
Kembali pada Ayu.
...***...
Kesehatan Mama akhir-akhir ini sedang menurun, seringkali mama pulang pergi ke rumah sakit karena sakitnya itu. Selama hampir empat hari ini mama di rawat inap di rumah sakit. Aku juga ikut disibukkan dengan mengurus mama sesekali meski Arga melarang ku untuk pergi. Tidak baik katanya di saat kehamilan ku yang sudah mulai membesar keluar masuk rumah sakit seperti ini. Akan tetapi, rasanya tidak tega juga melihat ibu mertuaku dirawat di sana.
Lelah, pasti. Akan tetapi, mau bagaimana lagi. Aku juga tidak mau dianggap sebagai menantu yang tidak berbakti kepada ibu mertua. Apa lagi mama selalu memanggilku Haifa dan Haifa. Jika memang ini yang menjadi kebahagiaan mama aku pun tidak apa, sudah rela jika aku di mata mama adalah Haifa meski Arga dan Gara seringkali mengingatkan mama jika aku bukan lah dia.
Aku baru saja pulang dari rumah sakit menjelang sore, tadi siang Mbak Nira menghubungi jika mama tidak mau makan sama sekali dan terus memanggilku. Sebenarnya aku lelah, kaki ini lumayan bengkak, makan ku juga belum normal hingga usia kandungan masuk ke bulan delapan. Tidak seperti saat mengandung Azka yang saat hamil besar sudah bisa makan dengan normal, kali ini aku masih belum bisa menikmati makanan dengan baik, tetap saja sering mual dan muntah. Maka dari itu kini tubuhku lumayan lemas.
"Mbak Sus, Gara kemana?" tanyaku pada Mbak Sus yang barusan menyambutku di pintu. Tidak terdengar suara anak itu yang biasanya berteriak saat melihatku pulang.
"Lagi tidur sama Azka di ruang bermain. Ibu saya buatkan teh hangat, ya?" tawar Mbak Sus, aku mengangguk dan berjalan ke arah sofa, duduk bersandar di sana dengan menaikkan kedua kaki ke atas sofa tersebut. Jelas terlihat bagaimana besarnya kakiku kini, bekas sandal terlihat jelas di sana.
"Ini teh nya, Bu." Mbak Sus telah datang dan menyimpan teh lemon hangat di atas meja. "Gimana keadaan nyonya?" tanya Mbak Sus sambil duduk di bawah, kedua tangannya terulur menyentuh kakiku.
"Jangan, Mbak. Gak usah di pijat," tolakku seperti biasa, tapi Mbak Sus seperti biasa juga tidak mendengarkan, tetap saja mengeluarkan kayu putih yang ada di saku dasternya, membalur kakiku dan memijatnya perlahan.
__ADS_1
"Gak apa-apa, lihat bengkak gini, kok sekarang lebih parah dari waktu hamil Azka ya?" tanya Mbak Sus dengan khawatir.
"Gak tau," jawabku, lalu menyuruhnya untuk duduk di atas. Mbak Sus menurut kini, duduk di samping kakiku dan terus mengurutnya dengan perlahan, terasa nyaman sekali.
"Mbak belum sempat nengok nyonya," ucapnya lagi.
"Gak apa-apa, kan di rumah juga repot ikut jagain anak-anak. Mama masih begitu aja, gak mau makan kalau gak ada saya," ucapku, lebih kepada mengeluh sekarang ini.
"Gak baik loh ibu hamil pulang pergi ke rumah sakit. Besok biar saya saja ya yang pergi, kali aja nyonya mau saya urusin," tawar Mbak Sus lagi. Aku mengangguk, nyatanya memang aku butuh istirahat. Tidak bisa di pungkiri jika aku juga butuh waktu untuk diri sendiri. Di rumah mengurusi anak-anak, lalu saat makan siang pergi ke rumah sakit sampai sore hari.
"Assalamualaikum." Terdengar suara salam dari ambang pintu, suamiku telah pulang dari bekerjanya. Terlihat wajah itu sangat lelah sekali saat masuk mendekati kami.
"Waalaikumsalam," jawab ku dan Mbak Sus bersamaan.
"Kamu kenapa, Ma?" tanya Arga saat melihat Mbak Sus yang memijat kakiku.
"Gak apa-apa."
__ADS_1
"Bengkak lagi kakinya, Pak," sambar Mbak Sus dengan cepat.
"Kamu ke rumah sakit lagi?" tanya Arga, aku mengangguk. Percuma juga jika aku bilang tidak pergi, yang Arga tahu jika di rumah aku memakai pakaian biasa dan kini yang kupakai adalah gamis dan ada tas juga di meja.
"Sudah aku bilang kamu jangan pergi ke rumah sakit. Kamu itu lagi hamil besar, aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu," ucap Arga, terdengar ada nada kesal terselip pada ucapannya barusan.
"Mama gak mau makan, Pa. Aku mau bagaimana? Gak tega dengernya kalau mama gak mau makan gitu," ucapku. Arga menghembuskan napasnya dan duduk di dekat kami, membiarkan Mbak Sus terus melakukan apa yang kini tengah dikerjakan. Jika biasanya Arga mengambil alih memijat kakiku, kini dia memilih menyandarkan kepalanya dan menatap langit-langit ruang tamu.
"Kamu kenapa, Pa?" tanyaku sedikit khawatir. Tidak biasanya wajahnya kusam seperti itu.
"Gak ada apa-apa, hanya urusan kantor. Biasa," ucapnya dengan tersenyum, tapi aku lihat senyum yang tidak biasa di sana.
"Kalau capek istirahat dulu, aku siapin air panas buat kamu mandi," ucapku yang hendak berdiri.
"Sudah, kamu di sini aja. Biar aku siapin sendiri," ucapnya lalu pergi dari hadapanku. Aku semakin heran dengan tingkahnya, tidak biasanya dia bersikap seperti ini, sedikit aneh menurutku.
Ada apa dengan dia? Aku dan Mbak Sus saling berpandangan. Mbak Sus menggelengkan kepalanya, seakan menjawab apa yang menjadi pertanyaanku barusan.
__ADS_1