
"Ibu?" Aku terkejut ketika melihat ada ibu di sana sambil tersenyum menatap ke arahku, sekilas aku sangka aku sedang berhalusinasi. Apakah aku sedang bermimpi?
"Nenek!" teriakan Gara terdengar sangat keras sehingga membangunkan aku yang masih melongo dengan bingung. Gara berlari dan memeluknya, kini aku tersadar jika ternyata aku tidak bermimpi. Itu benar ibu!
Aku menatap Arga bingung, dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seakan tahu apa yang akan aku tanyakan kepadanya.
"Selamat datang, akhirnya kalian sampai juga. Nenek sudah khawatir kalau kalian tersesat sedari tadi," ucap ibu. Aku masih bingung, bagaimana bisa ibu ada di sini?
"Ayu, kamu baik aja kan? Gak sampai pingsan? Ibu khawatir sama kamu," ucap Ibu kini melepas pelukannya dari Gara dan mendekat ke arahku. Ibu memelukku dengan sangat erat.
"Kok ibu ada di sini?" tanyaku masih bingung, tidak ada bahasan Arga akan membawa ibu ikut serta dalam liburan kali ini, bukan aku tidak suka, tapi sungguh ini adalah surprise untukku.
"Iya, bu memang sudah ada di sini sejak kemarin. Tepatnya dua hari yang lalu," ucap Ibu dengan senyuman di bibirnya.
"Loh, kok gak kasih tau Ayu?" tanyaku pada ibu.
"Hehe, gak lah, kan kata papanya anak-anak gak usah kasih tau, biar jadi surprise," ucap ibu lagi. Aku menatap suamiku, dia hanya tersenyum seraya menaikturunkan alisnya.
"Surprise," bisiknya pelan lalu mencium pipiku di hadapan ibu. Aku malu karena perlakuannya, pasalnya dia melakukan ini di hadapan ibu.
Azka sudah bersama Sari aku lihat duduk di sofa.
"Kalian sudah makan atau belum?" tanya ibu pada kami.
__ADS_1
"Sudah, Bu tadi jam satu siang," jawab Arga.
"Berarti kalau sore belum makan, kan? Ayo, ke dapur dulu, makanan sudah ibu siapkan untuk kalian semua," ucap ibu lagi. Arga tersenyum dan segera berjalan menuju dapur.
Eh, kok ada yang aneh ya? Dia berjalan ke sana seperti seakan tahu di mana dapur berada.
"Kok bengong? Yuk makan dulu, kamu harus banyak makan kan sekarang ini?" Ibu menarikku ke arah belakang, di sana Arga dan Gara sudah terlebih dulu makan dengan lahap.
Aku masih bingung dengan ini.
"Ayo makan dulu, Yu," ucap seseorang yang sepertinya aku kenal dengan suaranya, aku menoleh dan mendapati seseorang yang sangat aku kenal. Bi Sari, istri mamang.
"Eh, kok Bibi di sini?" tanyaku seraya tidak sengaja menunjuk kepada beliau.
Bibi tertawa kecil. "Eh, si Neng Ayu nih. Kan emang Bibi rumah gak jauh dari sini, Neng." Bibi tertawa seraya menutup mulutnya dengan satu tangan, tangan yang lain menyimpan satu piring potongan timun serta lalapan mentah ke atas meja.
Ibu dan Arga tertawa melihatku yang seperti bingung, bukan seperti lagi, tapi memang aku bingung dengan keadaan ini.
"Ya ampun, kamu masih gak ngerti juga?" tanya ibu, kini dua wanita itu tertawa dengan geli.
"Ini kampung bapak kamu, Yu," ucap ibu pada akhirnya. Aku terdiam merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan ibu barusan.
"Eh, kok bisa? Maksudnya ... kok bisa kita di sini? Di kampung bapak?" tanyaku semakin bingung. Aku menatap Arga meminta penjelasan, tapi dia hanya terdiam menikmati makanan di depannya.
