
"Gara!"
Aku tersentak saat seseorang memeluk anak yang sedari tadi ada bersamaku. Segera aku berdiri karena takut jika itu adalah orang asing yang akan berbuat jahat.
"Mbak!" Teriak suara yang aku kenal. Risma berjalan mendekat dengan membawa tas belanjaannya, membuat aku tak jadi melangkahkan kaki.
"Sudah ketemu sama ayahnya Gara?" tanyanya
"Eh? Ayahnya Gara?" Aku malah balik bertanya.
"Tuh!" Tunjuk Risma dengan menggunakan dagunya pada sosok yang kini sedang menciumi wajah sang putra.
Astaghfirullah, gara-gara terlalu memikirkan hal lain sampai lupa kalau mungkin yang barusan itu adalah ayah Gara. Malah pikiranku kemana-mana.
"Itu ayahnya Gara?" tanyaku pada Risma.
"Hooh, dia ayahnya Gara. Tadi aku juga sudah memastikan. Ada banyak foto Gara di hapenya dari semasih Gara bayi," ucap Risma. Aku menghela napas dengan lega. Syukurlah kalau memang dia benar ayah Gara, rasa takut akan orang yang hanya mengaku-ngaku saja dengan tujuan jahat.
"Papanya Gara, ganteng loh, Mbak!" seru Risma, tapi dia berbisik di dekatku sambil melirik ke arah belakangku.
"Heh, kamu tau juga yang ganteng?" kelakarku. Risma hanya mendelik sebal mendapat ungkapan seperti itu dariku.
"Tante! Ini Papa!" teriak suara Gara dari belakang. Aku menoleh, melihat Gara kini menarik tangan sang ayah mendekat ke arahku.
Seketika jantung ini serasa berhenti berdetak saat melihat seseorang yang ada di sana. Dia juga sama terpaku menatapku, tapi langkah kakinya masih mengikuti sang putra yang masih terus menarik tangannya.
"Ganteng kan, Mbak?" Risma bertanya, masih berbisik sambil menyikut lenganku. Akan tetapi, aku hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa untuk menjawabnya.
"Papa! Ini Tante Baik!" seru Gara berteriak sambil meraih tanganku dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri, membuat kesadaranku kini kembali.
"Papa, ajak Tante pulang! Ajak Tante pulang!" teriak Gara lagi, aku terkejut mendengar hal itu. Dia lalu merengek setelahnya.
Pria itu kini mengalihkan tatapannya dariku dan berjongkok, menyetarakan tingginya dengan sang putra.
__ADS_1
"Gara, gak baik bicara seperti itu," ucapnya dengan lembut seraya menunjuk tepat di depan wajah Gara, memberi peringatan terhadap putranya itu. Dia kemudian menggendong Gara di depan tubuhnya.
Wajah Gara terlihat memerah dengan bibir yang mencebik hampir menangis. Anak kecil itu menatap ke arahku dengan mata yang berkaca-kaca, lalu memilih memeluk leher sang ayah dengan erat. Kini diam, tidak lagi berbicara seperti tadi.
Ayah Gara tersenyum ke arahku, satu tangannya menepuk pundak sang putra dengan lembut.
"Ayu. Terima kasih sudah menemukan Gara," ucapnya padaku.
Aku masih terpaku menatapnya, lebih pada bingung dan juga tak menyangka jika pria yang ada di depanku ini ternyata adalah Arga. Arga mantan pacarku semasa SMA dulu. Ya Tuhan, ada apakah ini sebenarnya? Kenapa ....
Rasanya aku sayang dengan Gara, tapi kenapa Gara adalah anak Arga? Oh ya Tuhan, nama mereka juga hampir sama, hanya tinggal di bolak balik saja. Gara-Arga.
"Terma kasih. Aku tadi sudah bingung mencari Gara. Dia berlari begitu saja ninggalin aku. Terima kasih ya, Yu. Mbak," ujarnya lagi padaku lalu pada Risma.
"Eh, iya, Mas. Sama-sama." Risma tersenyum pada Arga sambil menganggukkan kepalanya.
"Mas sama Mbak Ayu sudah kenal, toh?" tanya Risma dengan nada yang bingung.
