
Aku memang sudah terikat oleh Arga, tapi bukan berarti jika aku berhenti melakukan tugasku dari bekerja. Ini adalah suatu aktifitas kewajiban untukku, tidak mau tergantung dengan orang lain meski dia adalah calon suamiku sendiri. Bukan Arga tidak protes, tapi memang aku lah yang belum mau berhenti dan menerima tanggung jawab dia. Entah lah, meski dia memang bilang untuk menanggung semua kebutuhanku, tapi rasanya tidak enak juga memakai uang Arga sebelum kami menikah.
Aku sadar, dengan memiliki hubungan degan bos akan banyak sekali omongan orang lain yang mencibirku di belakang, meski di depan mereka terlihat sangat baik sekali. Desi bilang aku harus berhati-hati, bisa jadi merea baik karena ada maunya, buktinya di belakang Desi, Nina dan Amar pernah mendapati jika aku sedang meraka bicarakan dengan hal yang tidak baik. Yah, tahu lah yang bagaimana, mereka bilang aku menggunakan ilmu hitam untuk bisa menggaet bos, juga mengatakan jika aku menggunakan tubuhku agar Bos Eka terjebak dan menikah denganku. Well, terserah saja lah.
"Kamu yakin gak mau resign aja, Yu?" tanya Arga saat mengantarku pulang. Aku menggelengkan kepala sambil menikmati makanan yang ada di tanganku. Jujur saja aku lapar karena tadi siang tidak sempat makan karena banyak sekali hal yang harus diurus tentang rekapan barang in dan out.
"Enggak. Jangan bahas ini lagi, Ga. Sebentar lagi juga aku akan berhenti kalau waktu itu tiba," ucapku membalas Arga. Arga menghela napasnya sedikit kasar, mungkin tidak habis pikir dengan keras kepalaku.
"Kamu itu aneh."
"Aneh kenapa?" tanyaku bingung.
__ADS_1
"Ya aneh aja. Orang lain suka dapat suami orang kaya, dia bisa berleha-leha di rumah, kamu tidak mau," ucap Arga terdengar kesal. Aku terkekeh mendengar dia mengatakan hal itu.
"Hehe. Ga, kan sudah aku bilang, aku tidak mau bergantung dengan orang lain meskipun itu adalah calon suamiku sendiri. Lagi pula, kan berapa minggu lagi kita nikah juga? setelah kita sah aku juga akan berhenti, kok." Arga berdecak kesal.
"Cih, kenapa juga dua minggu itu lama?" ujar Aga dengan nada kesal.
Ya ampun, jika sudah merajuk seperti ini dia terlihat seperti Gara.
Arga tidak menyahut lagi, dia terus melajukan mobil membelah keramaian jalanan kota di sore ini dengan kecepatan rata-rata.
"Jangan marah dong. Nanti kalau kita sudah nikah aku akan tinggal di rumah kok, urus kamu dan juga Gara." Aku mencoba untuk membujuk dia. Arga melirik sekilas padaku dan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Janji ya? Jangan minta kerja lagi nanti?" pinta Arga.
"Iya, janji. Lagi pula kalau sudah menikah juga kan aku akan sibuk dengan Gara di rumah. Waktuku akan aku habiskan untuk kalian berempat."
"Kok empat?" protesnya.
"Iya lah empat. Kamu, Gara, Ibu dan Mama," jawabku.
Arga mengalihkan wajahnya dari jalanan padaku, terlihat matanya yang seperti ada kemarahan. Hei, kenapa? Apa aku salah?
"Kenapa tidak hanya aku dan Gara?" tanya Arga sedikit kesal nadanya terdengar.
__ADS_1
Aku menunduk, menyadari kesalahanku. Apakah dia marah aku mengatakan itu? Padahal dia janji untuk menerima keberadaan Ibu sebelum ini.