Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
42. Terima Nasibmu Sebagai Wanita Mandul!


__ADS_3

"Ayu jaga bicara kamu!!" bentak Mas Hilman pada akhirnya. Bicara dengan keras seraya menatapku dengan tajam.


"Ada apa dengan kamu ini? Ini urusan pribadi kenapa kamu sampai bicara di depan umum seperti ini?!" bentaknya lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan dari yang tadi.


"Ups, maaf! Urusan pribadi, ya? Aku keceplosan!" ucapku seraya tertawa sambil menutup mulutku dengan satu tangan. Mas Hilman terlihat geram terhadapku, sorot matanya yang selalu lembut kini tidak ada lagi, berubah marah dan seperti ingin meledak.


"Mbak kamu ini kenapa, sih? Keterlaluan sekali! Kamu tahu kan kalau ini tempat umum. Jangan kamu umbar dan juga membesarkan masalah sepele ini di depan orang banyak!" seru Hana yang kini berdiri satu langkah di depan Mas Hilman. Tatapan mereka marah seperti yang ingin menghambur ke arahku dan menghajarku saat ini juga.


"Aku sudah terlanjur melakukannya, gimana dong?" tanyaku dengan tertawa sinis kepadanya.


"Mbak ini iri sama aku, karena aku mendapat perhatian leih dari Mas Hilman!" teriak Hana tanpa malu.


"Aku ini sedang hamil anak Mas Hilman! Pantas lah kalau dia berikan aku perhatian dan juga waktu yang lebih untuk aku dan calon anaknya. Kalau saja Mbak Ayu bisa memberikan Mas Hilman keturunan, sudah tentu kalau Mas Hilman gak akan mendua! Jadi jangan hanya salahkan kami saja, tapi Mbak juga harus sadar dengan kekurangan Mbak yang tidak bisa memberikan suami keturunan!" seru Hana dengan keras.


Bisik-bisik kembali terdengar di belakang kami. Kini netizen mendukung kedua orang itu dan mengatakan jika aku adalah istri yang kurang beruntung dan juga tidak tahu diuntung.


"Oh, kalau saja suami kita bisa adil aku tidak masalah. Aku juga pasti akan menerima kehadiran kamu di rumah kami, juga kalau kamu sendiri bisa menitipkan diri kamu. Kamu hanya bisa diam bagai ratu dan membiarkan aku sendiri yang mengerjakan tugas rumah! Oh, hebat sekali!" Aku bertepuk tangan bagai orang gila yang sering lewat di depan rumah kali. Aku menirukan caraya jika dia sedang kesal kepada Ibu-ibu kompleks yang suka sekali mengusir dia karena merasa terganggu.


"Hei, Helooowww!! Aku ini istri pertama dari suami kita, terlalu banyak korban perasaan yang aku rasakan saat suamiku tanpa izin menikah dengan kamu dan membawa kamu masuk ke dalam rumah kami! Tidak adanya keadilan waktu dan juga materi yang dia berikan apa itu bisa diterima dengan baik? Bahkan kamu tidak pernah memikirkan uang belanja selama ini. Lantas kemana uang yang diberikan suami kita? Ini? Untuk barang transparan yang bahkan percuma untuk kamu pakai?!" tanyaku dengan menunjuk apa yang masih ada di lantai, kain minim yang bahkan tidak bisa menutupi bagian 'itu' dengan baik.


"Mbak. Jangan iri dengan apa yang tidak bisa kamu lakukan, Mbak! Buktinya barang yang nyatanya Mbak bilang tidak berguna dan percuma itu tidak pernah Mbak punya, kan? Padahal itu yang membuat Mas Hilman suka dan juga senang. Mbak memang tidak pernah bisa memberikan hal yang terbaik untuk suami sendiri. Pantas saja jika Mas Hilman sekarang ini lebih menuruti apa yang aku mau karena Mbak sudah gak bisa membuat Mas Hilman senang di atas ranjang. Coba saja kalau Mbak mengerti apa yang Mas Hilman mau dan juga Mbak bisa memberikan keturunan untuk dia. Mas Hilman juga gak akan abai sama Mbak! Terima saja nasib Mbak kalau Mbak adalah wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan dan juga tidak bisa lagi menyenangkan hasr*t suami ...."


Byurrr!!

__ADS_1


Air yang ada di atas meja di dekatku ini, kini membasahi wajah Hana yang seketika gelagapan. Dia menyemburkan sisa air dari dalam mulutnya, terbatuk lalu dia usap wajah yang basah itu dengan tangannya. Rambut, wajah, dan juga baju yang dia kenakan berubah berwarna coklat karena air soda milik Mas Hilman. Beruntung sekali masih penuh sehingga aku bisa membuat dia basah kuyup.


