
"Ayu, kenapa motornya?" Suara itu terdengar memanggil namaku. Barulah aku menoleh, dan terlihat dari dalam mobil itu, dengan jendela yang terbuka, wajah tersenyum ramah dengan raut yang iba.
"Arga! Ini ban motor kempes. Sepertinya bocor!" Teriakku menyahutnya. Aku malu. Bertemu dengan dia lagi dengan keadaan diriku yang seperti ini. Tadi di kantor sana aku menabrak dia, sekarang disini aku yang sedang mendorong motor.
Mobilnya melaju sedikit lebih cepat ke arah depan, lalu berhenti beberapa meter di depanku. Dia terlihat turun dan berlari ke arahku.
"Aku bantu, ya." Tanpa menunggu jawaban dariku dia mengambil alih motorku, merebut stang yang aku pegang hingga tangan kami saling bersentuhan.
"Eh, Ga. Tidak perlu," ucapku dengan sungkan. Pria itu tersenyum ramah, dia menyingkirkan tanganku dari stang dengan sedikit paksaan.
"Tidak apa-apa. Aku gak keberatan, kok," ucapnya, lalu dengan tak mau mendengarku lagi, dia melajukan motorku bersamanya. Aku menyusul di belakangnya.
"Ga, tapi mobil kamu?" tanyaku sambil menunjuk mobil yang kini baru kami lewati.
"Gak apa-apa, sudah aku kunci dengan aman. Nanti setelah dapat bengkel dan motor ini sudah benar, kamu antar aku kesini lagi, ya." Pintanya dengan sedikit menoleh ke arahku.
"Terima kasih. Tapi ini merepotkan kamu," ucapku dengan tidak enak. Kini aku berjalan di sampingnya, sejajar karena aku tidak enak jika berjalan di belakang dia.
"Sudahlah. Jangan seperti itu. Kita kan ... teman," ucapnya dengan tersenyum lagi ke arahku.
Aku mengangguk dengan pernyataannya.
Kami berjalan terus beberapa puluh meter ke depan, tapi bengkel yang kami cari belum juga ketemu. Tidak ada yang kami bicarakan karena rasanya menjadi canggung sekali bertemu dengan dia. Arga juga tidak bicara sepatah kata pun semenjak pembicaraan tadi.
"Kamu ... kenapa jalan sendiri disini? Kok gak sama Hilman?" tanya Arga tiba-tiba.
"Eh. Oh, itu ... Mas Hilman sedang bekerja," ucapku kepadanya. Biarkan saja aku berbohong, dia hanya orang lain yang tidak mesti tahu urusanku.
"Oh, terus apa yang kamu lakukan di kantor tadi?" Dia bertanya lagi, tanpa menoleh ke arahku.
"Itu ... Aku bertanya pada petugas kalau aku lupa menaruh buku nikah. Aku ada urusan dan harus menyertakan buku nikah," ucapku lagi. Dia tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. Aku harap dia tidak menanyakan hal yang lebih lanjut lagi, karena aku tak tahu harus menjawab apa. Namun sebenarnya, aku tak mau lagi berbohong.
Kami meneruskan langkah kaki kami. Bersyukur jika Arga kini tak lagi bertanya lebih banyak. Kami hanya diam sambil menatap langkah kaki.
"Ga, kamu gak perlu bantu aku lagi, aku udah gak capek. Kamu boleh kembali," ujarku kepadanya.
Kali ini dia menoleh ke arahku, dengan kening yang mengerut. Menatap heran.
__ADS_1
Arga diam sejenak, membuat langkah kakiku juga kini berhenti. Kepalanya tertoleh ke arah belakang.
"Kamu mau tega suruh aku balik lagi ke belakang dengan jalan kaki? Ini sudah jauh loh," tanyanya membuat aku jadi tak enak hati.
"Eh, enggak. Bukan begitu." Aduh, aku jadi salah tingkah.
