
"Tadi kamu sama siapa, Ayu?!" teriak suara yang sangat aku kenal. Lenganku terasa sakit saat tiba-tiba saja pemilik suara itu menarik lengan ini dengan sedikit kasar.
Aku pun sampai terjengat berdiri karena tarikan itu. Untung saja laptopku terjatuh ke samping, ke atas sofa. Dasar aku, dalam keadaan seperti ini masih saja memikirkan laptop bilamana terjun bebas ke lantai.
"Mas Hilman, apa yang kamu lakukan sama Mbak Ayu?" teriak Sinta sambil menarik tangan Mas Hilman yang satu. Lenganku masih sakit akibat cengkeraman tangannya yang kuat.
Mas Hilman menghempaskan tangan Sinta hingga gadis itu sediki terdorong ke tembok.
"Jangan ikut campur, Sinta!" teriak Mas Hilman pada Sinta. Gadis itu kini berlari ke belakang dengan takut.
"Mas, apa yang kamu lakukan?!" Aku berteriak padanya dengan keras dan mencoba menarik tanganku dari cengkeramannya.
"Siapa laki-laki yang sama kamu tadi?!" teriak Mas Hilman lagi kepadaku.
Seketika aku ingat dengan Arga. Laki-laki mana lagi yang jalan bersamaku. Bertahun-tahun belakangan ini aku tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun selain Mas Hilman dan juga Arga tadi siang. Rasa cemburu Mas Hilman yang berlebihan harus aku jaga, membuat aku menjaga jarak dengan pria manapun, meski hanya bertegur sapa aku lakukan dengan sekilas.
"Untuk apa kamu tanyakan itu? Itu bukan urusan kamu, Mas!" Aku berseru sambil menatapnya dengan tajam.
"Kamu itu masih istriku! Tidak pantas untuk kamu jalan dengan laki-laki lain!" teriaknya lagi.
"Kalau begitu jadikan aku pantas dengan dia!" Aku berteriak lagi. Tidak mau membela diri atau menjelaskan siapa dia. Toh jika sudah seperti ini juga dia tidak akan bisa mendengarkan dengan baik.
"Ceraikan aku, Mas. Supaya aku tidak perlu lagi kamu urusi. Aku bukan istri yang baik. Aku memang jalan dengan laki-laki lain, terus kamu mau apa?!" tanyaku dengan berseru. Aku tidak mengada-ngada, juga tidak berbohong, memang pada kenyatannya aku tadi siang jalan berdampingan dengan Arga. Jika dia tidak tersulut emosi dan memikirkan dengan kepala dingin, adakah dua orang jalan berdampingan di tengah terik matahari dengan sambil mendorong motor?
__ADS_1
"Kamu selingkuh dari aku, Yu? Ini alasan kamu pulang kesini? Aku suruh kamu memikirkan dengan kepala dingin untuk tidak meminta cerai dari aku, lalu kamu gunakan kesempatan ini untuk dekat dengan laki-laki lain?" tanya Mas Hilman dengan marah. Sorot matanya kini menyala.
"Jangan-jangan kamu juga sudah tidur dengan dia!" ucapnya yang tidak aku sangka akan keluar dari mulutnya. Aku menatapnya dengan tidak percaya. Suamiku yang sangat baik, yang sangat pengertian, yang aku kira kenal denganku setelah sekian lama kami bersama, kini dia mengatakan hal itu.
Apa aku semenjijikkan itu di mata dia?
Kini mataku panas mendengar apa yang dia katakan, hatiku pun sakit rasanya.
"Aku gak sangka kamu bahkan sudah zina dengan orang lain. Apa kurang aku, Yu. Aku suami sah kamu dan kamu sudah melakukan hal yang tidak baik dengan pria lain? Kamu berikan tubuh kamu untuk dia untuk apa ...."
Dengan segala kekuatan yang aku punya, aku mendorong dia dan menarik tanganku dengan kasar. Kulayangkan satu pukulan kuat ke wajahnya hingga dia mundur satu langkah ke belakang. Kedua tangannya memegangi hidung. Suara rintihan kesakitan terdengar dari mulutnya.
Dengan napsu amarah yang menggebu, aku menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Tanganku terasa sakit akibat apa yang aku lakukan barusan, tapi hati ini lebih sakit lagi mendengar ucapannya yang seperti itu. Harusnya tujuh tahun kami bersama, dia sudah kenal denganku, tapi kenapa dia malah mengatakan hal ini?
Aku menatapnya dengan benci, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu kepadaku. Tak ada rasa kasihan saat melihat darah yang keluar dari hidungnya.