"Jaga mulut kamu dengan baik! Kamu gak ber ...."


"Kamu yang jaga kelakuan kamu Ayu!" tangan Mas Hilman terangkat dan dengan cepat melayang ke arahku.


Plakk!!


Suara tamparan itu sangat terdengar dengan jelas dan kemudian berdengung di telinga ini. Kepalaku secara langsung tertoleh ke samping akibat ulah sadis tangan besar itu. Rasa panas dan perih serta dengan sedikit rasa amis di dalam mulut ini membuat aku mual.


Mas Hilman terpaku melihat apa yang sudah dia lakukan, dia hanya terdiam, tidak mendekat dan juga tidak bicara apa-apa. Hanya menatap ke arahku dengan sorot mata penuh rasa bersalah. Tangan yang tadi dia gunakan untuk menamparku masih terangkat di depan perutnya.


"Ayu ...." ucapnya akhirnya. Nada suara yang bergetar dan langkah kaki pelan dari pria itu kini mendekat ke arahku.


Panas mata ini. Panas hati ini. Marah. Kesal. Apa yang dia lakukan tidak bisa aku tolerir lagi.


Entah sudah berapa banyak air mata yang aku kelurakan semenjak aku meninggalkan lantai atas tadi. Panggilan dari Mas Hilman tidak aku hiraukan sedari tadi. Aku terus melangkah dengan cepat hingga tidak lagi mendengar dia memanggilku.


Pintu lift terlihat terbuka, aku segera masuk ke dalam sana. Hanya ada dua orang yang ada di dalam lift itu, keluar saat aku masuk ke dalam. Mereka melirik sekilas, tapi kemudian tidak peduli. Hingga pintu lift tertutup dengan rapat, aku bisa menyandarkan diri ini pada dinding lift. Tidak kuat menopang tubuhku. Baru kali ini aku melakukan hal yang ekstrim seperti ini. Aku menjatuhkan diri di lantai, berjongkok sambil memeluk lutut dengan erat.


Di basement, aku mersa bingung dengan keadaanku. Sialan! Tas dan juga hpku tertinggal di lantai atas. Aku tidak bisa pulang sekarang ini.


"Ayu!" teriak suara seseorang terdengar keras di lantai basemen yang sepi. Dengan segera di mendekat sambil bersusah payah membawa kantong belanjaanku tadi dan juga tas ku di pundaknya. Karena rasa marah dan kesal ku tadi aku jadi melupakan dengan siapa aku berada.

__ADS_1


"Yu, kamu gak apa-apa?" tanya Diana langsung memelukku setelah menyimpan dengan pelan tas belanjaan kami ke lantai basement.


Tercekat, tangisku ini hanya di tenggorokan, tidak mau keluar lagi. Semua apa yang ingin aku katakan tidak bisa aku katakan kepada sahabat ku ini.


"Yu, nangis aja, Yu. Nangis aja gak apa-apa." Diana mengelus punggungku dengan lembut. Dia pun sama terisak tapi tidak hebat seperti aku.


Aku tidak tahan lagi. Semua rasa yag ada di dalam dadaku ini aku tumpahkan saja di dalam pelukannya.


"Aku gak tahan, Di. Aku gak tahaaannn!" tangisku pecah. Kupukul dada ini dengan cukup keras. Rasanya ingin menumpahkan dan mengeluarkan rasa yang ada di dalam sini keluar, membuangnya ke selokan hingga bermuara di tempat yang jauh dan tidak pernah kembali lagi.


"Nangis aja, Yu. Aku masih disini buat temenin kamu," ucapnya dengan sedih.


"Dia sudah keterlaluan! Dia sudah ... Sudah ... Arghh ... Aku ... huhuuuu ...." Aku tidak sanggup lagi bicara apa-apa, semua yang ingin aku bicarakan tidak bisa keluar dari mulut ini. Suaraku tercekat di tenggorokan.


"Nangis aja dulu. Nanti kalau kamu sudah tenang, kamu cerita ya," ucapnya.


***


Astagfirullah, kok nyesek sampe ngetik aja penuh emosi


🤧🤧🤧


Maaf, ya. Beberapa part terakhir drama banget, sumpah.

__ADS_1


Maaf ya untuk para readers, Othor bukan gak peduli dengan saran dan juga kritikan kalian. Peduli kok, saran dan kritik dibaca kok, tapi Othor punya jalan cerita sendiri.


Ada yang bilang ini cerita mbulet muter kayak ikan terbang, emang bener, iya, othor juga kadang merasa, tapi kalau loncat langsung ke ending apa ya seru dengan konflik yang gak sempurna? Gak suka boleh skip. Gitu aja wess, stay calm sama othor ini mah 😎.


__ADS_2