"Bukan maksud aku begitu, maksudku kamu ... takut ada pekerjaan lain. Aku udah gak apa-apa," jawabku dengan canggung. Sungguh bukan aku tak sopan untuk mengusirnya, tapi memang aku takut dia meninggalkan kesibukannya hanya karena membantuku.
"Ah, gak apa-apa, aku memang izin setengah hari, untuk membereskan urusanku tadi. Itu, lihat ke depan. Ada bengkel," tunjuk Arga ke arah depan. Dan benar saja di depan sana, beberapa puluh meter dari kami berjalan, ada bengkel tambal ban kecil.
Alhamdulillah, setidaknya aku bisa cepat kembali ke rumah.
Motor kini telah terparkir cantik di sebelah motor yang lainnya, yang juga sedang diurus oleh Kang Tambal dengan telaten. Dia dengan cekatan melakukan tugasnya. Butuh beberapa menit lagi untuk menunggu giliranku. Katanya motorku bocor karena terkena paku jalanan.
Aku sendiri tidak terlalu memperhatikan apa yang dia lakukan, karena pikiranku melayang ke tempat lain. Memikirkan kemungkinan buku nikahku berada. Jika ada di tangan Mas Hilman, dimanakah Mas Hilman akan menyimpannya? Apa mungkin dia akan menyerahkannya jika aku meminta milikku? Iya, kalau dia memberikan buku itu? Kalau tidak? Apa mungkin aku meminta bantuan Hana untuk mencarikan benda itu?
"Minum?" Sebuah botol air kemasan tersodor di dekatku, membuat aku terkejut. Aku menoleh ke arah Arga dan menyambut botol minum itu. Ya ampun. Aku sampai lupa jika disini aku bersama dengan Arga.
"Terima kasih," ucapku kepadanya. Dia tersenyum, seraya menganggukkan kepala. Kursi yang berada tak jauh darinya, dia seret hingga kami kini duduk berjarak setengah meter. Menghidari sinar matahari yang sangat terik di siang ini.
Aku membuka tutup botol kemasan ini, tapi sesaat menjadi terdiam lalu mengulum senyum. Tutup botol telah longgar dan sangat mudah untuk aku buka, ini pasti Arga yang membukanya duluan.
"Sama-sama," ucapnya. Hanya itu yang dia katakan, lalu kami terdiam setelah itu.
Motor lain telah selesai ditambal, dan kini giliran motorku yang ditangani oleh si Abang.
"Oh ya, tadi ada urusan apa kamu di kantor? Kamu mau mengurus apa yang harus pakai buku nikah? Kok bisa sampe lupa naruh buku sepenting itu?" tanya Arga dengan santai. Dia menyandarkan dirinya pada tembok.
Akhirnya sesuatu yang tidak mau dibahas malah dia tanyakan. Aku kira dia sudah lupa dengan apa yang aku bilang tadi.
"Eh itu ... Bukan apa-apa sih, aku cuma harus mengurus sesuatu saja. Dan salah satunya harus menyertakan buku itu," jawabku.
"Terus? Bisa?" tanya Arga lagi. Aku menggelengkan kepalaku.
"Coba kamu ingat-ingat lagi dimana kamu simpan buku itu. Atau mungkin Hilman yang tau? Kamu sudah tanyakan?" tanya Arga padaku.
"Belum sempat, Mas Hilman sedang tidak ada di rumah beberapa hari ini," ucapku berbohong. Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
__ADS_1
"Apa kamu sangat membutuhan buku itu dengan segera?" tanya Arga lagi.
"Em ... ya ... cukup urgen juga sih," jawabku. Arga lagi-lagi menganggukkan kepalanya mendengar jawabanku.
"Oh, coba kamu cari lagi aja, siapa tahu terselip di suatu tempat. Atau mungkin Hilman yang simpan, atau kalau gak ada juga kamu bisa urusin ke kantor polisi, bikin surat kehilangan," ujarnya yang membuat aku refleks menoleh ke arahnya.
