Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
191. Pertanyaan Gara


__ADS_3

Kami menemani Gara makan siang yang sudah agak terlambat, ini sudah jam dua siang. Gara makan sangat lahap sekali. Seperti dia tidak menelan makanannya sama sekali. Aku sedikit kewalahan menyuapinya. Tidak sampai berapa detik, dia sudah kembali meminta dan membuka mulutnya. Pekerjaan yang tadi belum aku selesaikan kini asisten rumah tangga yang mengerjakannya.


"Gara, makan dengan pelan-pelan, Nak," ucap Arga memberi peringatan. Gara tidak menjawab, dia hanya tersenyum meringis. Kembali membuka mulutnya dan meminta makanan. Sampai-sampai Arga menggelengkan kepalanya karena kelakuan Gara ini.


"Gara pasti lapar sekali ya?" tanya ku sambil menyodorkan satu suapan kecil. Dia menganggukan kepalanya. Sibuk mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


Aku sangat senang sekali Gara tidak sulit untuk makan. Menyuapinya juga dengan perasaan yang senang, karena dia tidak rewel. Terkadang aku menemukan anak-anak tetangga yang rewel saat diberi makan, membuat sang ibu yang menyuapinya menjadi emosi.


Setelah makan aku menemani Gara bermain, mainannya sangat banyak sekali. Mainan khas anak laki-laki hampir satu lemari di kamarnya.


Arga juga ikut andil dalam permainan ini, mereka terlihat sangat seru, tentu saja karena mereka adalah ayah dan anak sama-sama laki-laki. Terbayang jika mungkin aku akan memiliki seorang putri, mungkin kami juga akan kompak seperti itu. Ah, kenapa aku jadi mengira-ngira? Bukankah itu adalah hal yang tidak pasti juga.


"Mama kenapa melamun?" tanya Gara kepadaku. Dia sedang memegang remote control dari mobil yang kini dia gerakan menabrak berulang lututku. Aku tersadar dan tersenyum kepadanya. Menggelengkan kepala sambil mengelus tangannya.

__ADS_1


"Tidak melamun, kok." Aku mengelak.


"Benerrllan? Kok dari tadi dipanggil mama nggak nyaut?" tanya Gara sekali lagi.


"Eh, tanya apa?" Aku tersadar, merasa bersalah karena mengabaikannya.


"Itu, papa!" Tujuknya pada sosok Arga yang ada tidak jauh dari kami.


"Iya, Ga?" tanyaku pada Arga. "Ada apa?"


Aku hanya menganggukkan kepala, dia tersenyum senang mengembalikan ponselnya ke atas meja


Aku terpana mendengar ajakannya yang besok hari. Apakah terlalu cepat atau tidak? Tapi aku hanya bisa menganggukkan kepala menuruti permintaan suamiku.

__ADS_1


Arga tersenyum senang. Dia kembali bermain bersama dengan Gara.


Puas bermain sampai sore hari, kami mengembalikan mainan-mainan tersebut ke atas lemari. Waktunya Gara untuk mandi. Aku memandikannya. Dia dengan sangat senang mandi sambil bermain busa yang ada di dalam bathtub-nya. Sesekali meniupnya, sehingga busa itu mendarat di wajahku.


"Sudah ayo cepat selesaikan! Ini sudah sore. Nanti mandinya keburu dingin," pintaku kepada Gara. Gara menggelengkan kepalanya tanda tidak mau. Akan tetapi, aku sedikit memaksanya. Rasanya tidak baik baginya mandi berlama-lama. Aku takut nanti kita terkena flu.


Malam hari aku menidurkan Gara seorang diri. Ada pengasuh, tapi Gara tidak ingin bersama dengan salah satu dari mereka. Dia ingin tidur bersamaku, dengan dibacakan dongeng dari buku yang lain.


"Mama, di beberapa buku dongeng aku baca, Ratu dan raja memiliki banyak anak. Apakah nanti aku juga akan mendapatkan adik dari mama Ayu?" Tanya Gara kepadaku.


Aku mematung karena pertanyaannya kemudian menggelengkan kepala dengan pelan. "Tidak tahu. Rezeki sehat maupun jodoh, Tuhan yang sudah mengaturnya. Manusia hanya boleh berharap, tapi keputusan ada pada Yang Maha Kuasa," jawabku.


Gara memiringkan kepalanya, sepertinya ucapanku ini terlalu berat untuk dicerna oleh anak seusia dia.

__ADS_1


"Maksud Mama ... Itu Mama juga belum tahu pasti. Doakan saja yang terbaik untuk kami, ya." Pintaku.


__ADS_2