
Semenjak sore itu aku menolak dia, rasanya aneh sekali hati ini. Aku masih bertahan di tempat kerja milik Arga, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa mencampur baur masalah pekerjaan dengan persoalan hatiku.
Sudah dua minggu semenjak itu dan aku belum bertemu lagi dengan dia. Rasa hati ada rindu tapi juga mengelak untuk meyakinkan rasa yang aku sebut rindu tersebut.
Semenjak itu aku juga meyakinkan jika aku dan Arga memang tidak bisa punya hubungan apa-apa, baik itu pada Ibu atau orang-orang di kantor.
Seringkali, gara-gara Arga yang mendekatiku di kantin tempo hari, orang lain berpikir aku ada hubungan dengan pemilik RC ini. Terkadang menyebalkan sekali, mereka kira aku masuk ke RC karena koneksi orang dalam yang merupakan bos sendiri, padahal aku datang melamar seperti yang lainnya dan melewati proses yang sama juga seperti yang lain.
Tak jarang tatapan sinis diberikan oleh beberapa orang karyawan yang ada di sini, tapi aku tidak peduli. Memang aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Arga atau Eka ini.
Aku tidak menghitung berapa hari aku tidak bertemu dengan Gara, rasanya kangen juga dengan anak itu. Akan tetapi, aku harus mencoba untuk melupakan dia. Jalan terbaik untuk kami semua.
*Maafkan Tate, Gara. Ternyata Tante mem*ang tidak bisa jadi Ibu Gara, batinku dalam hati.
Senyum anak itu selalu terbayang, apalagi saat dia mengatakan agar aku berjanji untuk jadi ibunya. bayangan itu selalu aku tepiskan agar aku tidak terlalu memikirkan dia.
Ah, Gara. Sedang apa kamu, Nak?
"Mbak Ayu!" Desi mendekat ke arahku dengan wajah yang terlihat panik. Dia menyodorkan hpnya padaku.
"Ada apa?"
"Ini ... ada telepon dari Pak Eka," ucap Desi seraya memberikan hpnya.
"Hah?" Aku malah terdiam.
"Anu ... hp Mbak Ayu tidak bisa dihubungi. Ini ... Pak Eka sedang ada di rumah sakit," ucap Desi lagi.
Mendengar kata rumah sakit, pikiranku jadi terbayang akan sesuatu yang buruk. Ada apa dengan Arga? Apa yang terjadi? Apa dia sakit?Kecelakaan? Atau ... Apakah terjadi sesuatu dengan Gara?
__ADS_1
Dadaku tiba-tiba berdebar tidak karuan. Aku mengambil hpku di dalam tas. Mati!
Ah, sial sekali! Sepertinya semalam setelah aku mengetik dari hp aku lupa mengisi daya baterai.
"Mbak Ayu. Ini!" Desi berbicara lagi sambil terus menyodorkan hpnya. Gegas aku mengambil hp itu dan menyapa Arga.
"Ha-halo? Arga?"
"Ayu, bisakah kamu pergi ke rumah sakit sebentar? Sopir sudah aku suruh untuk menjemput kamu di kantor," ucap pria itu sedikit panik.
"Ada apa? Kamu kenapa, Ga? Apa yang terjadi?" tanyaku dengan cepat penuh rasa khawatir. Bayangan buruk terlintas di kepala tentang keadaan Arga.
"Aku tidak apa-apa. Tapi ... Ibu kamu, Yu. Ibu kecelakaan," ucap Arga lagi. Aku refleks bangkit dari duduk, terkejut dengan apa yang Arga sampaikan barusan.
"I-Ibu? Kok bisa? Bagaimana bisa?" tanya ku lagi pada Arga.
"Aku sedang mengantar Ibu kontrol, dan aku lihat Ibu kamu di dorong masuk ke rumah sakit dengan kepala terluka. Kamu segera datang ke rumah sakit, ya. Ibu belum sadarkan diri," ucap pria itu.
