Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
151. Ibu Punya Nazar


__ADS_3

Sebelum Mamang dan Bibi pulang, kami semua memutuskan untuk pergi ke makam Bapak saat pagi hari. Mumpung Mamang masih di sini, sudah sangat lama Mamang tidak mengunjungi makam. Kami pergi dengan memesan taksi online. Aku, Ibu, dan Bibi pergi dengan menggunakan mobil, sedangkan Mamang menggunakan motorku dengan Widi, putri bungsunya.


Kami berjalan sedikit jauh ke dalam, melewati nisan-nisan baru maupun yang sudah lama.


Keadaan makam Bapak bersih, rumput tertata rapi, hanya ada beberapa rumput kecil liar yang baru saja tumbuh di tengah-tengah dan mudah untuk dicabut. Aku memang menitipkan makam ini kepada penjaga kuburan di sini dan rutin memberi upah setiap bulan. Kebetulan putri dari penjaga makam tersebut tidak terlalu jauh rumahnya, hanya berjarak lima belas menit menggunakan motor dari rumah kami, sehingga jika aku tidak bisa datang ke sini aku akan menitipkan pada putrinya.


Kami berjongkok mengelilingi makam Bapak. Mamang mengusap nisan yang terdapat nama sang kakak. Mamang menghela napasnya, sedikit tercekat di tenggorokan, matanya ku lihat memerah. Bibi mencabut rumput yang ada di tengah makam, diikuti Widi yang melakukan hal yang sama.


"Kang, Ajat sumping (datang)," sapa Mamang.


"Hampura Ajat nembe dongkap kadieu deui. Hampura Oge Ajat teu tiasa mertahankeun nu jadi hak Ayu di lembur. Ajat teu tiasa ngabantuan, neupikeun ka taneuh kudu di jual ka batur, Hampura Ajat, Kang. Hampura pisan."


(Maafin Ajat baru datang ke sini lagi. Maaf juga, Ajat gak bisa pertahankan sesuatu yang menjadi hak Ayu di kampung. Ajat gak bisa membantu, sampai tanah harus dijual ke orang lain, Maafin Ajat, Kang. Maaf.)


Mamang menangis, menundukkan kepalanya hingga keningnya menempel dengan nisan Bapak, tangis Mamang terdengar begitu pilu. Saudara satu-satunya kini telah tiada.


"Hampura, Kang. Hampura!" tangis Mamang semakin keras, dia terisak sesekali mengusap air mata pada wajahnya. Pundaknya bergerak naik turun, jarinya pada nisan menggenggam kuat. Kami semua terdiam, merasakan sedih yang mendalam pada diri Mamang.


Mamang melanjutkan bicaranya, mengatakan urusan dirinya dan keluarga datang kemari. Meminta izin untuk menjadi waliku menggantikan Bapak di saat pernikahanku nanti.


Mamang selesai bicara, kali ini Ibu yang mendekat pada nisan. Ibu terdiam bersimpuh di depan makam Bapak, tangan kurus mengelus nisan yang sudah menjadi patok tanda dikuburnya Bapak di sini. Lima tahun lalu Bapak telah berpulang, akibat insiden para demonstran yang usil. Tidak tahu mengapa saat itu Bapak pulang dengan luka lebam dan memar di tubuhnya. Diduga saat Bapak mengantarkan makanan ke sebuah perkantoran ada para demonstran di dekat sana. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana awalnya Bapak pulang dengan keadaan yang menyedihkan hingga akhirnya menghembuskan napasnya di rumah sakit.


"Assalamualaikum, Pak. Kami datang." Ibu terisak tidak lama, tidak bisa berkata apa-apa untuk sementara waktu. Wajah yang sudah tidak muda lagi terlihat sangat sedih menatap nisan Bapak yang terdapat bekas lumut.


Ibu hanya diam, sejenak menutup matanya, menarik napas dengan baik.

__ADS_1


Aku mendekat kepada Ibu. Rasa sedih juga aku dapati saat Ibu kini malah menangis. Ku peluk Ibu dengan haru, Bibi juga mendekat, mengelus punggung Ibu.


Kami tidak lama di makam. Hanya mengirim doa sebisa kami saja. Hari sudah semakin terik, Widi sudah tidak nyaman di bawah sinar matahari. kami pulang menggunakan taksi online yang tadi kami sewa.


Bibi dan Mamang serta anaknya yang kecil tidak lama di sini, setelah acara semalam dan tadi kami pergi ke makam, siang ini Bibi dan Mamang memutuskan akan pulang, padahal aku ingin mengajak Bibi sekeluarga untuk pergi ke tempat wisata sebelum mereka pulang.


"Maaf ya, Yu. Lain kali lah Mamang ke sini lagi. Mamang bukannya gak mau ikut kamu ke tempat wisata, tapi pekerjaan Mamang banyak sekali di kampung. Sawah bapak kamu juga gak ada yang urus," ucap Mamang dengan tidak enak hati.


"Ya sudah deh, Mang. Mau bagaimana lagi, lain kali kalau Ina liburan sekolah ajak sekalian, ya." Pintaku. Mamang menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum. Widi, anak paman yang kecil sedikit cemberut mendengar keputusan orang tuanya yang akan pulang dan tidak jadi ke tempat wisata. Aku tahu rasanya kecewa.


