Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
123. Hilman Membuat Ulah


__ADS_3

Aku terkejut, seseorang di depanku menarik tanganku dan membawaku berjalan dengan cukup kencang, menjauh dari food court tempat ketiga temanku berada.


Sekilas aku seperti kenal dengan punggungnya yang lebar. Mungkin kah?


"Hei, kamu siapa? Tolong lepaskan saya!"


Aku berteriak padanya, tapi pria ini tidak melepaskanku, bahkan menoleh pun tidak. Aku semakin yakin dengan pemikiranku. Tidak salah lagi, sepertinya memang dia.


"Mas Hilman. Tolong lepaskan aku, Mas!" teriakku. Tak ada satupun orang yang ada di dekat kami, membuat teriakan ku hanya seperti angin kosong di udara.


Tangan aku tarik dengan sekuat tenaga, tapi cengkeraman tangannya sangat erat hingga menyakitiku.


"Mas ... Mas Hilman lepasin aku!" Aku berteriak kembali, mencoba untuk melepaskan tanganku darinya.


"Mas, jangan macam-macam kamu. Aku bisa teriak dan melaporkan kamu ke polisi atas dasar pemaksaan dan perlakuan yang tidak menyenangkan!" seruku padanya.


Langkah kakinya terhenti dan dia segera berbalik dengan cepat. Matanya menatapku dengan tajam. Aku terkejut melihat keadaan dirinya yang sekarang ini. Mata yang cekung, pipi yang tirus, rambut panjang dan juga bulu-bulu halus yang tumbuh di rahang dan di bawah kumisnya, membuat aku sekilas tidak mengenali dia. Benarkah ini orang yang bersamaku dulu?


Tulang pipi dan tulang lehernya menonjol, pakaian yang kusut seperti tidak terurus. Lusuh.


"Kamu masih ingat dengan aku? Sudah senang kamu sekarang ini, Yu? Apakah kamu senang berpisah sama aku?" tanyanya dengan dingin. Dia melepaskan tanganku, tapi dia mendorong tubuhku hingga punggung ini menubruk di dinding yang dingin. Cengkramannya kini kuat di bahuku.


"Sakit, Mas. Tolong lepaskan aku. Ini sakit." rintihku sambil menahan kedua tangan yang ada di bahu.

__ADS_1


"Kamu tega ninggalin aku, Yu. Kenapa kamu tega lakukan itu? Kenapa kamu tidak mau kembali sama aku?" ucapnya dengan tidak peduli pada rintihanku ini.


"Apa maksud kamu, Mas. Kamu juga sudah tahu apa alasan aku untuk menceraikan kamu. Kamu harus sadar kalau kita tidak bisa lagi bersama. Hana lebih bisa membahagiakan kamu. Kalian akan punya anak sebentar lagi," jawabku, mencoba untuk menyadarkan dia.


"Tapi aku mau kamu, Ayu. Aku mau kamu yang ada disisiku, bukan dia!"


Aku menatapnya dengan tidak mengerti. Harusnya dia bahagia dengan adanya anak yang ada di dalam kandungan Hana. Kenapa juga dia masih bicara seperti ini?


"Tidak mas. Mau kamu memohon bagaimanapun juga kita sudah berpisah. Aku tidak mau kembali lagi sama kamu," ucapku padanya.


Mas Hilman menatapku dengan tajam, tangannya semakin erat mencengkram bahu ini. Suara gemeretak terdengar dari dalam mulutnya hingga urat-urat yang ada di wajah terlihat dengan jelas membiru.


"Bagus kamu. Waktu kapan lalu kamu jalan dengan dokter itu, kamu dilamar oleh anak Kyai, pergi dengan pria yang lainnya, dan sekarang kamu jalan dengan pria yang lain lagi? Sebenarnya kamu terus berganti pasangan karena kamu berusaha untuk move on dari aku kan?"


Dengan sekuat tenaga aku mendorong dadanya hingga dia mundur satu langkah dan membuat cengkeraman tangannya dari bahuku ini terlepas.


"Jaga ucapan kamu, Mas. Kamu ini terlalu sekali. Atas dasar apa kamu bicara seperti ini sama aku? Keterlaluan sekali kamu ini!" teriakku dengan marah.


Mata yang menyala itu kembali menatapku dengan tajam. Tangannya menangkap tanganku kembali. Sakit!


"Lepas!" teriakku lagi.


"Tidak! Kamu jadi wanita yang tidak baik setelah pisah dari aku, Yu. Kamu sudah bukan Ayu yang aku kenal lagi!" seru dia dengan tidak peduli meski aku yakin dia juga melihat wajahku yang sedari tadi meringis kesakitan.

__ADS_1


"Lepas, Mas. Eling kamu! Ingat apa yang kamu lakukan saat ini akan kamu dapatkan karmanya di kemudian hari. Lepas!" Aku berteriak lagi.


"Tidak! Jangan harap kamu akan aku lepaskan, Ayu. Kamu harus ikut pulang sama aku. Kamu harus menjadi wanita yang baik seperti dulu!"


Mas Hilman mulai menarik tanganku ke arah belakang, menuju lift yang ada di ujung lorong. Lift itu terhubung dengan lantai basement. Aku sangat hapal karena aku dan dia cukup sering menggunakannya jikalau datang kemari dulu.


"Mas, kamu mau bawa aku kemana?"


Aku panik, kakiku sakit untuk sekedar aku angkat dan menjegal kakinya. Dia terus saja menarikku dengan kasar.


"Kita pulang!" jawabnya seingkat.


"Enggak, Mas. Itu sudah bukan tempatku lagi! Aku gak mau pulang kesana!" teriakku. Akan tetapi, pria yang sekarang terlihat menyedihkan ini tidak lagi mendengarkanku. Dia yang biasanya luluh dan tunduk dengan apa yang aku katakan kini tidak mengindahkan ucapanku sama sekali.


"Mas!"


"Lepaskan dia!"


...***...


ada yang mau mampir ke cerita othor yang lain gak?


tau kuda poni kan? yang warna ungu? cari deh nama Trias Wardani disana. boleh intip2 dulu, baca2 dulu blurb nya.

__ADS_1


sama satu lagi tuh, tempat gratis juga, yang warnanya item awalan huruf F, gratis kok, dah sampai 15 bab. dengan nama yang sama Trias Wardani juga 😘


__ADS_2