Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
197. Hal Yang Membuat Penasaran


__ADS_3

"Oh iya, kamu pasti belum tahu ya. Aku adalah teman satu universitas dengan Arga. Kami sangat dekat dulu," ucap wanita ini membuat rasa penasaran ku terjawab.


"Ayo hubungi dia dulu," ucapnya sekali lagi.


Aku mencari ponselku di dalam tas dan menghubungi Arga


"Saya permisi sebentar," ucap ku pada wanita itu. Dia menganggukkan kepalanya. Aku sedikit menyingkir untuk bertanya kepada Arga.


"Iya, Yu. Ada apa?" tanya Arga setelah aku mengucapkan salam.


"Aku mau meminta izin. Itupun kalau kamu memperbolehkan," ucap ku dengan pelan. "Dini, mamanya selfi, ajak aku untuk ngopi sambil menunggu anak-anak pulang. Apakah boleh?" tanyaku.


"Oh tidak apa-apa. Aku kenal baik dengan dia. Dia teman ku saat kuliah dulu," ucap Arga.


"Apakah saat nanti pulang mau aku jemput?" tanyanya lagi.


"Em ... kalau urusan kamu sudah selesai tentu boleh."


"Oke. Aku akan cepat selesaikan pekerjaanku. Kamu baik-baik di sana ya, jangan nakal. Awas kalau kamu melirik laki-laki lain," ucapnya terdengar menyebalkan di telingaku.


"Aku nggak akan, memangnya kamu! Awas aja kalau kamu tebar pesona dengan bawahan kamu,ya!" ancamku kepadanya.


Bukannya menjawab, Arga malah tertawa terkekeh. "Aku memang sedang bersama dengan para wanita," ucapnya.


"Hem, terserah kamu saja," jawabku.


"Eh Apakah kamu tidak cemburu?" tanya Arga dengan cepat.


"Tidak. Buat apa aku cemburu?"


"Kenapa seperti itu?" terdengar nada suaranya yang protes.


"Karena aku sudah percaya dengan suamiku," ucapku. Arga terdiam tidak terdengar suaranya. Lalu kemudian ....


"Terima kasih," ucapnya.


Aku tersenyum, membayangkan Arga ada di tengah-tengah para wanita, tapi aku memang harus bisa percaya kepadanya. Jika aku tidak bisa percaya dengan Arga, apakah aku pantas disebut istrinya? Dia tidak akan bisa bebas melangkah.


"Ya sudah. Kamu hati-hati di sana, jaga hatimu hanya untuk aku seorang. Aku tidak rela kalau sampai terbagi," ucapku. Terdengar suara tawa dari seberang sana.


"Tidak akan, aku janji," ucapnya.


"Ya sudah. Kalau begitu aku pergi bersama dengan Dini."


"Iya. Selamat bersenang-senang," ucapnya.

__ADS_1


Aku mematikan telepon setelah mengucapkan salam dan kemudian mendekat ke arah Dini berada.


"Sudah?" tanya Dini padaku. Aku mengangguk. "Apa dia mengijinkan?" tanyanya lagi.


"Iya dia mengizinkan," jawabku. Dini tersenyum senang. Dia memanggil Gara dan Selvi, kedua anak itu menoleh dan mendekat ke arah kami.


"Mama akan pergi berdua, nanti kita akan kembali lagi setelah jam pelajaran selesai. Tidak apa-apa, kan?" tanya Dini kepada keduanya.


"Iya," jawab Selvi


"Tidak apa-apa," jawab Gara.


Dini mendekat memeluk keduanya, memberikan ciuman hangat di kening.


"Anak pintar. Baik-baik kalian di sini. Belajar dengan giat dan jangan bermain-main!" peringat Dini kepada keduanya.


"Siap!" teriak keduanya dengan kompak.


Aku juga mendekat pada Gara. " Mama pergi dulu ya. Nanti Mama akan kembali," ucapku pada anak itu dan memeluknya juga mencium kedua pipinya.


"Iya. Selamat bersenang-senang, Mama!" seru anak itu dengan tersenyum lebar.


Kami melambaikan tangan kepada keduanya.


"Ayo kita pergi dan menikmati waktu kita berdua tanpa anak-anak," ucap wanita itu dengan riang sambil menggandeng tanganku.


"Ayo masuk."


Seorang pelayan di cafe tersebut membukakan pintu kaca untuk kami. Dia tersenyum dengan ramah menyambut kedatangan kami berdua.


