
Setelah kiriman bunga yang banyak itu, tidak ada lagi barang yang dikirimkan. Semua barang yang sampai di tanganku kini hanya tersimpan di dalam lemari. Tidak pernah aku pakai atau ku keluarkan dari dalam lemari. Biarkan saja, aku percaya suatu saat nanti aku akan mengetahui siapa dalang di belakang ini.
Aku mencari Ibu di halaman belakang. Ibu sedang memberi makan ayam yang sudah terlihat besar. Anak ayam yang dulu berjumlah sembilan kini hanya tinggal empat, entah yang lain kemana, Ibu bilang ada yang mati ada juga yang dimakan anjing liar.
Aku membantu Ibu membersihkan halaman belakang. Sudah banyak rumputnya, tidak terurus karena kesibukkan kami. Biar warung nanti saja lah aku buka setelah beres membersihkan semua ini.
"Yu, Ibu jadi berpikir. Mungkin saja yang kasih barang itu ustadz Zain," ucap Ibu tiba-tiba. Padahal kemarin kami sudah membahasnya. Aku bilang pada Ibu jika bukan Dokter Wira yang memberikannya.
"Bisa jadi," jawabku. Rumput yang ada di depanku ku cabut satu persatu.
"Kamu gak mau gitu punya suami tokoh agama?" tanya Ibu lagi. Aku menggelengkan kepala tanpa menoleh pada Ibu.
"Bu, kemarin kan kita sudah bahas, kenapa juga sekarang kita bahas ini lagi?" Kali ini aku menoleh pada Ibu, terlihat tatapan matanya penuh harap.
"Ibu mau aku menikah dengan Ustadz Zain?" tanyaku. Ku tatap lekat-lekat mata yang sudah sayu itu. Ibu menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Ibu dukung saja apa yang kamu mau," ucap Ibu.
Aku dan Ibu melanjutkan pekerjaan masing-masing hingga halaman belakang kini terlihat lebih rapi.
"Bu, kalau nanti Kyai datang lagi, tolong bantu Ayu ya, buat menolak mereka," pintaku pada Ibu.
"Iya, kalau memang itu yang kamu mau, Ibu akan bantu kamu," ucap Ibu lagi.
...***...
Siang sangat terik sekali, karena bangun kesiangan aku jadi terlambat pergi ke pasar. Semalam aku begadang sampai hampir pagi untuk menyelesaikan tulisanku.
Tak terasa waktu belanja tadi menjadi lama karena pasar sangat ramai oleh pembeli. Mungkin karena ini hari Minggu, banyak karyawan yang libur dan memilih belanja di pasar.
Motor ku lajukan pulang ke rumah. Ini menjadi aktifitasku rutin sebelum nanti aku bekerja. Masih sama seperti kemarin, aku belum mendapatkan pekerjaan hingga menjaga warung menjadi salah satu caraku untuk menghasilkan uang.
Debu jalanan dan asap kendaraan sudah biasa bagiku. Terkadang mengeluh juga pada Ibu, aku lelah, tapi bagaimana lagi? Harus tetap menjalani semua hal ini untuk melanjutkan hidup.
Dua buah mobil terparkir di halaman rumah. Aku bingung, siapa gerangan yang bertamu siang-siang begini. Mobil itu juga aku tidak kenal milik siapa. Perlahan aku dorong motor sampai ke samping mobil itu berada.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucapku. Semua orang yang ada di ruang tamu menoleh ke arahku yang baru saja masuk ke dalam rumah. Dua orang wanita bercadar, satu wanita setengah baya, dan tiga laki-laki menatap ku. Aku kenal dengan tiga pria itu. Dua di antaranya yang datang tempo hari bersama dengan Bu Rahmi.
Deg.
Jantungku seakan berhenti berdetak melihat kedua orang itu, ditambah satu pemuda yang duduk di antara mereka, tak mengedipkan matanya menatap lurus ke arahku.
"Waalaikumsalam," ucap mereka serempak. Wanita paruh baya dengan jilbab panjang sebatas pinggang berdiri dan tersenyum, mendekat ke arahku.
"Ayu, ya?" tanya wanita itu. Aku mengangguk seraya tersenyum. Canggung dan juga bingung, pasalnya tak ada kabar atau tanda akan datangnya tamu agung ke rumah.
"Dari mana?" tanya wanita itu lagi.
"Baru pulang dari pasar, Bu."
"Ummi, panggil saya Ummi," ucapnya dengan senyum senang. Sekali lagi aku mengangguk. Usapan tangannya di lenganku terasa hangat.