"Sini." Aku melambaikan tangan pada Widi, anak itu mendekat dan ku suruh dia duduk di pangkuanku. Tubuhnya kurus, Bibi bilang Widi sangat sulit untuk makan, juga kemarin aku melihat dia memang hanya makan sedikit saja selama di sini.


"Nanti kalau Teh Ina liburan sekolah Widi juga ikut ke sini, ya. Kita jalan-jalan bareng. Jangan manyun dong," ucapku pada anak itu sambil mencium pipinya. Widi tidak berbicara, masih mengerucutkan bibirnya, gemas rasanya sama seperti Gara jika dia sedang merajuk seperti ini.


"Mau!" seru anak itu dengan senang. Aku segera membawa Widi ke dalam kamar dan membiarkan Widi memilih boneka yang ada di dalam lemari.


Widi masih sibuk dengan beberapa boneka yang akan dia bawa pulang, aku membebaskan dia membawa sebanyak yang dia mau. Bibi yang pusing kini melihat banyak sekali boneka yang Widi ingin bawa.


"Gimana cara bawanya, banyak banget itu, Yu? Atuh harusnya satu atau dua cukup, Yu. Ini mau di simpan di mana?" omel Bibi. Aku hanya tersenyum tanpa merasa bersalah sama sekali. Soal di dalam perjalanan nanti itu resiko Bibi dan Mamang. Akan aku bawa nanti ke loundry untuk di facuum.


"Yu, tanah yang dibeli sama orang lain itu di kampung sudah di bangunkan vila. Bagus banget," ucap Mamang seraya memasukkan oleh-oleh ke dalam kardus mie. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum. Sedih juga mendengar tanah warisan dari almarhum Bapak sekarang berpindah kepemilikan kepada orang asing, tapi tidak apa lah. Hilang juga bukan karena di pakai untuk yang tidak-tidak, tapi buat kesembuhan Ibu.


"Alhamdulillah kalau begitu, Mang."


Mamang telah pulang, aku memesankan taksi online untuk mengantarkan ketiga orang itu ke terminal. Bibi masih saja mengomel, karena barang yang dibawa pulang terlalu banyak. Saat tiba waktunya nanti Mamang dan keluarga tentu akan datang kembali di saat acara pentingku, juga aku meminta kepada Mamang untuk mengajak keluarga besar Bapak datang kemari.

__ADS_1


Acara semalam juga membahas tanggal pernikahanku dengan Arga.


Ahhhh ... rasanya tidak menyangka juga aku sebentar lagi akan menikah dengan Arga. Rasanya ... berbeda dengan saat dulu Mas Hilman denganku. Kenapa bisa berbeda ya?


"Yu." Suara ketukan di pintu terdengar nyaring di telinga, gegas aku bangun dan membuka pintu. Ibu terlihat tersenyum padaku.


"Iya, Bu?" tanyaku.


"Besok kamu masih libur?" tanya Ibu.


"Kerja sih, Bu," jawabku. "Ada apa?"


"Oh, gak sih. Anu ... Ibu punya nazar, kalau kamu dilamar Arga, Ibu pengen kasih rezeki sama Mbah Minah," ucap Ibu. "Tadinya kalau kamu besok libur Ibu mau minta antar ke sana."


Aku melihat ke arah luar, matahari masih sangat terik sekali di siang ini.


"Sore nanti saja gimana. Sekarang panas di jalan, Bu," ucapku. Ibu mengangguk.


"Ya, sudah. Ibu mau istirahat dulu kalau begitu. Kamu juga istirahat, ya." Senyum di bibir Ibu terlihat mengembang. "Jangan lupa bereskan dulu kamar, calon pengantin kok kamar berantakan," sindir Ibu. Aku memutar kepala. Memang kamarku sangat berantakan sisa semalam. Pakaian yang aku kenakan masih tergantung di dinding, barang pemberian Arga juga masih berserakan di atas meja. belum aku bereskan sama sekali.


"Iya, nanti dibereskan." Ibu pergi. Aku segera menutup pintu dan mulai membereskan semua yang ada.


Barang yang Arga berikan padaku semalam tidak aku ambil banyak, beberapa di antaranya tas berwarna hitam aku berikan pada Bibi, ada juga tas lain, modelnya lucu dengan warna coklat, tapi jika melihat usiaku, aku tentu tidak akan pede juga pakai itu. Aku akan berikan untuk Sinta, untuk Yu Tarni aku berikan kerudung. Ibu sudah aku tawari apa yang Ibu mau, tapi Ibu tidak inginkan apa-apa, hanya ingin aku mendapatkan suami yang baik dan juga pengertian. Memang seorang Ibu tidak pedulikan harta, yang terpenting anaknya bahagia.


Menjelang sore, setelah Ashar aku dan Ibu pergi ke rumah Mbah Minah, janda tua yang hidup sebatang kara. Tidak ada kerabat yang mengurusnya, hidupnya bergantung pada tetangga yang sudi merawatnya. Mbah Minah masih kuat untuk berjalan, hanya saja dengan bantuan tongkat. Diusianya yang sudah menginjak delapan puluh tahun lebih, sungguh malang nasib, ditinggal suami yang lebih dulu menghadap Sang Ilahi dan juga tidak ada keturunan yang bisa merawatnya.

__ADS_1


__ADS_2