"Teman," ucapku memotong ucapan Arga. Terlihat wajah Arga kini menghentikan senyumnya.
"Iya, kami teman lama," jawab Arga kini. Entah kenapa, mendengar kata 'teman' darinya hatiku serasa tercubit. Ada apa ini ya Allah. Kenapa dengan hatiku ini? Jangan bilang kalau aku masih menyimpan rasa terhadapnya!
"Oh, ternyata teman lama. Beruntung sekali ya, Gara ditemukan sama Mbak Ayu. Coba kalau di temukan oleh orang yang gak bertanggung jawab, bisa diculik Gara. Secara Gara gantengnya kayak bapaknya," ujar Risma. Aku menoleh menatap Risma yang bisa bicara seperti itu, meski memang iya, benar adanya. Risma tersenyum tersenyum masih tak mengalihkan pandangan dari Arga sedangkan Arga hanya terkekeh malu.
Ku senggol lengan Risma, senyum yang sedari tadi tersungging di bibirnya kini surut. Dia beralih tersenyum malu padaku.
"Memang benar, Mbak. Anaknya ganteng ternyata turunan bapaknya. Istrinya juga pasti cantik kalau anaknya ganteng gini," ujar Risma lagi.
Arga tersenyum kecil, terlihat sedih di dalam raut wajahnya. "Ibunya Gara sudah tidak ada," jawab Arga.
Risma menutup mulutnya tidak percaya, merasa bersalah mendengar penuturan dari pria dengan status duda ini.
"Ya, ampun! Maafkan say, Mas. Saya gak tau," ujar Risma tak enak. Arga tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kalian sedang belanja?" tanya Arga pada kami, tapi tatapannya tertuju padaku.
"Iya," jawab Risma. "Saya yang minta Mbak Ayu antar belanja," sambungnya.
Gara kini masih terdiam di bahu sang ayah, dia terlihat mengeratkan pelukannya pada leher Arga.
"Kami sudah selesai. Pamit dulu, ya." Aku bicara pada Arga, dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Sekali lagi terima kasih karena kalian sudah menemukan Gara," ucapnya. Aku mengangguk, lalu mendekat ke arah Gara dan mengelus punggungnya.
"Gara, Tante pulang dulu, ya." Pamitku pada anak kecil itu. Gara hanya diam, dia tidak menoleh sama sekali, membuat aku merasa sedih.
"Arga, kami pulang dulu," ucapku pada Arga. Dia menganggukkan kepalanya sambil mengelus kepala Arga dengan sayang.
Aku dan Risma meninggalkan Arga dan Gara di tempat itu, rasanya sedih juga jika anak yang tadi ada bersama dengan kita malah cuek seperti itu. Rasaku pada Gara tidak bisa di jabarkan, entah apa, tapi rasanya beda sekali dengan saat aku melihat anak-anak lain yang sebaya dengan Gara.
Sempat aku menoleh pada tempat Arga tadi berada, tapi dia sudah tidak ada lagi di sana. Rasaku semakin tidak karuan, entah apakah karena Gara atau ....
Ah tidak! Jangan sampai.
Lagipula Ibu juga tidak setuju dengan Arga, teringat dengan pembicaraan dulu saat Mas Hilman datang dan bilang melihat aku jalan dengan pria lain. Ibu bilang tidak setuju.
Aku dan Risma menunggu pintu lift terbuka, rasa lelah membuat aku mengajak Risma untuk turun dengan menggunakan lift saja.
"Ayu!" Suara seseorang memanggil. Aku dan Risma menoleh bersamaan.
Arga datang dengan Gara di pelukannya, kali ini terlihat bahu Gara naik turun dan terdengar isakan kecilnya. Kepalanya masih ada di bahu sang ayah
"Maafkan aku. Bisa kah kalian menemani kami sebentar untuk makan? Arga sejak siang tadi belum makan, dan dia sekarang tidak mau makan kalau tidak sama kamu," ucap Gara. Nafasnya sedikit tersengal, seperti dia telah berlari saja.
Aku menoleh ke arah Risma, tapi anak itu malah mendekat ke arah Gara dan mengelus kepalanya.
"Aduh kasihan. Mbak, kasihan Gara, Mbak!" Risma menatapku.
__ADS_1