
Masjid besar yang ada di desa kami, hari ini akan menjadi saksi terikatnya janji suci yang akan Arga ucapkan atas namaku. Tepat di jam sembilan pagi, kami sudah selesai bersiap dan sudah menuju ke Masjid Baitul Hamid. Kami pergi dengan menggunakan tiga mobil yang Arga kirimkan dan juga beriringan dengan dua mobil yang lain milik kerabat dan saudara Bapak, dari pihak Ibu tidak banyak yang datang, hanya dua orang karena Ibu tidak banyak memiliki saudara. Adapun seperti paman dan juga yang lainnya berada jauh dari kota ini dan tidak bisa datang dan hanya menitipkan doa saja untuk kami.
Tidak sampai sepuluh menit, kami sudah sampai di masjid yang sebelumnya Pak RT sudah meminta izin kepada pengurus masjid dan juga perangkat desa yang lain untuk kami melakukan acara akad ini. Alhamdulillah, tidak ada halangan saat meminta izin tersebut.
Aku menunggu di ruangan lain, Arga sedang berada di dalam perjalanan dan sebentar lagi akan sampai saat aku bertanya di dalam panggilan telepon.
Rasanya hati ini terus saja berdebar, tidak bisa aku redam. Berdebar dan tidak bisa berhenti sehingga aku terus meremat kedua tanganku sedikit kuat. Basah rasanya telapak tangan ini.
Ah, ya ampun, padahal ini bukan pengalaman pertama, tapi kenapa terus saja seperti ini? 'Ya Allah, tolong tenangkan hati ini dan lancarkan lah niatan baik kami hari ini.' Doaku dalam hati.
Mbak Yeni tersenyum melihat kegugupanku, dia mendekat dan duduk di kursi plastik di sampingku.
__ADS_1
"Gugup, ya?" tanya Mbak Yeni dengan tersenyum geli. Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum malu. Ibu dan Bibi serta Ina juga ada di sini, belum ke depan untuk menyambut tamu yang datang dari pihak mempelai laki-laki. Mereka semua tersenyum melihat ke arahku.
"Jangan gugup gitu dong, Mbak. Kan jadi tegang wajahnya malahan kayak patung loh! Senyum lah dikit!" ujar Ina seraya tersenyum geli.
"Kamu gak tau sih rasanya menikah, kan gugup, Na," ujarku, terdengar suara ini sedikit bergetar.
"Hihi, padahal ini yang kedua ya, Mbak," ucapnya lagi. Lalu terdiam saat lengannya disenggol oleh sang Ibu.
"Gak sopan!" cerca Bibi. Ina langsung menutup mulutnya dengan menggunakan satu tangan seraya meminta maaf padaku.
"Ya, namanya juga orang kan beda-beda, Na. Ari ibu mah dulu nikah sama Bapak kamu ya gak ada gugup dan gemetar sama sekali, kan ari Ibu mah di jodokeun tuh ku si Aki jeung ku si Emak," ujar Bibi. Aku mengalihkan tatapanku pada Bibi, tidak menyangka dan tidak tahu jika dulu Bibi dan Mamang menikah karena dijodohkan.
__ADS_1
"Ah da si Nini jeung si Aki mah kuno atuh, main jodoh-jodohan sagala." Ina menjawab, anak muda zaman sekarang memang pintar sekali berbicara. Kami tertawa, tapi tidak demikian dengan Ibu, meski Ibu menyunggingkan senyuman, tapi ku lihat dari sorot matanya sendu dan sedikit basah.
Seseorang masuk ke dalam ruangan dan mengabarkan jika Arga dan keluarganya sudah datang baru saja. Pak penghulu juga sudah hadir sebelum itu. Semakin berdebarlah jantung ini, sesak juga tenggorokan yang terasa menyempit. Kipas angin yang ada di ruangan ini tidak terasa sama sekali sehingga rasanya kini tubuhku berkeringat.
Bibi keluar dari ruangan ini bersama dengan Ina dengan wajah yang sangat senang dan juga sangat bersemangat sekali, untuk ikut bersama dengan Mamang menyambut kedatangan rombongan pengantin yang aku tidak tahu berapa jumlahnya, aku hanya mengira-ngira saja sewaktu melamarku saja Arga datang dengan banyak orang apalagi sekarang?
Tak lama dari Bibi keluar dari ruangan ini, suara speaker terdengar dengan sangat jelas. Sambutan dan juga doa serta wejangan yang disampaikan Pak Penghulu terdengar dengan disertai guyonan. Aku ikut tertawa ketika mendengar semua orang bersorak karena mengejek Arga Si Duda Gak Jadi Karatan, katanya.
"Bismillahhirrohmanirrohim ...." Aku menahan napas saat Pak penghulu mulai mengucapkan bismillah, gugup sehingga tidak berhenti meminkan jari-jemariku di atas pangkuan. Ku rasakan susah payah menahan getaran tubuh ini. Ibu mengelus pundakku dengan senyum di wajahnya. Lantunan doa aku ucapkan di dalam hati, meminta kepada Allah untuk dilancarkan segala sesuatu rencana kami di hari ini.
"Bismillahirrohmanirrohim. Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Safira binti Darmawan dengan maskawin seperangkat alat solat dan uang tunai senilai satu juta tiga ratus ribu rupiah, tunai!"
__ADS_1
****
Sah gak nih?🤔