
"Ooh," ucapnya dengan nada yang panjang.
Aku sebenarnya sedikit bingung, semoga saja apa yang Arga katakan kepada Gara menjadi kenyataan, tapi aku belum bisa yakin juga jika belum memeriksakan diri ke dokter. Takut sekali, bagaimana jika bukan? Bukankah Arga dan Gara akan kecewa?
"Sudah siap semua?" tanya Arga pada kami. "Kita berangkat ke sekolah, lalu kita ke rumah sakit," ucap Arga yang kemudian mendapatkan protes dari putranya.
"Gara juga mau ikut ke rumah sakit, Papa!" seru Gara, membuat Arga yang akan memutar kunci mobil menghentikan kegiatannya. Dia menolehkan kepalanya ke belakang, begitu juga dengan aku, menatap Gara yang kini melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir yang mengerucut.
"Eh, kamu kan harus sekolah, Nak," ucap Arga pada putranya.
"Gak mau! Gara kan mau ikut ke dokter, mau nemenin Mama Ayu ke dokter!" teriak anak itu dengan marah.
Arga menatap ke arahku, seakan sedang meminta izin untuk itu.
"Em ... Gara sekolah ya, nanti kalau Mama sudah pulang dari rumah sakit kita kan juga bisa lihat hasilnya. Mama gak apa-apa kok periksa sendirian, kan ada Papa," ucapku pada Gara.
"Gak mau! Gara mau ikut ke rumah sakit! Gara mau ikut! Gak adil cuma Papa aja yang ikut. Gara kan juga sayang sama Mama Ayu, bukan cuma Papa saja!" teriak anak itu dengan keras. Matanya menatapku dengan penuh permohonan. "Kan Gara juga pengen tahu dengan dedek bayi. Kan, Gara juga mau nemenin Mama Ayu," ucapnya kali ini dengan nada yang terdengar sedih.
Aku jadi tidak tega melihatnya.
__ADS_1
"Sesekali ambil izin gak apa mungkin, Ga? Telepon gurunya, gih. Bilang kalau ada urusan keluarga atau apa lah. Kasihan Gara," ucapku memohon. Aku yang biasanya tegas kepada Gara dengan urusan sekolah atau belajar, kali ini tidak tahan dengan tatapan matanya yang seperti itu, mirip marmut yang sedang ingin di sayang.
Arga menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin tidak gatal sama sekali. "Oke, deh. tapi cuma hari ini aja, ya. Besok jangan sampai izin dari sekolah!" Tunjuk Arga pada putranya. Wajah yang cemberut itu kini menyunggingkan senyuman bahagia.
"Oke, Papa! yeaaay! Let's go!" Teriak Gara sambil menunjuk ke arah depan. Dia sangat bersemangat sekali pagi ini, membuat aku suka melihatnya.
Kami berangkat ke rumah sakit, setelah sebelumnya aku yang menghubungi guru Gara untuk meminta izin dari beliau.
Sampai di rumah sakit, pintu Arga buka untukku turun, juga membukakan pintu untuk Gara turun.
"Mau aku bawakan kursi roda?" tanya Arga padaku.
"Ya kali aja kamu capek jalan ke dalam, biar aku dorong sampai ke ruangan dokter," ucap Arga lagi. Dia memang perhatian sekali, tapi tidak tahu kenapa aku malah sebal mendengarnya.
"Aku ini sehat, gak cacat. Masih kuat jalan," ucapku sebal sambil menggandeng tangan Gara dan pergi mendahuluinya.
"Eh, marah!" ucap Arga terdengar dengan sangat jelas. Dia mengejar kami dan berjalan di samping Gara.
"Yah, Ma. Kok gitu aja marah. Aku kan gak mau kamu capek," ucap laki-laki ini.
__ADS_1
"Iya, tapi ya jangan kursi roda juga, aku gak apa-apa, kok."
"Hehe, maaf. Terus kalau gak mau kursi roda, apaan dong? Mau Papa gendong?" tanya Arga dengan gigihnya.
"Papa! Kalau Mama bilang gak mau jangan maksa dong! Bikin ibu hamil emosi gak baik tau!"
Aku terpana mendengar Gara mengucapkan hal itu dengan nada suara yang kesal. Arga pun sama menatap Gara dengan terkejut.
"Mama, ayo ke ruangan dokter sama Gara aja. Papa tinggal aja. Suami macam apa bikin istri marah-marah!"
Jujur aku ingin sekali tertawa mendengar ucapan Gara ini, apalagi saat melihat raut wajah Arga yang melongo karena ucapan anak laki-laki kesayangannya ini. Jangankan dia, aku saja tidak percaya jika Gara bisa berbicara seperti itu.
"Gara, gak sopan bicara seperti itu sama Papa, Nak. Gak boleh, Sayang," ucapku mengajari Gara.
"Habisnya, Papa ngeyel sih! Gak ngertiin, Mama!" ucapnya lagi dengan cemberut.
Arga terlihat sebal di wajahnya, mengikuti langkah kaki kami berdua menuju ruangan dokter.
Sampai di depan ruangan dokter, beruntung nomor antrian tidak banyak, hanya menunggu satu orang tadi yang ada di dalam sana. Ku lihat saat tadi keluar, seorang wanita dengan perut buncitnya yang besar. Sangat bahagia sekali raut wajahnya bersama dengan sang suami. Aku mengelus perutku sendiri dengan pelan, semoga saja ya Allah. Semoga saja aku bisa menjadi wanita yang bahagia seperti dia. Aamiin.
__ADS_1