Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
290. Rencana Arga


__ADS_3

Aku menghentikan kunyahanku. Rasanya tidak percaya dengan pemikiran Arga yang sangat bagus seperti ini.


"Iya. Benar, Pa. Tapi, apa yakin mau beli tanah atau sawah di sini?"


Arga menatapku dengan bingung. "Ya, memangnya kenapa? Gak boleh?"


"Eh, bukannya gak boleh, tapi ini kan lebih banyak saudaraku di sini. Kamu tau aku punya pemikiran lain," ucapku dengan takut. Takut tentu saja. Yang dibeli tanah di dekat keluarga bapak, takut jika di masa depan nanti akan ada perdebatan dan selisih paham jika ada seseorang yang tidak menyukai kami. Bisa jadi dipersulit saat kami butuhkan.


"Jangan punya pemikiran buruk kayak gitu. Berpikirlah positif, Yu. Jangan bebani diri kamu dengan pemikiran yang belum pasti terjadi," ujarnya.


Aku terpaksa mengangguk. Memang benar, kita harus berpikiran positif, meski dalam hati aku sangat takut seperti kebanyakan cerita yang aku dengar dari orang lain.


...***...


Siang hari, aku dan semua yang ada di rumah pergi ke sawah untuk menikmati hidangan yang bibi buat untuk makan siang kali ini. Sederhana, hanya nasi liwet dengan ikan teri di atasnya, tempe dan tahu goreng, ikan goreng, lalapan mentah, tumis kangkung, dan juga sambal. Untuk Gara dan Widi, bibi buatkan ayam goreng.


Matahari terik terasa panas menyambar kulit. Angin bersemilir di antara panasnya udara di siang ini, sedikit membuat rasa sejuk. Tanaman padi yang menguning bergoyang ke sana dan kemari, menunduk karena terlalu berat menahan beban.


Kami menikmati makan siang kali ini dengan sangat nikmat sekali. Pengalaman pertama untuk Arga dan juga Gara makan di saung di tengah sawah yang hampir akan panen. Beruntung bibi memasak nasi banyak. Kami makan sangat banyak sehingga aku tidak kuat lagi menahan sesak dan harus melepaskan kancing celanaku, membiarkan perut yang buncit karena makanan ini terbebas sejenak sebelum kami akan pulang kembali ke vila.


"Enak sekali makanannya," ucap Arga sambil memasukkan makanan ke dalam mulut. Nasi yang ada di tengah daun pisang dia geserkan ke depannya, lalapan dan ikan goreng dia nikmati dengan sambal. Tidak peduli dengan bibirnya yang sudah merah dan mendes*h kepedasan.


"Kalau tiap hari makan begini terus enak nih, Bi. Di sawah, suasana adem, sambil menikmati pemandangan gunung," ucapnya sambil mengunyah dan memakan lalapan terong bulat mentah. Yang lain sudah selesai dengan makanannya, begitu juga dengan mamang. Hanya Arga yang masih sibuk menghabiskan nasi.

__ADS_1


"Enak, tapi awas makin maju tuh perutnya," ucapku yang meledakkan tawa yang lain.


"Hus, kamu ini. Sama suami kok gak sopan!" Ibu memberi peringatan. Aku tersenyum terkekeh.


"Lihat deh, Bu. Fakta. Tuh, perut dan mau balapan sama Ayu," ucapku pada ibu.


Arga tidak menghentikan makannya, tidak peduli dengan ucapanku. Dia malah menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "Enak, Ma. Jarang-jarang makan nikmat sambil melihat pemandangan alam. Lagian kalau perutku maju apa kamu gak cinta lagi?" tanyanya, dia tidak melirikku sama sekali, hanya terfokus pada ikan yang sedang dia cubit dagingnya.


"Ya, bukan itu. Tapi, nanti siap aja pulang dari sini beli banyak celana baru," ucapku sambil tertawa.


Satu suapan besar dia masukkan ke dalam mulut. Aku sedikit tak percaya dengan porsi makannya siang ini, padahal tadi pagi sudah makan kupat tahu dan juga menghabiskan tujuh buah gorengan di jam sembilan pagi.


