.
"Blurb:
Clara Grim, merasa marah pada kekasihnya karena dikhianati. Mabuk menjadi caranya untuk menghilangkan rasa kesal dan sedihnya. Tak ia sangka, malam itu dia malah menantang seorang pria yang dia sangka seorang pria pemuas nafsu.
Yvander Carson, masih terus berusaha mencari wanita yang telah membayarnya atas kejadian malam panas enam tahun lalu. Harga dirinya merasa terinjak saat melihat tulisan serta uang yang wanita itu tinggalkan. Pencarian yang telah dia lakukan tak kunjung menemukan wanita itu hingga akhirnya pada suatu saat dia menemukan wanita yang telah menghinanya di suatu pertemuan.
Yvan terpaku pada sosok anak kecil yang ada bersama dengan wanita itu. Dan dia meyakini jika anak itu adalah miliknya."
Keningnya kini terlihat mengerut kembali. Membuat aku menjadi bingung.
"Bagaimana? Sudah bagus apa belum?" tanyaku padanya.
"Memang ini cerita tentang One Night Stand?" Aku menganggukan kepala.
"Kenapa harus One Night Stand?" tanyanya dengan penasaran.
Aku mengangkat kedua bahuku tinggi, tidak tahu juga kenapa berpikiran ingin membuat cerita yang seperti itu. Rasanya hanya ingin, terbersit begitu saja.
"Tidak tahu, kayaknya sih seru aja," ucapku.
"Perhatikan dengan isi di dalamnya. Aku nggak mau ya kalau sampai ada vulgar di sana, meski mungkin ceritanya bagus dan membuat orang lain kembali, tapi mengangkat tema vulgar bisa membuat kamu disebut menjadi penulis cerita porno," ucapnya dengan menunjuk hidungku. Matanya menatap tajam serta suaranya terdengar dingin.
"Iya aku paham, aku juga nggak suka bikin-bikin vulgar gitu kok. Cuma dalam kisah kita aja aktornya sengklek dibikin vulgar. Di sana paling cuma bucin doang, juga dengan konflik yang bakalan seru. Apalagi aku juga bikin anaknya yang dingin. Kira-kira bakalan laku nggak ya?" tanyaku kepadanya.
Arga mengambilku ke dalam pelukan. "Sebenarnya yang kamu cari itu apa sih? Uang kamu tidak perlu memikirkannya lagi, sudah ada aku yang akan berikan kamu banyak uang. Lebih baik buat saja cerita yang bagus dan menarik, kalau kamu hanya menargetkan ingin banyak penghasilan, takutnya tidak sesuai dengan ekspektasi kamu. Kenapa yang kamu buat sekarang seperti sedang menjual sesuatu. Adakalanya banyak yang membeli, tapi ada kalanya juga tidak ada yang membeli. Yang bisa kamu lakukan adalah membuatnya dengan sebaik mungkin, semenarik mungkin, supaya banyak orang yang melirik. Setelah orang melirik, mungkin mencicip, mereka akan tahu bagaimana kualitas barang yang kamu jual. Begitu juga sama dengan tulisan yang kamu buat. Jadi jangan pikirkan dulu pendapatan, buatlah cerita yang bagus dan bisa membuat mereka puas untuk kembali dan kembali lagi mencari apa yang kamu berikan kepada mereka," ucap Arga. Kalimat yang diucapkan panjang lebar tadi sangat mengena di hatiku. Sebelumnya memang aku berpikir menulis untuk mendapatkan uang, begitu juga sekarang. Akan tetapi, ucapannya barusan membuat aku mengerti bahwa kepuasan pelanggan adalah yang utama. Jika kita mendapatkan hasil maka itu adalah bonusnya.
Aku mengambil pipi Arga dan menempelkan bibirku di pipinya. "Terima kasih atas pencerahannya. Aku nggak akan lagi berharap penghasilan dari menulis, tapi aku menaruh besar harapan sama kamu loh. Berikan aku uang yang banyak!" ucapku sambil menadahkan tangan kepadanya.
Arga tertawa, mengambil kepala aku dan mencium puncak rambut ku.
"Kamu tidak perlu meminta aku juga akan berikan. Bukannya aku selalu meninggalkan kartu-kartu ku di rumah? Kamu bebas pakainya. Mau berapapun yang kamu habiskan aku tidak akan masalah. Karena rezeki suami ada pada keborosan istrinya. Aku akan lebih semangat lagi bekerja kalau kamu juga semangat menghabiskan uangku," ucapnya dengan tawa kecil di bibirnya.
Aku pun sama tertawa. Kenapa dia harus bicara seperti itu? Dasar Arga. Ada-ada saja!
***
Yuk yang punya kuda poni silakan mampir. Masih dengan nama pena yang sama, ya.😘
__ADS_1