
Aku sudah berpikir untuk memperbaiki hidupku. Apa yang bisa aku lakukan lagi jika bukan berusaha dengan semaksimal mungkin? Sudah hampir empat malam ini aku merenung dan aku rasa telah menemukan jawabannya.
Hari ini aku mengambil uang di ATM, bank tutup karena ini hari minggu. Dengan memakai angkutan umum aku pergi ke sebuah showroom motor terdekat dan juga termurah yang ada di kota ini.
Bismillah, semoga ini jadi jalan pembuka rezeki ku, batinku di dalam hati sambil menatap showroom jual beli motor baru dan bekas.
Aku mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam sana, seorang karyawan yang melihatku membukakan pintu kaca, mempersilakan untuk masuk ke dalam sana.
"Silakan, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" Dia bertanya.
"Saya cari motor, Mas. Mau lihat dulu, ya," ucapku padanya. Dia mengangguk dan mempersilakan aku untuk masuk ke dalam sana.
"Motor baru atau bekas, Mas?" tanyanya dengan ramah, aku mengedarkan pandanganku ke arah motor-motor yang ada di sana, masih tanpa plat yang menandakan jika motor ini masih baru.
Motor baru ada di dalam sedangkan yang bekas ada di sebelahnya, tapi masih satu nama dengan toko ini.
"Motor bekas, sih," jawabku. Dia mengangguk lalu seorang pria yang lain datang mendekat, dengan pakaian kemeja putih dan rapi, aku kira mungkin ini manajer yang bertanggung jawab dengan tempat ini. Dia bertanya kepadaku perihal kebutuhanku ke sini, aku katakan saja apa perlu ku.
Uang yang ada di dalam dompetku sekitar dua belas juta, sebenarnya masih ada sisa dari pembayaran utang ibu waktu itu di dalam ATM, alih-alih motor baru, aku tidak tega membelinya karena masih bingung dengan urusan Vita, jangan sampai uang tersebut habis dan aku akan kebingungan jika ada suatu hal dadakan yang berhubungan dengan uang.
"Oh, harga segitu ya? Ada, mari ikut saya," ucap laki-laki itu setelah aku menyebutkan nominal uang yang aku bawa. Dia menunjuk dengan sopan ke arah pintu samping. Motor baru yang ada di ruangan itu aku lihat, menyentuhnya dengan telapak tanganku seraya bersholawat. Semoga suatu saat nanti aku bisa membeli yang lebih baik, salah satu dari deretan motor di ruangan ini. Aamiin.
Di ruangan sebelah aku di suguhkan dengan banyak motor bekas, dari yang mulai harga termurah hingga termahal di sana. Laki-laki yang mengantarku ini menunjuk beberapa motor dengan kisaran harga yang aku maksudkan.
Aku melihat dan banyak bertanya, tentang harga pasti dan juga melihat pada plat nomornya, pajak lima tahunan dari motor tersebut. Tidak mau rasanya baru bawa pulang dan beberapa bulan kemudian harus keluar uang untuk membayar pajak tersebut. Kalau bisa juga pemiliknya yang terdahulu alamatnya tidak terlalu jauh dari sini agar aku bisa meminjam KTP nya saat membayar pajak tahunan nanti.
__ADS_1
Akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada sebuah motor matic berwarna putih biru, matic saja agar memudahkan untuk bekerjaku nanti, juga untuk kenyamanan Vita jika aku bawa dia berjalan-jalan di luar.
Pembayaran sudah dilakukan. Garansi yang diberikan oleh showroom tersebut juga satu minggu setelah motor dibawa pulang. Jika ada kendala dengan mesinnya, pihak showroom akan bertanggung jawab dan memperbaikinya.
Motor aku bawa pulang, ibu yang sedang berada di teras melongo melihat aku yang baru saja masuk melewati pagar. Terdiam dengan mulut yang terbuka, takjub.
"Itu motor siapa?" tanya ibu, dia berdiri dan mendekat ke arahku. Motor aku parkirkan di halaman samping rumah.
