Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
133. Kehadiran Gara di Rumah Sakit


__ADS_3

Sejenak aku terdiam, merasa takut. Apa yang akan Ibu pikirkan dengan adanya Arga disini.


"Bu, Arga yang sudah membantu dan menjaga Ibu di sini," ucapku pada ibu. Ibu terdiam menatap Arga dengan pandangan yang tidak suka. Aku jadi merasa tidak enak hati kepada Arga. Dia sudah tulus membantu dan menjaga Ibu di sini.


"Ibu sekarang minum dulu." Aku membantu ibu untuk mengangkat kepalanya dan memberikan air minum.


"Apa ada rasa sakit? Ibu mau aku panggilkan dokter?" tanyaku kepada Ibu.


Arga terlihat bangkit dari duduknya. "Kamu di sini saja, Yu. Biar aku yang panggilkan dokter sekalian aku juga mau pamit untuk kembali ke ruangan Ibu," ucap pria itu. Aku semakin merasa diri tidak enak hati. Dia sudah banyak membantu, tapi reaksi Ibu malah seperti itu.


"Bu, maafkan kalau kehadiran saya membuat Ibu tidak berkenan. Karena sekarang Ayu sudah ada di sini saya mau pamit," ucap pria itu dengan sopan.


Ibu hanya diam tidak menjawab. Arga menganggukan kepalanya tanda hormat kepada Ibu. Aku mengucapkan terima kasih banyak kepadanya. Biarlah nanti ucapan maaf akan aku sampaikan padanya setelah aku ada waktu untuk bertemu dengan Arga.


Aku memandang ibu dengan tatapan tidak percaya. Rasanya sedikit kecewa dengan perilaku Ibu yang seperti ini. Setidaknya Ibu mencoba untuk bersikap ramah kepada orang yang telah menolongnya.


"Bu, Arga sudah menolong Ibu, dia juga yang menghubungi Ayu kalau Ibu dibawa ke rumah sakit ini. Tidak bisakah Ibu bersikap lebih baik kepada dia? Setidaknya Ibu tidak usah memberikan tatapan sinis sama dia." Aku berbicara dengan sedikit nada geram. Sungguh kecewa dengan ucapan Ibu tadi. Seberapa besar rasa tidak suka Ibu kepada Arga sampai seperti itu sikap ibu kepadanya.


Ibu hanya diam tidak menjawab ucapanku.


Tidak berapa lama masuk seorang dokter wanita ke ruangan ini. Senyumnya lebar, dia menyapa kami dengan ramah.


Setelah sedikit berbasa-basi dokter wanita itu memeriksa keadaan ibu, bertanya mana yang terasa sakit dan juga bagaimana perasaan Ibu sekarang ini. Aku hanya diam memperhatikan dokter dan juga Ibu, tapi di dalam hati masih kecewa dengan sikap ibu tadi.


"Ini tidak apa-apa, tapi Ibu Diah baiknya beristirahat dua malam di sini agar kami bisa memantau keadaan Ibu Diah. Apa Ibu diah pernah melakukan operasi di kepala?" tanya dokter itu kepadaku.

__ADS_1


"Iya, Dokter. Beberapa bulan yang lalu, pengangkatan tumor," jelasku kepada dokter.


Dokter itu menganggukkan kepala.


"Maka dari itu lebih baik Ibu Diah menginap di rumah sakit dulu selama dua malam, kami sedikit khawatir dengan bekas operasi Ibu Diah," ucap dokter itu.


"Iya, Dokter. Tidak apa-apa jika memang itu harus dilakukan, tapi bagaimana dokter bisa tahu kalau Ibu saya sudah melakukan operasi?" tanyaku kepadanya.


Dokter tersenyum kepadaku. "Saya melihat bekas luka operasi di kepala Ibu Diah yang mengakibatkan pertumbuhan rambut di bekas operasi sedikit terhambat. Dan saya juga bertanya kepada Pak Arga mengenai hal itu. Kebetulan beliau tahu dan menyampaikan kepada saya jika Ibu Diah pernah melakukan operasi. Maka dari itu saya menyarankan kepada Mbak Ayu agar Bu Diah dirawat selama dua hari kedepan," ucap dokter itu lagi.


Aku sempat terpaku mendengar penuturan dari dokter. Bagaimana Arga bisa tahu Ibu pernah operasi? Tiba-tiba, teringat akan pertemuan ku dengan Nira dan Ibunya waktu itu di rumah sakit yang sama.


