Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
251. Pengakuan Hilman


__ADS_3

Pov Hilman


Tergesa-gesa aku berjalan keluar dari dalam mall, tadi aku diminta oleh seseorang untuk membelikan makanan dari warung padang yang ada di seberang mall ini. Aku berjalan sambil menghitung uang yang ada di tanganku, kembalian dari beberapa orang yang menolak menerimanya dan memberikannya padaku. Alhamdulillah , tambahan untuk jajan Vita besok.


Akibat berjalan dengan tidak melihat, tanpa sengaja aku menabrak seorang anak kecil. Barang yang dia pegang terjatuh di lantai.


"Maaf, maaf. Om tidak sengaja," ucapku seraya mengambil barang tersebut, sebuah sepatu kecil mungil berwarna kuning. Aku kembalikan kepadanya, tapi aku terkejut ketika melihat siapa anak laki-laki yang barusan aku tabrak. Aku kenal dengan wajah anak ini, wajah yang tempo lalu aku perhatikan bersama dengan ... Ayu!


"Gak apa-apa, Om," ucap anak itu seraya memeluk erat sepatu bayi tersebut. Aku tertegun, sepatu bayi. Apakah ....


Selidik aku menatap ke samping, seorang wanita dengan jilbab besar terlihat terpaku menatap ke arahku. Ku lihat sesuatu yang aneh padanya, terutama pada tubuhnya. Dia terlihat cantik dan sangat menawan, pipinya terlihat sangat chuby sekarang, sinar wajahnya berbeda dengan saat dia dulu bersamaku, terlihat lebih bercahaya meski aku yakin dia sama sekali tidak memakai riasan pada wajahnya.


Aku mengalihkan tatapanku sedikit ke bawah. Di balik tali tas yang dia kenakan, perutnya terlihat besar membuncit. Aku yakin itu bukan hanya sekedar gendut biasa, jelas aku mengurus 'wanita itu' di saat kehamilannya dan aku yakin kali ini pun Ayu mendapatkan hal yang sama.


Apakah Ayu sedang ....


"Hilman," panggil seseorang. Aku menoleh dan mendapati seorang laki-laki yang baru saja turun dari mobil dan mendekat pada Ayu. Tangan besarnya melingkar pada pinggang mantan istriku.


"Kalian sedang apa?" tanya laki-laki itu menatap kami bergantian.


"Tadi Om ini gak sengaja tabrak Abang, Pa!" seru anak laki-laki yang sangat mirip dengannya.


"Oh, kamu gak apa-apa?" tanyanya lagi.


"Gak apa, Pa. Ini Papa simpan, takut rusak, buat dedek bayi nanti," ucapnya sambil menyerahkan benda yang tadi terjatuh karena ulahku.


Deg! Rasanya aneh, sakit di dalam hati ini mendengar anak laki-laki ini menyebutkan kata 'dedek bayi'. Ucapan itu menjelaskan jika Ayu sekarang ini memang sedang mengandung. Alhamdulillah.


Tanpa terasa mataku mulai menghangat. Aku senang dengan keadaan Ayu sekarang ini.


"Ah, iya. Maafkan saya. Saya gak sengaja menabrak tadi," ucapku tak enak hati. Aku menunduk, malu dengan keadaan diriku yang sekarang ini. Terlalu nampak perbedaan di antara kami. Dia dengan pakaian yang bagus, tapi lihatlah diriku, dari pakaian yang aku kenakan orang sudah pasti tahu aku ini siapa. Aku mundur satu langkah, lebih baik aku pamit dan menyingkir saja.

__ADS_1


"Pa, boleh aku minta izin?" tanya Ayu pada laki-laki itu tepat saat aku akan berbicara kepada keduanya. Dia mengangguk dan tersenyum, mengambil tangan putranya dan sedikit mundur dari kami. Baik sekali dia memberikan waktu untuk kami berbicara. Apakah dia tidak merasa cemburu istrinya berbicara dengan mantan terdahulu?


"Mas," ucap Ayu seraya tersenyum ke padaku. Suara itu, senyum itu, sangat menyejukkan sekali. Rasanya bagai ada di sebuah gurun pasir tandus yang sangat kering sekali, kini tengah mendapatkan air yang menyejukkan.


"Bisa gak kita ngobrol sebentar?" tanyanya padaku. Aku enggan, tapi tidak tahu kenapa kepala ini malah mengangguk pasrah.


"Di sana saja, Mas. Di sini banyak yang lewat," ucapnya. Lagi-lagi aku mengangguk dan mengikuti langkah kakinya sedikit berjalan beberapa langkah ke arah kanan.


"Apa kabar, Mas Hilman?" tanyanya sambil tersenyum ramah.


"Baik. Aku baik, Yu. Kamu?" tanyaku. Ku turunkan pandangan ku darinya. Malu sekali atas apa yang telah aku perbuat waktu itu padanya. Malu karena aku mempunyai niat buruk terhadapnya.


