
Setelah selesai di rumah sakit kami pulang ke rumah. Gara berteriak sambil berlari ke arahku. Dia tertawa dengan sangat senang sekali.
"Akhirnya Mama pulang!" seru anak itu dengan berteriak. Dia berjingkrak saat kami mulai masuk ke dalam rumah.
"Gara, kamu itu kenapa sih berteriak-teriak segala?" tanya Arga kepada putranya.
"Gara sangat senang sekali Mama sudah pulang. Tidak ada temannya di rumah," ucap anak itu.
"Loh kan ada mbak?" tanyaku padanya.
"Gak mau, mau sama Ayu!" ucap anak itu dengan ceria. Aku tersenyum senang mendengar ucapannya. Di sini aku dibutuhkan olehnya.
Aku teringat dengan Ibu, kemarin aku tidak bisa menjenguknya.
"Papa, aku lupa."
"Apa?"
"Belum menjenguk Ibu, " ucapku padanya.
Arga tersenyum. "Kalau begitu nanti sore saja kita ke sana, Gara mau ikut? Tanya Arga kepada putranya.
"Ikut dong!" seru anak itu.
"Oke, nanti setelah jam lima kita berangkat bersama-sama." ucap suamiku, aku tersenyum senang mendengarnya.
***
Pada sore hari kami ke rumah ibu, untuk menyampaikan maksud dan tujuanku yang dulu membawa ibu tinggal bersama dengan kami. Akan tetapi, tidak aku sangka ibu akan menolak lagi, sama seperti dulu saat aku bersama dengan Mas Hilman.
"Ibu kenapa sih nggak mau tinggal sama kami?" tanyaku kepada ibu. Kami sedang berada di ruang tamu. Arga dan Gara berada di halaman belakang, tadi anak kecil itu berkata ingin melihat ayam-ayam kecil.
"Anak rumah tangga, kok ibu ikutin sih. Ibu lebih enak tinggal di rumah ini, lebih nyaman di sini. Tidak mau pindah-pindah. Capek," ucap ibu.
"Ya kan tinggal pindah ke sana doang, Bu, kalau masalah perpindahannya nanti kami yang urus. Ibu tinggal pindah aja," ucapku dengan gigih.
Ibu menggelengkan kepalanya. "Enggak, Yu. Lagian kenapa sih? Kok Ibu mesti ikut segala?" tanya Ibu lagi.
"Ayu khawatir ninggalin Ibu sendirian di sini, kalau Ibu ikut sama Ayu, kan Ayu bisa pantau keadaan ibu, nggak kepikiran kalau Ibu sakit dan sebagainya," ucapku lagi.
Ibu hanya tertawa. "Kamu ini jangan aneh-aneh yu. Sakit kok dipikirin. Mau Ibu sakit ya?" tanya Ibu lagi.
"Eh bukan begitu Bu. Ini kan cuma ketakutan Ayu aja. Kalau Ibu sehat nggak papa, kalau ibu sedang sakit kan Ayu kepikiran juga, Bu. Masa sedari dulu Ayu tidak bisa mengurus Ibu."
__ADS_1
"Itu benar, Bu. Jika Ibu berkenan maka ikutlah dengan kami. Kami akan mengurusi Ibu dengan baik di sana. Ibu akan ada temannya tidak seperti di sini, sendirian," ucap Arga yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ini. Dia duduk di sampingku.
"Ah, maaf Nak Arga. Tapi Ibu sudah nyaman di sini. Ibu mau menikmati masa tua Ibu di rumah sendiri. Di rumah peninggalan bapaknya Ayu," ucap Ibu lagi.
Aku merasa sebal sebenarnya kepada Ibu, sangat keras kepala sekali. Padahal maksud dan tujuanku kan baik.
"Kalian berdua tinggal di sana yang rukun, jangan banyak bertengkar. Di dalam rumah tangga itu harus ada salah satu yang mengalah. Terutama kamu, Yu. Jangan keras kepala?" Tunjuk Ibu padaku.