__ADS_1
"Sudah, kamu makan dulu. Nanti aku cerita, deh," ucapnya padaku. Meski ini aku masih bingung dengan keadaan ini, tapi aku menurutinya, makan degan rasa tidak sabar karena lebih ingin mendengar cerita dia.
Makanan telah selesai kami habiskan, aku dan Arga masih duduk di meja makan sedangkan Gara telah berada di dekat adiknya bersama dengan ibu dan juga kedua wanita yang bernama sama, Bi Sari dan Mbak Sari. Aku bisa melihat mereka dari ruangan ini, sedang berusaha membuat Azka tertawa.
"Jadi, gimana bisa kok kita di sini? Ini tempat punya siapa? Bukan hotel, ya?" tanyaku beruntun pada sosok suamiku yang kini sedang menikmati buah pepaya yang kata Bibi ambil dari pohon di belakang rumah besar ini.
"Jadi gini, aku sebenernya juga ga tahu kalau ternyata tempat ini milik kamu dulunya. Yang aku tau, aku dapat tempat ini dari seorang teman. Dia beli tempat ini dari perantara mamang, katanya keponakannya ingin menjual tanah. Sudah hanya itu cerita yang aku tau, Yu."
"Terus? Kok bisa sama kamu? Dijual atau gimana?" tanyaku masih bingung, aku ingin sekali mendengar cerita versi lengkapnya. Jujur saja aku sangat penasaran sekali.
"Tadinya, surprise buat istrinya, tapi ternyata istrinya gak mau di sini karena jauh dari kota kita, dia inginnya desa tapi yang tidak terlalu jauh dari kota. Dia tawarin dong ini ke aku," ucapnya mencoba untuk menerangkan sambil terus memasukkan buah pepaya ke mulutnya. Ish, orang ini, dia sudah makan banyak masih juga makan pencuci mulut hampir setengah piring!
"Terus?"
"Aku tadinya gak mau, tapi lihat dia kasihan juga, sudah terlanjur dibuat vila gede gini. Dari foto yang dia kasih aku ngerasa cocok sama tempatnya karena dia sendiri yang desain bangunan ini. Dia juga kasih sertifikat tanahnya ini ke aku, takut dikira dia bohong, kali. Aku suruh salah satu orang kepercayaan aku untuk lihat tempat ini dan ternyata tempatnya sungguhan ada."
"Berarti kamu sudah tau dong kalau ini kampung bapak?" tanyaku lagi. Dia menggelengkan kepalanya.
"Waktu itu aku gak tau. Aku cuma beli tempat ini saat sebelum menikah sama kamu, dua bulan sebelum kita menikah," terangnya.
Sudah lama juga ternyata. "Terus, kenapa kamu gak pernah bahas tempat ini?" tanyaku sedikit protes.
Dia tertawa malu, menggaruk belakang kepalanya. "Aku tidak pernah ke sini setelah transaksi. Lama sekali, tempat ini cuma diurus sama seseorang di kampung ini, itu juga orangku yang uruskan, aku mana tau soal yang ada di sini. Tapi waktu aku ada perlu ke luar kota, kebetulan dekat dengan tempat ini dan aku memang gak ada niat untuk cari hotel, sih. Aku ketemu sama Widi waktu dia lagi main sepeda. Ternyata setelah bertemu dengan mamang aku baru tau kalau dulu ini punya almarhum bapak. Kebetulan yang sangat kebetulan, kan?" ucapnya dengan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
Rasanya tidak menyangka sekali dengan kebetulan ini. Terlalu sempurna seakan garis nasibku memang bersama dengan Arga.
Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa, terlalu terkejut dengan kejadian ini. Senang sekali rasanya tanah ini kembali padaku meski sekarang tertulis di akta tanah atas nama suamiku. Setidaknya aku tenang karena aku tahu tanah ini tidak jatuh ke tangan orang lain. Aku tidak berharap jika ini akan mejadi milikku, tapi merasa tenang karena ini menjadi tanah suamiku.