
Keesokan harinya kami bersiap untuk memasak, setelah kemarin sore Mbak Sari, Bi Sari, dan juga ibu mengupas kentang dan juga perbawangan, Gara juga turut membantu mengupas bawang hingga matanya merah dan hari ini dia tidak mau lagi melakukan tugas itu, lebih memilih pergi bermain sepeda dengan Widi bersama dengan anak-anak kecil yang ada di kampung ini.
"Jangan jauh ya Wid bawa Abang Gara!" pintaku saat keduanya menaiki sepeda, setengah berteriak karena jarak kami yang lumayan cukup jauh.
"Siap, Kak! Mau main di lapangan aja!" teriak Widi dari kejauhan sana.
"Iya, nanti kalau sudah panas pulang ya!" teriakku lagi, Azka yang ada di pangkuan melompat-lompat seraya berteriak seakan memanggil kakaknya.
"Iya, Kak!" jawab Widi berteriak kembali, lalu kedua anak itu pergi dengan menaiki sepeda mereka. Azka yang sedari tadi berteriak kini menangis diabaikan oleh kakaknya, sangat kencang sehingga membuat ibu yang tadi ada di dapur berlari ke arah kami.
"Azka kenapa?" tanya ibu terlihat khawatir, mungkin karena mendengar Azka yang menjerit barusan. Azka tidak mau diam di atas pangkuanku, meronta seperti ingin menyusul kakaknya.
"Ini, Gara tadi pergi sama Widi. Pengen ikut kali." Aku tertawa kecil melihat tingkah Azka kini, dia menangis malah terlihat lucu bagiku. Membayangkan jika anak ini bisa berjalan atau berlari mungkin saja kakaknya tidak bisa pergi untuk bermain.
"Aduh, kasihan Kaka. Kaka mau ikut Abang, ya?" tanya ibu seraya mendekat pada kami. Azka sedikit mereda tangisnya, mengulurkan tangan ke arah ibu.
"Mau Nenek gendong?" tanya ibu, sama mengulurkan tangannya pada Azka. Anak laki-laki ini tidak menghentikan tangisnya, manja sekali jika bersama dengan sang nenek. Tersedu, tapi tidak lagi mengeluarkan air matanya.
Ibu mengambil Azka dan menggendongnya, meski sering kali ibu sakit, tapi ibu tidak pernah mengeluh jika menggendong Azka.
"Cucu Nenek. ikut ke dapur, yuk Ketemu mimih," ujar ibu. Mimih adalah panggilan nenek untuk Bi Sari. Tidak mau dipanggil nenek karena masih muda, maka dari itu meminta dirinya dipanggil mimih oleh kedua putraku.
__ADS_1
Ibu mengambil kain jarik yang ada padaku, menggendong Azka dan membuatnya nyaman di depan tubuhnya, lalu pergi ke dalam rumah. Aku mengikuti, Gara tidak ada, Azka dengan ibu, aku memilih untuk bergabung di dapur dan membantu sebisanya.
Tiga orang tetangga kami berada di dapur, memiliki tugasnya masing-masing, ada bibi dan juga Mbak Sari, pak sopir dan suamiku sedang membakar sate dengan arang dan mengipasinya. Harum sekali aroma makanan tersebut. Sate tidak dihidangkan di dalam nasi berkat, tapi untuk di makan oleh yang lain yang ikut membantu di sini.
"Duh, si kasep. Saha ieu teh? Putra saha nya?" Seseibu menggoda Azka, menggoyangkan tangan putraku dengan pelan dan mengajaknya untuk berbicara. Azka hanya memiringkan kepalanya dan menatap wanita paruh baya seumuran ibu yang kini duduk sambil memegang jahe di tangannya.
"Meuni kasep pisan, ieu mah mirip sareng rama na, nya," ucap wanita itu, yang mengatakan jika putraku tampan dan mirip dengan Arga.
