
"Begitu, ya?" tanya Arga. Terdengar dari nada suaranya yang kecewa.
Aku bangun dari tidurku dan menatapnya.
"Maaf, kalau bikin kamu marah. Tapi aku akan kepikiran Gara terus. Takut kalau Gara rewel kalau kita tinggal. Bisa kah kita bawa Gara juga?" tanyaku pada Arga sedikit memohon.
Arga hanya diam, membuat aku sedikit takut. Apakah dia akan marah?
Dia bangun dari tidurnya dan tersenyum, mengusap rambutku dengan lembut.
"Oke, jadinya bukan paket honeymoon lagi, tapi paket liburan keluarga," ucap Arga lagi.
"Kamu gak marah?" tanyaku padanya. Masih takut. Arga menggelengkan kepalanya.
"Enggak, justru aku seneng kamu lebih mementingkan Gara daripada kesenangan kamu sendiri. Aku banga dapatkan kamu sebagai istriku, Yu." Arga menarikku ke dalam pelukannya. Rasanya sangat hangat sekali dan juga nyaman. Ku rasakan ciumannya di rambutku.
"Ayo kita tidur, besok kita harus bangun pagi, kan?" Dia menarikku kembali dan merebahkan diri di lengannya.
"Aku sangat senang sekali, malam-malam ada yang menemaniku tidur. Oh, bahagianya hati ini!" serunya lalu menciumi pipiku dengan gemas. Bulu halus di bawah hidungnya sangat terasa sekali menggelitik pipi ini, membuat aku geli.
"Arga sudah!" Ku tahan dadanya, sedikit menjauhkan diri dari dia. "Katanya mau tidur!" cercaku sekali lagi.
"Hehe, habis aku gemas sama kamu," ucapnya dengan tawa kecil.
"Gemasnya besok lagi, sekarang cepat tidur, katanya mau bangun pagi."
Arga menarik tubuhku kembali merebahkan diri, kali ini dagunya menempel di bahuku.
"Ayu aku ...."
"Tidur!" Ku potong ucapannya. Jika tidak, dia akan terus bicara seperti malam-malam sebelumnya.
"Galak, ih. Aku cuma mau bilang, selamat tidur istriku," ucapnya, lalu ciuman lembut aku rasakan di pipi ini.
Ahhh!!!!
Aku ingin teriak. Sweet sekali dia!
"Selamat tidur juga, Suamiku," ucapku. Arga tersenyum kecil, lalu melesakkan dirinya kembali. Tak lama terdengar deru napas yang sangat halus sekali darinya.
Tidak berapa lama, aku pun ikut tertidur karena suara dengkuran halusnya yang teratur seakan mengalunkan nada yang membuat kantukku datang.
...***...
Aku terbangun di jam empat pagi. Masih terlalu pagi sebenarnya, adzan pun belum terdengar sama sekali. Udara dingin yang keluar dari AC membuat ku tidak tahan, ku naikkan suhunya sedikit lebih hangat.
Ku lihat Arga masih memeluk selimutnya, wajahnya terlihat sangat tampan sekali diterpa lampu tidur yang temaram. Deru napas halus masih terdengar dengan pelan. Ah, aku jadi tidak tega membangunkan dia.
Ku turunkan kaki ini ke lantai dan pergi ke kamar mandi. Air hangat kini mengguyur tubuhku. Rasanya sangat nyaman sekali. Jika di rumah Ibu aku harus memasak air terlebih dahulu untuk mandi, di sini tinggal memutar kran air dingin dan air hangat secara bersamaan.
Selesai mandi, aku selalu menatap wajah ini di cermin. Kamar mandi ini seperti kamar mandi orang kaya pada umumnya. Ada bathtub, wastafel, toilet duduk –aku harus sedikit belajar untuk menggunakannya–, ada juga cermin besar yang menempel pada dinding. Jelas aku bisa melihat keseluruhan tubuhku di sana.
Aku sadari jika wajah ini terlihat lebih bersinar daripada sebelumnya, senyum pun tidak bisa aku redakan, tertarik dengan sendirinya.
Apakah sekarang ini aku sedang bahagia? Ya, aku sangat bahagia sekali dengan kehidupanku. Meski kadang terlintas di benakku masa pernikahanku yang dulu, tapi aku mencoba untuk melupakan semua tentang dia. Jangan sampai aku membanding-bandingkan kehidupanku yang dulu dengan yang sekarang. Dulu adalah masa lalu yang harus aku tinggalkan, meski bukan berarti aku lupakan, sekarang adalah masa kini yang harus aku jalani bersama dengan Arga.
__ADS_1
Aku jadi teringat, apa kabarnya dengan Mas Hilman? Ah, apa aku masih tetap harus memanggilnya 'Mas'? Sudah kebiasaan, dan lagi ... orang itu juga usianya empat tahun ada di atasku, berbeda dengan Arga yang hanya satu tingkat di atasku.
