
Semenjak hari itu Gara kehilangan keceriaan. Entah apa yang ada di dalam pikirannya selama ini, dia bersikap sedikit tertutup. Lebih sering di dalam kamar daripada menemaniku di siang hari seperti biasanya.
Malam ini, Gara juga tidak banyak bicara, sama seperti kemarin. Dia yang biasanya makan sambil berbicara dan bercerita tentang sekolahnya membuat suasana di meja makan menjadi ceria, kini tidak lagi seperti itu. Rasanya menjadi sepi. Arga ataupun aku yang ingin mencairkan suasana hanya bisa membuatnya tersenyum dan bicara sedikit saja, sisanya dia kembali merenung di dalam diam.
Aku dan Arga kini sudah kembali ke dalam kamar. Duduk sedih di depan cermin meja rias, sedang menyisir rambutku. Mengingat sikap gara beberapa hari ini yang seperti itu membuatku sedih dan khawatir.
Arga sedang duduk tapi kasur sambil mengerjakan tugasnya, beberapa hari terakhir ini banyak sekali pekerjaan yang dia bawa ke rumah. Kudekati suamiku itu dan duduk di samping kakinya.
"Pa, aku khawatir sama Gara. Sudah beberapa hari dia seperti itu. Kamu bicara gih sama dia," pintaku kepadanya.
Arga menyingkirkan laptop yang ada di pangkuannya. "Oke aku akan bicara," ucapnya singkat selalu berdiri dan pergi dari hadapanku.
Kini aku terdiam setelah kepergian suamiku. Ada rasa bersalah di dalam hati ini apakah mungkin yang aku lakukan kemarin itu salah? Apakah aku membuat Gara sedih karena memperlihatkan foto ibunya? Aku bertanya-tanya dalam hati.
Tidak lama Arga kembali. Dia duduk di sampingku. "Kamu sudah bicara sama Gara?" tanyaku kepadanya. Ku tatap wajahnya yang terlihat sendu. Dia hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.
"Bagaimana dengan keadaan Gara? Dia mau bicara?" tanyaku kepadanya.
Arga kini tersenyum kecil, dia mengambil tanganku dan mengusapnya dengan ibu jari. Hati ini berdebar menunggu jawabannya.
"Tidak apa-apa. Dia cuma sedang kangen saja dengan Haifa," ucap suamiku. Aku kini terdiam mendengarnya.
"Pa. Apa aku salah mengeluarkan foto Haifa? Sejak aku mengeluarkan foto itu dia jadi pendiam dan terlihat sedih," tanyaku. Aku menunduk dan tidak berani menatapnya.
"Tidak apa-apa. Seharusnya aku yang merasa bersalah karena tidak membiarkan Gara tau dengan ibunya. Aku yang salah karena telah menyingkirkan semua hal tentang Haifa dari Gara. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Jangan salahkan diri kamu sendiri," ucap Arga.
__ADS_1
"Ini salahku. Aku sengaja menyingkirkan semua foto tentang Haifa, karena aku bingung jika dia bertanya ke mana ibunya pergi. Kenapa dia tidak mempunyai Ibu seperti anak yang lainnya. Aku selalu lihat di matanya ada kesedihan, aku nggak mau lihat itu di mata Gara. Sampai akhirnya aku menyimpan semua yang berhubungan dengan Haifa di gudang," ucap Arga dengan lirih.
"Aku nggak tahu kalau hal itu ternyata akan membawa dampak negatif untuk dia," ucapnya menyesal.
"Sudah lah, jangan kamu pikirkan lagi hal itu, Gara memang harus sudah mulai terbiasa. Mulai hari ini sampai kapanpun, kamu gak boleh lagi tutupin semua hal tentang Haifa pada Gara," ucapku padanya. Arga menganggukkan kepalanya. Dia menyandarkan kepalanya pada bahuku.
"Iya, terima kasih karena kamu sudah mau mengurus Gara dengan baik. Kamu juga tidak menutupi tentang Haifa dari Gara," ucapnya.
"Aku besok akan bicara sama Gara, siapa tahu saja dia tidak lagi sedih setelah itu," ucapku padanya.
