
Lelah dengan pergulatan kami, kami pun tertidur tak lama setelah itu.
Tengah malam aku terbangun. Rasanya sedikit sakit di area bagian bawahku, ada sesuatu yang aneh aku rasakan, seperti sesuatu yang bergerak dengan cepat sehingga terasa dengan sangat jelas sekali.
Ingin pergi untuk mengambil air hangat ke lantai bawah, tapi rasa linu di bawah sana membuat aku mengurungkan niatku.
"Sayang," panggilku pada Arga, mengguncang bahunya dengan sedikit keras. Dia menggeliat bangun, memaksakan diri membuka matanya dengan susah payah, hampir dua jam kami tertidur, tentu saja masih lengket mata untuk terbuka.
"Ada apa, Ma?" tanya Arga padaku.
"Aku mau air hangat, tapi perutku linu. Bisa tolong ambilkan?" tanyaku meminta. Arga menganggukkan kepalanya, memutar tubuhnya, lalu turun dari atas kasur. Dia menguap sambil berjalan ke arah pintu.
"Mau makanan sekalian?" tanya Arga sebelum membuka pintu. Aku menggelengkan kepala. Tidak ingin makanan, hanya ingin air hangat seperti biasanya. Mungkin saja perutku kram lagi, seperti biasa saat aku akan menghadapi masa haid.
Tak lama Arga kembali ke kamar dengan segelas air dan sebungkus roti yang ada di tangannya, juga termos kecil yang dia jepit di antara lengan dan dada.
"Ini, di dalam termos juga ada susu coklat, kalau kamu mau makan roti sama susu," ucapnya. Aku tersenyum sambil menerima air hangat yang dia bawakan, lalu meminumnya sedikit, sisanya aku tempelkan ke perut. Hangat, nyaman sekali.
"Aku ambilkan kompres?" tanyanya lagi. Roti dan termos kecil dia simpan di nakas di samping.
"Gak usah, ini aja sudah enakan, kok."
Terlihat wajah itu sangat lelah sekali. Dia kembali naik ke tempat tidur dan memelukku dengan erat.
"Ma, kita belum honeymoon. Minggu depan berangkat, yuk!" Ajaknya.
"Emang sudah gak sibuk, ya?" tanyaku.
__ADS_1
"Enggak, sudah ekspor santai kok. Palingan tinggal bikin desain mode terbaru untuk pakaian musim semi nanti, sudah itu diserahkan kepada yang lain," ucap Arga. Dia mengelus lembut perutku. Sangat nyaman sekali.
"Memangnya mau di-ekspor kemana lagi?"
"Eropa," jawab Arga.
Aku kagum dengan suamiku ini. Bisnis ini sangat besar menurut aku yang hanya dari kalangan bawah, tidak terlalu mengerti juga dengan urusan ekspor dan sebagainya, dulu aku hanya me-rekap barang yang masuk atau keluar saja. Itu pun ada bagian khusus, bukan hanya aku saja yang pegang.
"Enak sekali, baju saja sudah sampai ke Eropa," ucapku iseng, tidak ada maksud tertentu, hanya bicara saja. Bangga dengan produk dalam negeri yang sudah merambah pasar luar negeri.
"Kamu mau kita honeymoon ke Eropa?" tanya Arga sambil menatapku. Aku menggelengkan kepala.
"Terlalu jauh, gak mau, ah," jawabku.
"Loh, gak apa-apa jauh juga, nanti kita cari pakaian punya kita dan selfie di sana, tunjukin sama orang bule tuh, 'ini loh baju yang kita bikin, buatan Indonesia," ucap Arga sambil tertawa. Aku pun sama, ikut tertawa karenanya.
"Lebay."
"Gak, ah. Boros banget. Jalan-jalan aja ngabisin uang banyak, toh, sama aja di sana juga pasti kebanyakan di kamar, kan?" tebakku. Arga hanya meringis, tersenyum dengan sangat lebar.
Aku sudah tahu niatnya, maka dari itu dia selalu saja bilang padaku jika tidak usah bawa Gara saja. Dasar laki-laki. Yang dipikirin ranjang aja!
"Ya, kan demi menebus waktu yang sudah kita buang, seharusnya setelah menikah kita pergi, tuh. Tapi karena aku sibuk aku gak bisa keluar buat honeymoon," ucapnya dengan nada bersalah.
Aku tersenyum, mengelus pipinya yang lembut dan putih. "Selesaikan dulu tugas dan kewajiban. Kamu itu pemimpin, meski iya kamu bisa lemparkan pekerjaan kamu sama orang lain, tapi kamu juga harus bertanggung jawab dengan penuh," ucapku. Dia mengambil tanganku, mencium telapak dan punggung tanganku bergantian.
"Aku bangga punya istri kamu. Tidur, yuk," ajaknya.
__ADS_1
Gelas yang sudah dingin airnya aku simpan di atas nakas, kembali kurebahkan diri ini di samping Arga dengan nyaman.
"Yuk ah, tidur. Ngobrol terus, besok bisa kesiangan. Aku ngantuk," ucapnya lagi lalu memejamkan matanya sambil tidur dengan melesakkan kepala pada leherku. Aku mengelus kepalanya dengan pelan, biasanya ini bisa membuat dia cepat tidur.
"Rasanya kok aku pengen lagi," ucapnya tiba-tiba.
"Pengen apa?"
"Yang tadi," jawabnya. Aku menepuk pipinya dengan refleks, terkejut dengannya, seperti tidak ada capeknya sama sekali.
"Sakit!" ucapnya manja sambil cemberut menatapku.
"Maaf, aku gak sengaja. lagian kamu juga, ih. Kita kan udah tadi, lama juga, memang gak puas ya, aku aja sampai sakit pinggang," ucapku sambil mengelus pipinya.
"Hehe, kalau sama kamu aku rasanya gak akan puas," ucapnya sambil tersenyum.
...***...
Pagi aku bangun dengan badan yang lumayan segar, tidak ada lagi rasa sakit di perut setelah semalam minum air hangat, dan tadi juga aku meminum air yang sedikit lebih panas. Susu yang Arga buat semalam terpaksa aku buang karena tidak terminum sama sekali, sudah dingin juga di dalam termos.
"Bu," panggil Mbak Sus, beliau asisten keluarga kami, tukang masak serta beberes rumah, berbagi tugas dengan yang lainnya.
Aku yang sedang membuatkan Arga kopi menoleh padanya. Dari kejauhan dia berlari dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa, Mbak?" tanyaku bingung, tidak biasanya beliau ini berlari seperti itu.
"Ini. Ini ...." ucapnya seraya mendekat dan menyodorkan sesuatu di tangannya.
__ADS_1
Aku terpaku ketika melihat benda tersebut dia pegang.
"Ini ...."