Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
322. Acara Tujuh Bulanan


__ADS_3

Apakah aku akan dipecat?


"Selamat ya, katanya kamu sudah nikah lagi?" tanya laki-laki itu seraya mengulurkan tangannya padaku.


Aku tertegun melihat uluran tangan itu, ternyata dipanggilnya aku ke ruangan ini untuk ucapan selamat ini.


"Eh, iya. Terima kasih, Pak." Tangan yang halus itu aku balas, sadar dengan tanganku yang kasar, aku menariknya lebih dulu.


"Kenapa tidak kasih kabar kami kalau akan menikah? Kan kami bisa datang ke acara Pak Hilman," ucapnya lagi dengan sangat sopan sekali, sehingga terkadang aku malu jika dia bersikap seperti itu padaku.


"Ah, anu … ini sebenarnya baru akad aja, belum resmi di daftar ke KUA," ucapku dengan malu, sedikit kerutan terlihat di keningnya.


"Acaranya mendadak, jadi saya juga kaget, kemarin tanya malah langsung di suruh akad sekalian," ucapku sambil tersenyum malu.


"Oh, begitu rupanya. Pantas saja gak kasih kabar, saya hanya dengar dari yang lain katanya Pak Hilman menikah lagi. Apa akan adakan pesta? Jangan lupa undang saya dan keluarga," ucap nya lagi. Aku mengangguk.


"Tentu saya akan undang Bapak dan keluarga, tapi pesta nanti, sekiranya tidak ada halangan sekitar dua bulan lagi," terangku. Arga menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang, terlantun doa yang banyak darinya.


"Alhamdulillah, semoga sakinah, mawadah, warohmah, ya. Semoga langgeng sampai tua nanti. Bahagia selalu," ucap laki-laki itu dengan tulus. Berapa baiknya dia sehingga tak nampak dendam di dalam hatinya, padahal apa yang aku lakukan dulu teramat sangat kejam terhadap calon istrinya.


"Terima kasih, Pak atas doanya. Semoga doa baik juga kembali kepada Bapak dan keluarga," ucapku juga.


"Alhamdulillah, saya panggil Pak Hilman ke sini karena saya ingin mengundang Pak Hilman dan istri ke rumah saya, untuk acara tujuh bulanan Ayu. Bilamana Pak Hilman berkenan datang tentunya bersama dengan keluarga," ucapnya lagi. Aku mengangguk, senang atas kabar yang di dapatkan. Ayu berhasil menjalani kehamilan keduanya dengan baik sampai sejauh ini.


"Tentu saja, saya akan berusaha datang bersama dengan keluarga kecil saya. Terima kasih atas undangannya, Pak Arga."


Aku tidak lama di dalam ruangan itu, kembali ke gudang dan bergelut dengan pekerjaan ku lagi.


Terasa sekali perbedaan antara ruangan kerja Arga dan juga gudang yang bertumpuk tinggi karung dan juga kardus.


***


Hubungan aku dan ibu membaik setelah kemarin salah paham. Memang benar sekali aku suudzon, nyatanya ibu cukup baik dengan Dewi. Dengan besan pun baik juga, seringkali mereka makan siang bersama, katanya. Ibu mertua juga sering membawa Vita ke rumah Dewi sehingga ibu bisa beristirahat dengan baik.


"Yang, aku dapat undangan dari bos, lusa ada acara tujuh bulanan. Kita pergi ke sana, yuk." Ajakku pada Dewi yang sedang melipat pakaian di atas kasur.


"Bos? Hebat, kamu, Mas. Diundang langsung sama bos!" Serunya dengan senyum senang.


"Eh, kamu gak tau ya kalau bos ku itu suami mantan istriku?" tanyaku pada Dewi.


"Eh, mantan istri? Ayu?" tanya dia bingung.


"Iya, Ayu. Lagi hamil anak kedua, sudah tujuh bulan. Tadi aku diundang sama suaminya untuk kita pergi ke sana." Aku sedang memainkan hp, mencari-cari sesuatu, hadiah untuk istriku di sebuah aplikasi jualan online.


"Boleh, aku juga udah lama sih gak ketemu sama Ayu, kangen juga."

__ADS_1


"Eh? Emang kamu sedekat itu sama Ayu sampai bilang kangen?" tanyaku padanya.


"Terlalu dekat sih enggak, tapi kan kami pernah di sini sama-sama, jadi kan kenal, kapan ya kita bareng dulu?" Dewi bicara, bertanya seakan pada dirinya sendiri.


"Aku malah gak tau kamu sedekat itu sama dia."