"Man, motor siapa ini?" tanyanya lagi.
"Motor Hilman, Bu."
"Hah? Kamu beli motor lagi?" tanya ibu dengan terkejut. Vita dari depan pintu berdiri dengan berpegangan pada kursi rotan, susah payah merambat demi ingin mendatangiku. Aku melewati ibu dan mendekat pada putri kesayanganku. Mencium pipinya dengan gemas.
"Ini motor kamu?" tanya ibu lagi, motor bagus itu dielus dan dilihat dengan seksama.
"Mau," ucapnya dengan jelas sambil mengangguk senang. Vita memang belum bisa berbicara dengan baik, tapi beberapa kata bisa dia ucapkan dengan sangat jelas sekali.
"Kamu kok beli motor lagi? Katanya uang gak boleh dipake, tapi kamu beli motor baru." Terdengar suara ibu yang protes.
"Hilman beli motor juga buat usaha, Bu. Mau ngojek," ucapku.
"Ngojek? Kamu mau ngojek? Apa kata orang nanti kamu ngojek, Man?" tanya ibu semakin protes.
Aku tidak menatap ibu, lebih fokus pada Vita yang kini memainkan hp milikku.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau Hilman ngojek sih, Bu? Kemarin aja anaknya jadi tukang parkir sama kuli angkut pasar Ibu gak protes," ucapku masih tenang.
"Ya, itu kan kemarin, Man. sekarang kamu kan sudah punya nama, kerja di pabrik jadi mandor," ucap ibu lagi.
"Tetep aja namanya masih sama, Bu. Kuli. Apa bedanya? Kerja sama-sama si bawah tunjuk orang kok."
"Man–."
"Sudah, jangan banyak protes, Bu. Emang apa salahnya kalau Hilman ngojek? Toh, banyak juga yang pulang kerja sambil ngojek kok. Lumayan buat tambahan. Apalagi kehidupan kita begini aja. Hilman butuh tambahan buat nikah lagi," ucapku asal.
"Hah? Kamu mau nikah lagi? Sama siapa? Kok Ibu gak tau?" tanya ibu, kini langkah kakinya cepat dan kasar mendekat ke arahku, mendudukkan dirinya di kursi rotan yang ada di sampingku. Ibu menatap ku dengan tajam sedangkan aku mengalihkan tatapanku pada Vita.
"Ya, siapa aja, Bu. Kan Hilman juga gak mungkin selamanya akan hidup sendiri, Hilman gak mungkin gak kasih Vita kasih sayang seorang ibu. Dari neneknya doang mah kurang perhatian dia," ucapku dengan santai pada ibu.
"Sama siapa?" tanya ibu lagi. "Kok kamu gak kasih tau Ibu sebelumnya? Kamu gak anggap Ibu, hah?" tanya ibu dengan emosi.
Kali ini aku menatap ibu. "Kan Hilman bilang suatu saat nanti, Bu. Bukan sekarang," ucapku.
Ibu sepertinya masih belum puas dengan jawaban yang aku berikan. "Iya, tapi siapa? Kamu sudah punya calon?" tanya ibu, bukan antusias, tapi seperti sedang melakukan protes.
"Belum tau, tapi Hilman ada kepikiran buat nikah lagi makanya Hilman mau kerja sambil ngojek juga biar bisa ngumpulin buat nikah Hilman nanti," ucapku dengan santai.
"Terus, kamu mau tinggal di mana nanti? Kamu gak akan tinggalin Ibu kan?" tanya ibu, dari nada suaranya terdengar mulai khawatir.
"Tergantung, kalau Ibu bisa terima calon istri Hilman nanti dan ibu gak ikut campur soal pernikahan Hilman, tentu Hilman gak akan jauh dari Ibu."
__ADS_1
Ibu kini terdiam. Sebenarnya kasihan juga, tapi jika aku tidak memberikan ultimatum seperti ini kepada ibu, apakah ibu nantinya akan mengerti? Jelas aku tidak mau menjadi duda untuk ketiga kalinya. Eh, aku ini duda satu kali atau dua kali sih?