Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
265. Bayi Yang Haus


__ADS_3

"Kalau kalian bercinta, apa kamu gak pernah meny*su? Gak pernah rasakan ada airnya atau tidak?" tanya ibu dengan menatap Arga tajam.


Yang ditatap hanya diam dan menunduk malu. "Eh, anu ... itu ...."


"Bu, kok tanya yang kayak gitu sih? Ibu ini malu ah," ucapku dengan sama berbisik takut jika bisa saja terdengar oleh Gara meski kini telinganya ditutup seperti itu.


"Ya, kan Ibu cuma tanya aja, Yu. Kok bisa sampai gak ada airnya, apa tidak pernah latihan sebelumnya? Biar lancar gitu keluar airnya," ucap ibu yang membuat aku dan Arga semakin malu.


"Ih, Ibu ini kok nanya yang kayak gitu, sih. Apa ngaruh keluarnya ASI sama yang ibu maksudkan?" tanyaku, serasa tidak masuk akal saja apa yang ibu katakan barusan itu.


"Ya ngaruh, Yu. Kata orang tua zaman dulu kan harus sering gitu dipancing," ucap ibu lagi.


Arga melemparkan pandangannya ke arah lain, aku tahu dia tidak nyaman dengan pembahasan ini, wajahnya kini memerah seperti tomat.


"Ya sudah lah, Bu. Kan katanya ada yang gak keluar air ASI, mungkin aja ini cuma macet aja," ucapku lagi.


Ibu terdiam sebentar. "Tapi di keluarga kita gak ada tuh yang ASI nya macet seperti ini, semua saudara Ibu lancar jaya ASI nya."


"Gak tau deh, Bu. Jangan bahas soal ranjang deh, mungkin memang lagi macet aja," ucapku. "lagi pula ini sakit kok di sini, kalau kata Dokter Ayu ada ASI nya kok," ucapku sambil menekan sekitaran dada. memang rasanya sedikit linu, sedikit penuh juga tidak seperti sebelum hamil.


Ibu melepaskan telapak tangannya dari telinga Gara, menghela napas dengan sedikit kasar. "Bagaimana ya? Biasanya sih pakai madu, oles di bibirnya," ucap Ibu. "Masalahnya ibu gak tau kalau untuk bayi yang prematur boleh atau engga," ucap ibu lagi.

__ADS_1


Kami terdiam, sedikit bingung dengan apa yang akan kami berikan pada si bayi yang belum resmi diberikan nama.


"Aku cari dokter dulu, deh." Arga kini pergi dari ruangan itu. Gara masih menatap adiknya yang menangis, kali ini tangisan itu tidak lagi kencang, lidahnya keluar seperti mencecap sesuatu. Aku kasihan kepadanya, kini hanya bisa mendekat dan mengelus kaca tempatnya tidur.


Tak berapa lama, Arga kembali, dia mengambil dompet dari meja di sampingku.


"Aku beli susu dulu, ada susu khusus bayi prematur. kira-kira apa lagi ayng dibutuhkan? Biar sekalian aku beli," ucapnya lagi.


"Palingan botol, Ga. Termos kecil kalau ada, untuk jaga-jaga kalau malam nanti dia haus," ucap ibu memberi tahu.


"Cuma itu, Bu?"


"Iya, cari botol dengan karet yang ukurannya paling kecil. kasihan kalau karet dot nya besar nanti gak masuk ke dalam mulut," ucap Ibu lagi. Arga mengangguk paham, lalu dia pergi dengan cepat dari ruangan ini.


Ibu menghela napasnya lagi saat putraku mencoba untuk mengkonsumsi ASI.


"Kasihan, kebesaran itu jadi dia gak bisa nyedot," ucap Ibu membuat aku malu.


"Kok bisa besar, ya? Padahal selama ini kecil loh, Bu."


"Ya, mana ibu tahu, yang tau kamu dan ayahnya anak-anak," ucap ibu lagi.

__ADS_1


"Apa, Nek? Apa yang Mama tau dan Papa tau?" tanya Gara dengan polosnya. Ibu mengatupkan mulutnya. Meringis tersenyum manis ada Gara, keceplosan mengatakan itu.


"Eh, tidak. Tidak ada, Abang." Ibu mencoba untuk meyakinkan Gara.


Gara kembali menggoda adiknya yang masih menangis dan aku memilih tidak memaksakan memberikannya lagi. Bingung juga jika mulutnya terlalu kecil.


"Dedek jangan nangis, nanti Papa akan segera pulang bawa susu buat dedek," ucap anak itu sambil mengusap tangan adiknya yang kecil.


"Memang dedek cuma dikasih susu aja ya, Ma? Gak dikasih minum air?"


"Enggak, Sayang. Dedek cuma minum ASI aja, gak dikasih makan atau minum yang lain," ucapku.


"Tapi kasihan dedek, Ma. Kasih susu punya Abang aja dulu, sambil nunggu papa pulang ke sini," ucap anak itu lagi.


Aku dan ibu tertawa. Melihat kasih sayang Gara pada adiknya membuat aku senang. "Dedek gak bisa membuat minum susu punya Abang, nanti sakit perut, kan ada khusus yang buat bayi. Gak boleh punya Abang dikasih dedek," terangku padanya. Mulutnya kini membulat menyuarakan O dengan panjang.


"Papa kok lama sih, mana Dedek nangis terus lagi."


Aku juga berharap Arga cepat kembali, entah di mana dia membeli susu tersebut, tapi harus ya tidak jauh karena dia tidak membawa kunci mobil.


Sampai Arga kembali, bayi yang ada di pangkuanku telah terlelap beberapa menit yang lalu. Kasihan memang dia kehausan, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Hanya bisa menggendongnya dan menimangnya sampai dia tertidur.

__ADS_1


*******


Maaf, jika ada kesalahan di bab ini dan sebelumnya. Cerita ini pure pemikiran Othor sendiri, mungkin kurang banyak detail dalam menggambarkan rumah sakit ✌️


__ADS_2