Kami terdiam beberapa saat lamanya. Sampai ketika ku dengar Arga berbicara. "Oh, ya. Kapan acara empat bulanan di rumah?" tanya Arga.
"Nanti, ibu bilang harus ada angka empatnya, jadi katanya di tanggal dua puluh empat nanti," ucapku padanya.
"Eh, harus ada angka empat?" tanya Arga bingung. "Kenapa?"
"Aku juga gak tau, syaratnya begitu kali."
***
Esok paginya, setelah Gara pulang sekolah aku bicara dengan Gara. Aku tidak tahan jika dia terus seperti ini. Bagaikan kehilangan sesuatu yang berharga di dalam diri ini, tidak adanya keceriaan dari anak itu membuat aku menjadi sedih dan kesepian.
Pintu kamarnya aku ketuk beberapa kali. "Abang!" panggilku. Tak lama pintu itu terbuka dan menampilkan Gara yang menatapku sekilas lalu menundukkan kepalanya lagi.
"Boleh Mama masuk?" tanyaku meminta izin. Dia mengangguk dan pergi, aku mengikutinya dan duduk di tepi tempat tidurnya. Anak itu duduk sedikit jauh dariku.
__ADS_1
"Abang kenapa sih?" tanya ku pelan. Dia hanya diam.
"Mama sedih loh, dari kemarin Abang gak mau bicara? Dedek bayi juga sedih kalau Abang gak mau ngomong sama dia."
Tangannya saling meremat satu sama lain. Tidak bisa diam bergerak, kepalanya masih tertunduk dalam.
"Abang ada masalah? Abang mau bicara sama Mama?" tanyaku. dia masih terdiam, aku tidak tahan untuk tidak mendekat ke arahnya. Ku dekati dia dan mengelus kepalanya yang sudah tiga hari ini menghindariku. Sedih rasanya, di mana dia selalu saja membuat aku terhibur sedangkan beberapa hari ini dia hanya diam saja.
"Gak ada, kok. Abang ...." Dia terdiam.
"Abang cuma kangen sama Ibu Ifa," ucapnya pelan. Sakit hati ini mendengar ucapan anak kecil seperti itu. Betapa dia merindukan sosok ibu yang telah melahirkannya.
"Terus kalau Abang kangen sama Ibu Ifa, kenapa Mama di cuekin?" tanyaku pelan. Berusaha dengan sangat keras agar aku tidak ikut menangis. Selama dalam kehamilan ini aku menjadi begitu perasa sehingga sesuatu apa pun bisa membuat aku menangis meski hanya tidak seberapa sedih.
"Mama dan dedek sedih loh kalau Abang kayak gitu. Mana senyum Abang, kan jadi jelek kalau sedih kayak gini?" tanyaku sambil menggodanya.
"Dedek nanti enak, lahir dia ada Mama. Abang gak ada. Abang gak ada yang sayang dulu. Ibu meninggal waktu lahirkan Abang kan? Bukannya Abang sudah jadi anak yang nakal ya?" ucapnya, suaranya tercekat di tenggorokan. Terasa semakin sedih rasa hati ini mendengar ungkapan Gara. Berarti selama ini dia berpikir jika meninggalnya Haifa adalah karenanya? Meski memang iya, tapi itu adalah hakikat seorang wanita, mengambil resiko demi untuk memberikan yang terbaik untuk putranya.
Ku peluk dia dengan erat, mencium kepalanya dengan lembut.
"Hei, dengerin Mama. Namanya takdir gak bisa dihindari. Abang tau gak hadiah dari Allah untuk Ibu Haifa yang sudah lahirkan Abang? Syurga," ucapku padanya.
"Abang pernah dengar gak sih dari pengajian atau apa itu? Seorang ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya, balasan dari Allah itu syurga, Sayang."
Kepalanya terangkat dan mata bulat itu menatapku. "Beneran?" tanyanya. Aku menganggukkan kepala. Memang aku tidak bisa menjabarkan secara rinci, sehingga aku memutuskan untuk mencari kajian dari pengajian ustadz kondang dari sebuah video di laman YT. Aku cari tema yang menjabarkan hal tersebut.
__ADS_1
"Coba deh Abang dengerin." Video itu aku nyalakan dan menonton bersama dengan Gara.