Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
157. Hilman Menggila


__ADS_3

"Jangan gila kamu, Yu! Ini bahaya!" teriaknya sekali lagi saat mobil yang kami tumpangi menjadi oleng ke kanan dan ke kiri.


"Aku gak peduli, Mas! Kamu juga sudah gila! Kamu sadar gak sih, kita ini sudah berakhir, Mas! Kamu ada Hana dan anak kalian. Kita sudah punya kehidupan kita masing-masing!" Aku berteriak padanya, tidak peduli dengan jarak kami yang sangat dekat, tapi aku terlalu kesal dan juga marah. Masih mempertahankan tanganku di atas kemudi dan mencoba menekan kakinya yang berada di atas rem. Namun, apa yang aku lakukan rasanya tidak begitu berarti, karena mobil tidak berhenti bahkan melambat pun tidak.


Sekali lagi Mas Hilman menyentak tanganku dan mendorongku ke belakang hingga aku oleng dan kehilangan keseimbangan. Akhirnya, kepala belakangku terbentur pada sandaran kursi yang sangat keras sehingga pandangan ini sedikit buram. Sakit sekali.


"Ah!" Aku merintih kesakitan, rasa amis tercium di sedikit di bawah hidungku. Entah terkena apa, aku tidak tahu, rasanya kepala ini sakit sekali.


Mobil telah berhenti di suatu tempat, susah payah aku mempertahankan kesadaran meski rasanya lemas sekali tubuh ini. Mas Hilman menarikku, memaksaku untuk masuk ke dalam rumah kami dan menghempaskan tubuh ini di atas kasur. Bau aroma debu kering dan apek tercium membuat gatal hidung. Rumah ini sangat berantakan sekali, gelap, seperti tidak pernah tersentuh sama sekali untuk dibersihkan.


"Mas, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku," ucapku lirih. Rasa takut semakin menjadi kala melihat dia menutup pintu dan membuka pakaiannya. Seketika aku membayangkan hal yang buruk bisa saja terjadi padaku.


Arga, tolong aku!


Aku mencoba untuk bangkit, menggunakan kedua lenganku untuk mundur ke belakang. Hampir saja aku melarikan diriku melewati sisi ranjang yang lain. Namun, tangan besar itu menarik kakiku sehingga aku kembali terjatuh. Sepersekian detik, tubuh yang dulu selalu wangi kini menindihku, menahan kedua tangan di samping dan menekannya dengan keras pada kasur yang berdebu. Bisa aku lihat pada cahaya matahari yang menerobos ke dalam kamar, debu halus beterbangan di mana-mana. Aroma keringat dari tubuhnya membuat aku mual.


"Kamu tidak akan bisa apa-apa, Yu." Dia menyeringai dengan senyuman yang menyeramkan. Ku coba untuk menggerakkan tanganku, melepaskan diri darinya. Akan tetapi, cengkeraman tangannya di pergelangan tanganku begitu kuat dan tidak bisa membuat aku melepaskan diri.


"Lepaskan aku, Hilman!"


Dia membulatkan matanya, senyumnya semakin kecut tatkala untuk pertama kalinya aku memanggilnya tanpa embel-embel 'mas'.

__ADS_1


"Kamu sudah berubah, ya. Kamu sudah berubah banyak dari Ayu yang aku kenal dulu, Yu. Apakah karena selama ini kamu dekat dengan cinta pertama kamu dan akan segera menjadi Nyonya Ramayudha, makanya kamu sudah tidak mau lagi balikan sama aku?" tanya Mas Hilman dengan wajah penuh kecewa.


Aku membelalakkan kedua bola mataku. Bagaimana dia bisa mengetahui jika Arga adalah cinta pertamaku? Apakah Mas Hilman selama ini memata-mataiku?


Dia tertawa dengan cukup keras. "Kamu tidak akan bisa dengan dia lagi, Yu. Kamu akan selamanya sama aku!" Suaranya terdengar menggeram seperti kucing yang sedang marah.


"Tidak aku sangka ya, setelah ustadz datang ke rumah kamu, sekarang kamu dengan orang yang lebih kaya. Kamu ... kamu sudah berubah, Yu. Kamu berubah dari Ayu yang aku kenal dulu. Aku sangat cinta sama kamu. Aku harus buktikan apa supaya kamu bisa balik sama aku? Apakah kamu gak tahu bagaimana kehidupan aku selama ini!" teriak Mas Hilman di akhir kalimatnya. Dia berteriak dekat sekali dengan wajahku. Aku memalingkan wajah ke samping seraya memejamkan mata, takut. Dia marah sekali.


