
Pertemuan dengan Arga beberapa hari yang lalu masih saja menyisakan tanda tanya di dalam hati, tentang perasaanku padanya tapi aku mencoba untuk mengenyahkan dia dari bayangan dan debaran di dalam dada ini. Aku wanita yang belum bebas sepenuhnya. Harus bisa menjaga diri dari pandangan orang-orang apalagi dengan statusku yang kini sendiri. Dan juga tentang ketidaksukaan Ibu terhadap Arga.
Ibu baru saja pulang dari warung sayur, aku sudah melarang Ibu untuk pergi, tapi Ibu memaksa karena ingin sambil berjalan ringan katanya, olahraga setelah sekian lama hanya diam di rumah dan di halaman belakang.
"Yu!" panggil Ibu dari dapur, aku yang sedang membersihkan kamar mandi menoleh pada Ibu.
"Ya?"
"Sini sebentar!" panggilnya lagi.
Aku membasuh tangan yang penuh sabun dan membilas tembok serta lantai kamar mandi.
Aku mendekat pada Ibu dan menerima keranjang rotan berisi sayuran dan daging.
"Ibu denger dari yang lain, kamu beberapa malam yang lalu diantar sama laki-laki?" tanya Ibu dengan nada yang dingin.
Dadaku seketika berdebar mendengar Ibu bertanya seperti itu.
"Siapa?" tanya Ibu lagi.
"Hanya teman, Bu," jawabku.
"Teman yang mana? Kok kamu gak cerita sama Ibu?" tanya Ibu lagi. Aku tidak berani membalikkan badan, hanya memperlambat gerakan tanganku yang sedang membereskan sayur dan daging, serta bumbu ke dalam kulkas.
"Hanya teman saja, kemarin kami sempat ketemu di mall waktu nganter Risma," ucapku.
"Teman yang mana?" Ibu mulai mendesakku.
"Arga, Bu." Akhirnya aku jujur. Rasanya menyesal dan juga takut Ibu akan marah.
__ADS_1
"Kenapa bisa sama Arga? Kalian janjian di mall?" tanya Ibu terdengar nada curiga.
Aku menoleh dengan cepat dan menggelengkan kepala, Ibu masih menatap tajam ke arahku.
"Bukan, Bu. Kami gak janjian." Aku menutup kulkas dan duduk di dekat Ibu.
"Tadi di warung sayur, ada yang membicarakan kamu, dia tanya sama Ibu siapa yang antar kamu malam itu," ucap Ibu lagi.
"Bicaranya itu loh, jadi bikin gak enak di dengar. Jadi gosip, Yu!" ungkap Ibu lagi. Terlihat wajahnya yang sedih.
Aku mengambil tangan Ibu dan mengusapnya dengan menggunakan ibu jari.
"Ibu percaya mana sama Ayu dan orang lain? Ayu juga sadar diri kalau Ayu ini belum bebas sepenuhnya, Bu. Lagipula kalau Ibu gak percaya tanyakan saja sama Risma, kan Ayu kemarin keluar mengantar dia buat beli baju. Risma juga tau kok kita ketemu gak sengaja." Aku meyakinkan pada Ibu. Ibu hanya diam menatapku.
"Ada satu hal yang membuat kami diantar sama Arga, Bu. Tapi kita gak lakukan hal yang aneh-aneh kok!" Aku bersikukuh.
"Maafin Ibu, Yu. Ibu sudah salah paham, lagian kamu juga gak bilang apa-apa soal malam itu," ujar Ibu.
"Gak semua yang Ayu lakukan dan Ayu alami harus Ibu tahu, kan? Maaf juga Ayu gak bilang sama Ibu karena gak mau Ibu kepikiran terus."
Ibu mengangguk pasrah. "Ya, sudah lah. Ibu mau istirahat dulu," ucap Ibu. Ibu pergi ke kamar, sedangkan aku melanjutkan pekerjaan ku kembali membereskan rumah.
