
“Aku belum kasih jawaban,” ucapnya masih menunduk. Ada rasa lega yang aku rasa di dalam hatiku. Ini berarti kesempatan untuk mendekati dia masih ada.
“Minggu depan dia bakalan datang lagi untuk mencari jawabannya,” ucapnya kali ini yang membuat hatiku menciut.
“Terus nanti kamu mau jawab apa?”
“Sepertinya aku akan jawab ‘iya’,” jawabnya. Rasanya seperti ada yang mematahkan hatiku, sakit tidak berdarah seperti dulu.
“Kalau … aku minta kamu menolaknya bagaimana?” Aku berbicara dengan tanpa rasa malu dan takut lagi. Takut akan kehilangan dia yang bisa membuat aku berani seperti itu. Seketika dia mengangkat kepalanya dan menatapku bingung, pandangan mata kami saling beradu. Satu detik kemudian dia kembali menundukkan kepalanya.
“Kalau sekarang aku menolak dia, kapan aku akan menikah? Sementara umurku udah nggak muda lagi, sedangkan sekarang ada orang yang mau sama aku,” ucapnya dengan lirih.
“Aku. Kalau boleh aku yang akan menikahi kamu,” ucapku semakin berani. Dia kembali menatapku, kali ini sedikit lebih lama dan tidak membuang pandangannya lagi.
“Maaf. Jika sepertinya aku memang tidak pantas sama kamu, hanya saja Aku ingin kamu tahu kalau sebenarnya aku sudah ada hati sama kamu selama ini,” ucapku dengan yakin.
“Hah? Maksudnya?”
“Aku yakin suka sama kamu,” jawabku dari pertanyaannya.
Dia membuka mulutnya membentuk huruf o tanpa bersuara sama sekali, matanya sedikit berkaca-kaca aku lihat.
“Jika mungkin boleh, aku ingin egois untuk bisa memiliki kamu. Apakah sekarang aku sudah terlambat jika ingin mempertahankan kamu?” tanyaku kepadanya.
Rasanya menyesal sekali karena tidak sadari kemarin aku mengatakan hal yang seperti ini kepada Dewi. Setelah tadi aku mendengar berita keberanianku muncul begitu saja.
Aku menunggu jawaban Dewi, tapi bukan kata-kata yang aku dapatkan hanya tangisan dia yang kini terdengar menyayat hati. Aku tidak paham sama sekali dengan arti dari tangisan itu.
__ADS_1
“Aku nggak tahu, kamu pulang saja dulu,” ucapnya. Jelas dia telah mengusirku kali ini. Hal yang tidak pernah dia lakukan kepadaku.
“Aku minta kamu pulang saja dulu,” pintanya lagi lalu dia berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Aku duduk sendiri di ruang tamu, rasanya sesak sekali di dada melihat dia menangis seperti itu. Yang pasti aku tidak tahu kenapa sebab dia menangis. Apakah karena aku barusan?
Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan di sini. Sudah jelas dia menyuruh aku pulang, tapi bukannya ke rumah kini aku berjalan menuju rumah Ani.
“Assalamualaikum.” Ku beri salam kepada si pemilik rumah yang kemudian disahut jawaban balasan dari dalam sana oleh seorang laki-laki. Tak lama pintu terbuka, Mas Faris, suami dari Ani membukakan pintu.
“Eh ada Hilman. Mari silakan masuk,” tawarnya dan memintaku untuk masuk ke dalam rumah. Dia juga mempersilakanku untuk duduk di sofa.
“Tumben Hilman ada di sini. Apa ada perlu?” tanya dia.
“Saya mau bertemu sama Ani, boleh?”
Kening laki-laki itu mengkerut, tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya. “Sebentar saya panggilkan istri saya dulu,” ucapnya kemudian berdiri dan pergi ke ruangan lain. Dari tempatku duduk bisa kulihat anak-anak Ani dan Mas Faris sedang menonton TV.
“Kamu juga tahu aku ke sini mau apa,” ucapku tanpa menjawab pertanyaannya.
“Oh, pasti soal Dewi ya?” Aku menganggukkan kepala. “sudah ketemu sama dia?”
“Barusan aku ke rumah dia, aku juga bilang kalau aku suka sama dia dan menyuruhnya buat tidak menerima laki-laki itu. Tapi dia malah nangis, apa aku salah bilang kayak gitu ya?” tanyaku kepadanya. Aku juga bercerita dengan apa yang tadi kami bicarakan di rumah Dewi.
Ani hanya diam dan berpikir. “Benar atau salahnya aku juga nggak tahu. Terus dia bilang apa lagi?” tanya dia setelah aku mengakhiri cerita.
“Dia nggak bilang apa-apa, cuma nangis dan suruh aku pulang aja,” ucapku kepadanya.
“Kalau sih aku pikir Dewi juga suka sama kamu deh. Mana mungkin kan kalau dia kasih jawaban gantung kayak gitu," ucapnya. Aku hanya diam, mencoba untuk berpikir tetapi tidak bisa sama sekali. Aku masih bertanya-tanya kenapa tadi dia menangis seperti itu.
__ADS_1
“Terus aku harus gimana?”
“Ya kita harus tanya lagi sama Dewi.”
“Kalau ternyata dia tetap nerima lamaran orang lain?”
“Ya berarti kamu masih akan tetap jomblo,” ucapnya malah membuat aku kesal. Aku minta saran darinya tapi malah tidak menemukan jawabannya sama sekali.
“Terus kamu ngarepnya apa?” tanya Ani kepadaku.
“Ya bantu aku untuk batalkan pertemuan mereka lah. Kalau bisa yakinkan Dewi untuk enggak menerima laki-laki itu.”
“Itu sih namanya kamu egois.”
“Aku cuma mau memperjuangkan cintaku, nggak ada yang salah kan?” tanyaku kepadanya. Dan disebut egois seperti itu Aku sudah tidak peduli. Aku memang sudah menganggap diriku manusia yang egois.
Kami terdiam beberapa saat lamanya. Tetap pikir apa yang harus di lakukan setelah ini. Jika pun Dewi menerima lamaran laki-laki itu apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan mengacaukan pesta pernikahan mereka?
Aku menggelengkan kepala. Pemikiran jahat ini tiba-tiba saja terlintas dalam kepalaku.
“Jangan-jangan kamu berpikiran yang tidak-tidak ya?” tanya Ani melirik curiga kepadaku.
Aku menggelengkan kepala. “Sepertinya setan dalam diriku sedang memberontak” jawabku membuat dia bergidik ngeri.
“Jangan sampai lakukan hal yang aneh, dia bukannya akan suka sama kamu tapi dia akan benci sama kamu.” tunjuknya tepat pada wajahku.
“Memangnya kamu pikir aku akan melakukan apa?” aku bertanya ingin tahu dia tadi menebak apa.
__ADS_1
“Kacau kan pernikahan mereka,” jawabnya yang membuat aku menatapnya ngeri. Apakah dia bisa membaca pikiranku?