Aku menatap Ibu dengan bingung, langsung teringat dengan ucapan Kyai Amrul tempo hari, bahwa beliau akan datang kembali bersama saat masa iddahku habis. Tak menyangka jika akan datang bersama dengan putranya.
"Sini duduk, Nduk." Ajaknya.
"Saya, simpan ini dulu sebentar di dapur," ucapku. Wanita paruh baya itu mengangguk dan membiarkan aku pergi ke dapur. Tak lama Ibu menyusul.
"Bu, kok mereka bisa datang sih, Bu?" tanyaku pada Ibu.
Ibu juga terlihat bingung. "Ibu juga gak tau, tapi kan Kyai Amrul bilang kalau beliau akan datang kembali setelah kamu selesai kan?" Ibu mengingatkan.
"Iya, sih. Aduh, gimana dong ini, Bu. Ayu gak mau menikah dulu," ucapku dengan berbisik pada Ibu. Jarak dari ruangan dapur ke ruangan depan terhalang oleh ruang tv, tapi tetap saja aku takut suara ini terdengar ke depan sana.
"Kamu yakin gak mau sama dia? Anaknya Kyai, loh!" seru Ibu, aku menggelengkan kepala.
"Kan kita sudah sering bahas ini, Bu. Ayu belum mau menikah dulu, Bu. Lagipula, Ayu ingin menenangkan diri dulu, kenapa malah ada yang datang sih?" ujarku dengan sedikit kesal.
"Ya, sudah. Ibu sih ngarepnya kamu bisa bahagia mau itu dengan Dokter Wira atau anak Kyai, tapi kalau kamu gak mau punya suami dulu ya mau bagaimana lagi," ucap Ibu pasrah.
Aku dan Ibu terdiam sejenak. Terdengar helaan napas Ibu yang berat.
__ADS_1
"Itu yang pake cadar siapa sih, Bu?" tanyaku pada Ibu. Penasaran meski aku yakin kalau salah satunya adalah menantu dari Kyai Amrul.
"Menantunya Kyai Amrul, istri kakaknya Ustadz Zain," jawab Ibu.
"Yang mana? Yang baju biru apa hitam?" tanyaku.
"Dua-duanya," jawab Ibu lagi yang membuat aku terkejut.
"Du-dua?" Aku mengulang ucapan Ibu.
"Iya, dua." Ibu menjawab seraya mengangkat dua jarinya.
Istri dua, poligami lagi.
"Hayu ke depan, gak enak ninggalin tamu lama-lama," ajak Ibu membuyarkan lamunanku soal poligami. Aku dan Ibu kembali ke ruang tamu dimana orang-orang itu berada.
Senyum kembali terukir di wajah wanita yang tadi menyuruhku memanggil Ummi, begitu juga dengan Kyai Amrul dan putra tertuanya. Dua wanita lain yang bercadar terlihat sedikit menyipitkan matanya saat aku dan Ibu kembali ke ruang tamu.
Ku lirik wajah Kakak dari Kyai Amrul, tidak terlalu tampan, hanya dari postur tubuh saja yang bagus seperti sering ke gym. Berbeda dengan Ustadz Zain yang memiliki tubuh lebih kecil, tapi dari segi wajah dan kulit lebih tampan dan juga lebih bersih.
Aku duduk di dekat Ibu. Rasa hati ini mendadak tak enak saat menyadari tatapan dari pemuda yang usianya -katanya di bawahku itu-, tengah tersenyum seraya menatapku.
"Nduk. Sehat toh? Sudah lama ya kita tidak bertemu," tanya Kyai Amrul padaku.
"Iya, Yai. Alhamdulillah sehat," ucapku dengan pelan tapi cukuplah sekiranya mereka dengar.
"Alhamdulillah. Saya seneng dengernya. Langsung saja, karena Mbak Ayu juga sudah ada disini, perkenalkan ini adalah Ummi, Istri saya," ucap Kyai Amrul seraya menunjuk istrinya yang duduk bersama dengan kedua menantunya.
"Dan yang dua ini, adalah menantu saya, istri dari anak tertua saya," ucap Kyai lagi. Aku menganggukkan kepala dengan sedikit dalam.
"Ini ... Mbak Ayu juga sudah tau, kan? Barangkali pernah melihat di majelis taklim? Ini anak bungsu saya, Zain." Kyai tersenyum saat menunjuk anak bungsunya. Sekali lagi aku mengangguk.
"Kedatangan kami kesini, seperti yang kami janjikan tempo hari, Mbak Ayu. Mbak Ayu juga masih ingat kan?" ucap lelaki yang menjadi anak sulung Kyai Amrul.
"Saya masih ingat," ucapku.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Lalu bagaimana Mbak Ayu? Mengenai tawaran kami tempo hari?"