Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
256. Arga Cemburu


__ADS_3

Aku masih ingin banyak bertanya padanya, tapi tatapan Arga sudah tidak nyaman aku lihat dari sana. meskipun dia kini tengah duduk bersama dengan Gara, tapi aku tidak nyaman saja.


Mas Hilman telah selesai dijahit di keningnya, tertutup dengan perban putih yang menempel di sana.


"Terima kasih, Yu. Kalian sudah menolong aku. Arga, maaf sekali lagi dengan apa yang pernah aku lakukan sama kamu dan Ayu, dulu aku gelap pikiran aku kehilangan akal sehat," ucapnya padaku.


"Sudah, aku tidak suka kamu terus mengatakan maaf. Sekali saja sudah cukup, Hilman," ucap Arga dengan nada yang dingin. Aku sedikit takut menatap matanya, tatapan mata itu rasanya sedikit membuat ku sesak. Apakah dia marah?


"Mbak Ayu, selamat atas kehamilannya." Aku menoleh ke arah asal suara, Dokter Wira baru saja keluar dari ruangan dan menyodorkan tangannya. Aku menyambutnya, terasa hangat sama seperti saat dulu.


"Terima kasih, Dokter. Bagaimana kabar Dokter? Lama ya tidak bertemu?" tanyaku padanya seraya tersenyum dengan ramah.


"Ekhem!" suara deheman keras terdengar seakan menjadi peringatan. Aku segera menarik tangan ini darinya dan melirik suamiku yang sedang menatap hp di tangan Gara.

__ADS_1


"Suami Mbak Ayu masih cemburuan?" bisik Dokter Wira, aku hanya tersenyum kecil. Dokter Wira menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kabar ibu? Sehat? Sudah lama tidak melihat Ibu berobat," ucapnya lagi.


"Alhamdulillah, Dokter. Sekarang makan dan kegiatan di jaga jadi insyaallah tidak ada keluhan," ucapku.


"Bagus lah kalau begitu. Saya senang sekali mendengarnya," ucapnya lagi.


"Ekhem! Hem!" Deheman itu semakin keras, sehingga Gara terdengar bertanya ada apa dengan ayahnya tersebut.


"Dokter, sudah selesai mengobati Mas Hilman?" Dokter Wira menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu saya pamit ya. Gara besok masih harus sekolah, belum belajar malam ini." Pamitku dengan alasan Gara, memang bukan hanya alasan saja, tapi benar kenyataan.


"Oh, iya. Silakan kalau begitu. hati-hati di jalan," ucapnya masih dengan senyuman ramah.

__ADS_1


"Mas Hilman, Ayu pulang dulu ya. Mas hati-hati di jalan pulangnya. Ayu permisi. Assalamualaikum," pamitku memberi salam dan dijawab oleh yang lainnya.


Aku berjalan mendekati Arga dan juga Gara, wajah tampan itu kini menjadi kesal.


"Pulang?" tanyaku pada keduanya. Kedua laki-laki ayah dan anak itu kini bangkit dari duduknya dan berjalan tanpa mengucap salam kepada yang lain, mereka terlalu sekali meninggalkan aku di sini. Haduuhhh, harus keluarkan jurus halus deh untuk hilangkan marahnya suamiku.


"Yu, suami kau marah, ya?" tanya Mas Hilman saat aku hendak melewatinya.


"Tenang, Mas. Dia marah kalau dilihat sama banyak orang aja. Aslinya dia mana bisa marah sama aku. Aku pamit ya, hati-hati di jalan," ucapku sekali lagi lalu meninggalkan mereka bertiga di sana.


Sengaja aku berjalan dengan langkah yang pelan, bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu saja apakah suamiku benar marah atau tidak? Dinding di sepanjang lorong sebagai tempat bertumpu tanganku, seperti cicak aku berjalan menempel pada dinding.


Arga dan Gara sudah tidak terlihat lagi di ujung lorong, sedikit kecewa aku padanya. Apakah dia benar marah karena aku bertemu dengan Mas Hilman tadi? Dan juga ada Dokter Wira di sana.

__ADS_1


"Ah, sepertinya iya dia marah," gumamku dengan menghela napas yang lelah. Sedikit sakit kaki ini aku rasakan saat menapak di lantai. Ku lihat sekilas, kakiku memang bengkak meski tidak terlalu parah, hanya saja ini membuat aku tidak bisa berjalan dengan cepat.


"Kamu kenapa? Sakit kakinya?" Aku menoleh, dia datang mendekat ke arahku.


__ADS_2