
Azka masih belum bangun saat aku mengintip dia dari ambang pintu, Mbak Sus juga terlihat sangat lelap sekali tidurnya, memeluk putraku setengah erat. Ah, aku jadi tidak tega ingin melihat Azka, takut jika mereka berdua terbangun dari tidurnya. Aku putuskan untuk pergi saja menemui mama.
Keadaan mama tidak begitu baik sekarang ini, terlihat sangat lemah karena tidak mau makan dan minum dengan benar beberapa hari belakangan ini. Meskipun aku sering menyuapinya, tapi makanan yang masuk ke dalam tubuhnya sangat sedikit sekali.
Mama sering berbaring di kasurnya, kaki dan tangannya seringkali bergetar tidak karuan. Memegang sesuatu saja seringkali terlepas. Usia mama tidak terlalu jauh dari usia ibu, tapi kondisinya yang sakit membuat mama terlihat seperti wanita yang sangat tua dan juga lemah.
"Mama sudah makan belum, Mbak?" tanyaku saat masuk ke dalam kamar mama. Mama terlihat menatap ke arah luar jendela dari tempat tidurnya.
"Makan, tapi sedikit banget, Bu," ucap Nira. Bubur nasi yang tadi Mbak Sus buat terlihat masih banyak di mangkoknya.
Aku mendekat kepada mama, duduk di sampingnya dan mengambil tangannya yang telah keriput. Mama menolehkan kepala dan tersenyum. Miris sekali melihat mama, tidak berdaya seperti ini.
"Ma, ikut Ayu, yuk. Ke taman belakang," ucapku pada mama. Dia hanya menatapku tanpa menjawab, lagi pula mama sedikit kesulitan dalam berbicara.
Aku meminta Mbak Nira untuk memindahkan mama ke kursi roda, mama tidak menolak, itu tandanya dia tidak keberatan dengan apa yang aku lakukan. Aku mendorong kursi roda tersebut ke taman belakang rumah. Tidak terlalu panas di sini, karena ini juga sudah menjelang sore. Matahari sedikit lebih lembut sinarnya.
Aku membawa mama ke sebuah bangku yang ada di sana, Nira mengikuti dari belakang sambil membawa makanan mama yang baru. Nira menyerahkan mangkok tersebut dan kemudian meninggalkan kami berdua di taman. Dia tidak jauh dari taman ini, memperhatikan dari dekat pintu bila mana aku butuh bantuan dia.
"Mama kenapa gak mau makan?" tanyaku, mama diam, tidak menjawabku sama sekali.
"Kalau Mama gak makan nanti gak ada tenaga. Mama sudah tau belum Ayu hamil lagi?" tanyaku padanya, meski seringnya tidak menjawab tapi aku hanya ingin bercerita saja.
"Mama mau punya cucu lagi, Ayu harap Mama panjang umur sampai nanti, sampai anak Ayu lahir, sampai mereka besar. Mama mau kan lihat cucu-cucu Mama besar?" tanyaku, makanan yang ada di sendok aku dekatkan padanya, perlahan mulut keriput itu terbuka. Aku senang mama mau makan sekarang.
"Mau punya cucu," ucapnya dengan terbata setelah mengunyah makanannya. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Iya, cucu Mama sekarang ada tiga, doakan –,"
"Perempuan," ucapnya lagi dengan nada suara yang bergetar.
__ADS_1
"Aamiin," ucapku. Semoga saja terwujud atas bantuan doa dari mama juga.
Aku menyuapinya hingga habis setengah mangkok bubur, lumayan untuk ukuran mama yang sedang tidak napsu makan, aku senang setidaknya mama masih mau makan dari tanganku. Sambil bercerita banyak, tidak terasa jika sudah setengah jam aku di sini sambil menyuapi mama.
Nira membawa mama kembali ke kamarnya setelah kami ada sekitar satu jam di sini, mama harus tetap mengkonsumsi obat dan vitamin untuk kesehatannya dan juga harus beristirahat yang banyak. Semalam, kata Nira, mama tidak nyenyak tidur. Semoga keadaan mama bisa menjadi lebih baik setelah ini.
Aku menyibukkan diriku dengan hp, mengerjakan tugas yang belum selesai. Akhir-akhir ini aku sedang sangat rajin sekali mengetik. Banyak ide yang ada di kepalaku, aku juga sudah membuat beberapa outline untuk ceritaku selanjutnya.
Kali ini aku ingin mengangkat tema anak kecil yang sangat rindu akan ayahnya. Seorang istri yang ditinggal bertahun-tahun oleh suaminya kerja merantau di kota. Bertahun-tahun hanya beberapa kali pulang, itu pun hanya beberapa hari saja. Putrinya yang sedang berulang tahun di usia ke lima sangat rindu dan juga ingin sekali bertemu dengan sang ayah, menunggunya pulang dan bisa meniup lilin menyala dengan angka lima bersama-sama.
Ah, aku sendiri sempat menangis saat membuat cerita dengan tema ini, terlalu sedih untukku, tapi entah untuk yang lain. Aku tidak tahu juga apakah mereka akan sama sedihnya denganku atau tidak. Mungkin aku terlalu menghayati saat membuatnya sehingga seringkali menitikkan air mata.
