Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
305. Debat Yang Melelahkan


__ADS_3

Motor telah sampai di halaman rumah. Seperti biasa saat sore hari, Vita menungguku di teras rumah. Dia terlihat sudah rapi dengan pakaian tidurnya, bedaknya terlihat putih pada wajah, biasanya kulitnya yang masih basah sudah ditimpa dengan bedak sehingga menjadi sangat putih sekali seperti donat dengan bubuk gula halus di atasnya. Persis seperti itu putriku kini. Seringkali aku protes kepada ibu untuk mengeringkan terlebih dahulu wajahnya, tapi tidak tahu lah, ibu dengan asal saja memberinya bedak saat wajahnya masih basah.


"Halo, putri ayah yang cantik!" Seruku sambil mengulurkan tangan untuk memeluknya. Vita dengan tertatih mulai berjalan ke arahku, sedikit oleng tapi dia bisa melakukannya dengan baik. Memang sudah hampir dua minggu ini dia bisa berjalan dan aku sangat bahagia dengan pencapaiannya itu.


Vita tersenyum senang dan berusaha keras untuk mendekat. Dia mengulurkan kedua tangannya. Sengaja aku menjaga jarak darinya agar dia kembali melangkahkan kaki. Akan tetapi, dia terjatuh saat hendak melangkahkan kaki kanannya. Aku khawatir dan mendekat, mengangkatnya ke dalam gendongan. Mengusap pantatnya yang tadi jatuh dengan cukup keras ke lantai.


"Hebatnya anak Ayah sudah bisa jalan, besok latihan lagi ya," ucapku seraya mencium pipinya yang masih saja tirus. Dia tertawa geli saat aku menggesekkan daguku pada pipinya.


"Nenek ke mana?" tanyaku pada Vita. Dia menuju ke dalam rumah. Segera aku masuk ke dalam sana dan mencari ibu. Sudah aku bilang berapa kali jika Vita tidak boleh menunggu sendirian di luar rumah. Bagaimana jika dia berjalan atau merangkak ke jalan gang? Cukup banyak kendaraan yang melintas dan juga terkadang mereka mengebut.


"Assalamualaikum, Bu!" Panggil ku kepada ibu yang entah ada di mana. Saat aku melintas di depan kamarnya terlihat ibu sedang menerima telepon entah dari siapa. Tertawa terkekeh seperti ada hal yang lucu.


"Bu, lagi telepon siapa? Kenapa Vita dibiarin di luar sendirian?" tanyaku kepada ibu yang seketika terkejut dan menjauhkan hp-nya dari telinga.


"Eh, kamu sudah pulang ternyata?" tanya ibu, terlihat salah tingkah saat aku perhatikan.


"Vita kenapa di luar sendirian? Bagaimana sih kok di kamar bukannya nemenin Vita?" ucapku dengan marah kepadanya. Bagaimana tidak marah, seharusnya ibu menjaga Vita dengan baik, bukannya malah menelpon.


"Iya ibu minta maaf. Gak lama kok, baru juga mengangkat telepon barusan," jawabnya. Akan tetapi, tetap saja aku tidak bisa menerima jawaban tersebut. Ibu sudah mulai lalai menjaga cucunya.


"Bukannya bisa ya kalau telepon juga di luar? Sambil nemenin Vita? Gimana kalau dia ke jalan?" tanyaku dengan berang.


"Tapi nggak di jalan, kan?" tanya ibu balik. Jika sudah seperti ini aku pun lelah, ujung-ujungnya kami akan berdebat. Bukannya meminta maaf, ibu malah melanjutkan menelpon kembali, terlihat ketawa-ketawa sendiri, seperti orang yang sedang jatuh hati. Atau, apakah ibu memang sedang kasmaran lagi?


Aku tidak mau memikirkan hal itu, terserah saja jika memang ibu memiliki yang lain. Bapak sudah lama pergi, tidak ada kabar sama sekali. Mungkin memang ini sudah jalannya, jika ibu memang ingin menikah lagi aku juga tidak bisa menolaknya.

__ADS_1


Ku putuskan untuk membawa Vita ke ruang tv. Aku ingin mandi sebentar.


"Bu, bisa nggak teleponnya sambil jagain Vita? Hilman mau mandi, nih!" pintaku sedikit berseru kepada ibu. Tidak sampai dua detik ibu sudah berada di ambang pintu.


"Iya Ibu jagain. Sana kamu mandi dulu, sudah itu tolong belikan sayur ya. Ibu hari ini nggak masak uangnya habis," ucap ibu.