"Jaga bicara kamu, Mas! Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu kira! Aku memang jalan dengan dia, tapi bukan berarti kalau aku juga memberikan tubuh ini untuk pria lain!" teriakku tak tahan. Air mata yang tertahan di dalam mata ini kini meluncur dari mataku. Panas, dan juga sesak rasa di dalam dada ini.
"Pergi kamu dari sini, Hilman!" suara Ibu tiba-tiba terdengar di ambang pintu yang menghubungkan ruangan depan dan belakang. Ibu terlihat marah menatap kepada Mas Hilman, sedangkan di belakangnya terlihat Sinta sedang memegang rotan pemukul kasur di tangan, menggenggamnya dengan kuat.
"Kamu datang kesini malam-malam hanya untuk mengatakan kalau anak saya wanita murahan begitu?" tanya Ibu kini sambil mendekat dengan marah. Ibu kini berhenti di depanku, dan menatap Mas Hilman dengan amarah. Dadanya terlihat naik turun menahan emosi. Seketika aku takut dengan Ibu, takut jika Ibu tidak tahan.
"Bu, sudah. Ini urusan Ayu," ucapku kepada Ibu. Mencoba menenangkannya. Aku meraih lengan Ibu, tapi Ibu mengelak, melepaskan tanganku darinya.
__ADS_1
"Ini sudah bukan urusan kamu lagi, Ayu. Ini sudah menjadi urusan Ibu juga! Ibu gak terima anak Ibu dikatakan wanita murahan yang memberikan tubuhnya untuk orang lain. Lalu apa yang kamu berikan untuk anak saya yang mencoba setia untuk kamu? Yang sudah berusaha mencoba bertahan dengan hidup didua?" jerit Ibu tak tahan. Tidak pernah aku melihat Ibu marah seperti ini.
Mas Hilman menatap Ibu dan aku bergantian. Dia menyusut darah dari hidungnya dengan sapu tangan yang dia ambil dari saku baju kemejanya.
"Apa yang sudah kamu lakukan untuk anak saya selama ini? Apakah kamu gak sadar kalau kamu sudah menyakiti anak saya dengan kalian yang hidup bertiga? Apa kamu juga gak sadar telah menzolimi anak saya secara tidak langsung?" tanya Ibu masih dengan menggebu.
Aku dan Sinta saling menatap bergantian, entah dengan Sinta, tapi aku takut dengan kondisi Ibu.
"Berikan kebebasan untuk Ayu, Hilman! Kalau kamu sudah gak bisa lagi menjadi suami yang baik untuk Ayu, maka lepaskan saja Ayu. Jangan kamu buat dia sakit, Hilman! Saya, besarkan Ayu dengan kasih sayang, dan berikan dia kepada kamu dulu, karena yakin kalau kamu bisa memberikan kasih sayang dan juga melindungi Ayu dengan baik, bahkan bisa melebihi kami, tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu sudah lukai perasaannya? Perasaan yang selama ini, kami, Ibu dan bapaknya jaga untuk Ayu, supaya dia tidak bersedih, dan dengan mudahnya kamu buat dia sakit hati? Apa yang kamu janjikan dulu kepada kami apa kamu lupa?" tanya Ibu, kini nada suaranya tidak lagi tinggi seperti tadi, tapi terdengar tegas.
"Maaf, Bu. Aku memang telah salah tidak memberitahu Ayu soal pernikahan ini, tapi aku juga ada di dalam keadaan terdesak. Ibu mengancam untuk bunuh diri kalau aku gak menurutinya Bu," ucap Mas Hilman.
"Tapi bukan berarti kalau kamu gak bisa adil dengan Ayu. Dan sekarang ini Ayu sudah tidak mau lagi dengan kamu, Ibu harap kamu bisa mengembalikan Ayu kepada kami," ucap Ibu dengan tegas.
Mas Hilman menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Bu. Aku sayang dengan Ayu. Aku gak bisa pisah dengan Ayu, Bu," ucap Mas Hilman lagi dengan tatapan memohon.
"Ini sudah menjadi keputusan kami, Hilman. Baik Ibu maupun Ayu, sudah tidak mau lagi berurusan dengan kamu. Terutama Ibu, Ibu gak rela, Ibu gak ridho kamu dengan Ayu lagi!" tunjuk Ibu pada Mas Hilman yang membuat pria itu kini melebarkan matanya seraya menggeleng tidak percaya.
"Assalamualaikum." Suara seseorang terdengar dari luar langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Refleks kami semua menoleh ke arah asal suara. Dua orang lelaki dewasa terlihat di sana.
"Pak. Itu, Pak. Tolong usir dia dari sini." Tunjuk Sinta entah pada siapa, tapi yang jelas dia meminta mereka mengusir Mas Hilman dari sini.
__ADS_1