Cerita tersebut akan aku kirimkan ke tempat lain, dengan logo pena berlatar belakang warna hijau. Di sana yang aku baca kebanyakan kisah rumah tangga dan pengkhianatan. Setelah membaca perbawangan aku tergerak ingin ikut juga menjual bawang di sana. Coba-coba saja, ada yang baca ataupun tidak tak mengapa. Aku hanya ingin menyalurkan hobiku, ada pendapatan lain aku anggap sebagai bonus.
Nama anak itu adalah Haifa, ibunya bernama Azizah, hidup mereka keras karena suaminya tidak memberinya nafkah yang layak. Ah, haruskah aku ceritakan juga di sini? Nanti lah, kalau ada yang penasaran akan ceritaku ini akan aku alihkan pembacaku ke sana. Hehe. Haifa, Putri Yang Merindukan Ayahnya.
Aku baru menulis sedikit, sudah aku publish di sana, tapi karena waktu yang minim dan kesibukanku yang nyata membuat aku tidak bisa bebas menulis dengan santai.
"Eh, Pa. Sudah bangun. Aku tadi menyuapi mama di sini, terus lanjut ngetik," ucapku memperlihatkan layar hpku. Arga hanya mengangguk dan duduk di sampingku.
"Azka sudah bangun belum?" tanyaku padanya.
"Belum, dia nyenyak banget tidurnya," ucap Arga.
"Ya, sudah lah. Biarkan saja dia nanti bangun sendiri," ucapku. Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya yang kokoh. Dia juga menyandarkan kepalanya di atas ku.
"Kamu kok hebat banget sih bisa menghalu kayak gitu?" tanyanya.
"Kamu juga bisa kok, lagian bikin cerita sekarang sudah gampang karena adanya aplikasi. Gak ribet kayak orang dulu, kalau mau bikin cerita harus datang ke penerbit, melalui proses editing, layout, dan segala rupa," ucapku. Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
__ADS_1
"Iya, sih. Enak zaman sekarang apa-apa sudah canggih. Kalau aja aku bisa kayak kamu aku juga pengen ikutan. Tapi sayang, aku gak ngerti bikin alur yang menarik," ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Gampang kok, tinggal tentukan saja alurnya mau kayak gimana, contohnya jangan jauh dari hidup kita sehari-hari deh, jadi bisa mengalir ide ceritanya nanti," terangku.
"Ah, aku tetap bingung. Terutama untuk bagian bab pembukanya. Awalnya aku harus nulis kayak gimana?" tanyanya lagi. Aku menjelaskan bagaimana membuat awalan pembuka yang menarik.
"Jadi, sebisanya di bab tiga awal tuh sudah ada konflik utama. Misal nih, ya. Misal nih, nikah kontrak. Nah di bab satu, dua, atau tiga sudah disajikan dengan pernikahan tersebut. Sebelum mereka menikah si laki-laki atau perempuan yang terkait mengajukan kontrak pernikahan untuk pasangan yang lainnya."
"Alasan mereka menikah kontrak?" tanya Arga.
"Ya terserah mau apa alasannya, bisa jadi kalau misal yang cewek butuh uang untuk pengobatan ayah atau ibunya. Bisa juga kalau ternyata ayahnya butuh uang untuk bayar utang yang banyak. Bisa juga karena ada suatu insiden yang bikin mereka menikah kontrak, dengan alasan yang tidak masuk akal, misal keluarga laki-laki ingin anaknya menikah jika tidak dia akan dijodohkan dengan orang lain atau harta keluarganya akan jatuh kepada orang lain. Itu sudah masuk konflik awal," terangku mencoba berbicara sejelas mungkin.
"Gak ngerti, ah. Bingung," ucapnya sambil memegang telapak tanganku erat.
"Yee, aku jelaskan masa gak ngerti?" tanyaku kesal seraya mengangkat kepala, memaksa dia juga sama mengangkat kepalanya.
"Ah, bukan bidangku. baru denger aja dah bikin pusing, aku mendingan baca aja karya kamu, deh. Udah enak tinggal rebahan dan baca, gak perlu mikir," ucapnya sambil tertawa pelan.
"Ih, Dasar! Yang nanti mah gak gratis ya," ucapku padanya sambil menggosok-gosokkan ujung jari telunjuk dan jempolku di depannya.
"Bayar?" tanyanya.
"He-em, bayar. Aku udah kirim beberapa bab ke tempat berbayar. Biar cepet kaya," ucapku sambil tersenyum.
Arga menggelengkan kepalanya, menepuk keningku sedikit keras, tapi tidak sampai sakit sama sekali. "Kamu ini, apa harta ku masih kurang?" tanyanya dengan nada sedikit terdengar kesal.
"Tidak, gak kurang kok. Tapi aku akan lebih senang kalau aku dapat dari hasil usahaku sendiri," ucapku padanya.
***
__ADS_1
Nah, tuh. Di bab yang ini ada sedikit tips ya untuk yang ingin mencoba pertama kali bikin sebuah cerita, sekalian promosi juga.
Promo teruuuusss!! Wkwkwk. Gak pa-pa dong, spill dikit, yang mau mampir monggo, yang mau intip juga monggo, kali aja ada yang nyangkut gitu beberapa di sana sampai nanti tamat 🤣