"Ayu!" teriak Arga.
"I-iya. Aku akan ke rumah sakit sekarang!" ucapku.
Desi, Nina serta Amar menatapku dengan bingung dan juga iba melihat aku yang sudah berderai air mata. Ku kembalikan hp milik Desi.
"Mbak Ayu, apa yang terjadi Mbak?" Desi bertanya dengan khawatir.
"I-Ibu ... A-aku harus ke rumah sakit, Des. Bisa kan kamu handle kerjaan aku sebentar?" tanyaku pada Desi. Desi menganggukkan kepala. Aku segera mengambil tasku dan melangkah pergi.
"Mbak, mau aku antar?" Amar menawari.
__ADS_1
"Gak perlu. Ada sopir Arga sedang dalam perjalanan," ucapku lalu kembali melanjutkan langkahku ke lantai bawah. Beruntung ruangan yang ada di sini hanya berlantai dua, hingga aku tidak terlalu lelah untuk menuruni tangga. Dengan langkah yang cepat aku terus berlari turun.
"Akh!" Aku terjatuh karena tidak hati-hati saat menuruni tangga, padahal hanya tinggal beberapa turunan tangga lagi hingga aku sampai di lantai bawah. Tanganku sakit menahan bobot tubuh, tubuh bagian belakang juga sakit akibat terjatuh dengan keras pada tangga tersebut.
Kaki yang sakit tidak aku hiraukan, aku segera bangkit dan kembali berlari ke arah luar meski dengan terpincang menahan kesakitanku. Sapaan dari beberapa orang yang berpapasan juga tidak aku hiraukan sama sekali.
Sebuah motor berwarna hitam baru saja masuk dari gerbang dan berhenti di dekatku. Baru aku lihat wajah orang itu dengan jelas setelah ia membuka kaca helm tersebut.
"Ayo, Mbak!" serunya seraya memberikan helm lain padaku. Aku segera duduk di atas motor dan memakai helm setelah motor itu melaju dengan kecepatan yang lumayan.
Selama perjalanan aku tak henti menitikkan air mata. Kenapa juga hpku harus mati? Kenapa juga Ibu harus ke luar rumah? Kenapa dan kenapa yang ada di kepalaku kini. Merasa diri anak yang tidak berbakti kepada Ibu hingga Ibu terluka seperti ini.
Hujan mendadak turun dengan cukup deras saat kami sedang ada di perjalanan. Baru aku sadar kalau ini bukan jalan menuju rumah sakit tempat biasa Ibu berobat.
"Mbak, kita berhenti pakai jas hujan, ya?" teriak pria yang memboncengku. Aku menurut saja.
Kami meneruskan melanjutkan perjalanan setelah memakai jas hujan.
Kami telah sampai di rumah sakit. Sopir pribadi Arga menurunkanku di depan lobi rumah sakit, segera aku berlari ke arah resepsionis untuk bertanya.
Tas dan sepatu ku tenteng di tangan. Pakaian yang basah dan tatapan orang lain tidak aku hiraukan, terserah mereka akan berpikir apa karena aku berlari tanpa mengenakan alas sepatu. Aku hanya ingin bertemu dengan Ibu secepatnya.
"Arga!" Aku berseru saat melihat pria itu duduk di luar ruangan. Sikut tertopang di kedua lututnya, jari jemarinya saling bertautan satu sama lain menahan dagu lancip pria itu.
Arga menoleh setelah mendengar panggilanku. Dia langsung berdiri dan menatapku dari atas hingga ke bawah.
"Kamu basah," ucap pria itu, lalu membuka jas hitamnya dan menyampirkannya di kedua pundakku. Aku mengusap tetes hujan yang membuat basah jilbab ku.
"Ibu di mana?" tanyaku tanpa menghiraukan dia.
__ADS_1
"Di dalam." Tunjuk Arga ke ruangan yang ada di belakangku. Aku segera masuk ke dalam sana dan menghambur memeluk Ibu yang terlihat sedang tidur.