Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
107. Paket Lagi.


__ADS_3

Aku menatap paket yang kini ada di hadapanku. Sebuah gaun panjang indah berwarna biru langit dengan banyak payet yang indah tertata rapi di bagian depannya. Bawahnya aku perkirakan menutupi hingga lebih ke mata kaki.


Di atas kasur kini gaun itu berada. Ku rentangkan gaun itu hingga terlihat dengan jelas seluruh bagian depannya. Indah, cahaya dari lampu yang ada di atas kamar membuat gaun ini menyala seperti terdapat berlian.


Ibu tidak tahu aku menerima paket lagi. Sepatu itu saja menjadi pertanyaan Ibu dan terus saja bertanya. Aku mau menjawab apa? Aku sendiri tidak tahu dari siapa!


Aku menelepon Diana. Kebingungan melanda diriku sedari lima hari yang lalu. Sepatu dan kini gaun. Aku pikir ini dari orang yang sama karena sama-sama tak ada nama.


"Apa?" tanya Diana ketus dari seberang sana. "Aku lagi makan," ucapnya.


"Di, aku dapat paket," ucapku dengan setengah berbisik takut terdengar oleh Ibu padahal aku di kamar. Sengaja aku menutup warung setelah azan Isya, karena ingin bicara dengan Diana.


"Ya bagus dong, berarti kan sukses belanja online. Pesen apa dari S****e? Atau L****a?" tanyanya dengan santai dengan nada yang kepo.


"Aku gak pesen dari sana. Tapi ini dari orang yang gak aku kenal," terangku.


"Hah? Gimana?" tanya Diana lagi.


Aku menjelaskan pada Diana tentang paket sepatu yang aku terima kemarin dan juga gaun yang aku terima siang tadi. Sekalian aku foto juga kedua benda itu karena Diana ingin tahu dengan sepatu dan juga gaun yang aku terima.


"Bagus banget! Dari siapa ya? Kok aku jadi kepo dengan penggemar rahasia kamu," ucap Diana ketika telepon kembali tersambung. Aku kesal karena itu juga yang aku ingin tahu.


"Aku ga tau. Gak ada nama."


"Apa jangan-jangan dari Arga? Atau Dokternya Ibu?" tanya Diana dengan seruan. Diana memang sudah tahu aku hari itu bertemu dengan Arga, apalagi dengan Dokter Wira. Hanya Diana tempat ku untuk mencurahkan hati yang di landa bingung. Aku tidak mau membuat Ibu banyak pikiran lagi.


"Kalau Dokter Wira kayaknya enggak, deh. Kalau emang dia kaya dan bisa kirim ini buat aku, tapi buat apa? Aku kan sudah jelas nolak dia," ujar ku.


"Iya, juga. Kalau Arga, mungkin?' tanya Diana mengira-ngira.


"Ah, kayaknya enggak deh. Buat apa coba Arga kirimin aku baju ginian? Dia kan gak ada hubungan apa-apa sama aku?" jawabku mengelak.

__ADS_1


"Ya, kan mungkin saja. Hem terus siapa ya? Penggemar kamu yang lain kali!" serunya lagi. Aku terdiam, bingung dengan siapa yang Diana maksud.


Eh, tapi aku juga tidak tahu. Biar aku cari tahu dulu saja siapa yang mengirimkan aku benda-benda ini.


"Duh, jadi pengen deh punya penggemar rahasia, bisa dapat barang bagus kayak gitu. Besok apa lagi, ya? Eh tapi Yu, jangan terlena juga, loh. Bisa jadi kalau barang itu ada sesuatunya!" ucap Diana, tiba-tiba saja diri ini merinding mendengar sesuatu yang aku tahu apa yang dia maksud.


"Jangan ngawur, deh. Gak ada barang mencurigakan atau aroma yang aneh," ucapku padanya.