"Itu hak aku, Mas. Mau aku dengan siapa pun aku tidak perlu meminta izin dari kamu. Kita sudah berpisah, dan kamu tidak berhak ikut campur dengan kehidupan aku lagi! Asalkan kamu tahu, ya. Dulu, aku bertahan kamu dua kan karena aku masih menghormati kamu sebagai suamiku dan karena Ibu, tapi apa yang kamu lakukan dulu. Kamu sudah menghianati aku dan juga mempermainkan kepercayaanku, Mas!"


"Aku sungguh-sungguh Yu sama kamu. Aku janji, setelah ini aku gak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku juga sekarang sudah sendiri. Hana sudah aku ceraikan. Kamu mau 'kan balikan sama aku. Kita rujuk. Ya?" pintanya dengan penuh harap.


Aku menatap Mas Hilman dengan tidak percaya, menggelengkan kepala, tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan. Kehadiran seorang anak aku kira akan membuat dia konsisten dengan apa yang dia jalankan. Akan tetapi, kenapa dia harus meninggalkan anak dan istrinya demi aku yang hanya mantannya dan tidak bisa memberikan dia anak?


"Tidak akan aku lepaskan. Sedari dulu kamu hanya milik aku seorang. Tidak akan aku lepaskan!" teriak Mas Hilman lagi dengan keras hingga menggema di ruangan ini. Dia terlihat seperti orang stress.


Aku menggeliat di bawahnya. Kepala ku sakit, aku tidak ingin dilecehkan oleh dia. Ingat dulu saat terakhir kalinya aku diga*li paksa oleh dia. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi, apa lagi hubunganku dengan dia kini sudah berakhir. Dia haram untukku!


"Lepas! Aku mohon!" pintaku. Dia menggeleng lagi, memindahkan kedua tanganku ke atas kepala dan menahannya dengan satu tangannya yang besar, tangan yang lain dia gunakan untuk melepas jilbab dari kepalaku. Bagian kepala yang tadi terbentur semakin sakit kala merasakan jilbabku melewatinya.


"Mas, apa yang kamu lakukan, Mas? Lepaskan aku." Aku berontak, menggerakkan tangan dan kakiku, mencoba untuk menendang dia. Akan tetapi, dia hanya bergeming di atasku tidak peduli akan tendangan.

__ADS_1


"Tolong, Mas. Jangan gila kamu!" Aku mulai menangis, tidak bisa melakukan apa-apa meski aku sudah berusaha keras. Hanya menunggu bala bantuan datang, atau mungkin keajaiban yang Tuhan berikan untukku. Aku sungguh tidak mau diriku ternoda karenanya. Aku sungguh tidak mau. Atau, apakah aku harus berakhir menyedihkan? Apa yang harus aku lakukan nanti? Apa yang harus aku katakan pada Arga?


Brak!!


Suara pintu terdengar dengan keras. Bisa ku lihat sedikit dari belakang tubuh Mas Hilman seseorang datang dan mendekat.


Arga datang dengan wajah yang marah, menarik pundak Mas Hilman dan melayangkan pukulan keras kepada wajah laki-laki itu. Mas Hilman tersungkur di lantai dengan hidung yang berdarah.


"Apa yang kamu lakukan dasar baj*ngan!" teriak Arga, satu pukulan dia layangkan kembali dilanjut dengan pukulan-pukulan lainnya. Mas Hilman tidak berdaya, dia yang kini terlihat sangat kurus sekali tidak bisa melawan Arga yang jelas tubuhnya lebih berisi dari pada dia.


Aku tidak bisa berpikir, tidak bisa menahan rasa sakit dan pusing yang mendera di kepala. Hanya terdengar suara Arga yang sangat marah dan memaki Mas Hilman dengan kata-kata yang kasar.


"Sudah, Pak. Hentikan! Urus Mbak Ayu, biar dia saya yang uruskan!" Suara yang lain aku kenal, suara sopir Arga.


Aku hanya menutup mataku, menahan pusing dan sakit yang tidak tertahankan.


"Ayu!" panggilan Arga terdengar mulai samar.


***


Nah, mana nih yang penasaran dan kangen dengan cerita Hilman? Dah ya, dia dihadirkan di part ini. **Gemes- gemes deh, monggo. Asal Othor jangan dihujat, ya. Hehe .... 😁✌️

__ADS_1


Ayo like di setiap part yang dibaca ya, kalau semua like, kan semangat nih buat bikin banyak bab. Xixixi, mode maksa. 🀭


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒKaboooorrrr!!!!πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ**


__ADS_2