Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
185.


__ADS_3

"Arga turunkan aku. Banyak orang yang lihat," ucapku padanya. Orang-orang yang ada di luar sini melihat ke arah kami berdua, sambil mesam-mesem, membuat aku rasanya malu sekali dilihat seperti itu.


"Tidak mau. Memangnya kenapa kalau mereka lihat? Abaikan saja mereka. Toh sekarang ini dunia milik kita berdua," ucap laki-laki ini. Aku memukul dadanya pelan seraya melotot padanya. Dia hanya tertawa kecil menanggapi perbuatanku.


"Aku malu," ucap ku jujur. "Turunkan, atau aku akan semakin marah sama kamu," ancamku.


"Aku tidak akan turunkan sebelum sampai ke kamar. Kalau kamu mau lanjut marah ya marah saja. Pokoknya aku sebagai suamimu akan melayani kamu sampai kapanpun," ujarnya. Dia tersenyum kecil lalu mengalihkan tatapannya ke depan.


Arga menggendongku mendekat ke arah lift. Aku menundukkan kepala dalam-dalam, malu dengan tatapan orang yang semakin banyak saja sampai saat kami masuk ke dalam lift.


"Bisa minta tolong tekan angka itu? Aku kesusahan karena menggendong kamu," pinta Arga padaku.


"Makanya turunkan aku. Aku ini berat."


"Tidak! Kata siapa kamu berat? Aku lebih tidak bisa menggendong sebuah karung beras daripada kamu, istriku," ucapnya dengan manis. Jujur saja aku terhanyut dengan ucapannya tersebut. Kenapa laki-laki ini begitu manis? Kenapa dia sangat berbeda dari ....


Lupakan!


Aku hanya diam selama dalam perjalanan ke lantai atas. Dada ini berdebar dengan kencang saat dekat dengan dia seperti ini. Sangat dekat sampai bisa kurasakan yang pasti berhembus dengan hangat di kulit pipiku.

__ADS_1


"Kamu tahu nggak, Yu. Kamu ini terlihat sangat menggoda sekali. Aku nggak sabar untuk ..."


"Tidak! Ingat apa kata dokter tadi, kita tidak boleh macam-macam sampai lukaku kering dengan sempurna." Ku potong ucapannya, membuat dia kini mengerucutkan bibirnya.


"Lagipula aku kan masih marah, jadi jangan harap kalau kamu bisa melakukan hal yang tidak baik denganku," tambah ku lagi.


"Hei, tidak baik apa? Justru itu untuk kebaikan kita berdua. Baik kamu maupun aku, kita sama-sama mendapatkan kebaikan dari hal yang seperti itu."


"Jangan membela diri! Memang kenyataannya itu baik, tapi untuk saat ini tidak baik sama sekali. Aku nggak mau!" Aku tetap bersikukuh.


Arga tertawa kecil. Sangat renyah sekali terdengarnya.


"Iya, oke. Aku akan mengalah! Tunggu saja nanti tanggal mainnya!" ucapnya dengan nada yang terdengar licik. Aku terkesiap mendengar ucapannya itu. Tiba-tiba saja merasa takut memikirkan apa yang akan dia lakukan padaku. Malam itu saja aku cukup kewalahan menghadapi dia, apalagi nanti!


"Tidak apa-apa. Hanya saja aku mau bilang kalau aku tidak mudah memberikan itu kan sama kamu. Pokoknya aku masih marah!"


"Terus aku harus bagaimana untuk mendapatkan maaf dari kamu?" tatapnya dengan tajam.


"Pikirkan saja sendiri caranya!"

__ADS_1


Oh ya ampun. Ada apa denganku? Aku marah tapi masih bisa berkomunikasi dengan dia. Biasanya aku hanya diam jika marah, tapi kenapa kali ini aku malah berdebat?


"Oke baiklah. Aku akan cari caraku sendiri, tapi jangan lupa kalau kamu sudah tidak marah lagi Kamu harus bilang ya," tuturnya dengan tawa kecil di bibirnya.


Aku mengalihkan tatapanku dari sorot matanya, Dia berbicara seperti itu seakan tidak bersalah sama sekali. Mata kami saling beradu, saling mengunci. bibirnya tersenyum, perlahan dia mendekat dan semakin mendekat, aku tidak bisa menggerakkan kepalaku untuk menghindar sehingga hidung kami hampir saling menempel satu sama lain.


Tring!


Suara lift terdengar, disusul dengan pintunya yang terbuka. Kami tersadar saling menjauhkan diri satu sama lain.


"Untung gak ada yang masuk ke dalam lift," ucapnya sambil tertawa. Dia melangkahkan kakinya membawaku keluar dari lift itu menuju ke kamar kami.


"Sudah dekat ke kamar, turunkan aku sekarang!" ucapku berseru kepadanya.


"Tinggal beberapa langkah lagi ke dalam kamar." tolaknya.


Sekali lagi Arga memintaku untuk membukakan pintu kamar. Aku menurutinya. memang dia kesulitan untuk menggunakan kedua tangannya yang menggendong ku di depan tubuh.


Langkah kakinya mendekat ke arah ranjang, dengan gerakan lembutnya menyimpan tubuhku di atas sana. tidak lupa pula juga dengan dirinya yang ikut naik ke atas kasur.

__ADS_1


"Kamu mau apa?" tanyaku takut.


"Tidur siang!"


__ADS_2