"Emang bisa?" tanyaku dengan ingin tahu. Jujur aku belum tahu kalau bisa seperti itu.
"Ya, bisa lah. Kamu tinggal pergi ke kantor polisi, terus bikin deh surat keterangan kehilangan dokumen. Gampang kok, proses disana juga gak lama. Setelah mendapatkan surat keterangan dari kantor polisi itu, kamu pergi aja ke KUA tempat kalian menikah dulu. Sebutkan nama dan tanggal serta tahun kalian menikah. Setelah itu, tinggal menunggu buku nikah jadi. Em ... mungkin sekitar satu atau dua minggu paling lama," ucapnya lalu kembali menenggak minuman kaleng hingga habis dan dia simpan di bawah kursinya.
Aku tersenyum senang dengan info yang aku dapatkan. Jika pun Mas Hilman tidak memberikan buku nikahku, aku akan melakukan hal itu.
"Terima kasih infonya, Ga," ucapku kepadanya. Arga tersenyum seraya menganggukkan kepala.
"Sama-sama, senang bisa membantu kamu," ujarnya.
"Kamu sudah hapal seperti yang pernah saja," ucapku. Dia terkekeh mendengar aku mengatakan hal itu.
"Hehe, aku cuma pernah mengantarkan salah satu temanku saja untuk mengurus dokumen yang hilang. Jadi aku ingat waktu itu. Dia kehilangan buku nikah karena sering berpindah kontrakan," ujarnya menjelaskan.
"Oh." Aku hanya mengangguk mendengar penjelasannya.
Arga kini mengambil hpnya yang sedari tadi terdengar notif pendek, mungkin saja pesan. Dia mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya hampir menyatu. Tiba-tiba saja wajahnya berubah.
"Yu. Aku permisi duluan, gak apa-apa, kan?" tanya Arga seraya bangkit dari duduknya, hp dia kembali simpan di saku baju. Wajahnya terlihat seperti ada raut kekhawatiran.
"Eh, gak apa-apa sih? Tapi kamu ada apa? Tidak menunggu aku selesai, biar aku bisa antar kamu kembali ke mobil? Jaraknya jauh loh," tanyaku dengan tak enak.
Dia melambaikan tangannya di depan tubuh. "Gak apa-apa, aku bisa naik angkot sampai mobilku. Aku minta maaf, tidak bisa menemani kamu sampai selesai," ujar Arga dengan cepat.
"Bang. Ini saya bayarkan tambalnya, ya. Saya titip teman saya. Jangan sampai ada orang yang ganggu," ucapnya seraya mengambil dompet dan menyerahkan uang selembar seratus ribuan.
"Eh, Ga. Gak usah. Aku bisa bayar sendiri," seruku mencegahnya.
"Gak apa-apa. Aku yang mau, kok. Senang ketemu sama kamu lagi, Yu. Bang ambil aja kembaliannya, ya!" seru Arga sambil berlalu meninggalkan kami untuk menyeberang jalan. Tak lupa dengan lambaian tangannya yang khas. Si Abang hanya mengangguk seraya berteriak mengucapkan terima kasih kepada Arga.
Aku belum sempat mencegah atau mengatakan terima kasih kepadanya. Kulihat pria itu dengan cepat kini sudah berada di seberang jalan. Satu tangannya melambai ke arahku. Aku balas lambaian tangan itu dengan singkat sebelum dia terhalang oleh angkot dan kemudian menghilang bersamaan dengan perginya kendaraan umum berwarna merah itu.
__ADS_1
Tidak aku sangka pertemuan dengan Arga hari ini. Orang yang sudah sangat lama tidak pernah kutemui setelah perpisahan itu. Dia masih tetap sama seperti dulu. Sikapnya, senyumnya, keramahannya. Sangat baik dan juga suka menolong meski kini ... aku sudah bukan siapa-siapa lagi untuk dia.