"Gak pa-pa, kebahagiaan suami terlihat pada perutnya," jawabnya asal sambil menepuk perutnya yang kini membesar.


Gara dan Widi pergi ke pematang sawah, menarik tali yang terhubung dengan tali yang lain di tengah sawah. Membuat suara bising untuk mengusir burung yang hinggap dan makan padi. Seketika burung-burung kecil beterbangan ke langit. Terdengar sorak sorai kedua anak kecil itu dari kejauhan.


Arga telah selesai dengan makannya, menyandarkan diri pada dinding saung yang terbuat dari bambu. Terlihat dia bernapas sedikit cepat, sekitar mulutnya merah, seperti menahan rasa pedas. Hanya ada kami bertiga di saung. Bibi dan ibu barusan kembali ke vila karena Azka tidur.


"Mang, saya ada keinginan untuk beli sawah di sini. Apa Mamang tau ada yang mau jual sawahnya?" tanya Arga.


Mamang menyodorkan rokok yang sedari tadi diliriknya terus kepada Arga, Arga mengangkat tangan tanda menolak benda tersebut. Satu batang rokok mamang jepit dan kemudian memantik api.


"Ah, Mamang nahan gak ngerokok dari tadi," ujar mamang sambil tertawa kecil. Kebiasaan merokok mamang memang cukup membuat istrinya menjadi kesal. Minimal satu bungkus sehari katanya.

__ADS_1


"Ada anak-anak ya, Mang?" tanya Arga yang juga tertawa kecil. Mamang mengangguk sambil mengepulkan asap rokok di mulutnya.


"Mamang juga harusnya gak ngerokok, kan Ayu lagi hamil, Mang," protes ku.


Mamang kembali tertawa kecil, menggaruk belakang kepalanya. Akan tetapi, tidak menghentikan isapan mulutnya pada rokok di sana.


"Satu aja, Yu. Enek kalau dah makan gak ngudud," ucapnya.


"Mau beli sawah di sini?" tanya mamang kini pada suamiku.


"Iya, Mang. Kalau ada, saya mau beli. Buat bekal anak-anak nanti," ucapnya. Mamang mengangguk paham, orang tua yang berpikiran kolot seperti mamang tentu tidak akan menolak keinginan ini.


"Nanti kalau Mamang mau, Mamang yang urus. Atau, kalau Mamang berat, carikan orang saja buat uruskan. Soal hasil saya gak pikirkan lah, itung-itung tanah sawah itu jadi tabungan masa depan nanti," terang Arga. Mamang mengangguk lagi.


"Kalau Mamang sih gak masalah urus sawah banyak. Dulu waktu Kang Haji masih ada, sawahnya juga Mamang yang urus. Dua kali lipat dari lahan ini. Setelah Kang Haji meninggal, sawahnya dijual sama anaknya. Mamang mah oke, sih."


"Waah, sip ini. Gatot kaca, masih kuat kerja keras," ucap Arga sambil menepuk lengan mamang yang berotot tanpa nge-gym.


"Ada, yang mau jual sawah, tapi jalan ke sananya agak susah. Turun ke bawah, juga akses jalannya jauh dari jalan besar. Kalau dari segi harga emang lebih murah, sih. Cuma ya itu, masih belum laku karena aliran air dan akses yang jauh dari jalan. Agak susah kalau pas angkut hasil panen," ucap mamang.


"Jangan lah, cari aja kalau bisa yang mudah dijangkau. Soal harga Mamang nego lah, sebisanya dan sewajarnya. Nanti gampang, ada bagian buat Mamang," ucap Arga lagi.


"Oke sip. Nanti kalau ada Mamang kasih kabar. Semoga aja dapat di pinggir jalan, meski harganya agak tinggi, tapi kalau suatu saat di bangun rumah kan enak," sambung mamang.

__ADS_1


Aku hanya mendengar mereka bicara sambil menikmati waktuku. Akibat suasana yang tenang, dengan angin yang mendesau, serta perut kenyang, kini aku sedang dimanjakan oleh rasa kantuk. Mataku terasa berat sekali.


__ADS_2