"Bukan soal barang atau aroma, tapi siapa tahu kalau kamu pake jadi kayak kamu terhipnotis langsung gitu dan kesengsem sama dia," ucap Diana lagi semakin membuat aku merinding.


Aku terdiam, ada rasa takut juga jika memang benar apa yang Diana katakan terjadi. Sekali lagi aku melirik benda yang kini ada di atas kasur, ku coba untuk mencari sesuatu yang aneh pada benda itu, tpi tak ada. Semua yang aku lihat normal dan tak ada yang mencurigakan.


"Gak ada apa-apa sih. Aku tutup dulu, deh. Mau cari tau siapa yang kirim ini," pamitku pada Diana.


"Oke, kalau kamu gak mau gak usah di pake, buat aku aja," ucapnya.


"Hemm, tadi bilangnya sama aku harus hati-hati, kenapa sekarang jadi kamu yang mau baju ini?"


"Hem, ya! Ambil aja. Lagian aku juga gak tau ini dari siapa," jawabku sambil berpamitan sekali lagi sebelum telepon aku matikan.


Aku mencari nomor Dokter Wira, tapi ragu juga apa iya dia yang mengirimkan dua paket ini untukku?


Nomornya hanya aku lihat saja. Bimbang, jika iya dia yang kirim tak apa, aku bisa mengembalikannya lagi, tapi kalau bukan? Aku akan malu juga karena menyangka barang ini dari dia.


Hampir sepuluh menit aku dalam kebingungan. Akhirnya aku tak jadi menghubungi dia ataupun Arga, untuk ku tanyai soal dua benda ini.


Baju yang ada di atas ranjang aku lipat kembali dan kumasukkan ke dalam kotaknya semula. Kusimpan di dalam lemari.


Rasa takut seketika hadir di dalam hati. Ucapan Diana yang mengatakan aji-aji membuat aku merinding hingga bulu-bulu di tanganku meremang. Suasana kamar mendadak terasa sepi dan sedikit seram.


Aku segera pergi ke kamar Ibu, tak lupa membawa hpku.

__ADS_1


"Bu!" Pintu kamar Ibu aku ketuk, tak lama pintu terbuka, Ibu masih mengenakan mukena.


"Ayu tidur disini, ya." Pintaku pada Ibu. Ibu tersenyum dan melebarkan pintu itu untuk aku lewat.


"Tumben mau tidur disini?" tanya Ibu. Aku hanya tersenyum dan merebahkan diri dengan nyaman di kasur milik Ibu.


"Gak tumben juga. Pengen aja, Bu."


Ibu segera membereskan mukenanya dan melipatnya dengan rapi, lalu masuk ke dalam lemari seperti biasanya.


"Yu, Ibu jadi kepikiran soal sepatu itu. Kalau menurut Ibu, antara dua pilihan sih," ucap Ibu membuat aku menolehkan pandangan dari layar hp.


"Siapa?" tanyaku.


"Antara Dokter Wira dan Ustadz Zain," ucap ibu lagi.


Aku tersentak, baru aku ingat dengan lelaki yang satu itu. Nama yang sempat aku lupakan selama beberapa hari ini. Memang aku lupa dengan orang yang satu itu, ada kemungkinan juga mengingat Kyai waktu itu datang kemari sebelum masa iddahku habis.


"Ibu denger tadi dari tetangga sebelah, kamu dapat paket lagi ya?" tanya Ibu.


Duh, Dasar Mulut Lemes! Aku sengaja gak bilang sama Ibu biar gak kepikiran, kenapa malah ada yang bilang ini sih sama Ibu?


"Benar itu? Kok Ibu gak tau." Ibu bertanya.


"Em ... bener, Bu."


"Dari siapa? Kenapa Ibu gak tau?" tanya Ibu lagi.


Duh, aku harus jawab apa?


"Tadi kok, Bu. Siang tadi paketnya datang lagi. Gak tau dari siapa," jawabku dengan takut.

__ADS_1


__ADS_2