Aku menatapnya dengan heran, baru saja tiga hari yang lalu aku memberinya uang dua ratus ribu. "Sudah habis uangnya?" tanya ku pada ibu.


"Habis, kan kemarin Ibu belikan daging," ucapnya.


"Sisanya ke mana?" tanyaku lagi.


"Habislah, jajan anak kamu aja banyak," jawabnya.


Selama sepuluh menit aku mandi, tidak ingin berlama-lama karena aku akan menemani Vita bermain seperti biasanya sampai jam makan malam. Melewati area dapur aku melirik ke arah tempat sampah yang ada di sana. Sedikit merasa aneh karena tidak banyak menemukan bungkus jajanan. Jika memang Vita jajan yang banyak pastilah tempat sampah juga penuh dengan bungkusan jajanan tersebut. Apakah ibu sedang mencoba menipuku lagi?


Tanpa banyak bicara aku masuk ke dalam kamar, segera mengganti baju dan membawakan Vita jaket yang tebal.


"Kamu mau ke mana?" tanya ibu saat aku mendekat ke arah Vita dan memakaikannya jaket.


"Ngajak Vita jalan di luar," jawaku. Sedikit rasa kesal sebenarnya karena tidak melihat sampah jajanan yang di ibu maksudkan tadi, tapi aku hanya diam menahan diri.


"Sekali-kali ajak Ibu juga keluar kenapa? Jalan-jalan gitu, makan di luar," ucap ibu sambil menatapku.


"Jalan-jalan sama makan itu harus bekal uang, Bu. Cuma bawa uang seratus ribu itu nggak akan cukup," kataku.

__ADS_1


"Masa segitu aja nggak cukup? Kan cuma jalan sama makan aja. Ibu bosan di rumah terus, nggak pernah refreshing sama sekali." Nada suaranya terdengar kesal.


"Waktu ada bapak juga jarang refreshing, kok."


"Itu kan dulu sama bapak kamu, bapak kamu itu nggak pernah punya uang, makanya nggak pernah ajak ibu refreshing."


"Sekarang juga sama. Hilman mana ada uang buat refreshing."


"Gimana gak ada uang, kamu aja kasih Ibu uang nggak pernah banyak. Pasti di dompet juga masih ada, kan?" cecar ibu.


Aku merasa kesal dengan ucapannya. Meskipun memang iya uang yang ada di dalam dompetku masih ada, tapi tidak banyak. Hanya cukup untuk pengeluaran makan sampai akhir bulan.


"Memangnya Ibu pikir gaji aku buat apa? Kebanyakan habis buat apa? Ibu nggak ingat kalau kita ini punya hutang ke bank? Enggak ingat kalau Hilman harus bayar hutang bekas Mas Dirga?" tanya ku sedikit emosi. Akhirnya perasaan kesal yang saya dari tadi aku tahan kini keluar sudah.


"Sisa yang dari bank juga kan masih banyak, Man. Kamu tariklah dari ATM pakai buat kita jalan-jalan. Ibu ini bosan ada di rumah!" Ibu mulai berkata dengan nada yang kesal.


"Gak ada tarik-tarikan! Hilman juga butuh uang itu untuk keperluan Vita nanti," ucapku dengan tegas.


"Vita lagi, Vita lagi! Yang kamu pikirin sedari kemarin itu cuma Vita. Kenapa kamu nggak mikirin Ibu yang sudah melahirkan kamu?" tanya ibu berang.


"Hilman juga mikirin Ibu. Makanya Hilman nggak punya uang sekarang karena apa? Karena Hilman itu mikirin Ibu. Mikirin untuk ngelunasin semua hutang-hutang akibat perbuatan Ibu!" Aku tidak kalah berseru. Sadar sebenarnya tidak sopan untuk berdebat dengan orang tua, tapi rasanya hati ini kesal sekali dengan apa yang pernah ibu lakukan sampai-sampai hampir dilaporkan ke polisi.


"Ah, percuma bicara sama kamu. Kamu memang sudah nggak peduli lagi sama ibu! Besok Ibu akan cari itu si Hana, dan kasihin Vita ke sana!" ucapnya lalu berdiri dan melangkah dengan kasar meninggalkan kami, pintu kamar Ibu tutup dengan kasar.


Aku menghembuskan nafas dengan cukup keras. Butuh banyak kesabaran untuk menghadapi ibu. Butuh banyak tenaga untuk bisa berdebat dengan dia.

__ADS_1


__ADS_2