
"Gara, tidak boleh seperti itu, Sayang. Tante ini sedang kerja. Jangan diganggu. Kita lihat Son Cip di rumah saja, yuk!" seru pengasuh anak bernama Gara ini. Dia mengulurkan tangannya untuk meraih Gara.
"Dak MAU!" teriak Gara dengan cukup kencang. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat ke kanan dan ke kiri.
"Gara jangan begitu, Sayang. jangan mengganggu pekerjaan Tante ini. Yuk kita pulang ke rumah. Kita nonton videonya di rumah saja, kan layarnya besar," bujuk gadis itu.
Lagi-lagi anak laki-laki yang ada di pangkuan ku ini menggelengkan kepalanya. bibirnya cemberut dengan lucu. Rasanya membuat gemas sekali. Ingin sekali aku mencubit bibir mungil itu.
"Ayo kita pulang dan makan di rumah ya," bujuknya lagi.
"Dak MAUUU!" seru Gara dengan teriakan. "Ala mau disini! Gak mau makan!" serunya dengan kesal, tapi justru terlihat semakin menggemaskan saat dia berwajah sepeti itu.
"Nanti ayah marah kalau Gara gak makan. Yuk kita pulang. Nanti main kuda-kudaan sama Pak Sarip." Wanita itu tidak putus asa membujuk Gara.
"Ndak!" seru Gara seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Wajanya ia palingkan ke arah lain.
Aku melihat wanita itu yang kini terlihat bingung. Anak yang dia paksa untuk makan ini tetap tidak mau meskipun sudah dibujuk.
"Boleh saya yang suapi dia?" tanyaku kepada gadis itu. Dia menatapku dengan bingung.
"Gara mau disuapi sama Tante?" tanyaku kepada Gara. Seketika dia menoleh. Wajah yang cemberut itu kini berubah dengan senyum dan sorot matanya yang berbinar.
"Mau!!" serunya sambil menggoyangkan kedua kakinya.
"Boleh?" tanyaku lagi kepada wanita itu sambil mengulurkan tanganku untuk meminta mangkuk yang ada di tangannya.
"Eeh ya, boleh." dia menyerahkan mangkok itu kepadaku, setelah itu dia duduk di sampingku.
Aku mulai menyuapi Gara dengan pelan. Laptop aku biarkan dia yang memeganginya. Pandangannya tidak teralihkan dari layar yang kini masih menyala. Mulutnya terbuka saat aku menyodorkan suapan-suapan selanjutnya. Sedikit demi sedikit makanan yang ada di dalam mangkok berkurang.
"Wah tumben sekali. Biasanya Gara tidak mau dekat dengan orang lain," ucap gadis itu.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan gadis itu.
"Tante aaa ...." Gara menepuk tanganku meminta kembali disuapi.
"Anak pintar. Makan yang banyak ya," ucapku kepada Gara.
__ADS_1
"Gara suka dengan bayam?" tanyaku kepadanya.
"Suka!" dia berseru sambil terus mengunyah makanannya.
"Wah hebat, kalau suka makan sayur nanti gara bisa cepat besar," ucapku lagi.
Makanan yang ada di dalam mangkok kini sudah habis masuk ke dalam perut Gara. Aku mengambil air dari botol minum dan membukakannya, membiarkan gara minum dari sedotan.
"Terima kasih ya, Mbak. Sudah mau direpotkan menyuapi Gara," ucap pengasuh Gara.
"Maaf gara-gara kami Mbak jadi tidak bisa bekerja," ucapnya dengan menyesal.
"Tidak apa-apa. Aku tidak sedang bekerja kok. Cuma lagi iseng saja di sini duduk dan buka laptop," jawabku yang membuat dia tersenyum lega.
"Kalau begitu kami pamit ya, Mbak. Sebentar lagi Gara harus masuk playgroup," pamitnya. aku hanya mengangguk.
"Gara yuk kita berangkat ke playgroup." Ajak wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
Gara menatap ke arah pengasuhnya itu lalu dia beralih menatapku.
"Tante antal?" tanya bocah mungil ini, dengan nadanya yang khas cadel.
