
Aku keluar dari rumah itu dengan senyum tersungging di bibir. Sepertinya memang aku tidak salah pergi ke rumah ini dan bertemu dengan Hana. Ada untungnya juga Mas Hilman tidak ada di rumah, jadi aku tidak perlu beradu mulut dengan dia.
Perlahan aku lajukan motorku meninggalkan rumah itu, tidak ku lirik lagi Hana yang kini menatapku dari ambang pintu.
Aku sudah kembali ke rumah menjelang sore hari. Ibu sudah menungguku dengan cemas. Ibu menyambut saat motor aku matikan di teras samping rumah.
Dengan cepat Ibu mendekat ke arahku dan bertanya, "Kamu dari mana saja?" tanya Ibu dengan nada khawatir.
Aku tersenyum pada Ibu dan mengusap lengannya dengan lembut.
"Ayu tadi dari kantor langsung ke rumah, ambil baju," ucapku kepada Ibu. Ibu menatap kantong besar yang ada di bawah kakiku, lalu beliau berteriak untuk memanggil Sinta. Tak lama gadis itu keluar dari dalam rumah sambil membawa sapu yang dia pegang. Dia menyimpan sapu itu, menyandarkan pada dinding dan segera berlari ke arahku.
"Tolong bawa ini ke kamar Mbakmu ya, Sin." Perintah Ibu pada Sinta. Ibu memang begitu selalu membahasakan aku ini Mbaknya Sinta, tapi aku senang karena Sinta juga tidak keberatan. Sinta yang hanya anak perempuan satu-satunya di keluarganya memang inginkan kakak perempuan. Dan aku juga tidak punya adik maupun kakak, membuat aku juga menyayangi Sinta seperti adikku sendiri.
"Iya, Budhe," ujar Sinta lalu membawa tas berisi pakaianku ke dalam rumah.
"Tadi Ibu telepon kamu kok gak diangkat? Ibu khawatir, loh," ujar Ibu seraya berjalan di sampingku.
__ADS_1
"Oh, tadi itu? Pas aku di kantor, Bu. Aku mau telepon balik Ibu, tapi sudah ada petugas yang panggil tadi," ujarku mengingat kala tadi siang, saat aku mengambil hp dan tak sengaja menabrak Arga.
"Gimana urusan kamu?" tanya Ibu. Kini kami berdua duduk di sofa. Aku menggelengkan kepalaku dengan pelan seraya menatap Ibu.
"Apa gak bisa?" tanya Ibu lagi kepadaku.
Sekali lagi aku menggelengkan kepala. "Gak bisa, Bu. Katanya tetap harus ada buku nikah," jawabku. Ibu menatapku iba. Seperti sedang ikut bingung dengan masalah yang menimpaku ini.
"Makanya tadi Ayu pergi ke rumah, tadinya mau menemui Mas Hilman, tapi Mas Hilman gak ada. Jadi Ayu ketemu sama Hana," terangku.
"Gak apa-apa. Justru Ayu datang kesana dengan itikad baik, kok. Siapa tau dia mau bantu Ayu untuk carikan buku itu dari Mas Hilman," ujarku pada Ibu.
"Kalau dia tidak juga bawakan, Ayu ada cara lain, Bu." Ibu menatapku dengan bingung.
"Cara apa?" tanya Ibu.
"Tadi Ayu bertemu dengan seorang teman lama, gak sengaja bertemu di kantor sana. Dan dia bilang kalau buku nikah gak ada, bisa mengajukan surat kehilangan pada kepolisian untuk mendapatkan buku nikah baru dari KUA." Aku menerangkan selanjutnya pada Ibu, tentang apa yang Arga tadi katakan dan juga apa yang aku rencanakan selanjutnya. Akan tetapi, aku tidak menjelaskan jika orang yang bertemu denganku itu adalah Arga.
__ADS_1
"Bagus kalau begitu. Syukurkah kalau memang ada cara lain untuk dapatkan buku itu kembali, Yu. Ibu seneng jalan kamu gak sesulit yang Ibu bayangkan," ucap Ibu dengan mengelus dadanya.
"Doakan yang terbaik saja, Bu." Pintaku pada Ibu.
***
Aku dan Sinta sedang menonton tv, sedangkan Ibu sudah sedari tadi terlelap. Sudah beberapa hari ini memang kami selalu tidur agak larut, selain aku yang sambil mengerjakan naskahku, Sinta juga mengerjakan tugas kuliahnya. Tv hanya sebagai teman agar tak sepi saat kami sedang mengerjakan tugas masing-masing.
Meskipun aku ada disini, Sinta juga seringkali menginap dan tidur di kamar tamu. Alasannya karena di rumah ini aku memasang WiFi. Dia bilang lebih hemat dan mubazir jika WiFi di rumah ini tidak ada yang menggunakan. Tugas dia sangat banyak, mengingat tahun ini adalah tahun terakhirnya mengenyam bangku kuliah. Tugas yang banyak dan juga dia butuh ketenangan. Jika mengerjakan di rumahnya, selain tidak ada WiFi, juga adik-adiknya yang keduanya laki-laki selalu saja ribut, jarang sekali akur hingga Sinta seringkali curhat dan mengeluh pusing dengan kelakuan kedua adiknya.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar dengan cukup keras. Aku tidak tahu siapa orang yang bertamu di jam yang hampir merangkak ke jam sembilan ini, tapi dia sudah tidak sopan dengan datang dan membuat rusuh di depan pintu rumah kami.
"Biar aku bukakan, Mbak." Sinta beranjak bangkit dan menyimpan laptopnya dia atas meja. Aku urung bangun karena dia sudah lebih dulu berdiri. Kuacungkan satu jempol kepadanya tanpa berbicara, karena mulut ini sedang sibuk dengan cemilan. Kulanjutkan kembali pekerjaan ku yang beberapa hari ini agak terbengkalai.
Dengan mengerahkan segala kehaluanku atas tokoh bucin yang ada di dalam cerita, kini aku bisa menuangkan semua pikiranku kedalam tulisan. Lumayan, pundi-pundi rupiah sudah masuk ke dalam akunku. Awal bulan besok aku akan melakukan penarikan untuk yang ketiga kalinya.
"Tadi kamu sama siapa, Ayu?!" teriak suara yang sangat aku kenal. Lenganku terasa sakit saat tiba-tiba saja pemilik suara itu menarik lenganku dengan sedikit kasar.
__ADS_1