"Gak tau lah, kan kamu sibuk kerja kantoran," ucapnya membuat ku tak enak hati. Dulu saat di angkat jabatan aku sering lembur hingga meninggalkan Ayu bersama dengan ibu.


***


Hari tujuh bulanan Ayu. Aku dan Dewi pergi ke sana bersama dengan, Vita. Sudah lama sekali ternyata tidak bertemu dengan dia. Terakhir kalinya kami bertemu saat acara aqiqah anak pertama Ayu dengan Arga.


Tadinya aku sedikit ragu juga akan membawa Dewi pergi ke sini, takut dia tidak suka dan juga cemburu. Bisa jadi kan cemburu karena kami pernah bersama dulu? Akan tetapi, pemikiran ku yang jelek, entah pemikiran ku yang terlalu pede, membuat aku berpikiran seperti itu, padahal pada kenyataannya Dewi bilang tidak cemburu karena telah banyak percaya kepada ku.


Kami telah sampai di rumah yang dulu, masih sama megahnya, tapi yang menjadi fokus utama kami adalah foto keluarga Ayu dengan dua anak kecil yang terpampang di teras rumah, Gara, yang aku tahu anak dari Arga, dan yang dipangku Arga pasti Azka, anak yang dulu aku datangi aqiqahnya. Ingat dengan nama-nama itu, tidak sulit karena nama mereka dari huruf A semua. Arga, Ayu, Anggara, Azka, nanti anak ketiga mereka dikasih nama apa ya? Apakah mau menyaingi keluarga artis dengan nama awalan A semua?


"Cantik ya," celetuk Dewi saat aku tengah memperhatikan foto keluarga tersebut.


"Eh, siapa?" tanyaku bingung.


"Ayu lah, siapa lagi? Dari semua yang ada di sana cuma Ayu yang perempuan sendiri," ucap istriku itu. Ku tilik dari dalam nada suaranya seakan sedang cemburu.


"Cemburu?" tanyaku.


"Cemburu apa?" ucapnya sambil berlalu membawa Vita masuk ke dalam rumah.


Aku mengekor di belakang Dewi, suasana di rumah itu sudah ramai dengan beberapa orang yang diundang, beberapa masih aku kenal, saat dulu pernah bertemu, dari wajah satu sama lain terlihat ada kemiripan sehingga aku menebak jika mereka adalah satu keluarga besar.


Aku disambut oleh seseorang, tidak tahu siapa, tapi mereka memanggil namaku dengan jelas dan membawa kami bertemu dengan Ayu dan keluarga.


"Vita sudah datang!" Alih-alih memanggil namaku, Ayu lebih memilih memanggil Vita sebagai panggilan. Ternyata dia masih ingat dengan nama putriku ini.


"Mas, ini istrinya? Mbak Dewi?" tanya Ayu terlihat terkejut sambil menunjuk ke arah ratu yang kini menjadi pemilik hatiku.


"Iya, aku nikah sama tetanggaku, daripada main belakang sama tetangga, mendingan di nikahin kan?" ucapku dengan gurauan, yang kemudian mendapatkan serangan cubitan pada perutku yang masih tipis.


"Aww. Sakit, Yang!" seruku, tapi masih menjaga nada suara ini dengan pelan. Takut saja jika banyak orang yang akan melihat ke arah kami.


"Rasain! Kamu sih, apa mau main sama tetangga!" cerca Dewi dengan wajah yang kesal.


"Eh apa salahnya? Memang salah ya aku kan bicara beneran, mending dinikah daripada main belakang, salahku dimana?" tanyaku dengan tetap ingin mengganggunya. Dewi menatap sinis dengan tatapan matanya yang bulat. Lima hari pernikahan, membuat kami sudah saling terbiasa, meski aku belum mendapatkan apa yang menjadi hak ku, huuuu ….


Kemarin ada orang tuanya, sekarang ada tamu bulanan. Sedih gaes!!!


"Kalian gimana bisa menikah? Tapi Alhamdulillah kamu sudah bahagia dengan Mbak Dewi, Mas. Alhamdulillah Vita punya ibu, ya. Vita punya ibu yang baik, yang cantik." Ayu mengajak Vita bicara, sedikit bingung setelah itu karena Vita hanya diam saja.

__ADS_1


"Vita masih belum bisa bicara," aku menggerakkan bibir memberi tahu Ayu dengan cara seperti ini karena jika jelas mengatakannya maka Vita seringkali ngambek.


Ayu hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Eh, ya. Mbak ajak Vita cari makanan, yuk. Kasihan, pengen kue gak, Vit?" tanya Ayu, yang dijawab dengan kata 'ah' oleh Vita.


"Pa, aku sama Mbak Dewi ke sana dulu, ya." Pamit Ayu kepada sang suami yang dijawab anggukan kepala oleh suaminya itu.