Menjelang siang, warung aku buka. Akhir-akhir ini agak sepi pembeli, tapi masih lumayan untuk menambah isi dompet meski tidak seberapa. Pekerjaan menulisku juga masih aku lakoni, ternyata cukup lumayan juga bisa mendapatkan uang hanya modal ide dan juga Wifi.
Iseng aku buka aplikasi mobile ku. Uang hasil penjualan tanah di desa masih ada, tapi tidak seberapa, sebagian sudah terpakai untuk modal warung dan isinya, tapi jika keadan warung begini terus aku juga tak bisa menjamin uang ini masih akan ada dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan. Harga-harga semakin melambung tinggi, apalagi harga minyak goreng di pasaran cukup membuat kaum Ibu tercekik. Dan lagi biaya pengobatan Ibu di luar BPJS. Rasanya tidak tenang juga hanya punya bekal segini dengan keadaan kami yang seperti ini. Sedangkan dari menulis, tidak setiap bulan juga aku bisa menarik hasil yang telah di dapat.
Ku ambil hp yang ada di samping laptop. Jam sudah menunjukkan hampir tengah hari, waktunya makan siang. Segera aku menghubungi Diana, mengirimkan pesan jika nanti malam aku akan menelepon dia. Kebiasaan Diana yang sering nonton drakor hingga larut malam di laptopnya membuat dia meninggalkan hp di dalam kamar, begitu selalu alasannya jika aku menelepon tanpa kabar terlebi dahulu, harus kesal menunggu sampai dia online WA-nya.
[Nanti malam aku telepon.] Hanya itu pesan yang aku kirimkan padanya. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku di laptop, sesekali melihat ke arah Hp yang belum mendapatkan jawaban, hingga hampir lima belas menit akhirnya Diana membalas pesanku.
__ADS_1
[Oke] jawabnya singkat.
Sore sangat cepat sekali berlalu, langit yang gelap kini mulai tampak di langit. Suara adzan magrib juga mulai menggema di beberapa penjuru masjid, terdengar merdu suaranya hingga membuaiku. Gegas aku ke dalam rumah untuk melakukan solat wajib tiga rokaat.
Selesai solat, aku kembali ke warungku, berjaga bilamana ada yang membeli sekalian aku juga menyelesaikan bab terakhir yang akan di publish esok hari.
Diana meneleponku, dengan memakai headset aku berbicara dengannya sedangkan tangan aktif untuk mengetik walaupun tidak selancar saat aku fokus. Abaikan saja dengan pembicaraan kami karena hanya haha-hihi saja pada awalnya.
"Di, kalau aku bekerja menurut kamu gimana?" tanyaku pada Diana.
"Kerja? Terus Ibu?" tanya Diana terdengar sedikit protes.
"Aku bingung lah, Di. Sekarang ini pendapatan ku cuma dari warung dan dari menulis, itu gak seberapa. Aku butuh pekerjaan tetap," curhatku. Diana memang sudah tahu jika aku menggeluti dunia tulis menulis onlen.
"Iya, sih. Secara kamu kan sekarang ini wanita karier single!" ucap Diana, suara film berbahasa asing terdengar di sela-sela pembicaraan kami.
"Ibu apa sudah tau kamu pengen kerja?" tanya Diana lagi.
"Belum, aku belum bicara sama Ibu, aku mau minta pendapat kamu dulu," ucapku.
"Hem, boleh sih. Kalau pendapatku ya kamu bicara dulu lah sama Ibu. Ibu nanti siapa yang jaga kalau kamu kerja?" tanya Diana lagi. Pikiranku tertuju pada Sinta dan Yu Tarni. Lagi-lagi aku butuh bantuan mereka.
"Ya seperti biasa, Sinta atau Yu Tarni," jawabku.
"Lebih baik kamu menikah lagi sih, terus bawa Ibu deh hidup sama kamu. Biar kamu diam di rumah dan tenang urus Ibu juga," ucapnya sambil terkekeh.
"Diana! Dasar kamu ya." cercaku.
"Eh, aku serius loh!"
__ADS_1