Apakah aku harus tanyakan keadaan Mas Hilman pada Arga? Apa kabarnya dia di penjara? Apakah keluarganya menebusnya?
Ah, apa yang aku pikirkan? Kenapa juga aku harus memikirkan orang yang sudah jahat kepadaku. Bukan berarti aku belum move on dari dia, tapi aku masih peduli, aku masih punya rasa iba, meskipun mungkin yang lain menganggap aku ini bodoh. Bagaimana pun ini adalah kesalahan dia yang tidak bisa terima jika aku tidak ingin kembali dengannya. Ya, salahnya karena dia menikah dengan tanpa izinku, menduakan aku dan nyatanya tidak adil padaku.
Ah, sudah lah.
Aku keluar dari kamar mandi dan menuju lemariku. Beberapa pakaian milikku sudah mengisi di tempat ini, bersanding dengan pakaian milik Arga. belum banyak, hanya beberapa stel saja. Entah kapan Arga akan mengantarku untuk mengambil sebagian besar pakaianku dari sana.
Grep!
Aku terkejut saat merasakan tangan besar melingkar di depan perutku. Hampir saja aku melompat.
"Selamat pagi, Honey." sapanya. Dia mencium pipiku dengan lembut. Aku tersenyum meski rasanya ingin marah juga karena terkejut. Mendapatkan ucapan selamat pagi dengan sebutan sayang yang begitu manis, bukankah ini menyenangkan? Bagaimana dengan kalian, Kawan? Apakah suami Kalian semua manis seperti dia?
"Selamat pagi juga, Ar ...." AKu terdiam, tiba-tiba ingat dengan percakapan semalam.
"Selamat pagi, Sayangku." Ralatku. Arga tersenyum senang, dia merebahkan kepalanya di bahuku.
"Kamu bangun, kenapa gak bangunkan aku juga?" tanyanya pelan, nada suaranya masih terdengar sangat mengantuk.
"Kamu tidur pules banget. Lagian, ini juga belum adzan, kok."
Arga mengeratkan pelukannya pada perutku, mencium leherku dengan lembut. Geli rasanya.
"Harusnya kamu bangunkan aku, dong. Kan biar kita tidur dan bangun sama-sama," ucapnya. Ada desir hangat yang aku rasakan, di mana aku kira dia tidak suka aku bangunkan sepagi ini. Ya, masa lalu dan masa kini memang beda. Arga adalah Arga, bukan dia.
"Ehm, kamu mau mandi? Aku siapkan air hangat dulu," ucapku. Terasa gerakan kepalanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri di bahuku.
"Kalau ngantuk tidur lagi saja. Masih ada tiga puluh menit sampai adzan Subuh," ucapku setelah melirik jam yang ada di dinding. Arga menggelengkan kepalanya lagi.
"Gak ah, nanti kalau tidur lagi gak bisa peluk kamu, dong." Suara itu masih terdengar malas. Aku tertawa kecil. Memelukku bisa dia lakukan kapan saja, tentunya kalau sedang ada di rumah atau sedang tidak ada orang lain di dekat kami.
"Aku senang sekarang, setiap aku bangun tidur aku bisa lihat kamu."
"Aku juga senang sekali. Awas dulu, lah. Aku mau pakai baju," pintaku padanya. Lagi-lagi laki-laki itu menggelengkan kepalanya, tetap tidak melepaskanku dari lingkaran tangannya.
"Ga, aku masih pakai handuk ini, loh. Dingin," ucapku lagi.
"Kan sudah aku peluk."
"Arga!" panggilku tegas.
Arga tertawa kecil, terkekeh terdengar mengerikan di telinga.
Oh, tidak!
Baru aku sadar dengan apa yang aku lakukan, menyebutnya dengan nama. Jangan sampai ....
Belum sempat aku selesai dengan pikiranku, Arga memutar tubuhku dan menjepit daguku dengan tangannya.
"Hukuman hari pertama!" ucapnya dengan seringai di bibirnya.
Aku membelalakan mata. Dia masih tersenyum dan mendorongku ke belakang sehingga punggungku kini menubruk pintu lemari. Tidak bisa aku hindari dengan gerakannya yang cepat, dia sudah sangat dekat dan akhirnya meraih bibirku dan mel*matnya dengan rakus. Daguku dia jepit dan dia tarik ke bawah, memaksa mulutku terbuka sehingga dengan cepat pula dia memasukkan lidahnya.
__ADS_1
Aku berontak, memukul bahunya karena aku tidak siap sama sekali dengan apa yang dia lakukan. Sampai sesak rasanya dada ini, tidak bisa bernapas dengan benar.
"Em!" Hanya suara itu yang bisa aku keluarkan. Akan tetapi, dia tidak melepaskanku sama sekali. Lidahnya malah menjelajah, mengabsen serta membelit lidahku.