"Silakan Mas Hilman nikmati makanan yang ada, acara dilakukan nanti satu jam lagi, undang anak panti sama ibu pengajian selepas ashar nanti," ucap laki-laki itu menawarkan padaku.


"Iya, terima kasih. Pak Arga sekarang tambah bahagia ya sama ibu Ayu, saya senang sekali melihatnya sekarang." Bahagia sebenarnya dari pernikahan adalah berhasilnya membuat perut lelaki membuncit. Arga yang dulu terlihat bagus tubuhnya, kini tak ubah seperti kue donat perutnya.


Ayu juga semakin terlihat cantik. Jelas semua yang dikatakan itu benar, suami yang bahagia adalah suami yang buncit perutnya, istri yang bahagia adalah istri yang semakin cantik wajahnya.


Entah apakah nanti aku juga akan bisa seperti itu atau tidak? Yang pasti aku akan berusaha sebaik mungkin.


Arga dan aku duduk di kursi yang ada, banyak hal yang kami bicarakan di sini. Aku menatap ibu Ayu sedang menggendong bayi usia hampir satu tahun.


"Apa itu Azka?" tanyaku seraya menunjuk ke arah anak kecil itu bersama dengan ibu.


"Iya, itu Azka."


Anak itu mirip dengan Arga, sedikit kasihan dengan Ayu, lantaran dulu pernah aku mendengar dia saat bersama denganku ingin sekali memiliki anak yang mirip dengan dia. Semoga saja anak yang akan dia lahirkan nanti mirip dengan dia. Cantik dan juga pintar.


Anak yang Ibu gendong menunjuk ke arah kami, dengan langkah yang pelan Ibu Diah berjalan menghindari beberapa orang yang ada di depannya. Semakin mendekat dan membuat aku berdebar di dada. Takut jika Ibu masih punya dendam terhadapku.


"Papa, Kaka mau sama Papa." Ibu berbicara membahasakan cara bicara anak kecil. Aku mengangguk dan tersenyum seraya berdiri dan mengulurkan tangan kepada ibu. Sempat mengira jika ibu akan menolak tanganku, tapi ternyata, ibu tersenyum dan menyambutku dengan baik.


"Apa kabar, Man?" tanya ibu dengan senyuman meneduhkan, tidak seperti dulu saat acara aqiqah, ibu sangat masam kepadaku.


"Alhamdulillah, baik Bu. Bagaimana dengan Ibu?" tanyaku balik pada beliau.


"Ibu juga baik, sehat. Ibu tadi ketemu sama istri kamu, Alhamdulillah, semoga bahagia kalian berdua, Man. Hidup aman sentosa dan diberi kelancaran rizki," ucap ibu yang ku jawab dengan kata Aamiin.


"Bagaimana ibu kamu? Sehat kan?" tanya ibu sekali lagi. Aku tersenyum senang dan mengatakan jika ibu dalam keadaan sehat sekali.


Azka, anak kecil itu kembali merengek meminta digendong kembali oleh neneknya, dia yang sudah bisa mengoceh menunjuk ke arah lain dan membuat sang nenek kembali repot. Ibu pamitan kepada kami berdua, dan membawa anak kecil itu pergi. Terlihat ibu sangat senang sekali dengan adanya cucu. Wajahnya terlihat sangat berbinar dan juga sehat walafiat.


"Ibu senang sekali ya Pak dengan adanya Azka." Jujur aku iri, meski ada Vita tapi aku juga manusia yang ada keinginan. Ingin sekali memiliki keturunan sendiri darah dagingku, tapi apakah daya jika aku tidak bisa menghasilkan anak.


"Iya, semenjak ada Azka sudah jarang sekali sakit, atau masuk rumah sakit, ibu sehat selalu. Alhamdulillah," jawabnya.


"Oh ya, Mas. Soal pinjaman yang dari pabrik itu kan sudah lunas, maaf sekali, saya mau tanya. Untuk melunasinya tidak sampai jual rumah, kan?" tanya Arga, aku tertawa dan menggelengkan kepala.


"Tentu tidak," jawabku, Arga tertawa dan memukul tanganku dengan pelan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, waktu sekretaris saya bilang Mas Hilman lunasi pinjaman, saya sempat berpikir Mas Himan jual rumah. Alhamdulillah kalau masih aman, jangan sampai rumah dijual karena zaman sekarang, susah orang lain pengen punya rumah," ucap laki-laki itu dengan sambil tertawa kecil. Aku menjadi keki, andai dia tahu bukan rumah, tapi sertifikat tanah yang aku gadaikan bagaimana, ya?


__ADS_2