Gara mengelengkan kepalanya dengan cepat. "Ala mau cekula kalo Tante antal," ucapnya dengan gemas.
Wanita itu menatapku dengan rasa tidak enak.
"Gara jangan seperti itu. tidak baik!" wanita itu berbicara dengan sedikit nada tegas kepada Gara.
"Dak, Ala gak mau ke cekula kalau Tante gak antal!" seru anak itu lagi.
"Gara harus pergi ke sekolah. Tante ini juga harus pulang, yuk sama Mbak saja."
"Dak MAU!!!" teriak anak ini lagi. aku tidak menyangka dia suka sekali berteriak saat dia menolak.
"Tante akan antar, tapi Gara sekolah ya." Aku berbicara membuat anak ini di terdiam dan menatap ke arahku. Gadis itu juga sama, dia menatap ke arahku dengan rasa tidak percaya.
"Horeee!!" teriak Gara lalu turun dari pangkuanku dengan cara melompat. Untung saja aku dengan sigap memegang laptopku hingga aman. Gara menarik menarik tanganku untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Ayo! Kita pergi cekula!" serunya lagi.
"Iya sebentar. Tante harus masukan ini ke dalam tas," ucapku kepada Gara, menunjuk arah laptop.
Anak laki-laki itu mengangguk, aku segera memasukkan laptop itu ke dalam tas.
Gara menarik tanganku hingga ke mobilnya. Aku bingung, aku membawa motor tadi.
Akhirnya setelah kebingungan yang melanda dan Gara yang terus merengek, aku mengikutinya ke sekolah. Gara tidak mau masuk ke dalam mobil, akhirnya anak ini pergi dengan menggunakan motorku. Gara di depan, sedangkan pengasuhnya aku bonceng di belakang.
Kami sempat bingung saat tadi Gara merengek ingin naik ke motorku, dia sampai menangis karena ingin ikut bersamaku menaiki motor. Akhirnya kami putuskan untuk membeli dua buah helm ukuran besar dan kecil untuk mereka. Meskipun tadi sopirnya bilang, tidak seharusnya anak ini menaiki motor. Banyak angin dan juga debu.
Gara tertawa senang saat aku mulai mengajukan motorku.
"Gara tidak pernah naik motor, Mbak. Jangan ngebut-ngebut ya, Mbak!" seru pengasuhnya dengan keras. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Mobil hitam yang tadi membawa Gara kesini kini mengikutiku dari belakang.
Setelah beberapa saat lamanya, akhirnya kami sampai di sekolah Gara. Cukup berkelas jika aku lihat beberapa gedung di sekolahannya. Ini sekolah elite, tidak terlihat banyak anak di sini.
"Tante mau tunggu Ala pulang?" tanya anak laki-laki itu dengan penuh harap. Aku menggelengkan kepalaku membuat raut wajahnya berubah kecewa.
"Tante harus pulang. Kamu baik-baik sekolah ya. Nanti kapan-kapan kita ketemu lagi," Aku membujuknya. Akhirnya dengan segala bujuk rayu, Gara mau juga masuk ke dalam kelas itu bersama dengan guru pembimbingnya.
Aku pamit pada pengasuh Gara untuk kembali melanjutan perjalananku ke rumah Ibu. Gadis itu mengucapkan banyak terima kasih kepadaku, karena mau menuruti keinginan Gara mengantarnya kesini.
Kakiku hendak melangkah saat Gara memanggilku kembali. Anak itu berlari cukup kencang ke arahku dan memelukku dengan erat. Aku mengusap rambutnya yang lembut.
"Gara. Ayo masuk ke kelas. Ibu guru dan teman-teman sudah menunggu," ucap pengasuhnya itu.
Gara merengangkan pelukannya dariku dan menarik tanganku. Aku berjongkok mensejajari tingginya.
"Telima kasih, Tante. Besok ketemu agi ya," ucapnya dengan wajah berharap. Dia mendekat ke arahku dan mendaratkan satu kecupan lembut di pipi.
*****
hai-hai teman²
mampirin juga cerita sahabatku ini ya.
__ADS_1