Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
187. Penyambutan


__ADS_3

Dua hari kami berada di hotel, tidak terjadi apa-apa lagi setelah pesta malam itu. Arga berusaha menahan dirinya sendiri. Aku yakin dia sangat lama di kamar mandi karena ....


Ah, apakah perlu aku sebutkan? Dia sampai tidak berani memelukku saat malam karena takut jika dia tidak bisa menahan dirinya sendiri.


Kami sedang ada di dalam perjalanan pulang menuju rumah Arga. Dua koper pakaian ada di kursi belakang. Rasanya tidak sabar ingin segera pulang dan menemui Gara. Dua hari tidak bertemu dengan Gara, hanya mendengar suaranya saja lewat panggilan telepon. Setelah itu kami akan pulang ke rumah Ibu untuk mengajak Ibu pulang bersama kami.


"Kamu seneng banget, Yu." Arga melirikku dari balik kemudinya. Tadi sopir mengantarkan mobil ini dan kembali dengan menggunakan taksi karena Arga yang ingin membawa mobilnya sendiri. Beberapa buku kini ada di pangkuanku, aku membelinya tadi saat kami melewati toko buku. Teringat jika Gara ingin tidur, takut anak itu meminta aku menceritakan sebuah dongeng. Aku hampir lupa dengan beberapa dongeng yang pernah aku dengarkan dulu.


"Aku gak sabar ingin cepat pulang, Ga. Ingin ketemu Gara," ucapku menutup buku yang tadi aku buka.


"Ya, aku juga ingin cepat pulang dan ketemu Gara," ucapnya lagi.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, jalanan tidak terlalu ramai karena kami pulang pada jam menjelang makan siang. Tangan Arga tidak henti memegang tanganku dan mengelus punggung tanganku dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan tidak dia lepaskan dari kemudi. Sesekali dia melirik ke arahku dan tersenyum.


"Aku senang banget deh, Yu. Kayak lagi mau pergi nge-date. Hehe," ucapnya sambil tertawa kecil.


"Nge-date apanya? Jelas-jelas kita mau pulang!" ucapku, tak kalah malunya karena ucapannya itu, seperti anak ABG labil saja.


"Ya kan aku bilang seperti. Lain kali kita nge-date beneran ya. Kan kita belum pernah nge-date selama ini," ucapnya lagi.


"Ya, terserah kamu saja. tapi perhatikan juga nanti jangan sampai Gara bosan di sana."


"Eh, kok ajak Gara?" tanyanya dengan nada protes.


"Ya iya lah, masa Gara mau ditinggal?" Aku menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Ayu, namanya nge-date itu cuma kita berdua. Kalau bertiga dengan Gara namanya bukan nge-date lagi, dong. Tapi acara keluarga. Jalan-jalan keluarga!" ucap Arga sedikit kesal.


"Hei, jangan jadi orang yang egois! Kamu itu sudah ada Gara. Kejam sekali kalau sampai dia ditinggal hanya karena ayahnya mau nge-date. Enggak! Aku gak mau kalau nanti Gara sampai protes karena gak diajak!" ucapku. Arga merengut sebal mendengar ucapanku.


"Aku kan ingin juga seperti pasangan lain, ngedate hanya berdua saja!" ucapnya.


"huh, dasar kamu ini. kita sudah bukan lagi ABG yang bisa keluar untuk ngedate berdua," ucapku padanya.


"Iya aku tahu. Tapi sesekali boleh kan?" tanya Arga seraya tersenyum kecil.


Perjalanan dari hotel menuju ke rumah Arga lumayan jauh, hampir satu jam lamanya kami kini mulai memasuki perumahan di mana tempat Arga tinggal. Jarak dari sini ke rumah Ibu juga lumayan jauh. Mobil kini memasuki pekarangan rumah, masih tetap sama seperti terakhir kali aku ke sini. Hanya saja terdapat beberapa pohon bunga mawar kini tumbuh di taman di depan rumah. Terlihat sangat cantik dan rapi sekali.


"Ayo masuk." Arga membuka pintu mobil dan bergerak ke belakang mengambil koper. Satu orang asisten terlihat setengah berlari dari dalam rumah untuk membantu Arga.


"Ayo kita masuk," ucapnya lagi. Aku membantu arga membawakan satu tas kecil miliknya, sedangkan dia membawa koper yang lain di tangannya.


"Ada apa?" tanyaku padanya.


"Aku sedang mencari Gara. Biasanya kalau aku telepon akan pulang anak itu selalu menunggu di teras rumah," ujarnya lagi. Kami terus melangkahkan kaki mulai naik pada undakan teras.


"Mungkin sedang istirahat."


"Iya mungkin juga."


"Berat tidak?" tanya dia sambil menggerakkan tangannya, meminta aku menyerahkan tas tersebut.

__ADS_1


"Gak berat kok."


Kami melanjutkan perjalanan kami masuk ke dalam rumah. Pintu dibukakan oleh asisten yang sejak tadi ada di depan kami.


"Surprise!" teriak suara beberapa orang dari dalam sana dengan sangat keras. Kami terdiam, tidak menyangka jika akan ada beberapa orang yang menyambut kedatangan kami dengan beberapa hiasan dan juga balon dengan tulisan selamat datang. Ada dua foto pernikahan kami berdua yang sangat besar berdiri mengapit mereka.


Aku tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Tidak menyangka dengan kejutan kecil ini. bukankah harga bilang mereka adalah orang-orang yang sangat sibuk?


"Selamat datang di rumah," sambut mereka secara bersamaan. Para sepupu, Bibi paman, papa, dan juga Ibu. Tak lupa dengan si kecil Gara yang tersenyum dan kini berlari ke arah kami. Dia menabrak kakiku dan memeluknya erat.


"Selamat datang di rrllumah! Semoga mama Ayu senang dengan kejutan kami!" seru Gara sambil tertawa senang. Sangat lebar sekali senyumannya itu.


Jujur saja aku terharu. meski ini pernikahan keduaku tapi ini adalah hal yang pertama. Dulu tidak ada sambutan yang seperti ini, tapi di sini aku kembali merasakan pengalaman pertama yang lain.


Aku membungkuk untuk memeluk gara, mencium kepalanya yang memiliki rambut dengan wangi melon.


"Terima kasih. Tentu Mama senang dengan kejutan ini," ucapku. "Siapa yang bikin kejutan ini, hem?" tanyaku pada Gara.


"Om dan Tante!" serunya lagi. Aku terharu, menatap semua orang bergantian. Mereka tersenyum ke arahku. Betapa baiknya mereka bisa menerima aku apa adanya.


"Hei. apa Papa tidak kamu peluk juga?"protes Arga kepada putranya. Gara tersenyum, melepaskan pelukannya dari kakiku lalu menuju ke arah ayahnya berada. Mereka saling berpelukan mengeluarkan rasa rindu masing-masing.


"Apa kamu nakal selama Papa tidak ada?" tanya harga kepada putranya.


"Tidak! aku sudah menjadi anak yang baik. kalau Pqpa tidak percaya tanyakan saja kepada kakek!" ucapkan lantang.

__ADS_1


"Bagus. anak Papa memang harus menjadi anak yang baik."


__ADS_2