Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
275. Ajakan Honeymoon Yang Selalu Gagal.


__ADS_3

Aku tersenyum melihat dia yang selalu perhatian. Nyaman rasanya ada di dekatnya, senang rasanya selalu ada bersamanya. Semoga saja kebersamaan kami selalu terjaga selamanya. Aamiin.


"Ayo makan yang banyak, mau pakai nasi gak?" tanyanya padaku.


"Gak, ah. Aku lagi gak mood makan nasi, geli lihatnya," ucapku padanya.


"Eh, geli apa?"


Aku menggelengkan kepala, tidak mengerti saja, rasanya melihat bulir nasi geli dan membayangkan sesuatu yang lain, seakan di atas piring itu sedang bergerak-gerak. Ah, pasti yang sedang hamil juga tahu apa maksudku, putih, bergerak, itu ....


Ah, sudah lah!


"Gak usah tau, nanti kamu malah gak napsu makan," ucapku padanya. Potongan batagor yang ada aku makan dengan nikmat, cukup untuk mengisi perutku hingga agak kenyang. Porsinya tidak terlalu banyak, sepertinya sudah diperkirakan untuk lambungku yang kini sensitif.


"Enak?" tanyanya melihat aku yang makan dengan perlahan.


"Enak. Mau?" tanyaku seraya mengangkat sendok berisi satu potong untuknya. Dia mendekat dan membuka mulut, menerima makanan dengan saus kacang yang enak.


"Emh, enak. Kenapa aku tadi gak beli ya," ucapnya seraya mengunyah makanan tersebut. Aku tertawa mendengar sesalnya, padahal dia juga sedang makan siomay, bumbunya jelas sama seperti milikku.


"Gak ada bedanya sama yang kamu makan, bumbunya sama aja," ucapku mencoba untuk menghiburnya.


"Tetep beda, ini dikukus lebih lembek, itu digoreng rasanya kering" ucapnya sambil menunjuk makanan kami.


"Oh, iya. Mau lagi? Tapi tukeran sama yang itu," tunjukkin pada piringnya. Dia tersenyum dan mengangguk, menggeser kan piringnya ke tengah. Kami makan dalam dua piring yang sama. Rasanya semakin enak saat kami saling berbagi.

__ADS_1


Sambil menunggu anak-anak bangun aku membereskan tempat tidurnya. Box-nya kini sedikit lebih besar dari tempatnya dulu, kami simpan tak jauh dari ranjang. Tidak aku sangka, usianya e sudah empat bulan saja. Di tumbuh dengan begitu cepat, tidak terasa karena aku selalu mengira baru kemarin saja aku melahirkannya. Pakaian bayinya sudah tidak kuat lagi sehingga kancing bagian perutnya sudah tidak muat.


"Mau di simpan?" tanyanya saat aku memisahkan pakaian Azka, mana yng masih layak pakai dan tidak.


"Iya, mau aku simpan," ucapku tidak menghentikan laju tangan melipat pakaian. Arga duduk di sampingku, membantu melipat beberapa pakaian di atas kasur. "Sayang kalau dibuang, tahun besok masih bisa dipakai sama adiknya Azka," ungkapku lagi.


Arga menganggukkan kepala. "Kenapa gak beli aja, sih? Masa mau pakai baju lungsuran kakaknya?" protes Arga.


Aku meliriknya sedikit. Dia masih menatap pakaian di tangannya. "Sayang lah sama bajunya. Baru dipakai beberapa bulan doang, lagian ini kan kondisinya masih sangat bagus, gak ada yang bolong, cuma melar dikit doang," ucapku, melihat pakaian itu di tangan.


"Lagian kan dipakai juga gak lama, usia tiga atau empat bulan juga sudah gak dipake lagi, kan? Sayang uangnya kalau beli lagi, daripada beli pakaian yang sudah ada mendingan dibelikan yang lain aja, Pa. Tanah misalnya," ucapku seraya meliriknya sedikit.


Arga tersenyum seraya menggaruk kepalanya, tidak mengerti kenapa dia sampai menggaruk kepala seperti itu.


"Kalau untuk tanah sih tenang aja. Aku ada kok tabungan tanah, lagian rumah yang papa tempati sekarang juga papa akan berikan sama aku nanti, untuk anak-anak. Jadi aku punya tempat di rumah ini, tempat di rumah papa, dan juga di luar kota," ucapnya.