"Terima kasih," ucapku, wanita itu tersenyum dengan lebar sambil menganggukkan kepalanya.


Dini membawaku pada sebuah meja di samping kaca yang lebar. Dari sana terlihat suasana jalan raya dan trotoar yang masih sepi. Seorang pelayan yang lain mendekat ke arah kami dan bertanya.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Dini padaku sambil menyerahkan satu lembar menu yang ada di sana.


"Aku jus alpukat saja," ucapku.


Dini mengganggukan kepalanya dan juga menunjuk yang lainnya di menu tersebut.


"Apa kamu mau sarapan?" tanya wanita itu lagi.


"Tidak, terima kasih. Aku sudah sarapan di rumah," jawabku.


"Oke, baiklah. Hanya ini pesanan kami, terima kasih," ucap Dini pada pelayan tersebut.

__ADS_1


Gadis pelayan itu pergi ke belakang.


"Oh iya, apakah kamu Ayu mantan Arga dulu? Maaf jika aku bertanya soalnya kemarin aku sempat melihat dari kartu undangan kalian," ucapnya.


"Ya, begitulah. Kami pernah menjalin hubungan di masa lalu," ucapku jujur.


"Wah, kalau begitu selamat ya. Kalian memang berjodoh. Aku senang sekali mendengarnya." Dini tersenyum dengan sangat lebar, menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Aku melirik wanita itu dengan rasa penasaran. Sejauh mana dia mengenali Arga. Kelihatannya dia sangat antusias sekali.


"Boleh aku bertanya?" tanyaku memberanikan diri.


"Iya, tentu saja boleh. Tanya apa?"


"Sedekat apa kalian di masa lalu? Maaf maksudku em ... apakah kalian bersahabat?" tanyaku dengan pelan. Aku meliriknya sedikit takut jika dia tersinggung dengan pertanyaanku barusan.


Dini menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Disebut bersahabat juga tidak. Kami hanya kenal dekat," jawabnya.


"Asal kamu tahu saja, Yu. Arga itu sosok laki-laki yang sangat dingin dan misterius. Dia seperti laut yang tidak bisa diselami. Sulit sekali," ucap wanita itu.


"Tapi bagaimana kalian bisa saling mengenal?" tanya aku lagi. Masih besar rasa penasaranku. Bukan berarti aku cemburu. Tidak! Aku hanya ingin tahu.


"Em ... bagaimana ya?" Wanita itu seperti bergumam. Terlihat seperti sedang berpikir.


"Mungkin sih karena orang tua kami dekat," ucapnya sambil tertawa.


"Ya, kamu tahu lah urusan bisnis, membuat kami juga harus saling mengenal. Mungkin tujuan dari orang tua kami ingin menjodohkan. Aku pernah dengar itu dari ayahku."


Aku terperanjat mendengarnya. Berarti masa lalu mereka lebih dari teman atau sahabat?


"Jangan salah sangka dulu. Kami tidak seperti yang kamu pikirkan jika kami saling dekat. Tidak seperti itu! Dulu aku sudah punya pacar, Suamiku yang sekarang ini," terangnya membuat aku sedikit lega.


"Memang pada awalnya sangat sulit sekali untuk bisa melawan keinginan kedua orang tua. Tapi ya kami bisa, karena kami tidak punya perasaan satu sama lain," ucapnya lagi.


"Kamu tahu tidak dulu Arga adalah orang yang sangat menyebalkan. Dingin sekali kepada para wanita. Bahkan, tidak tahu berapa puluh wanita yang dia tolak. Sangat kasihan sekali mereka, tidak memiliki kesempatan bahkan untuk hanya dekat dengan dia.


Pesanan kami telah datang. Satu persatu diturunkan dari nampan. "Silakan dinikmati," ucap gadis pelayan itu dengan ramah kemudian dia mengundurkan diri.


"Silakan." Dini menyuruhku untuk minum. Aku hanya mengangguk saja, belum ingin minum.


"Lalu bagaimana setelah itu?" tanyaku, jujur aku masih penasaran dengan masa lalu dia tanpa aku.


"Kamu yakin mau mendengarnya? Apakah kamu tidak akan marah-marah dengan dia? Aku takut kalau kamu emosi," ucapnya dengan lirikan mata dan senyum ragu.

__ADS_1


"Memangnya soal apa?" tanyaku padanya.


__ADS_2