Dokter pamit setelah selesai memeriksa ibu.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi sama Ibu? Kenapa Ibu bisa ada di luar? Kenapa Ibu tidak bersama dengan Yu Tarni?" tanyaku dengan menatap Ibu tajam, menuntut jawaban.


Ibu masih terdiam tidak tahu sedang memikirkan apa.


"Ibu tadi hanya keluar sebentar, bosan di rumah terus. Tadinya Ibu ingin ke pasar," jawab Ibu dengan pelan.


"Kenapa juga Ibu harus sendirian? Kan Ibu bisa ajak Yu Tarni sekalian. Ibu tahu enggak sih, Ayu tuh kaget waktu dapat kabar dari Arga kalau ibu kecelakaan dan diantar ke rumah sakit ini. Apa jadinya kalau Arga tidak melihat Ibu di sini? Ayu enggak akan tahu kalau gitu kecelakaan!" Aku berkata sedikit berseru dengan perasaan yang kesal. Bisa-bisanya Ibu pergi dan celaka, meski ini sudah pasti adalah takdir, tapi tetap saja, aku kesal sekali karena rasa khawatir ku pada Ibu.


"Ibu tadi nyebrang jalan, Yu. Tapi ada motor yang gak berhenti. Tiba-tiba menyerempet Ibu sampai Ibu jatuh. Maaf, ya sudah buat kamu khawatir." Ibu mengangkat tangannya, mengusap kepalaku dengan lembut. Aku masih kesal, tapi lebih banyak rasa khawatir hingga mata ini terasa panas dan berair.


"Ibu jangan pergi sendiri lagi. Ayu khawatir kalau ada apa-apa sama Ibu. Cuma Ibu yang Ayu punya." Aku menangis, tidak tahan lagi dengan rasa ini. Sedangkan Ibu meminta maaf atas kesalahannya tadi. Kenapa Ibu tidak berpikir kalau aku sangat khawatir?

__ADS_1


Ku peluk tubuh yang rapuh ini, menangis tanpa peduli ejekan Ibu yang mengatakan kalau aku seperti anak kecil.


Pintu ruangan diketuk dari luar dengan keras, seperti tidak sabaran untuk dibukakan.


Ibu melepas pelukannya dan menyuruhku untuk melihat siapa yang datang.


"Tante!!" Pintu terbuka sebelum aku sampai di sana. Teriak suara anak kecil dengan nada yang khas setiap kali memanggilku. Dia berlari dengan cepat hingga rambutnya naik turun. Tidak sampai dua detik, tubuh mungil itu menubrukku dan memeluk kakiku dengan erat. Di belakangnya berjalan dengan cepat Arga yang menyusul Gara.


Langkah kaki itu melambat, dia sedikit membungkukkan tubuhnya dan tersenyum pada Ibu.


"Maaf, kami mengganggu. Gara tiba-tiba saja berlari ke sini," ucap Arga dengan wajah yang terlihat tidak enak kepada kami.


"Aku kan kangen Tante, Papa!" ucap anak itu, tidak mau melepaskan pelukannya. Aku melirik ke arah Ibu yang hanya terpaku dengan apa yang terjadi.


Kuusap rambut Gara, selalu lembut seperti biasanya.


"Tante juga kangen!" Aku tersenyum senang. Rasa rindu yang selama ini menggelung di relung hati terasa lega saat melihatnya baik-baik saja. Senyum khas, dan sorot mata penuh rindu aku lihat di wajah tampan Gara.


Aku berjongkok, menyetarakan tinggiku dengan anak usia lima tahun ini.


"Bohong! Kalau Tante kangen kenapa Tante gak perrllnah ketemu sama Garrlla lagi? Tante ingkarrll janji!" Rajuk anak itu dengan wajah yang dia pasang sebal. Semakin membuat dia imut, apalagi saat pipi yang gembil itu berisikan udara kosong, seperti ikan buntal yang sedang menggembung saat diamgkat ke darat.


"Maaf, kan Tante kerja sekarang. Jadi, Tante gak bisa sering ketemu sama Gara." Aku mencoba untuk bicara dengan pelan kepada anak ini.


"Huh! Alasan!" ucap anak itu sebal, bibirnya mengerucut lucu. Dia mengalihkan tatapannya dariku pada Ibu. Mata bulat itu tidak berkedip menatap orang yang telah melahirkan ku.

__ADS_1


__ADS_2