Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
160. Arga Dan Gombalannya


__ADS_3

Malam ini aku tinggal di rumah sakit. Dokter bilang tidak ada yang gawat dengan luka yang ada di belakang kepalaku, beruntung juga setelah pengambilan rontgen tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Diduga kepalaku terkena sandaran kursi yang mengelupas hingga terkena besi dan sedikit membuat robek. Seharusnya tadi sore juga aku sudah diperbolehkan pulang, tapi Arga bersikeras untuk ku dirawat di sini malam ini. Takut jika sesuatu terjadi jika aku pulang ke rumah.


Arga bercerita dengan detail, bagaimana dia tadi melihat aku yang dipaksa masuk ke dalam mobil. Akan tetapi, Arga tidak bisa menyusulku karena jalanan yang ramai di depan pasar tadi. Juga saat tadi aku yang menelepon dan tiba-tiba saja terputus.


Mas Hilman sudah dibawa ke kantor polisi. Besok akan ada polisi yang datang ke sini untuk meminta kesaksian dariku karena Arga tidak mau aku yang masih sakit datang ke sana untuk memberikan laporan. Pantas saja tadi Ibu Widia datang dengan marah-marah.


"Kamu mau kan bersaksi untuk memenjarakan Hilman?" tanya Arga padaku. Dia menatapku dengan penuh harap.


"Maaf, Yu. Kalau mungkin kamu kasihan sama dia, tapi aku tidak mau dia mengganggu kamu lagi. Ini sudah menjadi urusan kriminal dan tidak bisa dimaafkan dengan jalur kekeluargaan atau damai dan semacamnya. Aku tidak terima dia sudah menculik dan melecehkan kamu!" protes Arga dengan wajah yang marah dan tidak terima. Dia tetap menatapku dengan memohon.


Aku tersenyum, menganggukkan kepalaku, membuat dia juga tersenyum senang.


Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Ibu terpaksa pulang tadi selepas Isya karena harus ikut menenangkan Gara yang rewel tidak mau pulang, tidak baik bagi anak balita berada di rumah sakit. Terpaksa Arga yang menemaniku malam ini. Dia mengurusku dengan sangat baik, bertanya apa yang aku inginkan atau bilamana kepalaku terasa sakit kembali. Perhatiannya membuat aku sedih dan bahagia. Kami belum menikah, tapi apa yang dia lakukan membuat aku bahagia.


"Yu, apa pernikahan kita undur saja sampai kamu sembuh?" tanya Arga. Aku terkejut Arga mengatakan hal itu. Undangan sudah disebar, WO juga sudah disewa, semua keluarga sudah tahu perihal niatan baik yang akan kami laksanakan. Mana mungkin pernikahan ini batal di waktu yang sudah ditentukan.


"Jangan, lagipula 'kan pernikahan kita juga masih ada tiga hari lagi. Dokter juga kan bilang kalau aku akan baik-baik saja setelah beristirahat dua hari.


"Tapi luka kamu ...."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ga. Hanya tiga jahitan saja. Aku masih bisa tahan kok," ucapku. Arga mengambil tanganku dan mengelusnya.


"Aku gak mau kamu memaksakan diri, Yu. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu," ucapnya. Wajahnya teduh, tersirat di dalam sorot matanya yang khawatir.


"Aku gak apa-apa, kok. Aku janji. Lagipula undangan sudah disebarkan, keluargaku yang ada di kampung juga kan ingin melihat acara kita, sudah menungu sedari lama. Kalau terasa sakit, aku bisa duduk kan?" Kucoba untuk meyakinkan dia. Akhirnya Arga menganggukkan kepalanya.


"Oke."


Pagi menjelang, ini sudh hampir jam empat pagi. Tidak ada rasa kantuk yang aku rasakan saat bersama dengan Arga. Semalaman suntuk kami saling bercerita, apapun. Kami bercerita banyak hal mengenai perasaan kami masing-masing. Aku menyuruhnya untuk tidur, tapi dia menolak dengan alasan ingin menjagaku. Arga juga baru tahu jika aku punya kegiatan yang lain, menuangkan khayalan pada tulisan. Dia sempat kaget dengan kegiatanku yang satu ini. Tidak menyangka jika selain bekerja aku juga masih bisa melakukan hal yang lain dari rumah.


"Kalau aku tahu dari lama, aku tidak akan menerima kamu kerja di perusahaan. Bekerja sampai capek," ucap Arga, lalu dia menutup mulutnya dengan menggunakan satu tangan. Aku menoleh padanya dan mengangkat satu alisku. Dia yang menerimaku? Berarti ....


"Arga!" panggilku sedikit menggeram. "Jawab!" pintaku. Arga semakin menyipitkan matanya yang sudah sipit sejak lahir. Kutarik tangannya hingga terlihat bibir itu sedikit tersungging senyuman.


Aku menghela napas dengan kesal. Bisa jadi apa yang mereka katakan tentang aku masuk dengan koneksi itu benar adanya, bukan? Kenapa aku tidak sampai berfikir ke sana? Aku hanya percaya jika aku melamar dan berhasil masuk bekerja ke sana dengan usahaku sendiri.


Ya ampun.


"Aku hanya menerima laporan dari bawahanku saja. Dan saat itu aku membaca ada nama kamu. Lagi pula, bukan karena kita kenal di masa lalu juga, Yu. Kamu memang mempunyai kemampuan yang mumpuni untuk berada di posisi itu. Jadi jangan berpikir jika kamu masuk ke sana karena koneksi dariku," ucap Arga. Aku masih sedikit tidak percaya, tapi ya sudah lah. Aku juga sudah resign dari sana.

__ADS_1


"Tadinya jika pekerjaan kamu bagus aku ingin menaikkan jabatan kamu menjadi supervisor," ungkapnya. Aku menolehkan kepala sedikit cepat sehingga terasa sakit di sana. Akan tetapi, mendengar hal itu senyumku terbit juga.


Supervisor.


Seketika aku membayangkan diriku berada di jabatan yang tinggi seperti itu. Dengan gaji yang besar dan juga memiliki pengaruh di satu perusahaan.


"Kenapa tidak bilang sedari dulu kalau aku mau diangkat jadi supervisor?" tanyaku pada Arga. Arga mendelik tak suka, sepertinya tahu akan apa yang akan aku ucapkan.


"Setelah ini aku mau bekerja lagi, ya. Dan jadikan aku supervisor," ucapku sambil tersenyum padanya dengan menangkupkan kedua telapak tanganku di depan dada.


Dia berdecak kesal dan menarik hidungku yang tidak semancung dia. "Untuk apa jabatan supervisor kalau kamu akan menjadi nyonya dari pemilik perusahaan tersebut, hah!" ungkapnya kesal. Ku tepis tangannya, hidungku sakit akibat diperlakukan seperti itu oleh dia.


"Kamu tinggal duduk manis di rumah tanpa harus bekerja dan mendapatkan gaji dariku. Aku akan berikan uang yang banyak, apalagi kalau kamu mau setiap hari memanjakan aku dan Gara. Eh tidak. Gara sudah ada yang menjaga, Kamu hanya harus memanjakan aku saja dan melayaniku sebagai istri yang baik ...."


Arga mendekat sehingga jarak kami begitu sangat tipis. "Di atas ranjang. Itu cukup!" bisiknya.


AAAAkhhhhhh!!!


Aku ingin lari saja!

__ADS_1


__ADS_2