Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
51. Jujur Pada Ibu


__ADS_3

Ibu membawa ku duduk di sofa. Beliau membantuku menurunkan tas yang masih aku gendong di punggung. Dengan tatapan sayu dan sedih, dan dengan elusan tangan yang lembut di punggung tanganku, Ibu kemudian menghela napasnya yang terdengar lelah.


"Ada apa, Yu? Kamu tidak biasanya pulang malam-malam begini? Pasti ada yang tidak baik, kan?" tanya Ibu dengan pelan.


Aku hanya mengangguk, masih belum bisa mengatakan apa-apa. Terpikir jika aku salah pulang kesini. Harusnya aku tadi bertahan saja disana. Apa yang aku pikirkan tadi? Ibu seharusnya tidak boleh dibuat berpikir keras.


"Yu, ada apa? Apa kalian sedang marahan?" tanya Ibu padaku sekali lagi.


Aku masih memilih diam dan menggelengkan kepala.


"Yu! Jangan menunduk, lihat Ibu, Nak!" seru Ibu sambil sedikit menarik tanganku, membuat kepalaku yang tertunduk kini menatap matanya yang sayu.


"Jangan bohong lagi sama Ibu. Apa yang terjadi?" tanya Ibu dengan tegas.


Aku tidak bisa lagi menahan perasaanku. Ku alihkan pandanganku dari tatapan Ibu, tapi air mata ini tak bisa aku tahan. Aku ingin kuat di hadapan Ibu, tapi kenapa tidak bisa?


Dengan tangan kurusnya, Ibu membawaku ke dalam pelukan, membuat aku semakin terisak di bahunya. Tangan itu terasa hangat mengelus punggungku dengan pelan, membawa kenyamanan dan juga ketenangan, tapi justru itulah yang membuat isak tangisku menjadi tangisan hebat.


Entah berapa lamanya aku menangis di bahu Ibu. Ibu tidak bicara sama sekali, membiarkan aku menumpahkan segala rasa gundah ini lewat air mata.


"Sudah?" tanya Ibu setelah tangisku reda. Aku mengangguk sambil mengusap sisa air mataku, jika aku pikir aku seperti anak kecil sekarang ini. Mana Ayu yang selama ini kuat? Mana Ayu yang selama ini dengan susah payah menahan tangisnya?


"Cerita sama Ibu, yang jujur." Pinta Ibu dengan menatapku tajam. Ah, Ibu seperti tahu saja kalau aku sering berbohong akhir-akhir ini.


"Maafkan Ayu, Bu. Maaf," ucapku.


"Kenapa?" tanya Ibu lagi.

__ADS_1


"Bu, apa Ibu akan marah kalau Ayu pisah sama Mas hilman?" tanyaku langsung. Ibu terlihat kaget dengan apa yang aku sampaikan barusan, tapi sedetik kemudian wajah Ibu terlihat biasa kembali.


"Kamu sudah besar, Yu. Apa pun keputusan yang kamu ambil, kamu sudah dewasa. Sudah bisa membedakan mana yang baik mana yang tidak. Ibu percaya kamu bicara seperti ini karena kamu merasa Hilman sudah tidak baik," jawab Ibu dengan nada yang tegas. Tak ada kemarahan dari nada suaranya.


Aku tidak percaya bisa mendengar jawaban seperti ini. Aku kira Ibu akan marah dan juga tidak setuju aku berpisah dari Mas Hilman.


"Ibu gak marah?" tanyaku masih sambil terisak.


Ibu hanya menggelengkan kepala.


"Ibu tau kamu, Yu. Kamu gak akan ambil keputusan seperti ini kalau Hilman baik dengan kamu. Kenapa kamu gak pernah bilang sama Ibu kalau kamu ada masalah? Apa masalah kalian berat sampai kamu mau pisah sama Hilman?" tanya Ibu dengan sedih.


Aku kembali terisak, mengingat apa yang terjadi selama ini, juga mengingat bagaimana perlakuan Mas Hilman padaku tadi.