"Ma, kita belum jadi honeymoon terus sedari dulu, pergi yuk minggu depan," ajaknya. Wajahnya memelas menatap ke arahku.


"Kemana? Jangan naik pesawat ya, aku takut kalau naik pesawat," ucapku. Rasanya ngeri membayangkan ada di atas ribuan kaki dari tanah.


"Enggak, liburan ke tempat yang sejuk. Gak jauh-jauh amat, kok," ucapnya lagi.


"Ya, boleh deh. Asal gak naik pesawat dan perjalan gak jauh aku ikut."


Arga semakin mendekat, dia mengambil tanganku dan mengusapnya. Kepalanya dia rebahkan di atas pangkuanku.

__ADS_1


"Aku dah dari lama pengen ajak kamu honeymoon, tapi kemarin kamu keburu hamil Azka, aku juga sibuk di pabrik, minggu depan aku free, Gara juga libur sekolah, jadi kita bisa pergi," ucapnya lagi sambil menatapku dari bawah sana. Aku tidak bisa bergerak karena kelakuannya. Pakaian Azka masih banyak yang belum aku selesaikan melipatnya.


Arga mengambil tengkuk leherku, sedikit menariknya sehingga aku kini menunduk, sedetik kemudian bibir kami saling bertemu, menghantarkan gelenyar aneh yang aku rasakan di dalam aliran darah yang mengalir.


Ciuman yang pelan kini semakin menggebu, semakin panas aku rasakan, kami tidak ada yang mengalah untuk saling memberi kesempatan lawan untuk mengambil napas. Arga bangkit tanpa melepaskan pagutan bibirnya dariku. Dia mendorongku sehingga perlahan aku telah ada di bawah kuasanya. Suara decapan mulut terdengar dengan sangat indah, saling menarik dan merasai satu sama lain. Tangan besarnya sudah masuk ke dalam pakaianku, memainkan benda kenyal di pada bagian depan.


Tok. Tok.


Suara ketukan di pintu terdengar sangat nyaring. Aku dan Arga tersadar, seketika menjauhkan diri satu sama lain, Arga duduk di sampingku sambil merapikan kaosnya yang tersingkap karena ulahku. Kami saling berpandangan.


Suara ketukan itu makin lama makin keras saja. Aku segera bangkit sambil merapikan pakaian yang kusut karena ulahnya.


Tiba-tiba saja Arga menahan tanganku, melarangku untuk membuka pintu.


"Eh, sudah biarkan saja. Palingan Gara baru bangun tidur. Mendingan kita lanjutkan lagi, yuk." Ajaknya sambil menarik turunkan alisnya yang tebal. Aku berdecak dengan kesal karena ulahnya ini.


"Heh, jangan gitu ah. Anak bangun ya diurus, masa ditinggal terus sama asisten," ucapku kesal. Dia hanya tertawa kecil, tidak melepaskan tangannya dariku.


"Ya gak apa-apa, sesekali kita nikmati waktu berdua aja, gitu Ma," ucapnya sambil memelukku erat. Ku tepis tangannya.


"Tadi kita sudah menikmati waktu berduaan. Sudah ah, aku mau urus anak-anak, siapa tau mereka lapar," ucapku kemudian tanpa mendengar panggilannya lagi keluar dari kamar tersebut.


Di luar kamar, aku mendapati Gara yang sedang berdiri dan mengucek matanya. Tanpa berbicara anak itu masuk ke dalam kamar dan berbaring di ranjang ku. Aku menatapnya dengan heran dari ambang pintu. Aku kira Mbak Sus yang membawa Azka menangis tadi.


Gara melanjutkan acara tidurnya di kasurku, kini ayahnya mendekat dan memeluk anak itu untuk kemudian sama-sama terlelap.

__ADS_1


Selimut aku naikkan pada keduanya sampai ke dada. Mereka ayah dan anak yang kini sangat mirip sekali. Ya, mereka adalah cerminan satu sama lain.


Aku meninggalkan mereka kini berjalan ke luar dari dalam kamar menuju ruangan bermain. Mau mengecek apakah Azka sudah bangun apa belum.


__ADS_2