"Aku baik, seperti yang kamu lihat," ucapnya dengan nada biasa. Tidak tahukan dia aku seperti apa sekarang ini? Perasaanku campur aduk karena sikapnya. Kenapa dia tidak marah atas perlakuanku terakhir itu? Harusnya dia tampar aku, harusnya dia maki aku. Aku akan lebih senang jika dia melakukan hal itu.


"Maaf. Maafkan aku atas apa yang telah aku lakukan selama ini sama kamu, apalagi yang terakhir kali. Aku ... menyesal. Kamu luka karena aku. Maaf, meski aku tidak pantas untuk kamu maafkan karena hal buruk yang pernah aku lakukan sama kamu," ucapku dengan suara tercekat di tenggorokan.


Rasa panas yang ada di dalam mataku kini tergantikan dengan air hangat yang mengalir, tak akan pernah aku merasa malu meski kini banyak orang yang berlalu lalang menatap kami dengan heran.


Arga telah menjaganya dengan baik. Harusnya aku sadari itu, harusnya aku menyerah waktu itu. Akan tetapi, rasa tak terima dan tak ikhlas membuat aku selalu menjadikan diriku orang yang sangat menyedihkan.


"Terima kasih, kamu memang wanita yang baik, Yu. Aku gak pantas untuk kamu maafkan. Terlalu banyak dosa yang aku perbuat sama kamu," ucapku menyesal.


Ayu mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku. "Itu masa lalu, Mas. Yang terpenting sekarang adalah kamu mau berubah. Tidak lagi seperti dulu," ucapnya.


"Iya, aku sedang berusaha berubah, Yu. Semua yang terjadi sama aku adalah karma karena aku mengabaikan seorang istri yang sangat setia dan juga soleh. Aku ... sedang menerima hukumanku sekarang."


"Jangan disesali, Mas. Aku mungkin memang bukan jodohmu. Tapi aku pernah merasa bahagia hidup sama kamu," ucapnya lagi yang membuat aku semakin tidak bisa menahan laju air mataku. Kata-katanya sangat berarti sekali buatku saat ini.


Luruh tubuhku di hadapannya, berlutut untuk meminta pengampunan. Laki-laki yang menjadi suaminya kini terlihat mendekat dengan wajah yang khawatir. Ayu terkejut melihatku yang berlutut di hadapannya. Dia mundur satu langkah.


"Aku minta maaf, Yu. Aku benar minta maaf! Aku salah. Aku layak mendapatkan hukuman ini!" Aku menangis, menangisi hidupku yang kini berantakan. Tak lagi bahagia seperti dulu.

__ADS_1


Suami Ayu kini telah berada di belakang Ayu, begitu juga dengan anaknya.


"Aku menyesal. Ini karma untukku, Yu. Aku minta maaf!" Aku tak tahan, lemas tubuh ini hingga kini hampir bersujud di lantai, dengan cepat Ayu datang dan menarik kedua lenganku, memintaku untuk berdiri.


"Aku gak pantas kamu maafkan." Tangisku masih pecah. Beberapa orang yang lewat kini berhenti dan menatap kami.


"Mas, jangan bicara seperti itu. Kamu tidak boleh bicara kayak gitu, Mas. Aku sudah maafkan kamu. Allah saja bisa memaafkan, kenapa aku tidak?" ucapnya.


"Bangun, aku mohon. Jangan berlutut seperti itu, Mas." Wajahnya terlihat sedih, masih berusaha untuk membuatku bangun dari lantai.


"Semua ada sebab akibat, semua sudah digariskan oleh takdir. Kamu gak boleh seperti ini."


Aku tidak bisa lagi berkata, hanya tangis yang bisa aku keluarkan sebagai emosi jiwa akibat sesalku.


Ayu ikut berjongkok, mengusap pundakku dengan lembut.


"Sudah lah, Mas. Lebih baik kamu tingkatkan ibadah kamu, berdoa dan meminta ampun sama Allah. Niscaya Allah akan angkat kembali derajat kamu. Akan membuat kamu kembali seperti dulu, hidup dengan lebih baik."


Sungguh dia adalah wanita yang mulia, tak ada nada marah di dalam ucapannya, tak ada dendam yang tersirat pada kalimatnya. Justru membuat ku semakin sedih karena terlalu bodoh meninggalkan dia.


"Maafkan juga atas perlakuan ibu sama kamu, Yu. Ibu salah selama ini, kamu wanita yang normal. Kamu bisa mengandung. Aku lah yang bermasalah," ucapku mengaku tanpa malu.


"Ha? Apa maksudnya?" tanya Ayu terdengar bingung.


"Aku yang tidak mampu mempunyai keturunan, Yu. Maafkan aku. Aku sudah sia-siakan kamu."


****


up banyak nih, ayo dong jempolnya mana, jempol, jempol!!πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ½πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸΌπŸ‘


komen, vote, like. biar semangat lagi besok πŸ™ˆπŸ™ˆ

__ADS_1


__ADS_2