"Ayu sudah gak kuat, Bu. Mas Hilman sudah menikah lagi dengan wanita lain, Ayu sudah gak kuat dengan perlakuan Mas Hilman dan istrinya, Bu ...." Aku kembali menangis.


"Astaghfirullah, kenapa kamu gak bilang sama Ibu? Kenapa kamu mengizinkan dia menikah lagi?" tanya Ibu dengan sambil memelukku. terdengar dada Ibu yang bergemuruh, seketika rasa khawatir mendera di hatiku. Takut jika jantung Ibu kambuh.


"Ayu takut, Bu. Ayu takut Ibu akan syok. Ayu gak mau kehilangan Ibu," ucapku dengan sambil terisak. Ibu semakin mengeratkan pelukannya terhadapku, tangannya masih mengelus punggungku dengan lembut.


"Insyaallah Ibu akan kuat, Nak," ucap Ibu dengan suara yang terdengar gemetar.


***


Pagi ini aku bangun dengan mata yang sembab. Sedikit bengkak karena semalaman menangis di pelukan Ibu.


Semalam Ibu mendengar ceritaku, dan Ibu pun menangis setelah itu. Sebenarnya aku takut efek setelahnya, tapi ternyata Ibu memang pribadi wanita yang kuat di usianya yang tidak lagi muda dan di antara penyakit yang ada di dalam dirinya.

__ADS_1


'Lakukan yang membuat kamu bahagia, Yu. Jangan dzolimi hati kamu sendiri. Ibu akan dukung kamu,' ucap Ibu semalam.


Untuk menyingkirkan rasa sedih dan marahku, aku melakukan aktifitas membersihkan rumah. Semua gorden yang terpasang di rumah ini aku lepas dan aku rendam di bak besar. Mesin cuci memang ada, tapi aku ingin mengalihkan perhatian ku dengan menyibukkan diriku dengan pekerjaan. Ibu ingin membantu, tapi aku larang dan menyuruh Ibu untuk memasak saja di dapur bersama dengan Sinta. Memasak lebih ringan untuk Ibu daripada membantuku mencuci.


"Mbak Ayu!" seru Sinta yang kini ada di ambang pintu kamar mandi.


"Ya?" Aku yang sedang duduk di bangku plastik menoleh kepadanya.


"Itu ... anu ...." Wajah Sinta terlihat sedikit aneh, ucapannya terbata-bata.


"Apa?" tanyaku lagi.


"Ada Mas Hilman di depan, Mbak. Pengen ketemu sama Mbak Ayu," ucapnya lagi.


"Maaf, Mbak. Aku gak bisa apa-apa, tadi pintu rumah terbuka karena aku sedang menyapu rumah," ucapnya dengan perasaan tidak enak.


Aku tersenyum kepada Sinta dan menghentikan laju tanganku mengucek kain di tangan. Mungkin aku tahu kenapa Sinta merasa tidak enak hati. Sepertinya dia pikir aku sedang menghindari Mas Hilman.


"Gak pa-pa, Sin. Kalau memang dia sudah ada di rumah ya mau bagaimana lagi. Ya, sudah. Mbak mau ke dalam. Sudah buatkan minuman?" tanyaku pada Sinta.


"Sudah, Mbak. Mas Hilman juga sedang bicara sama Budhe," ucapnya lagi.


Aku berdiri dan membersihkan tanganku dari busa sabun.


Sinta meneruskan pekerjaanku. Dia memang sangat rajin, tanpa aku minta dia sudah sigap dengan pekerjaan rumah, sedangkan aku pergi ke dalam rumah untuk menemui Mas Hilman dan juga Ibu.


Mas Hilman langsung berdiri setelah melihatku, tanpa malu dengan adanya Ibu, dia menghambur memelukku.

__ADS_1


"Ayu. Maafkan aku, Yu. Aku minta maaf!" serunya sambil menangis.


__ADS_2