
Aku senang mendengar yang Ibu ucapkan barusan. Akhirnya Ibu merestui hubungan aku dan juga Arga. Eh, hubungan apa? Kami belum meresmikan apapun sebelum ini. Hehe.
Ralat. Hubungan kami yang masih belum terjadi dan memasuki jenjang apa-apa.
Segera aku pergi ke kamar setelah Ibu tidur. Tidak sabar rasanya menunggu Ibu terlelap dan segera menghubungi Arga, memberitahukan kepadanya jika akhirnya Ibu setuju.
"Halo," sapaku setelah mendengar suara Arga di seberang sana.
"Iya? Ada apa, Yu? Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Arga, terdengar nada khawatir yang aku dengar dari sana. Entah apa yang pria itu pikirkan sehingga setiap kali aku menelepon yang aku dengar adalah pertanyaan tentang kesehatan Ibu pertama kali keluar dari mulutnya.
"I-Ibu ... baik," jawabku. Rasanya deg-degan juga hari ini. Debaran di dalam dada semakin lama semakin kencang aku rasakan saat ingin mengatakan hal itu.
"Terus? Ada apa kamu hubungi aku?" Kali ini terdengar nada yang bingung.
"Itu ...."
"Apa?" tanya Arga sekali lagi.
"A-aku ... itu ..." Ah! Bodohnya kaku sampai tidak bisa mengatakan apa-apa sekarang ini!
"Iya, kamu kenapa?" tanya Arga tak sabar.
Aku hanya bisa membuka dan menutup mulutku tanpa bisa bicara sama sekali. Tangan dan kaki sudah bergerak dengan gelisah terasa panas dingin, padahal aku hanya harus bicara saja menyampaikan kabar yang baik pada dia.
"Apa sih? Jangan bikin aku penasaran, deh!" Dia mulai terdengar kesal. Seru suara teriakan Gara terdengar seperti sedang mengajak Arga bermain, terdengar teriakan Gara berseru 'dor-dor' di sana.
"Kamu sedang sibuk, ya?" tanyaku.
"Ah, tidak. Hanya sedang menjaga Gara saja. Ada apa sih?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Oh. Itu ... tidak apa-apa sih. Kita bertemu bisa?" tanya ku akhirnya.
"Boleh, di mana?"
"Cafe atau taman tidak masalah." Aku menjawab, tapi malah menyuruh dia untuk memilih. Aduh! Kenapa aku mendadak bodoh seperti ini?
"Haha, kamu tuh aneh ya. Oke, deh. Kamu maunya di mana terserah. Aku menurut saja, tapi kalau lebih bagus di cafe saja sih atau restoran. Sekalian makan malam nanti bagaimana? Tunggu Gara tidur dulu, takut dia gak mau pulang kalau ketemu kamu," bisik Arga pada kalimat terakhir.
Aku tersenyum mendengar bisikan seperti itu jadi membayangkan jika Arga sedang melirik Gara dan menutup mulutnya, agar tidak terdengar oleh sang putra.
"Oke, terserah kamu saja deh."
"Aku jemput?" tanya suara itu lagi saat aku akan mematikan telepon.
"Tidak perlu. Aku jalan sendiri."
***
"Hati-hati," ucap Ibu dari tempatnya saat aku berpamitan. Ibu tengah menonton tv, menunggu sinetron kesukaannya yang sebentar lagi akan tayang.
"Cieee, yang mau ketemu calon!" seru Risma menggoda, alisnya naik turun dengan senyum seringai di bibirnya.
"Haha, jangan iri ya ...."
Aku tak kalah dari dia, balik mengganggunya hingga membuat Risma memanyunkan bibirnya.
"Salam sama Mas Ganteng dari Risma ya, Mbak." Anak itu berseru saat aku menuju pintu. Aku hanya melambaikan tangan dan segera pergi dari sana.
Cafe yang aku tuju tidak terlalu jauh dari rumah, jaraknya hanya sekitar dua puluh menit saja. Aku menolak untuk kami bertemu di restoran karena aku pernah masuk ke dalam sana saat bersama dengan Mas Hilman dan merasa tertekan dengan etika yang harus aku lakukan di sana. Apalagi saat yang Arga sebut adalah restoran ternama. Meski adab makanku cukup baik, tapi aku takut dan tidak ingin membuat Arga malu.
__ADS_1
Cafe yang dipilih Arga tidak terlalu jauh dari rumah, itu dikarenakan pria itu khawatir jika aku pergi terlalu jauh. Padahal, aku sudah biasa bepergian sendirian, apalagi jarak dari rumah ke kantor juga membutuhkan waktu lebih dari satu jam perjalanan.
Sampai di depan cafe, aku lihat Arga menunggu di luar sana. Penampilannya terlihat berbeda dari apa yang selama ini aku lihat. Tidak ada jas dan celana bahan, sepatu hitam mengkilat dan tas kerja, rambut klimis yang kaku, dan juga sikap sempurna dia sebagai seorang atasan. Kali ini dia memakai kaos berwarna putih dengan jaket hitam, baju lengannya dia singkapkan setengah, jeans hitam dan sepatu sport berwarna putih, rambut yang terkesan berantakan, tapi malah membuat dia jadi terlihat lebih sangat muda. Seakan aku melihat Arga lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Ada rasa hangat saat pria itu berdiri di luar dan tersenyum saat aku menghampirinya.
"Akhirnya kamu sampai juga. Aku khawatir kamu di jalan," ucap pria itu.
"Aku sudah biasa di jalan sendirian. Aku kira kamu menunggu di dalam."
"Bagaimana aku akan menunggu di dalam, kalau wanita yang aku tunggu sedang di jalan mengendarai motor sendirian?" jawabnya.
Ah, Arga. Kenapa mendengar ucapan kamu ini membuat aku tersentuh? Mas Hilman saja jika pulang bekerja dan menungguku di cafe, dia sudah menghabiskan satu gelas kopi di atas meja saat aku sampai.
"Ayo, masuk. Kakiku sudah pegal nunggu kamu sedari tadi," ucap pria itu lagi.
Kami masuk ke dalam cafe dan memilih duduk di kursi yang ada di dekat jendela besar. Jalanan dan kendaraan terlihat jelas dari dalam sini, pejalan kaki yang melintas di trotoar hilir mudik lewat dengan aktifitasnya masing-masing.
"Apa yang mau kamu pesan?" Arga bertanya setelah pelayan datang dan memberikan menu.
"Kamu pesankan apa saja terserah."
Arga menatap padaku sejenak, lalu beralih pada menu yang ada di sana. Bibirnya mengerucut dengan kening berkerut. Dia kemudian menunjuk pada kertas menu yang ada di tangannya, pelayan itu segera menuliskan pesanan.
"Aku pesan makanan yang dulu sering kita makan," ucap pria itu. Aku berpikir sejenak, yang dulu kami makan sangatlah banyak, karena aku tidak pernah memilih-milih makanan.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Dia bertanya dengan senyuman lembut tercetak di bibirnya.
Aku menunduk. Tidak akan aku menatapnya. Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksinya.
__ADS_1
"Sebelumnya aku mau minta maaf, Ga."
"Ibu ... Ibu bilang sama aku kalau Ibu sedang menunggu seseorang untuk datang mengkhitbah aku."