Aku tidak bisa mengelak, dia mengunci pergerakanku dengan menahan kedua bahuku, semakin menekan diri ini pada pintu lemari.
"Ah. Hah." Deru napas ini saat dia melepaskan diriku. Aku mengambil napas banyak-banyak dan menatapnya dengan sebal. Apakah dia ingin aku mati kehabisan napas? Dia hanya tersenyum menatapku, mengusap sudut bibirku yang basah dengan ibu jari lalu merasainya di mulutnya.
"Manis sekali," ucapnya dengan tidak bersalah sama sekali. Aku ingin marah, tapi belum sempat membuka mulut, pria itu lagi-lagi mendekat dan mencium bibirku dengan singkat kali ini.
"Aku mau mandi. Tolong siapkan baju untukku. Kaos saja, sarung dan sajadah sekalian," pintanya, tanpa mendengar jawabanku dia pergi ke kamar mandi.
Rasa kesal ini masih ada, tapi kalah dengan permintaannya barusan.
"Sayang. Jangan lupa bangunkan Gara, ya. Kita solat di kamar Gara saja," ucap suamiku lalu dia menghilang di balik pintu kamar mandi.
Dada ini berdebar. Ini kali pertama aku dan Arga akan solat bareng dengan Gara. Ya, pertama kalinya.
Dengan segera aku mengambil pakaian dan memasang kerudung dengan asal, lalu pergi dengan mengambil alat solatku, hadiah mahar dari Arga. Tidak lupa dengan baju yang Arga minta, menyimpannya di atas kasur. Lantas setelah itu pergi ke lantai atas untuk membangunkan Gara.
Gara terlihat masih nyenyak di dalam tidurnya. Anak itu melingkar tidur memeluk lututnya sendiri. Selimut sudah jauh dari jangkauan kakinya. Sepertinya anak ini tidak bisa tidur dengan tenang, terlihat juga dari bantal miliknya yang ada di belakang punggung.
"Gara," panggilku. Gara tidak merespon. Ada rasa kasihan dengan anak ini, dibangunkan sepagi ini, tapi bukankah ini adalah kewajiban? Dia harus belajar disiplin dengan ibadahnya.
"Gara. Bangun, Sayang," panggilku lagi. Ku guncang tubuh mungilnya dengan pelan. Gara menoleh tanpa membuka matanya, terlihat sedikit susah payah dia membukanya.
"Bangun, solat subuh bersama, yuk!" kali ini perlahan mata itu terbuka, terlihat dipaksakan. Dia mengucek matanya dan menguap dengan lebar.
"Apa, Ma?" tanya Gara.
"Bangun. Solat Subuh, Sayang."
Gara mengerjapkan matanya berkali-kali, mungkin silau dengan keadaan kamar ini yang aku nyalakan lampunya. Tangannya terentang ke atas melakukan stretching sehingga tinggi tubuhnya bertambah beberapa senti.
"Gara, bangun. Kita solat berjamaah." Suara Arga terdengar di belakangku. Dia sudah memakai baju koko yang tadi aku siapkan untuknya, serta peci hitam di kepalanya, membuat aku terpana. Meski ini bukan yang pertama kali aku melihatnya seperti itu, tapi penampilan Arga masih sangat mempesona untukku.
"Ya," jawab Gara. Anak itu kemudian bangkit dengan lesu, berjalan menuju kamar mandi.
"Eh, Gara gak susah dibangunkan ternyata," gumamku. Kagum dengan pria kecil itu yang kini menghilang di kamar mandi. Terdengar suara dari kamar mandi dengan sangat jelas.
"Ya, Gara memang gak susah dibangunkan." Arga menggelarkan karpet yang baru saja dia ambil dari sudut ruangan, juga dengan sajadah miliknya. Dia juga berjalan ke arah lemari Gara dan mencari sesuatu di sana, tidak berapa lama membawa baju koko milik Gara dan sarung kecil serta sajadah.
Tak lama Gara keluar dari kamar mandi dengan wajah yang telah basah.
"Kamu sudah wudhu?" tanya Arga. Aku menggelengkan kepala. Memang tidak sempat karena tadi belum melakukannya dan Arga yang sudah keburu bangun.
"Sana, ke kamar mandi saja, biar Gara aku yang uruskan," ucapnya lagi. Aku mengangguk dan pergi ke kamar mandi.
Gara sudah selesai berganti dengan baju koko dan juga sarung yang telah rapi, terlihat di wajahnya aura mengantuk yang sangat jelas, tapi anak itu tidak protes sama sekalil.
Kami melakukan solat Subuh berjamaah dengan Arga yang menjadi imam solat kali ini.
Sungguh sangat senang dan bahagianya aku sekarang ini, menemukan imam yang tepat. Dan semoga saja akan selalu selamanya seperti ini.
Aamiin.
__ADS_1