"Aku keras kepala apanya? Aku nggak kok," ucapku dengan kesal. Ibu tertawa kecil, begitu juga dengan Arga.
"Jadi bagaimana Bu?" tanya Arga sekali lagi. "Ayu hanya khawatir kepada ibu. Di sini kan ibu tinggal sendirian," ucap Arga lagi.
"Ibu tidak masalah tinggal sendirian. Ibu baik-baik saja, kok." Ibu tersenyum kembali. Raut wajahnya yang sudah tua terlihat dengan sangat jelas.
"Ibu yakin ingin tinggal sendirian saja?" tanya Arga sekali lagi. Ibu mengganggukan kepalanya. Aku menatap Arga, jika bisa sih bawa ibu untuk pulang.
"Ya sudah, begini saja deh. Kalau memang Ibu tidak mau ikut bersama dengan kami. Izinkan saya mencari orang untuk menemani Ibu di sini," ucap Arga memberi solusi.
Meski kedengarannya menyebalkan, tapi ide itu tidak buruk juga. Mungkin sama seperti yang aku lakukan di masa lalu, meminta Sinta untuk menemani Ibu. Akan tetapi, setelah Sinta lulus dari kuliahnya, dia tidak bisa melakukannya lagi. Ada satu pekerjaan yang harus dilakukan.
"Kalau untuk itu Ibu setuju."
Permintaanku untuk Ibu ikut bersama dengan kami ditolak. Ibu tetap tidak ingin ikut dan bertahan di sini. Aku kecewa juga dengan keputusan Ibu, tapi yang mau bagaimana lagi tidak bisa memaksanya juga.
***
Kami tidak jadi pulang, Gara merengek ingin tidur bersama dengan ibu. Jadilah malam ini kami menginap di sini.
Gara terlihat senang sekali dan dekat juga dengan ibu. Saat menonton televisi, dia berada di atas pangkuan ibu. Mereka berinteraksi dengan sangat serunya. Aku bahagia mendapati keduanya yang seperti itu.
Malam semakin larut sehingga kami berada di kamar masing-masing. Gara tidur bersama dengan ibu di kamarnya sementara aku bersama dengan Arga di kamarku.
Kami berbaring bersama, dengan tangan Arga yang menjadi alas kepalaku.
"Ga, kamu mau ngambil orang lagi?' tanya ku ingin membahas apa yang tadi dibicarakan bersama dengan ibu.
"Iya. Aku akan mencari orang yang baik yang bisa menjaga Ibu di sini," ucapnya sambil mengelus rambutku. Aku terdiam menikmati usapan lembutnya.
"Kalau Ibu tidak mau ya jangan dipaksa. Daripada nanti beliau ikut bersama dengan kita tapi di sana beliau juga tidak bahagia, bagaimana?" tanya Arga kepadaku. Aku memikirkan hal itu, tapi tetap saja egoku lebih besar untuk membawa ibu bersama dengan kami.
"Iya." Akhirnya aku mengalah saja. Daripada semua menjadi tidak baik. Jika pun nanti Ibu mau, pasti dengan sendirinya Ibu juga akan ke rumah.
"Daripada memikirkan Ibu terus yang gak mau mendingan memikirkan kita," ucap Arga. Aku sedikit menjauhkan diri dan menatapnya dengan bingung.
__ADS_1
"Eh, kita apa?" tanyaku.
"Jangan pura-pura. Kita ...." Pria itu menggerakkan alisnya naik dan turun sambil tersenyum menyeringai.
Ooh, aku tahu maksudnya ini!
Aku tersenyum, dan kemudian memeluknya dengan erat, mendekatkan diri padanya dan meraih bibirnya dengan bibirku. Dia tersenyum dengan senang, membuka mulutnya saat aku menjulurkan lidahku. Suara decakan terdengar dari mulut kami berdua. Belitan dan tarikan tentu saja memutuskan siapa yang jadi pemenangnya.
Bukan hanya di situ saja. Kedua tangan kami sibuk dengan yang lainnya, membuka pakaian satu sama lain. Rasanya, gila sekali. Tapi jujur saja, aku pun tidak memungkiri jika aku mau akan dia.