"Memang mirip sama papanya, gak ada yang mirip sama mamanya," ucap ibu seraya tertawa sambil melirikku. Sebal rasanya, memang putraku itu lebih mirip dengan papanya daripada aku, hanya mata saja yang bulatnya sama, selebihnya lebih kepada wajah sang ayah.
"Kasep, sini sama Uwak, mau?" tanya wanita itu sambil mengulurkan tangannya, ingin menggendong Azka. Jahe yang tadi dia simpan di atas nampan.
Azka sudah mengerti, dia menepis tangan wanita itu sambil berteriak 'ah' yang berati menolak. Tidak mudah untuk Azka bisa menerima orang asing yang ingin dekat dan menggendongnya.
Aku membantu sebisaku, mumpung Azka sedang anteng bersama dengan ibu. Bawang yang sudah dikupas di blender, kemiri dan sebagainya juga, dihaluskan secara terpisah.
Waktu semakin berlalu, semua orang yang ada di sini terlihat sibuk, pada sore harinya datang mamang dan putrinya yang paling besar ikut membantu pekerjaan yang belum selesai.
Selepas Ashar mamang pergi ke rumah yang lain mengundang untuk ke vila ini setelah Magrib nanti. Kami membuat hidangan berkat sampai tujuh puluh banyaknya, semakin banyak yang datang akan semakin bagus. Kami mengundang sekitar lima puluh lima sampai enam puluh orang undangan, sisanya siapa tahu ada yang membawa anak kecil akan kami berikan juga, jika masih ada sisa juga akan kami berikan ke tetangga yang tidak bisa hadir.
Ruangan tamu yang lebar menjadi tempat berkumpulnya para tamu undangan, sudah disiapkan sedari sore. Sofa dikeluarkan dan menggelar karpet besar untuk alas duduk, sebagian ada yang datang dan memilih untuk di teras. Alhamdulillah, ruang tamu penuh dan juga di teras juga banyak orang, Mamang kira semua yang diundang banyak yaang hadir, beberapa orang saja yang tidak datang. Juga ada anak-anak yang mereka bawa, kini duduk di samping ayahnya masing-masing.
__ADS_1
Acara kami malam ini berjalan dengan lancar dengan bantuan ustadz yang datang dan membantu mendoakan, selamatan vila dan juga meminta doa untuk kehamilan keduaku, juga sebagai tempat bersilaturahmi dengan para tetangga dan warga yang lainnya. Berharap dijauhkan dari bala bencana dan hal yang tidak diinginkan, serta dilancarkan rizki dan kesehatan untuk anggota keluarga kami.
Setelah acara selesai, semua dibereskan dengan cepat, tidak mau sampai harus menundanya dan mengerjakan untuk esok hari. Semua bergerak cepat kayren malam sudah hampir larut.
Azka sedikit rewel, terlihat sekali jika dia sudah mengantuk.
"Bu, Arga kemana?" tanyaku pada ibu saat tidak melihat suamiku ada di sana dan membantu.
"Ikut sama mamang bantu kirim berkat ke rumah yang lain," jawab ibu. Tangan yang mulai keriput itu membereskan sisa jajanan yang tadi disuguhkan.
"Oh, ya sudah. Ayu ke kamar dulu," pamitku.
"Eh, Yu. Itu uang yang buat belanja kemarin masih ada sisa," lapor ibu.
"Sudah buat ibu saja, bagikan juga dengan yang lain yang sudah bantu. Atur aja sama ibu yang pantas berapa, kalau bisa lebihkan, nanti kalau kurang Ayu tambahin," ucapku.
"Kayaknya gak perlu ditambah lagi sih, ini aja masih sisa lumayan. Nanti Ibu bicara lagi deh sama Bi Sari," ujar ibu lagi. Aku mengangguk dan pamitan kepada ibu. Tak lupa ibu memberikan ciuman selamat malam pada cucunya yang sedang rewel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuk, mampir sini gaes. Karya salah satu teman Othor nih.
__ADS_1