Tanpa menunggu lama, pakaian yang kami pakai sudah tidak ada lagi, kini berserakan di lantai. Aku mendorongnya dan naik di atasnya. Ciuman kami tidak terlepas sama sekali. Malah semakin membelit dan mengait satu sama lain. Arga hanya diam, dia hanya membalas ciuman ku tidak melakukan hal yang lain, membuat aku sedikit kecewa kepadanya. Kenapa dia tidak melakukan hal yang lebih?
Tangannya aku ambil aku tempatkan di d**a ku, menuntunnya untuk bermain-main di sana. Pij*tan yang lembut dia berikan kepadaku, ujung jarinya mem*lin tonj*lan kecil yang ada di sana. Rasa gelenyar panas seketika menjalar di tubuhku.
"Ah." Lolos sudah satu des*han dari mulutku saat dia menarik tubuh ini ke atas dan melahap dua kembar mainan di tangannya bergantian. Menyedot, mem*ilin, dan memainkannya dengan ujung lidahnya.
Aku mengg*linjang hebat dengan perlakuannya yang seperti itu. Sungguh aliran yang ada di dalam diri ini menjadi bersemangat sekali.
Miliknya aku mainkan dengan lututku, sudah terasa keras di bawah sana. Akan tetapi, dia tidak melepaskan ku sama sekali, masih tetap betah dengan si kembar kenyal menggantung yang dia mainkan bagai squishy.
"Ah, Arga!" Lirihku. Dia menghentikan kegiatannya, dan terlihat senyuman di sana.
"Sebut saja namaku," ucapnya. Lalu memilih untuk merasakan kembali kekenyalan squishy milikku di dalam mulutnya. Bagai tersedot ke dalam sana banyak-banyak. Aku rasakan satu bagian ku masuk ke dalam mulutnya, sedangkan satu bagian yang kiri dia mainkan di telapak tangan.
Aku tidak tahan, kurasakan sesuatu yang basah di bawah sana. Kejam sekali dia membuat aku lemas sebelum bermain.
Aku menarik diriku. Tidak tahan, membuat dia menatapku protes karena kehilangan mainannya.
Satu tangan memegang miliknya yang penuh urat, menjulang menantang langit. Kuusap dengan pelan sebelum memasukkannya ke dalam tempat semestinya. Mengusap, mem*lin, memanjakan dia yang sebentar lagi memanjakan aku di dalam lubang kenikmatanku.
"Ah." Suara manja Arga terdengar saat aku tidak menghentikan kegiatanku. Suaranya yang berat dan juga lirih membuatku senang dengan apa yang aku lakukan. Ku lirik dia, menutup matanya dengan mulut yang menahan desisan. Dengan satu gerakan yang halus, naik turun menggunakan tanganku, aku masih tidak ingin melepaskan momen di mana wajahnya yang sedang ingin seperti itu.
"Ayu ...." panggilnya dengan nada yang frustrasi, aku tersenyum kecil, saat lagi-lagi dia mengeluarkan suara seperti ular.
"Ah, ugh! Sayang!" panggilnya, aku masih tidak ingin mendengarkan dia. Melakukan tugasku dengan sangat baik sehingga kelopak matanya terbuka dan tertutup bergantian.
Grep!
Arga menangkap tanganku, menarik tubuhku hingga kami saling menempel berbagi kehangatan satu sama lain.
"Jangan bermain-main lagi," ucapnya dengan napas yang tersengal. Aku tersenyum nakal. Masih belum puas sebenarnya, tapi kasihan juga jika dia aku permainkan seperti tadi.
"Aku tidak bermain-main. Aku hanya mencoba untuk menjadi wanita yang nakal buat kamu," ucapku padanya. Dia tersenyum menyeringai, merebahkan kembali tubuhnya dengan nyaman.
__ADS_1
"Kalau begitu lakukan. Jadilah nakal untuk suamimu ini," ucap Arga dengan sikap yang pasrah.